
Revan kini telah tiba di sebuah cafetaria berbintang, tempat dimana ia akan bertemu kliennya untuk meeting.
Ketika berjalan dari tempat parkir menuju pintu masuk cafetaria Revan sedikit melamun hingga tidak sengaja menabrak seseorang.
Dengan cepat Revan meminta maaf dan orang itu pun melakukan hal yang sama, meminta maaf kepada Revan sebab dirinya sedang terburu-buru hingga tidak memperhatikan langkahnya.
Sesampainya Revan di salah satu ruangan VVIP cafetaria tersebut, ia terkejut melihat siapa kliennya kali ini, kliennya ternyata adalah orang yang baru saja bertabrakan dengannya di pintu masuk.
"Jadi anda yang akan meeting bersama saya" Ucap Revan
"Apakah anda bapak Revandhi...??"
"Iya, dan Anda adalah Nona...??" Revan mengingat siapa nama wanita yang sedang ada di hadapannya saat ini, tapi tiba-tiba terpotong
"Panggil saja saya Viola tanpa kata Nona"
"Tapi tadi sekertaris saya bilang jika nama anda bu..." Lagi-lagi kalimat Revan terpotong
"Apakah kita hanya akan berbincang soal nama atau akan memulai pembahasan meeting hari ini" Ucap Viola acuh tanpa merasa bersalah karena terus memotong perkataan Revan
"Astaga Nona, apakah begini cara mu berbicara dengan seorang klien, sungguh tidak ada kesabaran serta bersikap dingin, bagaimana jadinya laki-laki yang menjadi suami kamu nanti jika kamu tidak sabar seperti itu" (batin Revan)
Meeting pun di mulai dan berakhir dengan kesepakatan yang memuaskan, Revan dan Viola menandatangani kontrak kerjasama mereka.
Sebelum berpisah Revan menawarkan Viola untuk makan siang terlebih dahulu, viola menerima tawaran tersebut dan merekapun akhirnya makan siang bersama di luar ruangan VVIP (meeting).
"Maaf sebelumnya, saya mendengar nona Viola baru saja mengabdikan diri mengurus bisnis keluarga, apakah itu benar..??" Tanya Revan memulai pembicaraan
"Bisakah kita tidak bicara seformal itu" Balas Viola ketus
__ADS_1
"Oke, baiklah, tidak masalah, saya hanya mencoba untuk bersikap sopan saja" Ucap Revan tersenyum kecil
"Silahkan, kamu bersikap sopan, tidak ada larangan dan saya juga menginginkan itu, tapi anggap saja kita ini adalah teman bukan hanya fatner kerja" Ungkap Viola dengan senyum yang tampak di paksakan
"Jika tidak menyukai ku sebaiknya katakanlah nona, bukan hanya tersenyum dengan terpaksa seperti itu" (batin Revan)
"Percepatlah mengunyah makanan itu hingga habis agar kita bisa selesai tuan, andaikan saja kalimat itu dapat di ucapkan, huuuhhh...kalau bukan karena permintaan Papa, gue males banget di sini" ( batin Viola)
"Kamu melamun" Ucap Revan menyadarkan Viola
"Saya sudah selesai, ayo kita pergi"
"Tapi.., kamu bahkan belum menyentuh makanannya"
"Dan bahkan belum menjawab pertanyaan ku barusan" (lanjut Revan dalam hatinya)
"Hmmm... sebenarnya saya ada keperluan lain" Kilah Viola
"Tidak, terima kasih" Ucap Viola berlalu meninggalkan Revan
"Benar-benar wanita aneh, tidak sabar, dan dingin seperti kutub, sikap kamu terlihat mirip dengan Anis, hmmmm..." Gumam Revan
Skip.
Revan tengah beristirahat di kamarnya, ia mendapat sebuah pesan untuk turun dari Papanya, dengan malas Revan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga sampai tiba di depan ruang kerja, dimana Papanya sudah menunggu.
Revan tentu bisa menebak apa yang ingin di bicarakan oleh Papanya, benar saja tembakan tersebut, beliau menanyakan bagaimana hasil meeting tadi siang, revan menjawab semua berjalan lancar sesuai keinginan meskipun sikap dari kliennya kali ini dingin seperti kutub.
Dalam perbincangan malam ini, papa Revan mengatakan jika beliau mendapatkan undangan makan malam bersama keluarga tuan Anggara, temannya yang ada di Bandung waktu itu, namun pertemuan kali ini murni hanya sekedar reuni persahabatan bukan untuk sebuah perjodohan, revan pun menerima tawaran Papanya tersebut, padahal beliau berpikir jika Revan tidak akan mau menerima ajakan tersebut.
__ADS_1
Papa Revan lantas berpamitan untuk tidur, tapi Revan mencegahnya, dengan ragu namun pasti Revan mulai menceritakan apa yang telah terjadi ketika ia berpetualang di luar, tentunya cerita tersebut adalah kisah cintanya bersama Anis, mulai dari pertemuan mereka hingga kehamilan Anis yang awalnya di anggap bukan anak Revan, dan hal itulah yang menyebabkan Revan ikut pergi dari Indonesia dan tinggal di Amerika.
Sampai akhirnya Revan mengetahui kebenaran tentang Alora yang juga di tuding mengkhianati Revan, padahal sebenarnya tidak demikian, baru di situlah Revan juga menyadari kesalahannya pada Anis yang ternyata memang mengandung anaknya saat itu, tapi Revan telah terlambat untuk kembali pada Anis, sebab luka hati Anis tidak bisa terobati dengan penyesalan Revan.
Papa Revan sangat terkejut mendengar pengakuan dari anak tunggalnya itu hingga tiba-tiba saja beliau hilang keseimbangan dan jatuh pingsan.
Revan begitu panik, ia berteriak meminta pertolongan, mamanya yang mendengar teriakkan Revan datang dan terkejut melihat suaminya pingsan, ia pun segera memanggil semua bodyguard untuk membawa tuan besar mereka ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, setelah kondisi tuan Alva stabil Revan di minta masuk ke ruangan Papanya di rawat, sebab beliau yang memintanya.
"Mafin Re, pa" Ucap Revan sembari memeluk Papanya
"Papa syok atas pengakuan kamu, namun Papa juga menyadari, penyebab semua ini adalah Papa, jika Papa tidak bersikeras menjodohkan kamu, kamu tidak akan pergi dan mengalami pengalaman itu" Ucap tuan Alva lirih
"Memangnya apa yang telah terjadi pada kamu, nak..?? Tanya Mama Revan yang belum mengetahui apapun
"Nanti Revan ceritakan kembali pada Mama, tapi secara garis besar, revan menghamili seorang wanita, dan anak Revan, cucu kalian ada bersamanya" Jujur Revan
"Tanpa sebuah pernikahan..!!" Tebak langsung Mama Revan lemah
"Iya..., ma" Jawab Revan singkat
takut kalau pingsan juga
"Apa kesalahan gadis itu sehingga kamu tega melakukan hal itu tanpa sebuah pernikahan, oh Tuhan, Re" Mamanya sedikit emosi terhadap Revan
"Maafin Re, ma" Ucap Revan tertunduk
"Sekarang bagaimana keadaan wanita itu..??" Tanya Mama Revan
__ADS_1
"Re, sudah bertemu dengannya dan juga bertemu putra Re, ma, tapi wanita itu menolak untuk Re bertanggung jawab"
Bersambung....