
Seorang gadis tengah menatap sebuah tempat yang akan dikunjunginya, kedai teh yang diberitahukan oleh Permaisuri negeri ini, yang disebut-sebut sebagai tempat yang akan merubah masa depannya.
Dia harus ke sana mengantarkan secarik kertas dalam genggamannya, 4.0.5.1. Dia membaca lagi nomor yang menurut Permaisuri Oh mendapatkannya dari sebuah mimpi. Apa iya empat nomor ini benar-benar akan bisa mengubah hidupnya.
"Kau tidak masuk?" sapa seseorang, gadis itu menilik, melihat gambaran wajah yang terbalut cadar berwarna merah.
"Ekhm, aku..."
"Masuklah, ini hanya kedai teh biasa!"
Gadis itu masuk, kedainya tampak sepi, hanya ada dia dan seseorang yang ditaksirnya adalah pemilik kedai.
"Berapa yang ingin kau pasang?" tanya seseorang itu langsung, dan gadis itu meyakini bahwa kedai inilah yang dimaksudkan Permaisuri Oh.
"Satu saja, namun empat angka!" jawabnya, sesuai perintah yang dipesankan oleh Permaisuri Oh sebelum dia berangkat tadi.
"Hemmm, mengapa hanya satu?"
"Satu saja, ini permintaan seseorang!" ungkapnya jujur.
"Ya baiklah!"
Lalu si gadis menyebutkan berapa angka yang akan dirinya pasang, sesuai dengan yang diperintahkan, tidak lebih dan tidak juga kurang.
"Angka ini cantik sekali! Siapa yang menyuruhmu?"
Gadis itu tertegun, bagaimana mungkin dia mengatakan Permaisuri lah yang menyuruhnya bermain judi memasangkan nomor itu dan hasilnya jika menang maka akan dibagi dua.
"Temanku, teman kerjaku!" dustanya.
"Ohhh, cukup bagus, aku yakin dia mengartikan mimpinya dengan benar!"
"Kapan... Kiranya hasil ini akan keluar!"
"Pas matahari berada di atas kepalamu, kau bisa datang lagi ke sini!"
Aahh, berarti pada waktu tengah hari pikirnya.
__ADS_1
"Baiklah!"
Gadis itu pamit undur diri, dia sudah melakukan tugasnya, sepanjang jalan dia berdoa semoga saja nomor yang dipasang olehnya tadi bisa keluar.
...***...
"Bagaimana bisa dia melakukan itu?"
"Sedang selama ini, cinta dan juga kasih sayang bahkan aku berikan lebih padanya!"
Kaisar Jung bergumam, dia tidak menyangka bahwa Selir Na Ra bahkan akan mengkhianatinya.
Sebuah kertas yang ditemukan di kerongkongan mayat dayang itu, berisi tentang konspirasi antara Selir Na Ra dan salah satu menteri di istananya. Dayang itu adalah saksi kunci, jadi mungkin saja Selir Na Ra membunuhnya dan membuat seolah-olah dayang itu bunuh diri. Yah benar, hal itulah yang paling mungkin.
"Kau memikirkan sesuatu?"
"Astagah!" pekik Kaisar Jung tanpa sadar, dia benar-benar terkejut saat melihat Permaisuri Oh sudah berada di hadapannya.
Tidak ada suara langkah kaki, dan lagi pula tamu ini sungguh tidak sopan, datang tanpa mengucapkan salam.
"Kau sepertinya semakin kurang ajar, Oh Dae... Kau tau, aku ini adalah seorang Kaisar, sudah seharusnya kau berlaku sopan!"
"Suka tidak suka, kau harus menunjukkan rasa hormatmu!";
"Ohooo, aku rasa... Kita sudah menjadi teman semenjak aku berhasil menyelamatkan salah satu rekan hidupmu" ujar Rymi lagi, menekankan kembali jasanya. Seolah ingin dimengerti, ayolah... Betapa Kaisar ini harusnya sangat berterimakasih padaku, apa salahnya bersikap santai sedikit, batinnya ingin sekali berkata demikian.
"Rekan hidup?"
"Kasim Co! Kau tampaknya lebih mencintai dia dari pada Permaisuri ini!"
Rymi berucap demikian, dia mengungkapkan isi hatinya sebagi seorang Rymi, dia hanya mengatakan pernyataan yang mungkin benar, Kaisar Jung lebih memedulikan Kasim Co dari pada Permaisuri Oh. Namun Kaisar Jung yang sama sekali tidak mengetahui ada jiwa orang lain di tubuh istrinya itu tentu saja salah paham, dikiranya Permaisuri Oh sedang cemburu dan sedang berkeluh kesah padanya, menginginkan perhatian lebih.
"Permaisuri, apa kau sedang menunjukkan protes akan ketidakadilan?"
"Hah? Aku? Kau gila! Ya, bahkan di kehidupan kedua sampai ketiga pun aku tidak akan pernah tertarik padamu, kau tau... selama ini aku hanya mencintai satu orang saja..."
"Diriku? Satu orang saja itu... Bukankah diriku? Aishhh, semua orang di istana ini bahkan tau siapa yangengejar siapa! Aku sudah ingin berdamai tapi kau malah menjadi liar seperti ini!"
__ADS_1
"Heh, sungguh percaya diri yang terlalu, kau kira dengan wajah seperti ini mampu menggoyahkan hatiku! Aku... Hanya pernah mencintai satu orang saja!"
"Siapa?" sergah Kaisar Jung cepat, dia yakin sekali kalau jawabannya adalah dirinya, namun Permaisuri Oh sepertinya tidak mau mengakui. Mungkin masih malu, karena dari kemarin mereka memang sudah sedikit lebih dekat.
Rymi tercekat, tidak mungkin dirinya harus mengatakan nama Samudra, gila saja tidak ada orang yang akan percaya. "Aku... Hanya mencintai... Diriku sendiri!" jawab Rymi cepat. Yaahh, itu mudah saja dan tepat untuk dijadikan jawaban.
"Untuk itulah, kau jangan terlalu percaya diri, lihatlah wajah cantikku ini, bukankah sangat membuktikan kalau aku sangat sangat sangat mencintai diriku sendiri!" ucap Rymi dengan yakin.
Kaisar Jung ingin tertawa, baginya ekspresi wajah Permaisuri Oh benar-benar tidak memungkinkan, ketahuan sekali kalau wanita itu sedang berbohong, dan Kaisar Jung bukannya percaya bahkan ia semakin percaya diri. Dianggapnya Permaisuri Oh begitu menggemaskan karena berusaha menutupi kebenaran.
"Hemmm, begitu? Ya baiklah, kau bisa mencintai dirimu sendiri, ah ya... Apa kau sudah memberikan obat untuk Kasim Co pagi ini?" tanya Kaisar Jung mengalihkan pembicaraan.
Rymi mengangguk, "Sesuai janji, aku akan merawatnya hingga sembuh! Aisshhh tugas ini, seharusnya aku tidak mengerjakannya dengan cuma-cuma!" sindir Rymi.
"Licik!" gumam Kaisar Jung, namun sengaja ia keraskan suaranya saat mengatakan itu.
"Huuu... Bukankah kita sama liciknya? Kau membuatku hampir mati karena racun, namun kau merekayasanya, membuatku seolah-olah ingin bunuh diri, orang-orang semakin memujamu dan semakin berpikiran negatif tentangku!"
"Ah ya, Kaisar Jung... Sepertinya kalian memang pasangan yang serasi, cara kau ingin membunuhku dan cara Selir Na Ra membunuh dayang itu, rasanya memiliki kesamaan, apa kalian memang senangnya mengambinghitamkan orang?"
Kalian harus tau, siapa yang paling menguasai cara kerja seperti itu, aku suka bermain-main...
"Jaga ucapanmu Oh Dae, aku sama sekali tidak berniat membunuhmu!" sangkal Kaisar Jung.
"Ah yaaa? Haruskah aku percaya? Hahahaha!"
Tawa Rymi menggelar, ini benar-benar lucu menurutnya. "Lalu, kau ingin mengatakan kalau aku memang bunuh diri, meminum racun itu dengan sengaja, heh..."
"Oh Dae mari kita lupakan!"
"Ya ya.. Lupakan, aku juga sangat ingin melupakannya!" sahut Rymi santai.
"Ya... Sudah seharusnya..."
"Kau sungguh berpikir aku akan mengatakan itu? Konyol! Melupakan apanya? Sebuah kisah tragis yang terbawa hingga ke dalam novel non fiksi! Aku bahkan menyesal membaca novel Permaisuri ini hingga akhir, entah mengapa ada penulis yang tertarik menyunting kisahnya!"
"Apa maksudmu Oh Dae?" Kaisar Jung semakin heran, Permaisuri Oh mulai lagi berbicara aneh.
__ADS_1
"Aiishhh, kiranya harus ku apakan f*ckboy ini?" gumam Rymi saat melihat wajah Kaisar Jung yang menurutnya sangat tidak tua diri, saat Permaisuri Oh sudah cantik, maka dengan mudah menerimanya, Rymi paling tidak suka jenis pria brengsek semacam itu.
Bersambung...