Perjalanan Cinta Segitiga

Perjalanan Cinta Segitiga
Eps|45.Siasat Sebuah Jebakan


__ADS_3

Indonesia


Sesuai kesepakatan bersama dengan Anis yang di hubungi melalui telepon, mahendra dan istrinya hari ini akan kembali ke rumah mereka untuk memberikan kejutan kepada Bara, adiknya.


Mereka pun berangkat bersama dengan Novi karena Arsya masih berada di luar negeri.


Kini, Mahendra telah tiba di rumahnya, ia dan istrinya berhenti di depan pintu gerbang, melihat ke arah rumahnya yang sudah lama tidak di lihat, keadaannya masih tetap sama dengan lima tahun lalu, hanya saja warna cat nya sudah berubah dari kuning menjadi putih.


Ilustrasi Rumah Keluarga Belva :



"Ternyata masih tetap sama, ya, pa, meskipun warna catnya berubah" Ucap nyonya Bilqis seolah bermimpi dapat melihat rumahnya kembali


"Iya, ma, ini seakan mimpi yang nyata, papa sangat bersyukur bisa kembali lagi ke rumah kita" Ucap Mahendra penuh rasa syukurnya


"Pa, kira-kira apa para pelayannya juga di ganti oleh Bara dan Shintia" Nyonya Bilqis mulai khawatir


"Mungkin saja, ma, tapi mudah-mudahan, tidak" Mahendra menenangkan perasaan istrinya


"Kalau untuk pelayan, terakhir kali Novi mampir belum ada yang di ganti om, tante, tapi tidak tahu jika sekarang, karena Novi baru kali ini menginjakkan kaki lagi di rumah kalian" Novi angkat bicara


Mereka kemudian masuk ke dalam, novi di minta untuk menekan bel pintu, tidak begitu lama pintu pun terbuka dan alangkah terkejutnya orang yang membuka pintu tersebut ketika melihat siapa tamunya


"Tu..tu..tu..an" Ucap orang itu dengan terbata sekaligus gemetar ketika melihat siapa yang datang dan seketika ia pun jatuh pingsan


Beberapa saat kemudian...


"Kamu baik-baik saja" Ucap nyonya Bilqis lembut setelah hampir lima belas menit membuat pelayannya tersadar

__ADS_1


"Apakah ini benaran nyonya" Ia bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan nyonya Bilqis barusan


"Tentu saja ini saya, apa kamu kira saya orang lain" Nyonya Bilqis tersenyum manis


"Tapi, bukankah, maaf, nyonya sudah tiada" Dengan takut pelayan itu berkata terus terang


"Saya akan menjelaskan semuanya nanti, tapi untuk sekarang percayalah jika ini adalah saya, masih hidup dan sehat wal'afiat" Nyonya Bilqis menjelaskan secara singkat


"Dimana Bara dan Shintia..??"Pertanyaan dengan nada sedikit tinggi keluar dari mulut Mahendra pada seluruh para pelayannya yang saat ini sudah berkumpul


"Mereka sedang keluar tuan" Ucap Herman, kepala pelayan sekaligus kepala koki di rumah itu


"Saya sangat senang bisa kembali melihat kalian semua, ternyata Bara dan Shintia tidak mengganti kalian" Ujar Mahendra yang kini terdengar dengan nada rendah dan lembut


"Iya, tuan, tuan Bara memang tidak memecat kami semua, mengingat kami semua sudah lama bekerja di sini, hanya saja.." Ucapan kepala pelayan itu terhenti


"Gaji kami di kurangi" Ucap pak Man lirih


"Benar-benar kelewatan, sudah merencanakan kematianku, malah merebut hak orang lain juga, tidak cukupkah baginya hanya mengambil hak ku saja" Mahendra sudah mulai terlihat emosi


"Pa, tenangkan diri Papa, redam amarah itu" Ucap nyonya Bilqis pada suaminya itu


Bersamaan dengan perkataan nyonya Bilqis terdengar suara klakson mobil yang datang, segera beberapa pelayan selaku security di rumah itu yang kebetulan juga ikut berkumpul, keluar menyambut majikannya, meski awalnya mereka di cegah oleh Mahendra untuk keluar melayani Bara, namun nyonya Bilqis lagi-lagi mengingatkan baik untuk mereka keluar agar Bara tidak curiga dan malah kabur.


Beberapa orang itu keluar dengan sambutan pedas dari Bara yang memarahi mereka karena tidak berada di tempatnya (pos jaga) di dekat gerbang, dengan takut mereka mengatakan jika mereka sedang berpatroli di seluruh bagian rumah, meski demikian Bara terus saja memarahi mereka dengan dalih jika tidak ada satu orangpun yang tinggal di bagian depan.


Setelah puas memarahi para securitynya, bara dan Shintia masuk ke dalam rumah, dan semuanya terlihat biasa-biasa saja, para pelayan berada di posisi mereka masing-masing ketika sedang bekerja, sedangkan Mahendra dan istrinya sudah bersembunyi di kamar milik Anis, kecuali Novi, setelah sebelumnya sempat bertanya pada pak Man dimana tempat aman untuk bersembunyi, pak Man pun mengatakan jika kamar Anis tidak pernah di masuki oleh Bara maupun Shintia, mereka hanya memakai kamar utama yaitu kamar Mahendra dan memasuki kamar lainnya kecuali kamar Anis.


"Selamat siang paman, bibi" Tiba-tiba Novi muncul setelah secara diam-diam memutar dari bagian samping rumah ke bagian depan dengan bantuan seluruh pelayan

__ADS_1


"Novi.." Ucap Bara dan Shintia bersamaan


"Apa kabar, paman, bibi" Novi tersenyum ramah


"Tidak perlu berusaha beramah-tamah dengan kami, sebaiknya cukup katakan dengan jelas dan terus terang apa tujuan kamu" Shintia bersikap acuh


"Aku ke sini karena kangen dengan rumah ini" Ucap Novi santai


"Maksudnya.." Ucap Bara tidak senang dengan kehadiran Novi


"Paman dan bibi tahu, kan, jika di sini Novi banyak menghabiskan waktu bersama Anis, novi hanya merindukannya, untuk itulah Novi datang ke sini, apalagi Anis sendiri sudah lama menghilang tanpa jejak ketika terakhir kali tinggal bersama Novi, paman"


"Alasan.., kamu pikir kami akan percaya begitu saja, sudah lima tahun kamu tidak menunjukkan diri, sekarang mendadak kamu rindu rumah ini, mencurigakan..!!" Ucap Shintia sinis tidak percaya


"Katakanlah apa sebenarnya tujuan kamu, katakan..!!" Bentak Bara


"Novi sebenarnya ingin melakukan negosiasi dengan paman Bara dan bibi Shintia" Novi mulai menjalankan rencananya


"Negosiasi..??" Bara menaikkan satu alisnya


"Iya, perihal kasus kematian Anis, paman dan bibi, kan, memanipulasi kematian Anis yang ikut serta dalam kecelakaan kedua orang tuanya, padahal itu tidak benar, tapi paman justru malah membayar orang untuk melakukan pembunuhan terhadap Anis, bukan" Novi mulai melakukan penjebakan


"Darimana kamu.." Ucapan Bara terpotong dengan wajahnya yang terlihat ketakutan


"Mengetahuinya, maksud paman..??" Novi mencoba berpura-pura tersenyum licik


Bersambung....


Terima Kasih Atas Semangat Dan Dukungan Kalian.

__ADS_1


__ADS_2