
"Kasim Co!" Rymi membelalak heran, saat melihat siapa yang tiba-tiba saja memegang pundaknya, mengapa di tempat seperti ini dirinya bisa bertemu dengan Kasim Co.
"Yang Mulia Permaisuri, keadaan dalam istana sungguh gawat, dari mana saja Yang Mulia Permaisuri pergi?" tanya Kasim Co pelan, orang tua itu tidak terlihat mencurigainya, namun tidak juga terlihat mendukungnya.
Kasim Co adalah orang terpenting bagi Kaisar Jung, sungguh berdua saja dengan orang tua ini tentu bukanlah juga hal yang baik menurut Rymi. Namun, untuk sekarang tidak ada siapapun yang bisa dirinya mintai tolong, di ruangan yang sungguh gelap ini, sebenarnya cukup beruntung masih ada orang yang menemukannya.
"Aku harus mengurus sesuatu untuk bertahan hidup!" jawab Rymi beralasan. Memang benar kan, meski terdengar tidak meyakinkan namun dia tidak bohong untuk alasannya itu.
"Yang Mulia..."
"Aku hanya makan diluar, makanan istana yang disajikan untukku sama sekali tidak enak, rasanya hambar, kalian berniat mengerjaiku yaaa?" Dan alasan ini jelas sekali sangat asal. Tadi pagi saja bahkan dirinya menghabiskan seluruh makanan yang tersedia untuknya.
Lalu, dengan berbekal penerangan obor yang Kasim Co pegang, keduanya mulai menyusuri lorong itu.
"Kasim Co! Kau... Mengapa tiba-tiba datang ke sini?"
"Hamba melihat Yang Mulia Permaisuri di dekat pintu gerbang tadinya, dan Hamba juga melihat Yang Mulia menuju halaman belakang, Hamba kira Yang Mulia Permaisuri mengetahui jalan rahasia ini, untuk itulah Hamba segera menuju ke sini!" jawab Kasim Co. Entah itu berbohong atau tidak Rymi tidak bisa menangkap gelagat mencurigakan Kasim Co.
"Hemmm, begitu?" selidik Rymi dia mencoba yakin.
Tidak ada apapun di ruangan ini, hanya lorong biasa, sepertinya tempat ini memang dibuat sebagai jalan rahasia untuk menuju istana. Pikir Rymi, namun saat sudah lumayan lama berjalan pandangan matanya malah menangkap hewan melata yang sedang merayap di dinding lorong, ular itu terlihat cukup besar, apa jadinya jika dia harus berjalan sendirian tanpa penerangan tadinya?
"Pakailah ini!" ujar Kasim Co. Tiba-tiba berhenti dan memberikan sebuah pakaian.
__ADS_1
Rymi melihat pakaian yang diberikan Kasim Co, pakaian seorang dayang, lalu dia melihat lagi ke arah dirinya, Seketika, Rymi langsung saja bisa menemukan keganjalan "Tunggu!" sergah Rymi.
"Ada apa Yang Mulia Permaisuri!"
"Aku berpakaian seperti ini, mengapa kau bisa mengenaliku?" selidik Rymi, dan itu berhasil membuat Kasim Co tergagap.
Bahkan, sekelas Pangeran ke dua pun tidak menyadari penyamarannya. Lalu bagaimana mungkin Kasim Co bisa begitu teliti?
"Hamba..."
Brakkk!
Rymi menekan tubuh renta Kasim Co pada dinding lorong, dia mengarahkan belati dari tulangnya tepat hampir mengenai mata Kasim Co. "Aku bisa saja membuatmu buta dan melupakan hal yang kau lihat saat ini tentangku, jadi... Pikirkan baik-baik sebelum kau menjawab pertanyaanku!"
"Tua bangka, aku tidak butuh rengekanmu, kau sudah melihatku yang seperti ini, katakan... Yang sebenarnya, untuk apa tujuanmu datang ke sini!"
"Hamba..."
"Jika kau melihat mataku yang indah ini sudah terpejam, kau tau... Maka saat itulah waktu yang paling tepat untukku berburu, meskipun aku lebih menyukai berburu harimau dari pada seekor kelinci yang malang, tapi... Saat aku begitu lapar, aku juga tidak bisa melepaskan kelinci itu begitu saja!"
"Yang Mulia Permaisuri, ampuni hamba!"
"Katakan! Aku masih bisa melepaskan kelinci itu jika kau menjawab dengan benar!" Rymi melepaskan Kasim Co, bukannya mengatakan yang sebenarnya namun Kasim Co malah memilih untuk pergi.
__ADS_1
"Yang Mulia Permaisuri... Ampuni Hamba!" lirih Kasim Co semakin menghindar, dia berlari kecil menjauhi Permaisuri Oh, namun sayangnya Rymi juga berjalan semakin mendekat, dia mengarahkan belatinya seolah sedang berburu dan siap saja membunuh mangsa di hadapannya.
Tampaknya, Kasim Co salah mengartikan maksud dari perkataan Rymi tadi, tanpa sadar semakin dia menghindar maka hal itu semakin seru bagi seorang Rymi.
"Aku tidak suka daging kelinci tua ini, pasti teksturnya sungguh alot jika dimakan, jadi haruskah aku membunuhnya?"
"Yang Mulia Permaisuri, jangan... Jangan bunuh Hamba, ampunilah Hamba!"
"Aku melepaskanmu dan mencoba memberikanmu kesempatan, tapi rupanya kau telah memilih kematianmu sendiri!" ujar Rymi semakin mendekat, Kasim Co salah arah, langkahnya harus terhenti karena menemui jalan buntu di lorong itu.
"Yang Mulia!" keringat dingin mulai membasahi tubuh Kasim Co, tangannya sudah bertemu meminta pengampunan.
"Lari... Lari... Aku menginginkan nyawamu!" 🎶
Rymi malah bersenandung, lirik lagu itu adalah sebuah nyanyian saat dia biasanya membunuh orang. Dia suka sekali membuat targetnya ketakutan, ada sensasi tersendiri saat dirinya melakukan itu.
Dan melihat tergetnya memohon ampun seperti yang dilakukan Kasim Co saat ini, Rymi selalu menantikan moment seperti itu. Hanya saja dia lebih menyukai kalau tergetnya masih punya cukup keberanian untuk melawannya. Menurutnya hal itu lebih seimbang.
"Kau seharusnya lari, tapi sayangnya kau memilih menyerah lebih cepat!"
"Yang Mulia!"
"Aaahhhh ahhhhh!" jerit keras Kasim Co saat belati itu membuat begitu banyak darah di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung...