
"Oh Dae! Kau..." Kaisar Jung ingin marah, namun entah kenapa rasanya tidak bisa. Dia menyuruh istrinya ini datang menghadap, supaya istrinya ini bisa mengetahui dengan jelas apa kesalahannya. Dia akan menghukum dengan caranya sendiri, namun sedari tadi istrinya itu terus saja tertunduk. Benarkah Permaisuri Oh benar-benar menyesali perbuatannya, dia jadi tidak tega untuk menasihatinya, apa lagi memarahinya.
"Oh Dae! Kemari lah!" titahnya kemudian.
Istrinya itu mendekat dengan wajah yang masih tertunduk.
"Kau menyesal?"
"Hemmm!" angguknya.
Kaisar Jung memegang rahang Permaisuri Oh, mengusap pipinya perlahan, kemudian mengarahkan tangannya mengangkat wajah Permaisuri Oh. Namun,
"Na Ra..." terkejutnya, sedari tadi hanya tertunduk, dia pikir benar-benar Permaisuri Oh, namun apa ini? Yang berada di hadapannya kali ini jelas-jelas adalah Selir Na Ra. Lalu, kemana perginya Permaisuri Oh?
Sial! Jangan-jangan dia kabur lagi!"
"Mengapa kau bisa berada di sini?" tanya Kaisar Jung pada salah satu istrinya itu, Selir Na Ra tampak tersenyum, namun tidak bisa dipungkiri dalam hatinya juga pasti tersirat ketakutan, takut kalau Kaisar Jung akan marah padanya karena telah berani menggantikan Permaisuri Oh.
Namun, apa hebatnya Permaisuri Oh itu sampai Kaisar Jung harus marah hanya karena dia menggantikannya pagi ini, pikir Selir Na Ra.
"Katakan! Katakan di mana Permaisuri?"
"Oh Dae..."
"Di mana dia?" sergah Kaisar Jung cepat, dia tidak sabar. Ingin marah, namun untung saja dia masih bisa mengontrol emosinya, jangan sampai dia kelepasan mengungkapkan kemarahannya pada Selir Na Ra.
__ADS_1
Selir Na Ra menggeleng, yah dia memang jujur, tidak ada yang tau di mana Permaisuri Oh sekarang.
"Di mana dia? Di mana Permaisuri?" tanya Kaisar Jung sekali lagi.
"Pengawal!" serunya pada yang berjaga di luar.
Brakkk! Pintu dibuka dengan cepat kala mendengar panggilan itu, "Ya Yang Mulia!" sahut ketiga pengawal yang berjaga itu bersamaan.
"Cari Permaisuri Oh sampai ketemu! Periksa seluruh istana! Jangan biarkan dia kabur lagi, dan salah satu dari kalian, antarkan Selir Agung terlebih dahulu!"
"Cepat!" berang Kaisar Jung. Dia benar-benar ingin sekali mengurung Permaisuri Oh yang dianggapnya semakin liar. Istrinya itu, berani-beraninya mempermainkannya.
"Ya Yang Mulia!"
Ketiga pengawal itu bergegas pada tugas masing-masing, mereka juga memerintahkan beberapa rekan mereka untuk membantu memeriksa istana. Siapa yang menyangka kalau Permaisuri mereka akan kabur lagi.
Mungkinkah telah terjadi sesuatu, dalam beberapa menit kemudian, matanya menangkap pergerakan Selir Na Ra yang dibawa oleh salah satu pengawal, keluar dari ruangan Kaisar dengan raut wajah menyedihkan. Sudut bibirnya terangkat, pasti telah terjadi sesuatu pikirnya.
"Dayang Im!" serunya pada dayang setianya.
"Ya Yang Mulia Ibu suri!"
"Kau tau apa yang harus kau lakukan!"
"Ya Yang Mulia!"
__ADS_1
Ibu Suri beranjak, dia akan menyegarkan diri di taman istana, mencari udara segar seraya menunggu kembalinya Selir Na Ra, betapa menyenangkannya melihat menantunya itu merasa tidak nyaman.
"Seseorang memang harus mengetahui posisinya, seorang Iblis tidak akan pernah melahirkan seorang malaikat, aku harus apa jika tidak bisa merubahnya! Astagaahhh, aku tidak menyangka hari ini akan terjadi juga!" gumamnya seraya memercikkan air dari kolam. Melihat pantulan wajahnya yang sudah tidak lagi muda, di usia senja seperti ini bahkan dia belum juga dianugerahi seorang cucu.
Dayang Im sudah ia tugaskan untuk mencari tau sesuatu, akan ada kabar buruk yang diterimanya, namun biasanya kabar buruk selalu berdampingan dengan kabar yang baik, dia akan menghargai itu.
...***...
Rymi tampak ngos-ngosan, peluh di pelipisnya sudah membuat ikat kepalanya basah, sebentar lagi dia akan sampai, hari ini dia harus menutup kedainya, itu adalah hal yang harus dia selamatkan.
Kaisar negeri ini sudah mengetahui dia keluar istana dengan menyamar sebagai pria, bukan tidak mungkin di detik berikutnya rahasia perjudiannya ini akan terbongkar, bisa miskin mendadak nanti dia.
"Harta, uangku, harus aku selamatkan sesegera mungkin!" gumamnya seraya mengemasi harta dan uang-uangnya, banyaknya koin emas yang dirinya dapatkan dari membuka slot lotre tidak akan ia biarkan jatuh pada Kaisar Jung dengan mudah.
Rymi melihat ruangan kecil di sudut kedai, ia teringat waktu itu menempatkan salah seorang pria di sana. Gegas dia memeriksa, dan benar, pria itu masih tetap tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Rymi mel*cuti pakaian pria itu, dia harus melakukan sesuatu, jika tempat ini ditemukan setidaknya dia tidak bisa ikut menjadi tersangka.
Untuk itulah dia harus menukar pakaiannya dengan pakaian pria itu, beruntung saja tidak banyak orang yang mengenali wajahnya. Hanya orang-orang tertentu saja. Dan pakaian yang dikenakannya saat ini, adalah pakaian terakhir yang langganannya lihat.
Mencekoki pria pingsan itu dengan arak, menyiram pakaiannya juga, bau arak seketika menyeruak. Beberapa botol arak kosong ia letakkan di dekat si pria, orang akan mengira pria gila yang tidak sadarkan diri karena mabuk-mabukan. Membuat wajahnya berantakan, dan sempurna! Seumur hidupnya, dia memang handal dalam mengambinghitamkan orang lain.
Setelah dianggapnya selesai, Rymi langsung meninggalkan tempat itu, membawa harta berharganya. Mencari tempat untuk berlindung, setelah itu barulah dia akan kembali ke istana, untuk bertanggungjawab, dia yakin Kaisar Jung tidak akan terlalu kejam menghukumnya.
"Uang, aku harus menyelamatkannya seperti menyelamatkan nyawaku! Huh, ini melelahkan tapi entah kenapa dari dulu aku memang suka berjuang jika menyangkut tentang uang! Aahhh memikirkan baunya saja aku sudah melayang..." gumamnya seraya terus menunggangi kuda.
__ADS_1
Bersambung...