
Tujuh Bulan Kemudian
Seorang wanita cantik keluar dari apartemennya, seperti biasa pergi ke taman yang tidak jauh dari sana.
Berjalan mengelilingi taman sampai beberapa kali, lalu setelah hal itu di rasanya sudah cukup, wanita cantik itu pun duduk di bangku taman untuk beristirahat, ia memegangi perutnya yang semakin hari semakin bertambah besar.
"Ternyata udah di sini aja, masih pagi, bumil" Ucap seseorang yang duduk di sebelah wanita hamil tersebut
"Kevin, berhenti manggil gue kayak, gitu" Ucap wanita cantik tersebut yang tidak lain adalah Anis
"Faktanya, kan" Kevin tersenyum meledek
"Iya, iya...," Ucap Anis pasrah
"Ayo, lari pagi lagi, biar bayi Lo jadi anak yang kuat, kayak gue" Ucap Kevin
"Lo gak usah ngeledek, deh, gue tuh lagi hamil dan cuma bisa jalan keliling taman beberapa kali, doang" ucap Anis dengan wajah manyun
"Ya, udah dari pada Lo pagi-pagi udah manyun, mending minum jus dulu"
Kevin mengeluarkan 2 botol minuman segar dari Sling bag yang di bawanya
"Makasih, ya"
"Sama-sama, lagian jus itu baik untuk bumil kayak, lo"
"Lo, tau dari mana, jangan bilang kalau Lo belajar tentang ibu hamil dari internet"
Mendengar ucapan Anis hampir saja Kevin tersedak jusnya, tapi tidak jadi
__ADS_1
"Ya gak lah, untuk apa coba gue lakuin itu, kayak gak ada kerjaan lain, aja" Ucap Kevin agak gugup
"Terus, lo taunya dari mana, kalau bukan dari pihak Googling"
"Dari dokter yang menangani kehamilan Lo, lah"
Anis hanya ber_oh ria mendengar ucapan Kevin, sedangkan dalam hati Kevin merasa lega, karena dirinya tidak ketahuan telah mencari informasi terkait ibu hamil dari internet.
Kevin memang secara diam-diam selalu mempelajari segala hal yang baik untuk kesehatan ibu hamil dan juga calon anaknya.
Entah mengapa sejak tujuh bulan belakangan ini, terjadi perubahan besar dalam diri seorang Kevin yang terkenal akan kesadisannya, kevin berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya, yang tadinya ia sangat pemarah sekarang sudah tidak, terutama jika itu menyangkut Anis, kevin
selalu berusaha untuk membuat Anis tidak menderita, entah itu karena perasaan ibanya terhadap Anis atau karena ada hal lain, hal yang hanya mampu di jawab oleh Sang Maha
Pencipta dan waktu yang terus saja berjalan.
"Jadi cowok yang gue titipin ma orang Hotel waktu itu, elo...??" Tanya Anis tiba-tiba membuat buyar lamunan Kevin tentang isi hatinya
"Habisnya, gue waktu itu gak perhatiin banget wajah, lo"
"Lantas kenapa baru nanya itu tadi malam..." Tanya Kevin lagi pada Anis
"Sebenarnya..., gue udah berusaha banget untuk lupain dia, beneran gue udah berusaha banget, untuk hal itu, tapi...tadi malam gue..." Anis tidak melanjutkan perkataannya
"Hem...Lo tadi malam sedih lagi, kan"
"Iya, makanya gue jadi keinget sama Lo yang waktu itu mabuk, dan gue titipin sama pengurus Hotel"
"Dan itulah sebabnya, seorang cewek jutek seperti Anis, nelpon gue tengah malam cuma untuk pertanyaan yang gak penting" Ucap Kevin setengah berteriak
__ADS_1
"Tapi, kan sekalian minta tolong" Anis tersenyum baby face
"Ya, ya, kamu minta tolong beli sate ayam madura jam dua pagi, keajaiban banget tuh makanan masih ada yang buka restorannya, kalau gak, mungkin aja gue harus kembali ke Indonesia demi tuh sate"
"Maaf, ya, ngerepotin"
"Gak masalah, kok"
Begitulah Kevin yang selalu siap siaga kapanpun Anis membutuhkannya.
______*****______
Indonesia
Beberapa bulan kepergian Anis, novi menjalin hubungan dengan Arsya, bukan hubungan yang serius tapi hanya sebagai teman curhat saja, dimana lebih banyak Arsya yang curhat pada Novi, dan semua itu hanya tentang Anis.
Meskipun demikian, novi yang ternyata diam-diam menyukai Arsya selama beberapa bulan terakhir, tetap memberikan support terbaiknya kepada Arsya, yang tidak tahu sampai kapan akan peka terhadap isi hati dari seorang Novia Yolanda Anggara.
Skip.
Saat ini Arsya baru saja pergi ke tempat favorit Anis, tempat yang jadi kenangan Anis dan keluarganya.
Tempat itu juga telah menjadi tempat favorit Arsya, karena telah menjadi saksi bisu dalam mengungkapkan perasaannya pada Anis di sana.
Sudah tiga jam lebih Arsya berada di tempat tersebut, tiba-tiba handphone Arsya berdering, ternyata itu telepon dari tuan Albert, papa Arsya, beliau meminta Arsya untuk meninjau lokasi proyek baru mereka yang ada di daerah D, sebuah tempat yang masih masuk dalam kategori salah satu daerah di kota Bandung dan Arsya pun menuruti perintah Papanya itu.
Tekstur tanah yang sedikit tidak baik, sebab berada di daerah perbukitan hijau yang jarang di jamah, membuat Arsya sedikit susah mengendalikan mobilnya, hingga akhirnya Arsya menabrak seorang pengendara motor yang tiba-tiba saja keluar dari dalam jalan kecil perbukitan yang sunyi, dengan sigap Arsya menolongnya, membawa ke puskesmas terdekat, setelah di pastikan orang itu baik-baik saja, arsya pamit untuk undur diri, tidak lupa ia meminta maaf kepada orang tersebut, serta memberinya sedikit biaya kerugian, untuk mengganti motornya yang rusak dengan motor baru.
Arsya sangat terburu-buru hingga lupa menanyakan nama orang yang di tabraknya itu, tapi Arsya sangat ingat wajahnya, wajah itu mirip dengan seseorang yang di kenalnya, wajah yang selalu di rindukan olehnya, namun entah dimana sekarang pemilik wajah itu berada, dia hilang bagaikan di telan dunia, tapi tentu saja Arsya tidak akan menyerah untuk menemukannya kembali, meski itu tidak mudah.
__ADS_1
Bersambung....