Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Sarapan.


__ADS_3

"Kau tidak memberinya lagi?" tanya Selir Na Ra dengan marah, dia benar-benar tidak bisa melihat Permaisuri Oh yang secara tidak sengaja kini telah diakui olehnya memiliki wajah yang lebih cantik.


"Ampuni hamba yang Mulia!"


Dayang yang ditanyai berlutut meminta pengampunan, dia rasa beberapa hari ini dia masih mengerjakan tugas kotor itu, tapi entah kenapa wajah Permaisuri Oh malah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Selir Na Ra.


"Aku tanya kau tidak memberinya lagi ramuan itu?"


"Ampuni hamba yang Mulia, tapi saya selalu memberikan ramuan itu pada Permaisuri Oh, bahkan pagi ini hamba juga masih mengerjakan apa yang Mulia suruh!" jawabnya.


"Apa? Kau pikir aku akan percaya?"


"Hamba mohon ampun Yang Mulia, tapi hamba berkata dengan sungguh!"


"Hemmm, lalu kenapa wajahnya bisa sembuh seperti itu dalam waktu cepat, aku bahkan belum lama ini melihatnya masih dengan wajah yang sama menjijikan!"


Bukan hanya sembuh, bahkan Permaisuri tampak jauh berbeda.


"Hamba akan mencari tahu penyebabnya, izinkan hamba menjalankan perintah yang Mulia!"


"Mohon untuk memberikan hamba perintah Yang Mulia!"


Selir Na Ra mendelik tajam, lalu tanpa menyetujui apa yang diinginkan dayang itu dia menyuruhnya pergi.


"Aku yang harus mencari tahu sendiri, tidak bisa lagi mengandalkan orang lain!" gumamnya setelah tidak ada siapapun lagi di kamarnya.


...***...


Pagi menjelang, Rymi bangun dengan malas, matanya mengerjap perlahan, dia mengedarkan pandangan pada sekelilingnya, masih juga tidak ada yang menemuinya pagi ini. Mungkin gertakannya kemarin tidak berhasil, tentu saja itu pasti karena Kaisar sialan itu tidak akan menyetujui dengan mudah, pikirnya menjengkelkan.


"Siapa di luar?" tanyanya berteriak.


Lalu datanglah dua orang dayang yang berjaga di kediamannya.


"Apa kalian akan terus begini? Sama sekali tidak menyiapkan air untuk membasuh wajahku, tidak juga dengan sarapan pagiku? Aaiishhh aku bahkan tidak percaya sedang bertahan hidup di tubuh seorang Permaisuri."


"Kalian! Bukankah kalian juga butuh makan? Bagaimana denganku? Kalian pikir aku ini apa, sapi perah?"


"Aaiishhh, mengapa perihal ingin mengisi perut saja aku harus berteriak!"

__ADS_1


"Ampuni hamba Yang Mulia Permaisuri, tapi Yang Mulia Kaisar melarang keras untuk memberikan makanan atau mengurus Yang Mulia Permaisuri!" jawab salah satu dayang tepat sekali seperti dugaan Rymi.


"Ya ya, aku juga mengerti, siapa yang bisa membantah perintahnya!"


"Baiklah! Tidak usah hiraukan aku, kalian bisa pergi!"


Rymi memandang pintu yang mulai tertutup, sudut bibirnya tertarik, ternyata Kaisar sialan itu sama sekali tidak menganggap serius ucapannya, baiklah mari kita lakukan sesuatu.


Rymi segera mengambil pakaiannya, mengenakannya meski tidak terlalu baik dalam hal itu.


"Aisshh pakaian ini, haruskah aku membuat pakaian era modern juga, ini sangat melelahkan!" keluhnya lagi dan lagi.


Kaisar Jung sedang menantikan sarapan paginya, namun baru saja dia hendak menyuap, tiba-tiba saja pintu kamarnya dibanting keras oleh seseorang.


"Lancang! Beraninya bersikap tidak sopan di hadapan Yang Mulia!" seru seorang Kasim, dia adalah Kasim Co yang melayani Kaisar Jung sedari kecil. Rymi menoleh pada Pak Tua itu, sudut bibirnya kembali terangkat.


"Orang yang mudah dibodohi!" gumamnya remeh.


Seorang pengawal datang, dan langsung menyerang Rymi menggunakan pedang, namun jelas saja mata dan kecepatan tangan Rymi yang selalu saja begitu sinkron itu, dengan cepat mengelak serangan.


"Brakkk!" Rymi menendang tepat di dada pengawal itu hingga terjungkal. Kaisar Jung benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang disaksikannya.


Pengawal itu cukup kuat, Rymi kira tentulah seseorang yang benar-benar sudah terlatih.


"Bugh bugh!" Rymi sedang menghadapi pertarungan yang tidak adil itu, bagaimana bisa dia yang memakai tangan kosong ini dan juga adalah seorang wanita harus berlawanan dengan prajurit dan pedangnya.


Dan Kaisar sialan itu malah menutup mata atas ketidaksetaraan ini.


Cukup lama Rymi bertarung namun akhirnya mampu juga mengalahkan pengawal itu, namun saat dia sudah bisa mengalahkan tiba-tiba saja, "Srakkkk!"


Rymi melihat Kaisar Jung sudah mengeluarkan pedang, mungkin untuk melanjutkan pertarungan.


"Stop!" Rymi berteriak menghentikan, sangat keras.


"Stop?" Kaisar Jung spontan berhenti, ia lagi-lagi dibuat heran karena kosa kata baru yang keluar dari mulut Permaisuri Oh.


"Aaiishhh kalian ini, benar-benar tidak ada toleransi mengenai wanita? Kau juga, aku masih istrimu dan kau tanpa ragu ingin mengayunkan pedang padaku!" tunjuknya pada Kaisar Jung.


"Astagah! Kehidupan menyedihkan apa yang kujalani ini, ini bukan lagi menyedihkan tapi sengsara!" protes Rymi, dia tidak peduli sedang menjadi pusat perhatian semua orang, bahkan dayang-dayang yang masih berada di sana dibuat melongo akan aksinya.

__ADS_1


"Kalian semua, keluarlah!" titah Kaisar Jung, dia benar-benar marah, Permaisuri Oh benar-benar merusak selera makannya.


"Ya Yang Mulia!"


Semua orang keluar, terkecuali Kasim Co dan Rymi, Kaisar Jung lalu juga memerintahkan Kasim Co untuk keluar.


Hingga sekarang tinggallah Rymi sedang berhadapan dengan Kaisar Jung.


"Kau mau mati? Beraninya merusak selera makanku!" berang Kaisar Jung, dia tidak akan mengampuni Permaisuri Oh dengan mudah.


"Yaaa katakan saja semaumu, setidaknya kau masih punya selera makan, sementara aku kelaparan?" delik Rymi tajam. Dia semakin mendekat mengikis jarak antaranya dan Kaisar Jung.


"Bagaimana bisa seorang suami membiarkan istrinya kelaparan? Sepertinya kau hanya menganggap perkataanku kemarin sebagai gertakan?"


"Jangan mendekat!" bentak Kaisar Jung, dia sama sekali tidak takut akan Permaisuri Oh, tapi mengapa juga jarak mereka harus sedekat ini.


"Braakk!" Rymi duduk tanpa rasa bersalah, dia sudah duduk untuk siap menyantap sarapan Kaisar Jung.


"Aku akan memakan ini, anggap saja sebagai permintaan maafmu!" ujar Rymi tanpa dosa.


Lalu dia melahap apa saja yang dirinya inginkan di menu sarapan Kaisar yang adalah suaminya itu.


"Kau! Beraninya kau..."


"Hemmm, ini sangat lezat, duduk dan makanlah mumpung aku masih berbaik hati!"


Rymi sama sekali tidak menghiraukan tatapan membunuh Kaisar Jung, yang terpenting baginya kali ini hanyalah tentang perutnya yang terisi. Bisa-bisanya istana ini membiarkan seorang Permaisuri kelaparan, batinnya tidak memercayai.


"Kau..."


"Kau tidak mau makan?" potong Rymi langsung, mulutnya saja bahkan masih penuh saat berucap. Dia tidak membiarkan Kaisar Jung protes akan sikapnya.


Kaisar Jung terlihat sangat marah dan kesal, hidungnya kempang kempis, tangannya mengepal seolah siap melayangkan tinjunya pada Rymi, dia benar-benar tidak bisa percaya Permaisuri Oh yang berubah begitu banyak.


"Kau akan rugi jika tidak makan sarapanmu, ahhhh tapi sepertinya tidak juga, kau kan seorang Kaisar jadi tentunya bisa mengorder sendiri makananmu!"


"Hei suamiku, kalau begitu semua makanan ini untukku saja yaaa!" ujar Rymi tak tahu diri.


"Oh Dae..." teriak Kaisar Jung keras. Dia kesal sekesal-kesalnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2