
"Aku sudah berbeda.." Ujar Anis
"Bagi aku, kamu tetap Anis yang dulu aku cintai, bahkan sampai detik ini rasa itu selalu ada"
(batin Revan)
"Boleh aku bertanya sesuatu..??" Ucap Revan yang kini saling berhadapan dengan Anis
"Apa.."
"Apakah Ringga.."
"Iya, dia janin yang waktu itu kamu tolak, karena berpikir itu bukanlah perbuatan kamu" Dengan tegas Anis memotong ucapan Revan dan berkata sejujurnya
"Bisakah kamu jelaskan bagaimana kita bisa melakukan semuanya hingga akhirnya Ringga bisa ada.."
"Aku mungkin bisa menjelaskan segalanya, den, tapi sekarang hal itu tidak perlu lagi untuk di jelaskan, sebab dari awal kamu tidak menginginkan kehadiran Ringga, bahkan waktu itu kamu tidak ingin mendengarkan penjelasanku, maka lupakanlah semua itu" Ungkap Anis mulai berkaca-kaca
"Tapi.."
"Lupakan semuanya Dendra, eh...maaf maksud aku Revan, karena sekarang nama kamu adalah Revan bukan lagi Dendra" Lagi-lagi Anis memotong ucapan Revan
"Jika kamu memang ingin memanggilku Dendra, silahkan saja" Ujar Revan
"Tidak, sejujurnya aku tidak ingin lagi menyebutkan nama masa lalu itu, itu nama orang yang lima tahun lalu telah pergi meninggalkan aku, dan aku akan mencoba melafalkan nama Revan untuk kamu yang sekarang" Anis berbalik membelakangi Revan sebab bulir bening di matanya menetes dan dengan segera Anis menghapusnya
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku" Revan berkata sembari memeluk Anis yang membelakanginya
"Aku sudah memaafkan kamu sebelum kata itu kamu ucapkan, re" Anis melepaskan tubuhnya dari pelukan Revan
__ADS_1
"Apakah kamu mau menikah denganku..aku ingin memperbaiki segalanya, anis??"
Pertanyaan Revan membuat jantung Anis seakan berhenti berdetak beberapa saat, tapi belum sempat Anis menjawabnya, ringga dan Kevin justru telah kembali dari berbelanja, dan pertanyaan itu tidak pernah di jawab Anis.
______*****______
Indonesia
Saat ini Arsya susah berada di Indonesia, meski sebenarnya ia masih ingin ada bersama Anis, tapi lagi-lagi hal itu harus tertunda karena Papanya meminta Arsya kembali memeriksa proyek mereka yang beberapa bulan ini telah berjalan di daerah D, daerah dimana waktu itu Arsya sempat menabrak seseorang.
Tuan Albert memang memiliki orang lain untuk mengawasi proyek tersebut, namun tidak ada salahnya jika sewaktu-waktu Arsya juga pergi ke sana melihat perkembangannya.
Kali ini Arsya tidak pergi sendirian, ia mengajak Novi untuk menemaninya agar tidak terlalu sunyi sepanjang perjalanan.
Dalam perjalanan itu mereka saling bercerita dan Arsya pun menceritakan ketika dirinya pergi ke luar negeri kemarin, ia bertemu dengan Anis di sana.
Novi dengan setia mendengarkan kebahagiaan Arsya bertemu dengan Anis, walau sebenarnya ada sedikit rasa perih di hatinya, tapi untuk sebuah senyuman Arsya, novi mampu memendamnya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua tiba di proyek, arsya mulai berkeliling melihat semua para pekerja tanpa sempat beristirahat terlebih dahulu setelah perjalanan jauh.
Tiba-tiba saja mata Arsya tertuju pada seseorang yang sedang melakukan pekerjaannya.
Arsya mendekati orang itu, dan memperhatikannya dengan seksama, ternyata Arsya mengenalinya, orang tersebut adalah laki-laki yang pernah di tabraknya.
Arsya menyapanya dan orang itu pun mengingat Arsya, mereka berdua saling bercengkrama, orang itu tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Arsya yang ternyata pemilik proyek tersebut.
Orang itu memang bekerja di sana dari awal proyek tersebut berjalan, dan waktu itu ketika Arsya menabraknya, orang itu sebenarnya baru saja selesai melamar pekerjaan di proyek tersebut dan di terima di sana.
Arsya memiliki kesempatan untuk menanyakan namanya Mahendra, namun ia tidak menyebutkan nama lengkapnya.
__ADS_1
Di saat mereka berdua tengah asyik berbincang, novi datang membawakan minuman serta camilan untuk Arsya yang sejak tadi belum sempat beristirahat.
"Pak, sebaiknya bapak beristirahat dulu" Novi sedikit berteriak sebab jarak mereka terhalang susunan batu bata
"Oke.." Jawab Arsya
"Maaf, saya harus kembali dulu ke dalam" Ucap Arsya pada Mahendra
"Iya, tidak apa-apa, pak Arsya, sekali lagi terima kasih banyak atas kebaikan bapak kepada saya, motor yang waktu itu bapak berikan sangat bermanfaat sekali, istri saya menggunakannya untuk berjualan sayur keliling setelah mengantarkan saya terlebih dahulu ke proyek" Jelas Mahendra
"Oh, ya, kalian memang orang-orang pekerja keras, kalau begitu saya ikut senang mendengarnya" Ucap Arsya sembari melangkah pergi meninggalkan Mahendra
"Ini, sebaiknya pak Arsya beristirahat dulu" Novi menyodorkan nampan yang di pegangnya setelah Arsya tiba di hadapannya
"Terima kasih, novi"
"Sama-sama"
Sementara Arsya menikmati minuman dan camilannya, Novi berjalan sendirian dan dari jarak yang tidak terlalu jauh, hanya sedikit terhalang susunan batu bata, Novi memperhatikan orang yang tadi berbicara dengan Arsya, seakan Novi mengenal orang itu, namun Novi tidak ingat dimana, sebaliknya Mahendra pun demikian, ia juga memperhatikan Novi dan setelah memperhatikannya, mahendra ingat Novi siapa, ia ingin sekali menemui Novi, namun Mahendra kembali teringat akan janjinya pada sang istri yang tidak ingin indentitas mereka di buka dulu sebelum mereka menemukan putri mereka.
Mahendra lantas mengurungkan niatnya untuk menemui Novi, mahendra akan bertanya terlebih dahulu pada istrinya sebelum pergi menemui Novi.
Skip.
Sore harinya Mahendra dan para pekerja lainnya telah selesai bekerja, mereka pun pulang, sedangkan Mahendra sendiri masih menunggu istrinya menjemput, dan saat istrinya telah datang, mahendra tanpa basa-basi langsung menceritakan pada istrinya perihal Novi yang ia lihat tadi siang, istrinya sangat antusias dan ingin mereka menemuinya, tapi ketika mereka pergi ke tempat istirahat para atasan proyek, mandor proyek yang kebetulan masih belum pulang mengatakan bahwa bu Novi dan pak Arsya sudah pulang setengah jam yang lalu.
Mahendra dan istrinya terlihat kecewa, tapi mereka yakin suatu hari nanti pertemuan dengan Novi pasti akan terjadi.
Bersambung....
__ADS_1