
"Jung!" seru Rymi cepat. Dia harus membuat Kaisar Jung keluar dari kamarnya, karena kalau tidak entah kekacauan seperti apa lagi yang akan dirinya buat.
Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan!
"Aku sangat menyesali ini, hari ini memang tidak seharusnya terjadi, maka... Untuk menghindari hal yang sangat aku inginkan!"
Plakkk!
Rymi menampar kasar wajahnya, dia sedang mencoba berkonsentrasi penuh, namun sepertinya sungguh sulit. Dia lagi-lagi berbicara tidak sesuai keinginannya.
"Oh Dae, apa yang kau lakukan!" Kaisar Jung mengambil alih tangan Permaisuri Oh yang hendak mulai menampar lagi.
"Kau bisa keluar dari sini? Aku sedang tidak waras sekarang, aku tidak ingin menodaimu!" racau Rymi, ia mengambil alih tangan Kaisar Jung dan membawa paksa untuk keluar.
"Oh Dae, kau... Apa kau baru saja mengusirku?" Kaisar Jung sungguh tidak percaya, apa-apaan ini, mengapa dia sungguh kecewa saat Permaisuri Oh menarik tangannya, apakah dia juga mulai menyukai perkataan frontal Permaisuri Oh terhadapnya?
Menodai? Menodai apanya? Apa itu artinya dia sedang tertarik pada tubuhku?
Kaisar Jung mulai bertanya-tanya. Entah mengapa dia rasanya sungguh ingin jika Permaisuri Oh akan memberikan tubuhnya malam ini. Harus dirinya akui, pernah sesekali dirinya juga berfantasi menginginkan Permaisuri Oh berada di bawah kungkungannya.
"Pergi!" Rymi setengah memaksa tubuh Kaisar Jung untuk keluar.
Namun tiba-tiba, karena tidak hati-hati Rymi malah menginjak bawahan yang dirinya kenakan, "Braakkk!" terjatuh menimpa Kaisar Jung, cepat sekali kini sudah berada tepat di atas Kaisar Jung.
"Oh Dae!" parau Kaisar Jung, mengapa seakan-akan keadaan juga begitu mendukungnya.
"Jung! Aku..."
Cup!
Dengan tanpa basa-basi lagi Kaisar Jung langsung saja menciumi bibir Permaisuri Oh, malam ini sudah diputuskan olehnya, Permaisuri Oh tidak akan bisa lolos dengan mudah.
Ciuman ini? Aku sudah dicium olehnya? Samudra, maafkan aku!
Membatin demikian, namun tidak dengan reaksi tubuhnya, Rymi malah membalas permainan lidah Kaisar Jung, memberikan ciuman panas terbaiknya, hal yang biasanya bisa dirinya lakukan kapan saja dengan Samudra, suaminya.
Kaisar Jung membuka helai demi helai pakaian yang dikenakan Permaisuri Oh, tidak pernah menyangka malam ini bahkan adalah malam pertama keduanya setelah satu tahun lebih pernikahan. Dan gilanya malah mereka lakukan di lantai, sama sekali tidak ditempat yang nyaman, namun gairah keduanya yang sama besar terlihat baik-baik saja dan sungguh menikmati.
"Asshhh!"
Aku merasakannya, ransangan ini? Apa aku juga menginginkannya? "Jung, aku..."
"Oh Dae!" Kaisar Jung menatap Permaisuri Oh penuh nafs*, "Panggil aku suamiku! Jung, suamiku..." pinta Kaisar Jung.
__ADS_1
"Asshhhh!"
"Kau juga menginginkannya? Oh Dae, katakan dengan jujur, kau juga menikmatinya?" sergah Kaisar Jung, dia mulai kembali melancarkan aksinya memberi kenikmatan untuk Permaisuri Oh.
"Aahhh Jung, kau... Ahhhh!"
"Brakkk!"
Keduanya terpaksa menoleh, terdengar pintu dibanting keras, pandangan keduanya tertuju pada seorang wanita yang tengah memandang mereka tidak percaya.
"Yang Mulia!"
Selir Na Ra membalik tubuhnya, ia tidak sanggup melihat kenyataan di hadapannya, seseorang yang dirasanya tidak mungkin bisa bersama, tidak mungkin bisa terlibat asmara, namun... Apa yang terjadi di hadapannya ini, sungguh benar-benar mematahkan keyakinannya.
"Selirku!" seru Kaisar Jung, namun Selir Na Ra sudah berjalan cepat menjauhi mereka.
Kaisar Jung melepaskan paksa Permaisuri Oh, sementara Rymi, dia tidak tau harus bersikap seperti apa, kesal karena Selir Na Ra mengganggu aktivitas panasnya yang baru saja dimulai, atau... Menikmati perannya dan bersiap untuk balas dendam sekali lagi, tentunya saat ini keadaan Selir Na Ra pastilah tidak baik-baik saja.
"Jung..." Rymi memeluk Kaisar Jung, sisa-sisa alkohol masih ada, tentunya dia juga sulit melepaskan Kaisar Jung begitu saja.
"Oh Dae, maafkan aku!" lirih Kaisar Jung, dia hendak melepaskan pelukan Permaisuri Oh.
Sementara Rymi, demi balas dendamnya, bukankah seharusnya dia menahan Kaisar Jung sedikit lebih lama lagi, jadi dengan campuran semangat yang tersedia karena efek alkohol yang sempat dikatainya murahan tadi, tangannya sudah mulai menggerayangi d*d* bidang milik Kaisar Jung.
Kaisar Jung langsung saja terpancing, sepertinya satu hal yang dapat dirinya ambil mengenai racauan Rymi sebelumnya tadi, bahwa benar... Wanita ini akan bisa memberinya kepuasan, terbukti dari cara mereka berciuman saja, Kaisar Jung sepertinya tidak akan bisa berpaling dengan mudah untuk kali ini, entah di mana istrinya itu belajar mendapatkan cara berc*nta seperti itu.
Membawa istrinya itu menuju pembaringan, melepaskan helai yang tersisa yang menutupi tubuh polos Permaisuri Oh, seketika dirinya baru menyadari kalau ternyata tubuh istrinya ini jauh lebih indah dari istri-istrinya yang lain.
"Aahhh, kau... Benar-benar menggoda, Oh Dae, kau... Ashhh!" racau Kaisar Jung.
Rymi juga menikmatinya, pelan matanya terpejam, kemudian dia sudah tidak tau lagi apa yang terjadi.
Bersambung...
...Epilog: ...
"Apa ini bisa membantu?" tanya Putri Yu, di hadapan mereka sudah tersedia berbagai hidangan dan juga beberapa botol arak.
"Hemmm!" Rymi mengangguk pasti. Dia cukup percaya diri akan rencananya kali ini, dia tentunya akan bisa masuk kembali ke kamarnya dengan selamat.
Rymi baru akan menuangkan arak itu kalau saja tidak dihentikan oleh Putri An.
"Tapi Kak!"
__ADS_1
"Apa?" tanya Rymi tak sabar.
"Kakak ipar bukanlah wanita yang kuat minum, pernah satu kali Kakak minum di acara ulang tahun Ibu Suri, Kakak bahkan tidak sadarkan diri padahal hanya meminum satu gelas kecil!" ungkap Putri An.
"Benar! An, aku tidak yakin dengan cara ini!" tambah Putri Yu, dia seketika meragu karena ingat moment mabuk Permaisuri Oh waktu itu. Sungguh sangat parah, padahal hanya meminum satu gelas kecil saja.
Rymi mendelik tajam, dia kesal dan merasa sedang diremehkan, "Kalian meremehkanku? Aisshh, kalian sungguh tidak mengetahui apapun tentangku, aku..." Rymi menepuk dadanya percaya diri, "Telah berkeliling dunia untuk menemukan alkohol terbaik, aku mencobanya satu persatu untuk menentukan rasa seperti apa yang lebih bisa memuaskanku, aku... Penggemar berat minuman haram ini!"
"Kakak..."
"Yu, apa Kakak ipar mabuk sebelum meminum alkohol?" tanya Putri An, dia mengendus-endus mulut Permaisuri Oh, namun tidak terdapat bau alkohol yang membuat wanita itu mabuk. Barang kali saja Kakak ipar mereka itu sudah minum dahulu sebelum mereka.
"Entahlah!" Putri Yu mengangkat bahu.
"Hei kalian, bersenang-senang lah, ayo... Aku sungguh menantikan moment seperti ini!" ujar Rymi penuh semangat.
Dia menuangkan segelas untuknya, dan lalu menenggaknya cepat.
"Chaaaa!" ini tidak begitu berasa, tapi cukup saja, aku cukup menyukainya.
Melihat betapa yakinnya Permaisuri Oh, akhirnya Putri An dan Putri Yu pun juga ikut minum, setidaknya mereka harus menyampaikan bau alkohol di mulut mereka, untuk menjadi bukti yang akan mereka bawa pada Kaisar Jung. Bahwa mereka tengah bersenang-senang.
Rymi terus meminum, namun saat di gelas ke empat, kepalanya mulai pening, pandangannya mulai kabur, dia mencoba memakan sesuatu untuk menetralkan rasanya, namun tetap saja tidak membantu.
"Putri Yu, mengapa... Mengapa kau ada dua?"
"Kakak ipar! Apa Kakak mulai mabuk?"
"Aku... Hahaha! Mana mungkin aku mabuk hanya karena empat gelas arak!"
"Tapi..."
"Brukkk!" mengatakan tidak mungkin mabuk, namun kepalanya sudah terjatuh di meja, "Aisshhh, aku tidak percaya ini!" gumam Rymi, terdengar kesal.
"Kakak ipar apa kah baik-baik saja?"
"Yaaaa... aku, baik-baik saja..."
"Kakak ipar! Bangun! Hei Kakak ipar, bangun!"
Kedua putri itu hanya bisa saling pandang, padahal mereka sudah mengingatkan hal ini sebelumya.
...🍓🍓🍓...
__ADS_1