
Mereka sudah selesai makan, Bianca dan Bryan kembali kekamar mereka. Bianca sangat gugup dan ketakukan, dia tidak terbiasa berada di sisi Bryan dalam kurun waktu yang lama, lebih tepatnya dia tidak mau.
Bryan melihat wajah Bianca yang begitu gugup sontak membuat dia berfikiran jahil, dia merencanakan pembulyan besar untuk Bianca malam ini, Karna Bianca terus membantahnya.
Setelah masuk kedalam kamar mereka Bianca langsung berlari ke kamar mandi, dia sedikit cemas dan sudah berfirasat buruk untuk malam ini.
"Bryan pasti udah punya rencana jahat buat jahilin gue" Gumam nya dalam hati.
Sementara itu Bryan cekikikan melihat kelakuan istrinya itu.
"Dasar perempuan labil, tadi aja dia berlagak kaya preman. Sekarang dia pasti lagi ketakutan" Gumam Bryan.
Tokk..tok..tok..
"Ada apa?" Bianca menyahuti ketukan pintu Bryan.
"Kamu kenapa? ko langsung lari kekamar mandi?" Tanya Bryan
"Aku sedikit sakit perut, emangnya kenapa?"
"Emhh mau aku periksa sedikit?"
"Ngga, ngga, gausah. Aku baik-baik aja ko" Jawab Bianca gelagapan
Bryan terkikik mendengar suara Bianca yang gelagapan. Sementara didalam kamar mandi Bianca terus mundar mandir karna bingung harus berbuat apa.
Setelah beberapa lama kemudian akhirnya Bianca keluar.
"Kamu ko lama banget sih?" Tanya Bryan sedikit kesal
"Emangnya kenapa? Kamu mau kekamar mandi?" Bianca malah balik bertanya.
"Hey! Cepat temani aku tidur" Bryan mulai menaikan kakinya dan menarik selimutnya.
"A, a aku tidur disofa aja" Jawab Bianca sambil mengambil bantal nya.
"Hey! Kenapa? Aku gaakan ngapa-ngapain ko, kenapa akhir-akhir ini kamu begitu ke PD an sih Bi?" Tanya Bryan mengejek.
"Hih siapa yang PD? Aku cuma mau tidur di sofa aja" Bianca masih mengelak
__ADS_1
"Bianca kamu tidur disini atau aku buka pintu dan kamu tidur di balkon!" Ucapan Bryan mengancam.
"Iya iya aku tidur disini. Heran deh ngatur banget" Bianca menggerutu
"Haihhh ternyata istriku ini sangat suka mendumel ya, Coba sini aku cicipi bibirmu yang tidak pernah berkata yang baik-baik ini" Bryan memeluknya dari belakang
"Ahhh Bryan kamu jangan kaya gini dong aku jadi takuttttt" Bianca mencoba untuk memberontak
"Bi kamu jangan gerak-gerak terus dong. Atau kamu sengaja gerak dibagian situ biar adik kecil ku tahu?" Tanya Bryan menyeringai.
"Hiiihh Bryan aku gatau ya selama ini kamu makan apa ko bisa sih otak kamu isinya mesum semua?" Bianca bergidik karna Bryan terus bernafas dibelakang telinganya.
"Aku ngga mesum ko, kamu yang selama ini beranggapan aku mesum makanya kamu ngerasa kalo aku mesum. Lagian aku tau mesum itu dari kamu looohhh"
"Bryan aku mohon jangan kaya gini lagi aku takut" Bianca memperlihatkan mata berbinarnya, Bryan sedikit terbelalak melihat ekspresi Bianca yang begitu imut. Dengan sekejap dia mengubah posisi dengan Bianca yang berada dibawah.
"Bryan iiihhh" Bianca terus memukul dada Bryan yang bidang itu membuat Bryan semakin ingin menjahilinya.
"Sttttt, jangan berisik, jangan bergerak lagi, kamu bisa ngerasain kan yang bawah udah bangun" Mata Bryan memperlihatkan tatapan serigala nya.
"Ahhh Bryannn jangan begini" Bryan memegang wajah Bianca dan dia langsung mencium bibirnya lembut. Bianca yang merasakan ciuman Bryan kali ini cukup lembut hanya bisa pasrah. Karna kalau dia membuat Bryan marah dia pasti akan dimakan habis Bryan lagi.
Tiba-tiba.. "Awwwwww" Bianca mengerang, dia memegang perutnya membuat Bryan terkejut.
"Aku gatau, perut aku sakit banget"
"Yaudah kamu bangun aku panggil Bibi Fang" Bryan menekan tombol dan meminta Bibi Fang untuk datang.
Bryan menghampiri Bianca kembali itu heran melihat tingkah Bianca yang aneh
"Kamu kenapa? Ko kaget gitu?" Tanya Bryan
"A a aku gapapa. Kamu keluar dulu" Jawab Bianca
"Kenapa aku harus keluar? Kamu mending bersandar disini" Bryan menumpuk bantal dan memposisikan tubuh Bianca agar bersandar disana.
Tok..tok..tokk...
"Tuan ini saya, saya akan masuk" Bibi Fang meminta izin untuk masuk.
__ADS_1
"Ada apa Tuan Muda?"
"Perut Bianca sakit" Bryan meminta Bibi Fang untuk memeriksa keadaan Bianca, karna Bibi Fang bisa pengobatan tradisional china.
"Bibi Fang itu tidak perlu, saya hanya membutuhkan pembalut" Bianca berbicara sangat pelan.
"Apa? Pembalut? Kamu datang bulan?" Tanya Bryan dengan nada terkejut.
Bianca menunduk dan menganggukan wajahnya
"Haduhh Bianca kenapa kamu ga bilang?"
"Aku maluuuu" Wajah Bianca memerah, Bibi Fang hanya tersenyum melihat tingkah Bianca.
"Tidak apa-apa Tuan Muda ini adalah sesuatu yang lumrah. Kalau begitu biar saya belikan pembalut karna dirumah ini tidak ada pembalut" Bibi Fang pamit.
"Tidak, tidak Bibi Fang kamu tinggal saja disini ganti seprai dan temani Bianca, biar aku saja yang beli" Bryan menutup keningnya dengan satu tangan dan pergi keluar.
Didalam minimarket dia heran kenapa semua orang melihatnya dan tertawa "Memang ada yang salah?" Gumam nya dalam hati.
Saat dia berada didalam minimarket dia bingung harus mengambil pembalut yang mana, karna dia tidak mengerti tiba-tiba ada dua orang gadis.
"Hihi lihat, Dia pasti pria yang lembut selain wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang indah dia bela-belain cuma pakai piyama dan membeli pembalut. Itu pasti untuk istrinya wah beruntung banget ya hihi"
Terdengar dua gadis itu sedang bergosip "Cih, kecil-kecil udah pandai bergosip. Gimana besarnya?" Gumamnya dalam hati "Tapi dia ga lagi ngegosipin aku kan?" Bryan melirik kaya yang berada disamping nya, tiba-tiba "Aaaaaa" Dia menjerit dan sontak membuat semua orang melihat kearahnya.
"Gue udah gila kali ya? Kenapa gue ga sadar kalau gue cuma pakai piyama? Haduhh malu-maluin banget. Sekarang gue lagi berada didepan tempat pembalut haduuuhh ini semua gara-gara Bianca gue harus bikin perhitungan" Bryan menutup mulutnya dan segera berjalan kearah yang lain.
"Presdir Bryan" Tiba-tiba ada yang memanggilnya.
Bryan menoleh dan dia semakin malu karna harus bertemu dengan rekan bisnis dalam keadaan seperti ini
"Sedang apa?" Tanya orang itu sok akrab.
"Sa saya sedang membeli popok, Iyaa popok untuk keponakan saya, tadi dia menangis dan ternyata stok popoknya habis jadi saya kemari untuk membelikan nya" Bryan gugup dan gelapagapan.
"Wah ternyata anda orang yang lembut dan juga begitu santai ya ketika dilingkungan rumah" Wajah Bryan memerah dia langsung mengambil popok dan pamit untuk pergi.
"Hahaha iya tangisan anak kecil itu membuat telinga saya sakit jadi saya buru-buru kemari tanpa berganti pakaian yasudah saya pamit takutnya keponakan saya menangis semakin kencang" Bryan berjalan setengah berlari kearah kasir disana semua orang pun menatapnya. Wajah nya merah padam dan setelah dia selesai transaksi dia bergegas pergi ke mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
"Lihat saja Bianca kamu akan membayarnya" Dia berteriak didalam mobil.
Bersambung...