
"Kenapa jantung gue berasa mau meledak gini?"
Bryan ******* bibir gue dan tangan nya mulai bermain nakal. Gue dorong tubuhnya tapi dia malah mendekap gue semakin kuat.
"Bryan, lepasinnnn!!!!"
"Kenapa? Toh kita kan udah menikah" Ingin rasanya gue tonjok mukanya itu. Gue gabisa berbuat apa-apa karna memang kita udah menikah sekarang.
"Bianca, kamu harus inget soal perjanjian kita. Kamu harus perlakuin aku selayaknya suami normal kan? Aku gaakan minta lebih, cukup yang ada diperjanjian itu aja"
"Whaaaattt?? gaminta lebih? terus itu apa? lo fikir yang 'lebih'nya itu di bagian mana? Udah jelas-jelas perjanjian disana itu sama dengan perampokan hak asasi manusia. Hiksss hikssss kenapa sih gue harus ketemu sama laki-laki psikopat kaya gini? Yatuhaaann pasti gue pernah berbuat dosa di waktu yang lalu"
***
Bryan menggendong Bianca dan terlihat dia sama sekali tidak berontak karna ada surat perjanjian yang mengikat mereka.
Buku tebal dengan berpuluh-puluh halaman itu adalah perjanjian mereka. Disana tertulis apa yang boleh dan tidak boleh Bianca lakukan selama menjadi Nyonya Wijaya.
Brukk...
Bryan melemparkan Bianca ke atas ranjang. Sekarang tubuhnya sudah berada diatas tubuh Bianca.
__ADS_1
Terlihat Bianca menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat. Melihat pemandangan itu Bryan semakin ingin memakan habis Bianca.
*Prekkkkk...
Bryan merobek baju Bianca membuat Bianca terkejut sekaligus ketakutan.
"Bryan,, Lo kenapa sih? Ngga seharusnya kan lo kaya gini sekarang?" Tanya Bianca dengan mata berkaca-kaca.
"Seharusnya kita udah ngelakuin ini dari tadi. Dan seharusnya kamu yang menyerahkan tubuhmu dengan sukarela. Aku tidak sedang Bercanda Nona Bianca sekarang kamu milikku" Bryan melancarkan ciuman nya di area leher dan payudara Bianca. Bianca sangat ketakutan tubuhnya gemetar dan dia masih terus mengigit bibir bawahnya.
Cresss,, cairan merah berbau amis mulai keluar dari bibir Bianca.
"Cihh dasar perempuan sialan! dulu dia yang suka rela naik keatas tubuhku demi laki-laki lain. Sekarang kami sudah menikah dan dia malah menyakiti dirinya sendiri. Dasar perempuan tidak tahu diuntung"
Brakkkk...
Ia membanting pintu kamar. Bianca memeluk lututnya dan menangis.
"Huuu.. huuu.. mama kenapa aku gabisa lari dari si psikopat ini? Kenapa aku bertemu dengan diaa?? huuu huuu mamaaaa" Bianca menangis sejadi-jadinya.
Sementara itu Bryan menenangkan dirinya dengan meminum Bir di balkon depan kamar Bianca. Dia bisa mendengar dengan jelas tangisan Bianca didalam kamar.
__ADS_1
"Apa dia sebegitu bencinya sama aku? Padahal aku ga pernah berbuat dosa apa-apa sama dia. Kalaupun terjadi sesuatu seharusnya dia yang paling bersalah. Arrrggghhh Bryan lo mikirin apaan sih? Udah jelas-jelas dia itu bocil. Huh! dasar perempuan gatau di untung"
Setelah beberapa lama ia menenangkan diri, Dia tidak mendengar suara tangisan dari Bianca lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam dan melihat keadaan Bianca.
Terlihat Bianca sudah terlelap. Bryan menghampirinya dan duduk di dekat Bianca.
"Haiiihh kenapa juga gue harus nikahin perempuan labil kaya lo?" Bryan berjalan ke arah sofa dan dia tidur disana.
***
Keesokan harinya Bianca bangun lebih awal. Dia bangun dengan perasaan terkejut. Ia tiba-tiba teringat akan Bryan dan langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Mana si psikopat mesum itu?" Ia mencari sekeliling tempat tidur dan tidak menemukan Bryan. Ia membuka selimutnya dan pakaian nya masih utuh seperti tadi malam.
Ia berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
"Mungkin dia pergi. Syukurlah dia masih tahu diri kalau dia ga di terima disini"
"Oh my God!!!" Mata Bianca terbelalak ia terkejut melihat Bryan tidur merengkol di sofa.
"Hihiii, seorang presdir dari JX Group semalaman ngerengkol gitu di sofa. Gue harus abadikan moment ini. Karna ini suatu aib gue bisa ancam dia" Bianca diam-diam memotretnya dan baru dia pergi kekamar mandi
__ADS_1
Bersambung...