
"Hei, tunggu!" pekik Pangeran ke dua, matanya baru saja menangkap pergerakan mencurigakan di istana. Seseorang berpakaian biasa tengah menyelinap keluar. Dan rasa-rasanya dia pernah melihat postur tubuh itu.
"HEI, BERHENTI!"
Tap!
"Aaahhh!"
Pangeran ke dua memegang keras pundak seseorang yang mencurigakan itu, membalik tubuh pemuda itu dan... "Kau!"
Pangeran ke dua benar-benar terkejut, yang dijumpainya kali ini, seseorang yang mencurigakan itu adalah... Tuan Arash, pemuda yang pernah mengalahkannya tempo hari, dan juga keberadaannya memang tengah dirinya cari.
Namun, untuk apa Tuan Arash datang ke istana, bukankah tidak sembarangan orang bisa keluar masuk istana ini. Terlebih, ini adalah istana dalam, di mana tempat ini adalah kediaman Permaisuri dan juga para Selir.
"Kau..."
"Ahhh Tuan! Bagaimana kabar anda?" tanya Rymi berbasa-basi, yahhh dia sudah kepalang tanggung terciduk di sini, mengapa tidak sekalian saja berkicau lagi.
"Untuk apa kau datang ke sini? Ada seseorang yang kau temui? Tidak seharusnya seorang lelaki asing berada di istana dalam, ini adalah kediaman Permaisuri dan juga para Selir!"
"Hoho! Sepertinya kau terlalu tegang, aku di sini... Hanya menemui muridku!"
Sudah kepalang tanggung, aku harus berdusta sampai akhir, harus lebih meyakinkan dia, lagi pula orang ini sepertinya tidak bisa meremehkanku! Ya tentu saja, aku pernah mengalahkannya waktu itu.
"Muridmu?"
"Hemmm!"
"Siapa?"
"Kau sungguh tidak tau? Aaasshhh, aku kecewa karena kau telah melupakan ingatan yang sangat berharga!"
"Apa?"
"Ya, Pangeran ke dua, sepertinya kau terlalu banyak mencari tau hingga kau melupakan apa yang telah kau ketahui sebelumnya!" sindir Rymi yang sepertinya berhasil membuat Pangeran ke dua tercengang.
Rymi berlari cepat saat melihat ekspresi keterkejutan Pangeran ke dua, sebelum Pangeran ke dua tersadar, secepat mungkin dirinya sudah harus menghilang.
Sementara Pangeran ke dua, dia mencoba mencerna dengan baik perkataan seseorang yang diketahui namanya adalah Tuan Arash itu, muridnya? Siapa? Orang yang paling mungkin menjadi muridnya adalah... Permaisuri? Hanya Permaisuri yang bisa melakukan jurus yang sama, namun, bagaimana bisa? Selama ini bahkan Pangeran ke dua tidak yakin Permaisuri Oh akan bisa keluar istana.
__ADS_1
"Tapi..." Setelah tersadar, sayangnya Tuan Arash tidak berada di hadapannya lagi. Pangeran ke dua mencari di sekitaran istana, namun tidak juga menemukan. "Aaisshh, aku kehilangan jejaknya lagi, mengapa dia cepat sekali?"
...***...
"Umumkan kehadiranku!"
"Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri mengatakan sedang tidak enak badan, jadi... Kami diperintahkannya untuk tidak menerima siapapun yang berkunjung!"
"Ah yaaa? Dia itu... Berani sekali!" Kaisar Jung tampak kesal, bagaimana bisa Permaisuri Oh menolak kehadirannya.
"Aku tidak peduli, umumkan kehadiranku!" pintanya lagi. Kali ini syarat akan ancaman, mendelik tajam, matanya seolah mengatakan beraninya kalian menentang perintah Kaisar. Membuat semua orang yang berada di sana menjadi tidak berkutik.
"Ya Yang Mulia!"
"Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Kaisar datang berkunjung!"
Tidak terdengar jawaban, Kaisar Jung masih sabar menunggu, mungkin saja memang benar istrinya di dalam sana sedang tidak enak badan dan saat ini sudah tidur. Namun kendati begitu, dirinya juga tidak akan menyerah dengan mudah. Entah mengapa saat ini Kaisar Jung merasa dia sungguh ingin bertemu dengan Permaisuri Oh. Pemikirannya bisa saja menolak, namun langkah kakinya malah sudah dengan pasti membawanya datang ke sini.
"Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Kaisar datang berkunjung!" seru para dayang yang berjaga sekali lagi.
Namun, lagi-lagi tidak juga terdengar jawaban, membuat Kaisar Jung terang curiga, apa lagi kakinya juga sudah kelewat pegal karena lamanya menunggu.
"Buka pintunya!"
"Ya Yang Mulia!"
Pintu itu dibuka, Kaisar Jung masuk dan langsung saja mencari keberadaan Permaisuri Oh, dia melihat sesuatu berselimut di pembaringan. Ah mungkin memang benar, Permaisuri Oh memang tengah tidak enak badan, pikirnya.
"Oh Dae!" serunya.
Tidak terdengar jawaban, membuat Kaisar Jung berjalan pelan semakin mendekat. Dia duduk di sisi pembaringan, tangannya sudah terulur ingin memegang pundak Permaisuri Oh, namun...
"Apa-apaan ini?" pekiknya tidak percaya. Matanya membulat saat melihat kenyataan di hadapannya, di balik selimut itu bukanlah tubuh Permaisuri Oh, melainkan hanya susunan bantal yang sepertinya benar-benar di buat untuk tipuan.
"OH DAE!!!" geram Kaisar Jung, napasnya memburu, ingin rasanya ia mencabik-cabik bantal tipuan itu, memikirkan betapa kesal dirinya saat ini.
Kasim yang sedang bertugas mendampinginya pun mendekat, dia juga melihat apa yang membuat Kaisar Jung marah, ini benar-benar gawat, kemana perginya Permaisuri Oh? Ini benar-benar petaka.
Begitupun para dayang yang berjaga, mereka tak kalah terkejut, karena baru saja Permaisuri Oh berpesan pada mereka kalau saat ini dia sedang tidak bisa menerima kunjungan, lalu apa ini? Kemana hilangnya Permaisuri Oh? Bukankah dari tadi mereka berjaga di depan pintu, dan tidak pernah melihat Permaisuri Oh keluar barang selangkah pun dari kamar.
__ADS_1
"Ampuni Hamba Yang Mulia!"
"Ampuni Hamba Yang Mulia!"
Semua dayang yang berjaga menunduk bersimpuh, mau tidak mau mereka harus mengungkapkan penyesalan akan tugas yang lalai.
"Apa kalian... Tidak berjaga dengan benar?" geram Kaisar Jung.
"Ampuni Hamba Yang Mulia!"
"Ampuni kami Yang Mulia! Kami benar-benar di tidak melihat Yang Mulia Permaisuri keluar dari kamarnya sejak dia berpesan untuk tidak bisa menerima kunjungan. Permaisuri mengatakan dia tidak enak badan dan ingin beristirahat!"
"Benar Yang Mulia, setelah itu Yang Mulia Permaisuri tidak pernah keluar barang selangkah pun dari kamar ini!"
"Mohon ampuni kami Yang Mulia, kami telah lalai!"
Kaisar Jung semakin marah mendengar itu, ini jelas-jelas sudah direncanakan oleh Permaisuri Oh. Bagaimana bisa Permaisuri Oh pergi dari istana, dari dulu sebenarnya saat wajah Permaisuri Oh buruk rupa pun, Kaisar Jung tidak pernah mengizinkan Permaisuri Oh keluar istana, apa lagi saat wajah istrinya itu sudah cantik begitu. Tanpa Kaisar Jung sadari, hatinya saat ini sedang begitu panas.
"Periksa! Dari mana dia bisa melarikan diri, lakukan penjagaan ketat di pintu gerbang, aku ingin tau bagaimana jadinya tikus itu jika dirinya ketahuan!"
"Ya Yang Mulia!"
"Kalian, tetaplah berjaga, tutup pintunya, aku akan menunggu di sini, akan aku tanyakan langsung padanya, apa maksudnya dia melakukan ini?" .
"Baik Yang Mulia!"
"Berani-beraninya dia menunjukkan wajahnya di luar istana!" geram Kaisar Jung tak berkesudahan.
"Kemana dia pergi, Oh Dae... Makin kubiarkan, sepertinya kau semakin berani!"
Kaisar Jung duduk di pembaringan Permaisuri Oh, Kasim yang bertugas sedang mencari sesuatu ataupun akses jalan tersembunyi yang bisa digunakan Permaisuri Oh melarikan diri, namun setelah lama mencari sayangnya mereka tidak menemukan.
"Sudah kalian cari di setiap sudutnya? Bagaimana bisa dia melarikan diri tanpa keluar dari pintu itu?" tunjuk Kaisar Jung marah pada pintu satu-satunya di kamar Permaisuri Oh.
"Mohon ampun Yang Mulia, tapi Hamba sudah mencari di setiap sudut kamar ini, namun tidak menemukan apapun yang mencurigakan!" gagap Kasim itu, dia benar-benar merasa nyawanya saat ini sedang berada di ujung tanduk.
"Keluar kau! Biar aku yang mencarinya sendiri!" berang Kaisar Jung.
Dengan takut Kasim itu keluar, dia meninggalkan Kaisar Jung sendiri di kamar Permaisuri Oh.
__ADS_1
"Baiklah Oh Dae, aku ingin tau seberapa besar nyalimu untuk bisa mengatasi ini nantinya, kau sepertinya benar-benar harus diberi pelajaran!"
Bersambung...