
Seminggu kemudian
Baru saja bahagia karena sahabatnya yaitu Kevin telah pulih sepenuhnya, anis malah bersedih kembali sebab putra kecil semata wayangnya sakit, anis sangat terpukul tatkala mendengar jika Ringga di diagnosa oleh dokter terkena leukemia atau kanker darah dan harus secepatnya mendapatkan donor sum-sum tulang belakang sebagai upaya penyembuhan untuk Ringga, dan jalan satu-satunya Ringga sembuh hanya dengan di berikan donor oleh ayah kandung Ringga.
Anis pun memberitahukan hal tersebut pada Revan, revan yang mendengar kabar itu, tentu saja bersedia mendonorkan sum-sum tulang belakangnya tanpa syarat apapun, namun tanpa Revan ketahui secara diam-diam tuan Alva telah lebih dahulu mengajukan persyaratan untuk Anis jika ingin di tolong oleh Revan, yaitu setuju untuk menikah dengan Revan.
Flashback ON
Sewaktu Anis menelepon Revan, tuan Alva yang tengah berada di rumah sakit yang sama tanpa sengaja mendengar pembicaraan Anis, ia pun menemui Anis dan meminta Anis menikah dengan Revan agar dirinya dapat menyetujui jika Revan mendonorkan sum-sum tulang belakangnya, di sisi lain niat tuan Alva yang sebenarnya adalah tentang keuntungan bisnis, pikirannya itu kambuh lagi setelah mengetahui Anis adalah putri tunggal konglomerat ternama serta mengetahui kalau Anis tidak ingin menikah dengan Revan, melalui orang kepercayaannya yang memata-matai hubungan antara Anis dan Revan.
Flashback OOF
(Waaaah tuan Alva punya U dan G di dalam nasgor rupanya)
😅😅😅
Tentu saja hal berbeda yang di katakan oleh Revan dan tuan Alva membuat Anis dilema, satu sisi Anis ingin menyelamatkan Ringga tapi di sisi lain keegoisan dari sikap tuan Alva juga harus di pertimbangkan, meski sekalipun persyaratan itu bisa di katakan tidak maksud akal, mengingat Revan merupakan ayah biologis Ringga yang bisa kapan saja menolong putranya tanpa harus meminta izin pada siapapun.
Setelah mempertimbangkan segalanya, anis memberitahukan pada tuan Alva jika dirinya tidak menyetujui permintaan tuan Alva dengan alasan yang cukup logis.
Tuan Alva yang sudah berada di rumah tentu sangat marah mendengar hal tersebut, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika Revan meneleponnya dan memberitahu bahwa dirinya akan mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Ringga dan tuan Alva hanya menelan kekecewaan dari keputusan Revan yang tanpa persyaratan itu.
📱"Pa, papa dimana sekarang" Ucap Revan via telpon
__ADS_1
📱"Di rumah, re, memangnya ada apa" Jawab Papa Revan
📱"Revan mendapatkan kabar, pa, ringga sakit, leukimia, dan membutuhkan donor sum-sum tulang belakang"
📱"Kalau begitu kamu harus mendonorkan sum-sum tulang belakang kamu, re, karena hanya keluarga yang memiliki hubungan darahlah yang bisa mendonorkannya"
📱"Papa...setuju..., papa tidak marah, jika Re melakukan hal ini tanpa syarat apapun"
📱"Tidak, re, untuk apa Papa marah, justru Papa sangat ingin cucu Papa bisa di sembuhkan"
📱"Terima kasih, pa" Ucap Revan
📱"Sama-sama, nak, kamu tahu, kan, yang terpenting bagi Papa saat ini hanyalah kebahagiaan kamu, dan Papa akan selalu memberikan dukungan pada apa yang kamu lakukan, jika kamu tidak bisa memperbaiki kesalahan kamu pada Anis, setidaknya kamu bisa ada di saat Ringga membutuhkan kamu, re" Ungkap Papa Revan.
Mendapatkan dukungan penuh dari Papanya, revan bergegas meninggalkan kantornya menuju rumah sakit, namun di perjalanan tiba-tiba saja ada sebuah mobil van yang menghadang mobilnya, beberapa orang turun dan langsung meminta Revan turun dari mobil di bawah todongan pistol.
Revan yang tidak dapat berbuat apa-apa hanya pasrah ketika beberapa orang yang jumlahnya hampir sepuluh orang tersebut mengarahkan senjata mereka semua ke arahnya.
Revan mengikuti arahan mereka yang memintanya untuk ikut bersama mereka, mata Revan di tutup dan di bawa ke suatu tempat.
Skip.
Sementara itu di rumah sakit Anis dan kedua orang tuanya tengah menanti kedatangan Revan yang tidak kunjung ada kabarnya, sedangkan keadaan Ringga sendiri tiba-tiba menjadi kritis, di karenakan penyakit Ringga sudah memasuki stadium akhir.
__ADS_1
Anis terus saja menangis mendengar hal itu, ia masih belum percaya Ringga yang periang serta selalu menjadi penyemangat terbesar dalam hidupnya, mendapatkan penyakit tersebut, padahal selama ini Ringga tidak pernah menunjukkan gejala-gejala atau tanda-tanda sedang sakit.
Memang dokter sendiri mengatakan tidak semua orang mengalami gejala-gejala atau tanda-tanda sedang sakit, hanya ada beberapa yang tidak mengalaminya, dan Ringga merupakan salah satunya.
Di tengah menanti ketidakpastian kapan Revan akan tiba di rumah sakit, kevin meminta dokter memeriksanya, apakah ia dapat menjadi pendonor untuk Ringga, ternyata sum-sum tulang belakang Kevin tidak cocok untuk Ringga, anis yang mengetahui hal itu lagi-lagi hanya bisa mengharapkan kehadiran Revan yang tidak bisa di hubungi sama sekali.
Anis mulai berpikir apakah ketidakhadiran Revan ada hubungannya dengan penolakannya terhadap permintaan tuan Alva, tapi belum sempat Anis berpikiran jauh, ringga yang semakin kritis, malah di keluarkan dari ICU, dalam keadaan di tutupi kain putih dari ujung rambut hingga kakinya.
"Dok, apa yang terjadi pada cucu saya...??" Tanya tuan Mahendra
"Maafkan...kami pak, ringga tidak dapat bertahan melewati masa kritisnya, saya dan rekan medis lainnya turut berdukacita yang sedalam-dalamnya" Ucap sang dokter
"Ringgaaaaa" Anis menjerit histeris dan jatuh pingsan
Beberapa saat kemudian...
Terbangun dari pingsannya, anis menanyakan keberadaan Ringga, ia mengaku telah bermimpi buruk tentang Ringga yang meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Nyonya Bilqis yang paham akan keadaan Anis, memeluk putrinya dan mengatakan jika semua itu bukan mimpi melainkan sebuah kenyataan.
Anis benar-benar sangat tersakiti mendengar kalimat "kenyataan" tersebut, kalimat itu seolah adalah malaikat maut yang telah siap mencabut nyawanya, tapi dalam kekosongan hatinya saat ini, anis sadar harus menerima kalimat "kenyataan" itu dan berkata...
"Maafin...Mama, sayang"
__ADS_1
Bersambung....