Perjalanan Cinta Segitiga

Perjalanan Cinta Segitiga
Eps|60.Hari Bahagia (Revan_Viola)


__ADS_3

Hari yang telah di nantikan oleh kedua keluarga akhirnya resmi di gelar hari ini.


Revan dan Viola telah sah menjadi pasangan suami istri, semua orang termasuk Anis memberikan selamat dan ikut berbahagia untuk kedua sahabatnya itu.


Hubungan singkat serta perjodohan yang di tolak, menjadikan mereka pasangan paling fenomenal di seluruh berita televisi swasta.


Ada begitu banyak tamu besar yang turut menghadiri acara mereka, hampir seluruh kolega kerja, baik dari dalam maupun luar negeri di undang oleh tuan Alva.


Teman-teman Revan dan Viola dari sekolah Dasar hingga Fakultas juga di kirimi undangan, semua orang berbahagia mendoakan Revan dan Viola.


"Kamu berhak untuk bahagia, re, meski tidak dengan aku" (Ucap Anis dalam hati)


"Hai, nona cantik, apakah kau mau menikah dengan ku" Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki seumuran dengan Ringga mengagetkan Anis yang sedang melihat Revan dan Novi sahabatnya


"Apa..??, kamu.., kamu ingin melamar ku" celoteh Anis tersenyum


"Iya, apakah kau menolak diri ku yang tampan ini" Ucap anak kecil itu lagi


"Aku tentu tidak akan menolak mu dan sangat bahagia jika kita secepatnya menyusul mereka" Anis menunjuk ke arah Revan dan Novi kemudian berkata lagi


"Tapi..cukupkan usia mu dulu pangeran kecil" Anis lalu mencium pipi anak kecil tersebut


"Bukan aku yang mengatakannya..." Jujur anak kecil itu yang bernama Gamma, ia merupakan keponakan dari Novi dan juga sudah lama mengenal Anis


"Lalu siapa yang mengatakannya..??" Anis berpura-pura tidak mengetahui

__ADS_1


"Itu orangnya..." Gamma menunjuk ke arah belakang Anis dan ketika Anis mengikuti arah jari Gamma, terlihat Kevin berdiri di sebuah sudut, kevin yang menyadari ulahnya ketahuan lalu mencoba bersembunyi di balik kerumunan para tamu di sana


Anis lalu menghampiri Kevin setelah sebelumnya meminta Gamma pergi ke tengah pelaminan untuk ikut berswafoto bersama Novi.


Dengan penuh pesona dan santai Anis mendatangi Kevin yang sudah menyilangkan kedua tangan sembari menarik telinganya sendiri seperti seorang anak kecil meminta maaf karena berbuat salah.


"Kamu tahu.., tanpa kamu menyuruh Gamma mengatakannya, aku juga akan menerimanya jika kamu yang bertanya secara langsung" Ujar Anis sembari tersenyum begitu sampai di hadapan Kevin


"Maaf.." Kevin masih dengan posisi kedua tangan menyilang memegang masing-masing telinganya


"Hentikan ulah kamu, memangnya kamu mau di bilang sebagai ciri-ciri calon suami yang takut sama istri"


"Yaah..Kemungkinan" Kevin pun tertawa menurunkan kedua tangannya, begitupun Anis juga tertawa kecil


Tiba-tiba suasana bercanda antara Kevin dan Anis menjadi terusik karena kehadiran Havies, ia sengaja mendekati mereka untuk bertanya kapan mereka akan menyusul, berhubung semuanya telah lebih dulu membina kehidupan berumah tangga, dan yang tersisa hanya mereka berdua, kevin dengan pasti menjawab jika sebentar lagi akan ada kabar baik dalam minggu ini.


______*****______


Kurang dari satu jam lagi Anis dan Kevin akan sah menjadi pasangan suami istri, anis sangat bahagia sebab perjalanan cintanya telah berakhir dan berlabuh pada Kevin, ia pun mengingat awal mula bertemu dengan Kevin.


Kevin yang ia tinggalkan di hotel ketika mabuk bersama Revan waktu itu, menjadi penyelamat ketika ia pingsan di pinggir jalan hingga berubah menjadi malaikat penolong yang selalu ada di saat-saat keterpurukan dalam hidupnya,


siapa yang menyangka Kevin akan menjadi suaminya juga, namun ketika Anis mengingat Ringga, ia meneteskan air mata, kesedihannya muncul, lalu Anis mengambil pajangan figura foto Ringga yang tepat berada di meja riasnya.


"Ini adalah impian kamu, sayang, membuat Mama menikah dengan paman kevin, paman yang kamu inginkan untuk menjadi Papa kamu" Ucap Anis

__ADS_1


Sama halnya dengan Anis, kevin yang saat ini juga masih berada dalam kamarnya, merasa tidak percaya pada akhirnya ia yang merupakan seorang kri****l mendapatkan tambatan hati, gadis baik seperti Anis.


Kebaikan hati Anis, kegigihan serta semua luka yang Anis rasakan mampu mengubah seorang Kevin yang memiliki kehidupan keluarga yang tidak utuh (broken home) serta kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Hingga penantian panjang dan keikhlasannya menolong Anis, mencintainya secara sepihak, membuahkan hasil yang sangat di syukuri oleh Kevin saat ini.


Kevin pun larut dalam kenangan bersama Anis ketika pertama kali menemukannya tergeletak di pinggir jalan, membawanya kabur keluar negeri sampai ia meneteskan air mata ketika mengingat Ringga.


"Andai kamu masih ada, paman akan mengatakan bahwa Paman adalah Papa yang paling beruntung mendapatkan seorang anak seperti kamu, ringga" Gumam Kevin


Setelah berkata demikian Kevin mengusap air matanya serta menarik nafas dalam-dalam agar terlihat baik-baik saja, dan mulai berjalan keluar kamar untuk segera turun ke tempat dimana ia akan melakukan ijab kabul dengan Anis.


Terlihat Kevin saat ini tengah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan tuan Mahendra dan bapak penghulu, seketika rasa gugupnya pun muncul.


Ketika melihat Kevin sudah siap tuan Mahendra pun meminta istrinya untuk membawa Anis turun.


"Kamu sudah siap, sayang" Tanya nyonya Bilqis yang tiba-tiba masuk ke kamar Anis


"Sudah, ma" Jawab Anis


"Ayo kita turun, kevin dan semuanya sudah menunggu di bawah untuk ijab kabul kalian" nyonya Bilqis tersenyum bahagia


Nyonya Bilqis yang di minta oleh suaminya untuk membawa Anis turun lalu menuntun Anis berjalan dengan hati-hati, mereka mulai berjalan keluar kamar menuju tangga, satu persatu langkah keduanya menapaki anak tangga, dan tanpa mereka sadari saat ini ada begitu banyak pasang mata memperhatikan kedua ibu dan anak itu, tentu saja mereka takjub melihat Anis dengan busana pengantinnya.


Aura kecantikan wajahnya terpancar, seolah menghipnotis para tamu undangan terutama Kevin, kevin yang sejak tiga hari lalu belajar mengucapkan ijab kabul dari Revan, havies, serta Arsya, semakin merasa gugup, kevin takut jika dirinya melakukan kesalahan nantinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2