
"Oh Dae!" Kaisar Jung terkejut akan kedatangan istrinya itu, bukankah baru saja Kasim Co mengatakan Permaisuri Oh menolak untuk bertemu.
Ya ya, haruskah kukatakan aku tidak bisa menahan diri, Oh Dae memang sialan!
"Katakan! Apa yang ingin kau tanyakan, waktuku tidak banyak, aku sibuk!" ujar Rymi langsung, dia tampak angkuh. Kali ini, jiwanya murni tidak terdapat campuran jiwa Permaisuri Oh.
"Aahhh itu..."
"Bagaimana kalau, kita membicarakannya sembari minum-minum?" canggung Kaisar Jung.
"Alkohol? Di siang hari?" Ashhh, dia memang memiliki energi tak terbatas, sayang sekali tubuh lemah ini tidak bisa mengimbanginya!
"Ke... Kenapa? Kau tidak mau?"
"Sudahlah! Lupakan tentang alkohol, sudah tau bagaimana akhirnya saat aku mengkonsumsi itu, aku bahkan hampir mati dipenggal!"
"Dipenggal? Kau ini bicara apa? Siapa yang akan memenggalmu?"
Rymi tersenyum dipaksakan, Memangnya siapa lagi kalau bukan kau? Untung saja malam itu aku masih bisa menahan diri! "Aku seringnya bicara meracau, aku tidak mau bersikap melampaui batas!"
"Aahhh, begitu... Hemmm, lalu... Apa kau sudah makan siang?"
"Sudah, aku makan bahkan dengan paket lengkap!"
"Aahhh..." Kaisar Jung mengangguk, tadinya dia ingin mengajak Permaisuri Oh bertemu, untuk membicarakan perihal pengusiran yang dilayangkan istrinya itu tadi pagi, namun entah kenapa setelah berhadapan begini dirinya bahkan tidak berkutik.
Hanya ingin menatap wajah itu lebih lama, berbicara lebih banyak, saling bertukar pandang, entahlah... Sepertinya hal semacam itu agak sulit untuk terlaksana.
"Kau... Tadi kemana?" tanya Kaisar Jung lagi, seketika dia ingat, istrinya itu sempat kabur lagi tadi.
"Aku?"
"Hemmm..." angguk Kaisar Jung.
__ADS_1
"Mengerjakan sesuatu!" jawab Rymi sekenanya.
"Ahhhh, sesuatu yang seperti apa?"
"Pertahanan diri!"
Mengapa pembicaraan ini terdengar sangat kaku, Permaisuri Oh sama sekali tidak memanjangkan pembahasan, sehingga topik perbincangan mereka selalu terputus.
"Oh Dae... Apa kau punya waktu malam ini?"
Rymi menoleh, malam ini? Untuk apa Kaisar Jung menanyakannya, tidak mungkin ingin mendekatinya lagi kan lalu meminta jatah? Heh sialan! Bukannya malam ini dia sudah membuat janji di kamar Selir jelek itu? Dasar f*ckboy!
"Tidak!" jawab Rymi, singkat padat namun tidak dibumbui dengan kejelasan.
"Aahhh, mengapa tidak?"
Apa yang akan dia lakukan malam ini? Mengapa dengan lantang mengatakan tidak?
"Hah? Apa maksudnya?"
"Entahlah! Tapi yang jelas, aku memiliki waktu untuk siapapun di istana ini, terkecuali kau!"
"Apa? Oh Dae, kau... Benar-benar tanpa rasa bersalah mengatakan itu?"
"Aku jujur! Kejujuran bukanlah kesalahan!" balas Rymi lagi.
"Argghhh! Oh Dae, kau benar-benar tidak memiliki rasa hormat! Kau tau, berlaku tidak hormat pada Kaisar adalah bentuk ketidaksetiaan, meskipun yang melakukan hal itu adalah seorang Permaisuri, siapapun itu tentunya tidak akan mudah untuk lolos dari hukuman!" ancam Kaisar Jung.
"Aisshh, sudah kuduga dia akan mengatakan itu! Ya, Jung! Bukankah tadi sudah kukatakan, beberapa hari ini jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku! Sepertinya kau tidak bisa menahan diri untuk melihatku lagi dan lagi, aku datang kesini untuk bertanya apa yang akan kau katakan? Jika kau hanya mengatakan hal yang sama sekali tidak penting seperti ini, maka jangan pernah berpikiran untuk menyuruh Kasim bodoh itu menyampaikan pesanmu lagi!"
Kaisar Jung terperangah, di dalam ruangan itu hanya ada dirinya dan Permaisuri Oh, sehingga tidak ada yang menyangkal jika Permaisuri Oh berbicara sekenanya.
"Oh Dae, kau baru saja mengatakan hal yang aku tanyakan tadi tidak penting?" marah Kaisar Jung, jadi perhatiannya tadi malah dianggap hal tidak penting oleh Permaisuri Oh, benar-benar mau mati sepertinya Oh Dae ini berang Kaisar Jung membatin.
__ADS_1
"Hah?"
Kaisar Jung mendekat, semakin mendekat hingga keduanya hanya berjarak dua jengkal saja. "Sebagai istri, kau menganggap perhatian yang suamimu berikan adalah hal yang tidak penting?" berangnya.
Aisshhh sialan, mengapa sebanyak kata-kataku tadi malah dia harus berfokus ke situ. Apa dia tipe kekasih yang suka mendebatkan hal yang tidak penting? Seperti wanita saja! Aahh, tapi aku kadang juga begitu.
"Tidak begitu penting!" angguk Rymi, "Maksudku, aku sedang tidak mood berbicara padamu? Jangan mengajakku bertemu dengan berbagai alasan yang kau buat! Haaahhh, aku ini wanita, butuh waktu tenang untuk meredakan amarahnya! Mood-ku sedang tidak bagus hari ini, jadi tolong! Jangan menambah kesal, kalau aku bilang tidak mau bertemu apa salahnya rasa rindumu itu dipendam dulu?"
"Mood?"
"Ohhh, mood... Semacam suasana hati! Suasana hati wanita tentunya pasti mengalami perubahan, mood membaik, mood memburuk, jadi hari ini mood, suasana hatiku sedang tidak begitu baik, jadi... Asshh sudahlah, mengerti saja apa susahnya?" geram Rymi.
Kaisar Jung ingin marah, namun mendengar penjelasan Permaisuri Oh dia mencoba meredam emosinya. "Sampai kapan?" tanyanya, mungkin di sini dia juga terlalu cepat, tidak sabaran.
Rymi menggeleng, "Kurasa tidak akan lama, tapi aku tidak bisa berjanji untuk itu!"
"Baiklah, beri tahu aku kalau mood-mu sudah membaik!"
Kaisar Jung mengambil kedua tangan Permaisuri Oh, menatap lembut wajah istrinya itu.
"Oh Dae, kau tidak bisa mengacuhkanku begini, jika kau ingin membalas dendam, maka... Kau sudah berhasil, sangat berhasil, aku yang tidak bisa berjauhan denganmu saat ini sungguh sangat amat tersiksa saat kau hilang dari pandanganku!"
"Aku akan mencoba menahannya, sampai mood-mu membaik!"
Kaisar Jung ingin memberikan kecupan tanda sayang untuk istrinya itu, namun sayang sekali bibirnya harus tertahan oleh tangan Permaisuri Oh.
"Bukan apa! Aku sungguh tidak bisa melakukannya dalam keadaan marah!" tolak Rymi.
Kaisar Jung menunduk dalam, tiba-tiba saja rasa bersalah itu hinggap lagi, mengapa dulunya dia begitu mengacuhkan Permaisuri Oh, begitu membenci istri sahnya ini.
"Aku... Aku akan mengerti!" lirih Kaisar Jung. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain pasrah, menunggu amarah istrinya itu mereda dan kemudian bisa kembali bersama lagi.
Bersambung...
__ADS_1