
"Asshhh benar-benar melelahkan, aku tidak menyangka akan menemui pengalaman semacam ini!" Rymi menggerutu seraya mengusap peluh di pelipisnya. Matahari sudah hampir terbenam namun dia belum juga mendapatkan tempat yang akan dirinya sewa untuk menaruh harta.
"Nona!"
"Ya," Rymi menoleh cepat, merasa ada seseorang memanggilnya, dan benar saja seorang wanita yang lumayan tua dengan penampilan yang lusuh mendekatinya.
Rymi tampak risih, karena wanita tua itu layaknya seorang pengemis.
"Boleh meminta sesuatu... Hamba belum makan sudah tiga hari, hamba ingin meminta tolong..."
"Kau sudah makan atau tidak memang apa urusannya denganku?" ketus Rymi.
"Nona... Hamba tau Nona adalah orang baik, maka Hamba putuskan untuk meminta pada Nona!"
"Cih menyebalkan, dari bagian mana bentuk mukaku ini yang dilihatnya sebagai orang baik, belum tau saja dia kalau..." Rymi menghentikan ucapannya, "Asshhhh benar juga, wajah yang kupakai sekarang kan adalah wajah wanita menyedihkan itu, sungguh tidak beruntung!" ralatnya begitu ingat.
"Kau, memangnya ingin aku membantu apa tadi? Memberimu makan, bukan begitu?" lanjutnya bertanya.
Wanita tua itu mengangguk pasti, "Bolehkah Nona..." dengan memelas.
Rymi mengambil beberapa koin emas, lalu memberikannya pada sang wanita. "Aku padahal tidak lebih menyedihkan darimu!" gumamnya.
"Ini banyak sekali Nona!" wanita tua itu tidak percaya kalau dia akan diberikan banyak sekali, padahal dia hanya ingin meminta makan.
"Sudahlah, kau pasti sangat membutuhkan itu sekarang, berhematlah maka uang sebanyak itu setidaknya bisa membuatmu tetap kenyang hingga beberapa hari!" ketusnya, namun wanita tua itu malah semakin menganggap Rymi benar-benar orang baik.
"Terimakasih Nona, terimakasih!"
__ADS_1
"Hemmm..."
"Ah ya, kiranya mengapa Nona ini berjalan sendirian sementara hari sudah hampir petang?"
"Aku? Kau bertanya karena sudah melihat aku yang seperti orang terlantar?" tanyanya masih dengan begitu angkuh.
"Ah tidak tidak, bukan begitu Nona, hamba hanya bertanya barang kali saja Hamba bisa membantu!"
"Cih dasar sok tau!" dengusnya. Namun karena memang benar hari yang sudah hampir petang akhirnya membuat Rymi mengalah dengan gengsinya, "Baiklah, aku memang sedang butuh bantuan!" akunya.
"Bantuan apa Nona? Katakan, barang kali saja Hamba bisa membantu!"
"Cih dia bersemangat sekali, padahal baru saja meminta padaku!" lagi-lagi menggerutu, Rymi yang memang hanya mempunyai kesabaran setipis tissue.
"Aku butuh tempat tinggal!" lanjutnya.
"Hemmm, sudah merasa bisa membantu? Kalau tidak lebih baik pergi saja!" ketus Rymi, ia pesimis.
"Kalau Nona menginginkan sebuah rumah yang layak, Hamba mungkin tidak bisa memenuhi, namun jika hanya untuk berteduh, Hamba punya..."
"Punya?" Rymi langsung memotong ucapan wanita tua itu, dia mulai bersemangat.
"Ya Nona!"
"Bawa aku ke sana, aku ingin rumah untuk berteduh, untuk ditinggali, entah itu rumah, kedai, gubuk atau apapun itu, aku hanya ingin sebuah tempat tinggal, tidak begitu layak pun tidak apa!" jabarnya cepat.
"Mari... Mari hamba tunjukkan!"
__ADS_1
Rymi dengan bersemangat mengikuti langkah wanita tua itu, berjalan sedikit jauh lalu menemukan sebuah rumah yang tidak begitu layak kondisinya. Memang masih bisa ditinggali, namun tetap saja untuknya yang sudah terbiasa dengan kemewahan ini sedikit risih.
"Silakan Nona!"
"Aahhh yaaa!" angguk Rymi. Ragu dia melangkah mendekat, ditepisnya segala pemikiran buruk, yang terpenting adalah rumah ini bisa menyelamatkan harta-hartanya. Dia juga sudah harus kembali ke istana, suami novelnya itu pastilah sedang menunggunya dengan rasa marah.
...***...
Pangeran ke dua memberitahukan sesuatu, dia menyampaikan temuannya saat melihat Rang Yuan kembali dengan keadaan terluka.
Hubungannya dengan Rang Yuan memang tidak begitu baik, itu dikarenakan mereka pernah berselisih paham tentang siapa yang akan terpilih menjadi pendamping Yang Mulia Kaisar Jung. Pangeran ke dua sudah berlatih mempersiapkan diri untuk menjadi Ketua pengadilan, dia sudah belajar dengan giatnya, namun yang terpilih malah Rang Yuan, yang bukanlah saudara sedarah mereka.
Jadi dia berniat mengabarkan itu, berkata bahwa Rang Yuan bahkan telah gagal dalam membawa Permaisuri Oh kembali.
"Apa dia terluka parah?" tanya Kaisar Jung.
"Terlihat begitu kesulitan untuk berjalan, sepertinya ada luka yang cukup serius di bagian kaki atas-nya." jawab Pangeran kedua.
Kaisar Jung mengangguk, lalu meminta orangnya untuk segera menyuruh tabib terbaik di istananya untuk mengobati luka Rang Yuan.
"Yang Mulia, apa belum terdengar kabar dari Yang Mulia Permaisuri?" tanya Pangeran ke dua.
Belakangan ini dia cukup bisa memahami situasi, dilihatnya hubungan Kakaknya itu semakin dekat dengan Permaisuri Oh, bahkan dia melihat cara yang berbeda saat menatap wanita itu. Jadi, dia bisa mengetahui seperti apa arti seorang Permaisuri Oh bagi Kaisar Jung. Dan Permaisuri Oh saat ini juga sudah menjadi salah seorang yang patut diperhitungkan. Jadi, tentu saja dia akan berlaku sopan, dimulai dari mengakui status Permaisuri negeri ini.
Sementara Kaisar Jung menghela napas, "Dia akan segera kembali!" sahutnya. Entahlah, padahal dia pun belum bisa memastikan itu. Memikirkannya saja bahkan membuat Kaisar Jung begitu geram, namun sayangnya tetap saja tidak bisa terlalu marah.
Bersambung...
__ADS_1