Perjalanan cinta bi

Perjalanan cinta bi
Episode 49


__ADS_3

"Shasha?"


"Ada apa ini Bryan?" Bianca mengikuti Bryan karna dia kepo dengan keributan di bawah.


Bryan terkejut saat dia mendengar suara Bianca.


"Bi, kenapa kamu keluar?" Tanya nya "Kamu kembali kekamar sekarang!" Ekspresi wajah Bryan berubah menjadi sangat dingin. Melihat itu Bianca tidak ingin membuat keributan dengannya "Sepertinya Bryan sedang menahan amarah" Gumamnya.


Perempuan yang di cegah tadi langsung menghampiri Bryan dan memegang lengan nya "Bryan, siapa itu?" Tanyanya gelisah dan manja.


"Buat apa kamu kemari?" Bryan tidak menjawab pertanyaan perempuan itu, dia malah bertanya balik dan memberikan respond tidak suka.


"Kenapa? apa aku tidak boleh kembali?" Tanya balik dari perempuan itu.


"Kamu fikir ini motel yang kamu bisa datang dan pergi sesukamu?" Bryan mulai emosi matanya menyorotkan amarah dan membuat perempuan itu ciut.


"Bryan aku minta maaf, ini semua salahku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi" Perempuan itu terus memegang tangan Bryan, tapi Bryan menghempaskan tangan perempuan itu.


"Pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu didepan ku atau tidak kamu akan terima akibatnya" Bryan pergi meninggalkan perempuan itu yang terjatuh di lantai.


"Bryan! Apa kamu yakin akan memperlakukanku seperti ini? Kamu tidak akan menyesal?" Perempuan itu seperti sedang mengancam tapi Bryan tidak menggubrisnya dia tetap meninggalkan perempuan itu.


"Kamu ingin membuat Amara sakit hati dengan perlakuan mu yang seperti ini?" Perempuan itu berteriak dan Bryan menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan mencengkram dagu perempuan itu.

__ADS_1


"Jangan pernah sekali-kali kamu menyebut nama Amara di depan ku! Mulut kotormu itu tidak pantas!" Bryan melepaskan cengkramannya dengan keras membuat perempuan itu ketakutan. Dia pergi dan menyuruh penjaganya untuk menyeret perempuan itu keluar.


Bianca yang mengintip kejadian itu di balkon segera masuk dan berpura-pura duduk di sofa


Brakkkk.. Bryan membanting pintu


Bianca terkejut sekaligus sedikit takut melihat Bryan yang seperti itu.


"Kamu kenapa?" Tanya nya


Bryan tidak menjawab dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan menatap kesatu arah dengan tatapan penuh amarah.


Bianca tidak berani bertanya lagi dia membiarkan Bryan menenangkan dirinya terlebih dahulu. Saat Bianca beranjak dari sofa tiba-tiba Bryan menendang meja yang penuh dengan barang


"Aaaawww" Bianca menjerit karna terkejut dia semakin ketakutan melihat Bryan yang seperti itu


"Bryan ada apa? Aku takut" Bianca bertanya dengan suara yang terbata-bata. Dia mempunyai phobia ketika dia merasa takut nafasnya akan tersengkal-sengkal.


"Bianca kemari" Bryan meminta Bianca untuk duduk di sampingnya. Bianca takut dan enggan untuk duduk di samping Bryan. Melihat penolakan Bianca, Bryan semakin marah dia beranjak dari sofa dan menghampiri Bianca. Dia mencekik leher Bianca dan mulai kehilangan kendali.


"Kenapa? kenapa kamu menghindar? kamu takut padaku? Hey jawab!!!" Bryan berteriak dan Bianca pun mulai menangis "Bryan lepaskan, aku sesak. Kamu kenapa? Sadar Bryan ini aku" Bianca terus mencoba melepaskan tangan Bryan yang semakin kencang mencekiknya.


Bryan terus mengoceh kesana kemari dan cekikannya semakin kuat

__ADS_1


"Aaaa Bryan lepaskan! Bryan aku kehabisan nafas" Bianca mencoba menyadarkan Bryan sampai dia kehabisan nafas dan pingsan.


Saat melihat Bianca sudah tidak sadarkan diri Bryan langsung tersadar dan dia pun merasa lemas


"Bi,, bii,, bangun bi,, bi maafkan aku,, aku salah" Bryan memeluk Bianca dia berteriak meminta seseorang untuk datang kekamar mereka. Bibi Fang yang mendengar suara teriakan Bryan langsung berlari kekamar mereka


"Tuan muda,, tuan muda ada apa?" Bibi Fang panik melihat Bianca yang sedang dipeluk tidak sadarkan diri.


"Cepat tlpon dokter keluarga" Bibi Fang langsung menelpon Dokter Calvin. Dia termasuk dokter keluarga Wijaya


Setelah menunggu kurang lebih 20 menit Dokter Calvin pun tiba dan diapun memeriksa Bianca.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Bryan panik.


"Dia hanya syok. sepertinya pasien mempunyai trauma dan ketika dia ketakutan emosinya tidak stabil dan membuatnya sesak nafas. Sekarang mungkin pasien akan merasa takut jika bertemu dengan Tuan muda" Kata dokter Calvin


Bryan tidak menjawab dia menatap Bianca dan memejamkan matanya.


"Bodohh! bodoh! bodoohhh!! Kenapa aku bisa hilang kendali?" Dia memukul-mukul kepalanya.


"Tuan muda tenang, anda harus lebih mengontrol emosi anda. Saya sudah sering menyarankan agar anda bertemu dengan psikiater agar anda bisa lebih mengontrol emosi anda dan perlahan melupakan kejadian itu" Bryan menarik nafas, dia menatap wajah Bianca dan mengelusnya lembut.


"Aku harus melupakan Amara" Ucapnya dalam hati

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2