Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Peramal.


__ADS_3

"Ya ya, ku rasa hidupku memang akan segera berakhir!"


Rymi mulai menyusuri jalanan menuju pasar, dia akan kembali bertugas untuk membuka slot pada siang hari ini. Dia bahkan enggan membawa kuda, perjalanannya kali ini akan ia gunakan untuk meratapi nasibnya saja.


"Hei wanita? Kau benar-benar menginginkannya?" gumamnya bicara pada diri sendiri. "Cih!"


Setelah melalui pengamatan yang panjang dan menganalisa berbagai sifat, lewat kepintarannya yang sudah di atas rata-rata, Rymi bisa menarik kesimpulan.


Nyatanya, tubuh ini tidak sepenuhnya miliknya, ada kalanya Permaisuri Oh juga ikut andil. Semalam, dirinya tidak sadarkan diri bukan semerta karena mabuk, dia memang sengaja dibuat tidak sadarkan diri, jiwa mereka telah berpindah, atau kemungkinan lainnya jiwa Permaisuri Oh sebagai pemilik asli tubuh ini lebih mendominasi.


Semalam, Kaisar Jung benar-benar melakukannya dengan Permaisuri Oh dan dia... Rymi, tidak tau menahu soal itu. Setelah bergulat ciuman panas semalam, dirinya langsung tidak sadarkan diri, dimulai dari situlah Permaisuri Oh mengambil alih tubuhnya.


"Ohhh, itu bisa diartikan, aku ini hanyalah alat untuk menuntaskan hasratnya saja, aisshh sial!" umpat Rymi. Dia sangat menyayangkan mengenai hal itu.


"Hei wanita! Kalau sekali lagi kau tidak bisa mengendalikan diri, aku akan katakan pada cinta sialmu itu kalau aku..." Rymi menepuk dadanya, "Bukanlah Permaisuri Oh, bukanlah Oh Dae yang dirinya inginkan!" ancamnya.


Namun, langkah Rymi terhenti kala teringat akan sesuatu, wajahnya kembali muram.


"Ya ya, meski aku menceritakannya dengan sangat detil pun, sungguh aku pasti hanya akan dianggap gila!" gumamnya frustasi.


"Aisshhh, kebaikan apa lagi yang harus aku lakukan untuk bisa kembali? Ya Tuhan, Langit, Dewa, atau apapun yang kemarin berbicara, apa ini memang kehendakmu? Hah! Kau menginginkan Oh Dae bersatu dengan Jung sialan si f*ckboy itu? Ya ya, seharusnya memang begitu, di mana-mana kisah time travel tentunya akan selalu happy ending!"


"Jadi, seumur hidupku memang hanya akan menjadi pesuruh, dulunya Marco, tapi dia menyuruh untuk sesuatu yang masuk akal, meski aku harus terlibat kriminal, tapi aku bisa menjadi sangat kaya juga karenanya! Dia juga memberikan kasih sayang seperti orang tua pada umumnya, hubungan kami bahkan lebih baik-baik saja dibandingkan pasangan anak dan orang tua lainnya."


"Sementara dia, Oh Dae! Kau akan memberikan aku apa jika aku bisa mewujudkan keinginanmu?"


"Dan aku, malah harus berurusan dengan Jung sialan itu kan, dia malah jatuh cinta padaku! Ahh tidak tidak, lebih tepatnya pada tubuhmu yang telah ku permak habis-habisan ini, sungguh... Oh Dae, inikah cara kau berterimakasih padaku? Hah!"


"Whoaaa gila! Kau benar-benar gila, kau tidak tau kalau aku sungguh tidak menyukai drama ini, kau itu tidak punya nyali untuk menghadapinya kan? Kau hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik jiwa orang lain, kau senang melakukannya padaku?"


"Aassshhh!" Rymi menghela napasnya berat.


"Ya ya, mau bagaimana lagi, sebenarnya Rymi Arash hanyalah figuran di kisah novel ini! Sebaiknya kau tidak usah terlalu banyak berharap Rym!"

__ADS_1


Rymi berjalan cepat, meski bagaimanapun mencari celah supaya dia bisa masuk ke dalam pihak yang diuntungkan, tetap saja tidak ada! Tidak ada yang menguntungkannya berada di dunia entah berantah ini, menurutnya dia bahkan adalah pihak yang paling dirugikan.


...***...


"Tidak ada di kamarnya?" tanya Kaisar Jung sekali lagi, dengan gemetar ketakutan Kasim Co mengabarkan padanya bahwa Permaisuri Oh tidak ada di kediamannya. Lalu kemana istri sialannya itu?


"Ya Yang Mulia!"


"Sudah kau cari di seluruh tempat?"


"Belum menyeluruh Yang Mulia!" jawab Kasim Co, sebenarnya dia berbohong menjawab begitu hanya karena harus mengulur waktu, dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui kemana perginya Permaisuri Oh. Jantungnya hampir saja lepas menghadapi kegilaan Permaisuri Oh semakin hari.


"Cari! Maksudku, cari diam-diam, lalu bawa dia ke hadapanku!" titah Kaisar Jung.


"Baik Yang Mulia!"


Kasim Co segera keluar, dia akan mencari Permaisuri Oh. Langkahnya semakin cepat, mengendap-endap memastikan tidak ada siapapun yang mengikutinya.


Setelah dirasanya aman, dan berada lumayan jauh dari lingkungan istana, Kasim Co memberikan tanda, dia bersuara menirukan suara burung, tak lama beberapa orang prajurit berpakaian hitam menemuinya.


"Cari dia!"


"Yang Mulia Permaisuri sedang menyelesaikan pekerjaannya untuk bertahan hidup, sebentar lagi pengundian nomornya, apa harus tetap membawanya kembali?"


"Aku tidak bisa menunggu lama lagi, kalau aku tidak segera membawanya pada Kaisar Jung, hidupku ini yang tentunya tidak akan aman!" Kasim Co mengeluh lagi.


"Baiklah!"


Beberapa prajurit itu segera bergegas menuju pasar, mereka akan membawa paksa Permaisuri Oh, sambil memikirkan cara bagaimana untuk melakukannya tanpa Permaisuri Oh harus mengetahui siapa mereka sebenarnya.


Di pasar, Rymi baru saja selesai mengundi nomor lotre, sedang menghitung berapa banyak koin emas yang akan dirinya keluarkan.


Brakkk!

__ADS_1


"Hei, Nona! Kau, cukup cantik untuk ukuran seorang pemuda!"


Rymi mendongak, pria mabuk di siang hari, sepertinya akan membuat ulah di kedainya. Tapi, mendengar kata yang terucap dari pria itu tentunya Rymi tidak bisa membiarkannya begitu saja.


"Tuan sedang mabuk, silakan untuk menikmati waktu Tuan di sana!" Rymi menunjuk meja di kedainya, dia tampak ramah mengatakan itu. Padahal dalam hatinya sungguh tidak sabar, Rymi selalu sulit mengendalikan diri jika dihadapkan dengan pengganggu.


"Aaahhh, aku tidak begitu mabuk, aku masih bisa bicara dengan benar!" pria itu mendekat, dia semakin mendekat membuat Rymi harus mewaspadai sesuatu.


"Seseorang sedang mencarimu, aku sarankan untuk kau cepat menemuinya!"


Rymi melotot, apa maksudnya?


"Tuan kau bercanda?"


"Ah Tuan Yong, Tuan memasang lotre juga?" ujar seorang pria yang berada tak jauh dari mereka.


Pria yang ternyata bermarga Yong itu menoleh, kemudian mengedipkan mata, "Kau tau kan, kalau aku memasang ini, tentunya perjudian ini akan bangkrut lebih cepat!"


"Aahhh, Tuan Yong anda benar-benar, tapi... Kalau hal ini adalah jalan menuju kaya raya mengapa tidak anda lakukan?"


"Tunggu, kalian mengenalnya?" tanya Rymi. Dia cukup penasaran akan pria yang telah berani merendahkan usahanya ini.


"Tentu saja, semua orang di sini mengenalnya, Tuan ini adalah Tuan Yong, peramal hebat negeri ini, semua yang Tuan ini katakan tentunya adalah kebenaran, ramalannya selalu tepat sasaran!" pria biasa berambut gondrong itu menjelaskan dengan penuh semangat.


"Aaahhh, peramal..." Rymi mengangguk paham, di dunianya kebanyakan peramal adalah penipu ulung, kadang hanya sedikit yang memang memiliki kelebihan untuk meramalkan sesuatu, selebihnya adalah orang yang ingin mencari kekayaan, ketenaran, dan pecapaian dunia dengan cara instan. Dan sayangnya, sulit untuknya mempercayai penipu ulung itu.


"Peramal? Yang mengatakan ramalannya dalam keadaan mabuk? Banyak yang bilang seseorang yang mabuk seringnya berbicara tidak karuan, meracau tidak jelas, tapi tentu saja ada sebagian dari mereka berbicara perihal kenyataan, sering kali orang mabuk mengungkapkan aibnya sendiri, membuat orang lain mendengar kenyataan betapa gilanya dia! Aku tidak tau harus percaya yang mana, tapi... Tuan, aku sudah sangat sering menghadapi orang mabuk dan berakhir dengan..."


Brakkk!


Pria itu seketika pingsan saat diberikan hantaman tangan di lehernya oleh Rymi.


"Tidak usah khawatir, dia akan pulih sebentar lagi, aku harus membuatnya sadar sebelum dia berbicara banyak!" ujarnya ramah pada banyaknya pengunjung, menjelaskan kalau dia tidak salah sama sekali melakukan itu.

__ADS_1


Dia bisa saja mengungkapkan rahasia dibalik lotreku, bukankah dia tau kalau aku ini wanita? Orang seperti ini jelas tidak bisa dibiarkan...


Bersambung...


__ADS_2