Perjalanan cinta bi

Perjalanan cinta bi
Episode 12


__ADS_3

Kediaman Bianca


Terlihat Bianca sedang melamun di balik jendela yang sangat besar. Dia bersandar pada sofa yang mengarah keluar jendela. Dia memandang langit dan sesekali mengeluh. Mungkin dia tidak tahu apa harus di lakukan nya.


Bianca mulai sedikit jenuh dengan keadaanya dia mulai berfikir melakukan hal yang tidak-tidak tapi dia teringat lagi akan ucapan dari ibundanya.


"Kalau gue pergi gitu aja papa pasti marah banget sama gue. bisa-bisa kepala gue di penggal pas dia nemuin gue nanti" Ucap bi dalam hati


suara ketukan pintu membuatnya terkejut


Tok tok tok...


Bianca terkejut dan menyuruh orang itu untuk masuk,


Ternyata yang datang adalah Steffi


"Sejak kapan lo tau cara ketuk pintu?" Tanya Bianca ketus ketika melihat seseorang yang mengetuk pintu itu adalah Steffi.


"Dih ko lo sewod amat sih. Gue kan tau kalo perasaan sahabat gue ini lagi andilau" Jawab Steffi sewot


"Andilau? Andilau apaan?" Bianca bertanya dengan tatapan sinis dan alis yang di naikan


"Antara dilema dan galau" jawab Steffi sambil tertawa. hal itu membuat Bianca tersenyum sedikit.


"Bi kita berangkat lusa?" (Steffi)


"Ya kayanya gitu" (Bianca)

__ADS_1


Bianca meneruskan lamunan nya ia memikirkan sesuatu.


"Gimana kalo gue kabur aja ya?" Tanya bianca serius kepada Steffi


Steffi melotot dan menjawab "tuhkan lo tuh udah gila. mana ada coba lo pake acara kabur-kaburan segala? Bi lo sadar. hal itu udah berlalu sekarang lo jalani aja kedepannya."


"Lo gatau sih gimana perasaan gue. gue kan yang ngalaminnya! gue takut terjadi apa-apa kedepannya stef" jawab Bianca sambil meremas kepalanya.


"Lagian lo pake ngilang segala lagi. Huh gue jadi pusing deh bi"


Mereka tidak berbicara lagi Steffi berinisiatif untuk mencari makanan di kulkas dan membuat jus segar untuk memfresh otak Bianca.


Di belahan dunia yang lain nyonya wijaya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Terlihat ia sudah berada dirumah dan sedang duduk bersantai diteras sambil memandangi taman.


Semalam terjadi perpecahan didalam rumah karna bryan dan tuan bram saling beradu mulut. mereka beradu argumen dan saling berteriak. Hari ini suasana hati bryan sedang kurang enak hal itu disadari nyonya wijaya dan ia menyuruh salah seorang ART nya untuk memanggil bryan.


Bryan pun datang dan duduk di samping sang ibu.


"tidak. mama hanya ingin mengobrol aja sama kamu" jawab nyonya wijaya


"Kalau mama cuman mau mengobrolkan soal papa atau pun perusahaan lain kali aja mah aku lagi ga mood" Ucap bryan dengan wajah masam


"Kalau mama membicarakan soal cucu gimana?" Tanya mama bryan sedikit menggoda


"Mama ini cucu apaan? Istri aja aku gapunya" jawab bryan sedikit tersenyum


"Makanya kamu segera cari istri sana! jangan cuma mikirin Alvina yang sudah pergi ninggalin kamu! kalau kamu bersungguh-sungguh kamu bisa mendapatkan 10x lipat yang lebih baik dari Alvina" ucapan mama sedikit membuat bryan tidak suka karna memang ia sama sekali tidak mau angkat suara jika mengenai Alvina.

__ADS_1


"Ma, Plese jangan ngomongin soal Alvina ataupun istri apalah itu bryan sama sekali ga siap. bryan gamau membicarakan hal itu sekarang" ucap bryan


"Tapi mama sekarang sudah berumur nak. teman-teman mama semuanya sudah punya cucu. tinggal mama saja yang belum punya cucu untuk dipamerkan" (Nyonya wijaya)


"Buat apa pamerin cucu mah? lagian aku masih muda dan masih terlalu dini untuk jadi seorang ayah" (bryan)


"Haiiissssshhh bryan umur kamu sudah 24 tahun sudah waktunya kamu mencari wanita untuk di seriusi" pernyataan nyonya wijaya membuat bryan terdiam dan mengakhiri pembicaraan nya.


Dan dengan waktu yang bersamaan tuan besar wijaya datang dan ingin bergabung bersama mereka, walaupun ia tahu bahwa putra sulungnya sedang marah padanya.


"Wah sepertinya sedang ada obrolan tentang cucu ya?" Tanya tuan Wijaya sambil melirik ke arah bryan


bryan akan beranjak pergi meninggalkan mereka tapi hal itu di cegah oleh tuan besar wijaya.


"Nak duduk dulu" ucapnya sedikit memohon


Bryan tidak menghiraukan nya dan tetap pergi meninggalkan mereka.


"Yang kamu inginkan adalah kebebasan kan?" Ucap tuan wijaya menghentikan langkah kaki bryan.


"Kalau kamu menginginkan hal itu kamu harus segera menikah dan lupakan soal Alvina. Papa tidak akan mencampuri urusan kamu tentang kehidupan pribadi maupun pekerjaan kamu" Tambahnya lagi


Bryan terdiam dan akan meneruskan langkahnya nya lagi


"Saya Bram Wijaya tidak pernah menarik apalagi mengingkari ucapan saya" Ucap tuan wijaya dengan serius membuat bryan kembalikan badannya.


"Cuma menikahi gadis kan?" Tanya nya

__ADS_1


"Ya! Kamu bisa hidup bebas. silahkan pilih dunia mu. tapi kamu harus ingat tanggung jawab itu atas kamu dan putri dari seseorang. Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya pada ayahnya" Jawab tuan wijaya.


"Itu masalah gampang! " bryan hanya menjawab singkat dan pergi meninggalkan tuan dan nyonya wijaya


__ADS_2