
Amerika
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa sudah tujuh bulan Revan berada di Amerika, namun Revan masih saja belum bisa melupakan semuanya, semua seakan masih belum cukup meskipun sudah lama berlalu.
"Sampai kapan, re, mau sampai kapan, lo bisa lupain semua ini" Gumam Revan yang tengah duduk di sebuah bangku yang berada di bawah pohon rindang di kampusnya
Ya, saat ini Revan datang ke lokasi terakhir dirinya bertemu dengan masalalu-nya, masalalu yang mengubah dunia Revan saat itu, menjadikan dirinya dingin sedingin es.
Karena kampus Revan ada di Inggris, maka kali ini Revan tidak pergi menggunakan pesawat umum melainkan dengan pesawat pribadinya, revan berangkat dari kota New York menuju kota London yang memakan waktu sekitar tujuh jam lebih perjalanan, setelah itu barulah Revan menggunakan jasa kereta api untuk membawanya ke kota Oxford.
Revan duduk sambil melamunkan masa-masa kelam percintaannya yang kandas akibat adanya sebuah pengkhianatan dari seseorang yang sangat di cintanya tersebut dan kini hal sama terjadi lagi meskipun dengan orang yang berbeda.
Tiba-tiba saja Revan berdiri, matanya meneliti sesuatu di pohon, revan tersenyum kecil melihat ternyata masih ada namanya dan nama cinta masalalu-nya di sana, nama yang sempat mereka berdua ukir di pohon itu, serta sama-sama berjanji akan menjaganya sampai maut memisahkan.
Setelah hampir dua jam berada di kampusnya, revan pun pergi sebab dirinya tidak ingin lebih lama lagi berada di sana, revan segera menyetop taxi ketika sudah berada di jalan raya, setelah itu ke stasiun kereta menuju ke kota London yang hanya sekitar satu jam dari kota Oxford, sekarang revan sudah kembali ke pesawat pribadinya yang mendarat di lapangan udara kota London dan langsung terbang menuju kota New York.
Kehidupan Revan selama tujuh bulan belakangan ini yang masih belum bisa melupakan semuanya, sehari-hari di Amerika ia lewati dengan menyibukkan diri bekerja untuk mencoba berusaha melupakan yang telah terjadi meski hanya sesaat.
Skip.
Dua Hari Kemudian
Hal yang tidak di inginkan oleh Revan terjadi, wanita yang di ketahuinya juga ada di Amerika, kini malah datang ke hadapannya.
"Kamu" Revan terkejut melihat siapa wanita yang telah menunggu di ruangannya
__ADS_1
"Re..." Ucap wanita itu
"Keluar dari ruangan gue" Ucap Revan tanpa memandang wajah wanita yang kini telah berdiri tepat di depannya
"Keluar...!!!" Bentak Revan sekali lagi
"Maafin gue, gue gak bisa pergi lagi, re, karena ada sesuatu yang harus gue luruskan"
"Dan Lo pikir, gue akan dengerin semua kata-kata Lo lagi, sekarang...!!! sebaiknya Lo segera pergi dari sini karena gue masih banyak hal penting lainnya yang harus di kerjakan" Jelas Revan tetap acuh pada wanita itu
"Alora udah gak ada, re"
"Maksudnya"
"Gue bukan Alora"
"Dia jujur, re" Ucap seorang laki-laki yang masuk tiba-tiba ke dalam ruangan tersebut tanpa permisi
"Heh..., ternyata Lo juga ada di sini, gimana kabar anak kalian, pasti udah gede, sekarang"
"Plaaakkk..." Wanita itu menampar Revan
Revan seketika diam membisu
"Gue bukan Alora, tapi gue adalah Aruna, A_RU_NA"
__ADS_1
Ucap Aruna dengan tegas mengeja namanya
Revan masih diam dengan pengakuan dari wanita itu, sedangkan Aruna secepatnya mengambil tas ransel dari tangan laki-laki yang datang bersamanya, aruna memberikan tas ransel itu pada Revan, revan hanya terdiam memperhatikan tas tersebut, revan sadar bahwa ia sangat mengenalnya, sebab itu adalah pemberian darinya, lantas Aruna meminta Revan membuka tas itu, dan entah mengapa Revan menuruti perintahnya, revan membuka tas itu dan melihat semua dengan mata kepalanya, di dalam tas tersebut ada banyak sekali foto-foto Alora yang sedang sakit, revan sangat tidak mengerti semua itu, ia pun melihat kearah aruna, aruna yang paham segera mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku kemejanya, aruna pun memutarkan sebuah video di dalam laptop Revan, dan setelah semuanya selesai, revan menangis sejadi-jadinya di hadapan Aruna berserta laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Arsya.
Arsya sendiri adalah teman kuliah dari Revan, revan biasa memanggilnya dengan nama depannya yaitu Delvind, mereka berdua adalah sahabat kompak seperti saudara kandung, sampai akhirnya Revan mengetahui jika mereka berdua mencintai gadis yang sama yaitu
Alora Jelita, seorang gadis cantik yang saat itu menjadi primadona di kampus mereka.
Awalnya cinta segitiga yang muncul di antara mereka saat itu tidak mampu mengubah perasaan Alora untuk tetap memilih Revan bukan Delvind, maka dengan besar hati Delvind pun harus mengalah, mengorbankan cintanya sendiri demi sahabatnya Revan.
Sampai suatu hari, alora di vonis dokter mengidap leukimia stadium akhir, membuat Alora yang tidak ingin Revan tahu kebenaran dari penyakitnya mengutus Aruna, saudara kembarnya untuk menemui Revan dan menyatakan dirinya hamil, revan yang memang sama sekali tidak tahu tentang Aruna, percaya jika dia adalah Alora yang hamil anak dari Delvind sahabatnya.
Kini, revan sudah tahu kebenarannya, kebenaran pahit yang membuatnya melupakan bahwa dia seorang laki-laki,
revan terus saja menangis melihat video pernyataan maaf Alora sebelum dirinya meninggal, dalam video tersebut Alora juga meminta Revan untuk mencari orang yang lebih baik dari dirinya (Alora).
"Maafin gue, re" ucap Delvind
"Gue sebagai saudara kembar Alora juga minta maaf, karena gak kasih tahu Lo kebenarannya"
"Hiks...hikks...aaaaaarrrrgggghhh" Revan hanya berteriak
Dengan sigap Delvind memeluk Revan guna menenangkannya.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon Maaf Baru Bisa Update Lagi
Karena Author Baru Sembuh