
"Tapi, lo juga tahu, kan, siapa Ringga" Revan mulai menunjukkan sikap dinginnya meski masih terlihat santai
"Gue tahu benar siapa Ringga, tapi Lo juga tahu, kan, jika gue lebih dahulu kenal Anis daripada Lo kenal dia, dan di awal pertemuan kami, gue sudah jatuh cinta sama Anis" Jelas Delvind terlihat sedikit kesal
"Tapi Lo malah hadir sebagai orang ketiga sehingga gue tidak punya kesempatan untuk mendapatkan cinta Anis" (Delvind melanjutkan ucapannya dalam hati)
"Sayangnya Anis lebih memilih gue daripada Lo"
(Revan pun berkata dalam hatinya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi pada persahabatan mereka)
"Kenapa Lo diam, apakah gue salah jika meminta kita sama-sama sportif untuk mendapatkan cinta Anis" Ujar Delvind lagi sebab melihat Revan hanya diam
"Lo tidak salah, kalau begitu, baik, kita akan bersaing secara sportif" Revan dengan tegas menyetujui permintaan Delvind
"Sekarang gue pergi dulu, sampai bertemu lain kali, satu lagi, lo tenang saja, tidak usah khawatir jika nantinya Anis lebih memilih gue, gue berjanji akan menyayangi Ringga seperti anak gue sendiri"
Ucap Delvind kemudian bangkit dari tempat duduknya pergi meninggalkan Revan begitu saja
Revan mungkin akan bersaing secara sportif dengan Delvind meskipun Revan sendiri sedikit tidak yakin jika Anis akan memilih salah satu dari mereka, karena di samping Anis saat ini ada Kevin, ada kemungkinan Anis akan lebih memilih Kevin daripada dirinya dan Delvind, apalagi Ringga sendiri sangat menyayangi dan menginginkan Kevin untuk menjadi Papanya, tapi apapun itu, Revan akan berusaha keras untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan cinta Anis untuknya.
"Anis, gue akan tetap mencaritahu sendiri apa sebenarnya yang telah terjadi sampai Ringga hadir untuk kita" Gumam Revan yang kemudian juga pergi meninggalkan tempat pertemuannya dengan Delvind barusan.
__ADS_1
Sementara itu Delvind sendiri pergi ke apartemen Anis, kedatangannya ke sana membuat Anis terkejut, karena baru beberapa jam lalu mereka berpisah di bandara Soetta dan sekarang ia ada di hadapan Anis.
Anis yang mengenal Delvind dengan panggilan Arsya dan memang lebih suka memanggilnya dengan nama itu, lantas mempersilahkannya masuk ke dalam, setelah kedua sudah duduk bersebrangan di ruang tamu, anis menanyakan ada keperluan apa Arsya datang.
Arsya pun mengingatkan Anis jika sebelumnya di acara ulang tahun kantor fatner bisnisnya waktu itu, ia sempat mengatakan akan sedikit lama di sini untuk urusan perpanjangan kontrak bisnis mereka dan kebetulan setelah setengah jam Anis take-off dari bandara Soetta, arsya mendapatkan telepon dari rekan bisnisnya itu yang meminta Arsya untuk datang, karena itulah Arsya berangkat ke luar negeri, arsya juga mengatakan jika dirinya hanya berniat sekalian mampir untuk memastikan Anis dan Ringga tiba dengan selamat sampai ke apartemennya.
Anis yang sudah mengingat hal itu hanya mengangguk mengerti sekaligus menghargai kedatangan Arsya yang sekedar mengecek keadaannya.
"Alasan sempurna yang masuk akal" (batin Anis)
Sejenak mereka saling berbicara hal lainnya di sana, namun entah mengapa Arsya merasa Anis tidak nyaman dengan kehadirannya tersebut, ia kemudian malah bertanya apakah Anis tidak menyukai kedatangannya saat ini.
Hal itu membuat Arsya sadar bahwa kehadirannya telah menganggu Anis, ia pun meminta maaf dan memutuskan untuk pergi.
"Kalau begitu sebaliknya aku pergi sekarang, maaf menganggu kamu, selamat beristirahat" Arsya sebisanya tersenyum manis
"Terima kasih telah mampir" Ucap Anis yang mengantarkan Arsya ke pintu keluar
"Lain kali boleh, kan, aku ke sini lagi, itupun jika kamu tidak keberatan" Arsya berbalik sesaat setelah beberapa langkah berjalan
"Tentu saja boleh" Anis berkata demikian dan menutup pintunya
__ADS_1
"Kejujuran yang tepat untuk mengusir seseorang" Gumam Arsya ketika dirinya sudah berada di luar apartemen Anis
Arsya baru akan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar, namun ia di kejutkan oleh kehadiran Revan di dalam lift yang baru saja terbuka tersebut.
Mata mereka saling bertemu dan tanpa saling berkata apapun mereka berdua berpisah di sana.
Skip.
Saat ini Revan telah berada di dalam kamar apartemen milik Kevin, ia memang sengaja datang setelah sebelumnya sempat membuat janji dengan Kevin melalui telepon yang waktu itu sempat di minta oleh Revan dari Kevin ketika berada di kamar apartemen milik Anis.
Kevin sendiri sudah mengetahui apa tujuan Revan, revan ingin Kevin menceritakan tentang kejadian yang terjadi antara Anis dan dirinya sehingga Ringga ada dan memang Kevin mengetahui semua itu, sebab Anis pernah bercerita padanya.
Revan pun mulai mendengarkan cerita Kevin, kevin lalu memulai cerita lima tahun lalu dengan mengingatkan Revan pada malam dimana waktu itu mereka berdua minum, revan tentu saja mengingat kembali kejadian itu, yang ketika pagi harinya Revan tersadar dan telah berada di rumah kontrakan milik Anis dan Novi sahabatnya.
Kevin melanjutkan lagi perkataannya, ia mengatakan jika malam itu Revan yang tidak sadar sepenuhnya bangun untuk pergi ke dapur tapi sebenarnya ia tidak pernah sampai ke sana, melainkan malah masuk ke kamar Anis, meminum air dalam gelas di atas meja nakas di kamar Anis dan mengira dirinya telah sampai di dapur.
Sejauh ini cerita Kevin, revan mengaku mengingatnya, ia memang berniat untuk pergi ke dapur, namun tidak mengetahui jika dirinya salah masuk ruangan karena masih dalam pengaruh minuman.
Kevin langsung mengatakan jika setelah Revan meminum air putih di kamar Anis, revan langsung memaksa Anis melakukan semuanya hingga selesai, dan Anis bahkan tidak mengetahui apakah saat itu Revan sadar dengan perbuatannya atau tidak karena waktu itu Revan sempat memakai pakaiannya sendiri, anis lalu pergi meninggalkan Revan sendirian di kamarnya, anis pindah ke kamar Novi, menangis semalaman di sana, lalu keesokan harinya Anis pergi meninggalkan Revan sendirian di kontrakannya.
Bersambung....
__ADS_1