Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Perasaan Kaisar Jung.


__ADS_3

"Bertahan hidup? Apa maksudnya?"


"Meminjam koin emas dariku, lalu mengembalikannya hanya dalam waktu setengah hari, apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan?"


Kaisar Jung bergumam setelah Permaisuri Oh pergi, tadi pagi Permaisuri Oh memang meminjam satu kantong koin emas padanya.


Flashback,


"Ah ya Kaisar Jung, apa aku bisa meminta bantuanmu?"


"Hemmm, bantuanku? Sekarang... Kau sungguh banyak meminta yaaa sepertinya? Mulai berani!"


Permaisuri Oh hanya bisa mencibir tidak suka, "Ya ya, kalaupun kau tidak bisa, bukan berati kau bisa merendahkanku juga. Aisshhh, rasanya itu cukup membuatku menyesal!"


"Hahahaha, kau terlalu serius, katakanlah!" pinta Kaisar Jung, sebenarnya dia hanya bercanda tadi.


Kaisar Jung merasa tidak apa salahnya membantu Permaisuri Oh, dia juga sudah memutuskan untuk beramai dengan istrinya itu, melihat Permaisuri Oh yang menyelamatkan nyawa Kasim Co membuatnya mempercayai wanita yang pernah dibencinya itu seketika.


"Pinjami aku uang... Ah tidak tidak, kalau bisa koin emas!" ungkap Permaisuri Oh.


"Koin emas? Untuk apa?"


"Aku ingin melakukan sesuatu dengan satu kantong koin emas, aku berjanji akan segera mengembalikannya jika urusanku sudah selesai."


"Anggap saja, kau membantuku karena aku yang masih harus mengurus Kasim Co dengan baik hingga dia sembuh!"


Kaisar Jung tampak berpikir, ahhh sudahlah... Memang tidak ada salahnya kan.


"Baiklah!" dengan tanpa ragu Kaisar Jung mengambil satu kantong koin emas untuk diberikan pada Permaisuri Oh. "Gunakan ini untuk hal yang baik!"


"Aahhh, tentu saja, koin-koin ini tentunya akan sangat berguna bagiku!"

__ADS_1


Permaisuri Oh pamit hendak pergi, namun entah mengapa Kaisar Jung mencoba menahannya.


"Oh Dae!"


"Ya!"


"Kau akan terus berbicara begini? Tidak menganggapku sebagai seorang Kaisar?" tanyanya yang malah lebih memilih menanyakan itu. Padahal, Kaisar Jung ingin menanyakan apakah Permaisuri Oh ada waktu luang malam ini, dia berencana untuk mengajak Permaisuri Oh minum teh.


"Hemmm, aku suka hubungan yang seperti ini, tidak terlalu membuatku canggung!"


"Maksudmu... Kau lebih suka memanggilku tanpa adab kesopanan?"


"Hemmm, aku kira kau bisa tidak terlalu buruk dalam mengartikannya! Tapi sepertinya aku tersinggung, begini... Aku ini istrimu kan, apa kiranya seorang suami akan memenggal kepala istrinya hanya karena istrinya itu tidak memanggilnya Yang Mulia, terus terang panggilan itu sedikit merepotkan untuk orang sesimpel aku!"


"Oh Dae!"


"Nah kau juga memanggilku tanpa adab kesopanan, Permaisuri... Istriku... Aku mendengar hal semacam ini di drama yang aku tonton sebelumnya, tapi kau tidak... Maka untuk apa juga aku sopan padamu!"


"Ohhh, aku mengerti... Kau ingin aku memanggilmu istriku? Permaisuriku? Begitu?" tanya Kaisar Jung, dia salah paham lagi.


"Mati saja! Itu benar-benar menggelikan, maksudku... Kita akan berbicara santai, panggil Aku Oh Dae, itu lebih bagus, jangan membuatku semakin geli, sudah hampir gila aku berada di negeri entah berantah ini!"


"Hemmm... Ya baiklah, Permaisuriku..."


"Jung!" sanggah Permaisuri Oh cepat.


"Kau! Kau malah lebih berani sekarang!" berang Kaisar Jung kesal.


"Aku akan memanggilmu begitu, kau bisa memanggilku Oh Dae, jadi kita impas!" ucap Permaisuri Oh tanpa dosa.


Kaisar Jung seakan tidak bisa melawan, rasanya entah mengapa saat Permaisuri Oh memanggilnya begitu dia lebih merasa diperhatikan.

__ADS_1


"Baiklah... Oh Dae!"


"Hemmm..." Permaisuri Oh berlalu setelah mengangguk setuju.


Flashback off.


"Oh Dae itu, mengapa dia sungguh berbeda, jika istriku yang lain ingin selalu dimanjakan olehku, berebut dan bersaing dalam mencari perhatianku, tapi Oh Dae... Dia selalu saja mengajakku berdebat, apa benar setelah pernah hampir menemui kematian, dia tidak mau rugi lagi, seperti yang dia katakan?"


"Ahhh, rugi? Aku ini bicara apa? Seharusnya dia itu merasa beruntung bisa menikah denganku dan menjadi Permaisuri negeri ini, tapi dia malah bersikap tidak sopan dan berapa kali meremehkanku!"


"Dan aku... Malah memaafkannya? Ini tidak biasa, aku paling tidak suka saat orang lain berbicara tidak hormat padaku!"


Yah benar, pernyataan itu sungguh benar, bahkan saat berhubungan int*m pun, para istrinya tidak pernah bisa bebas memanggilnya. Kaisar Jung adalah orang yang perfeksionis, suka kesempurnaan, pandangan orang terhadapnya harus selalu baik, dia harus selalu diistimewakan, dihormati.


Namun anehnya dia bisa melepas itu semua di hadapan Oh Dae, dia bagai bisa menerima Permaisuri Oh yang bersikap sungguh santai terhadapnya. Apa ini?


Kaisar Jung tidak mengerti akan semua tindakannya. Padahal, dia belum menyadari saja kalau sebenarnya dia mulai tertarik dengan Permaisuri Oh, dia bisa bersikap apa adanya hanya di hadapan Permaisuri Oh, keadaan yang sebenarnya adalah dia mulai nyaman bersama dengan wanita itu. Wanita yang selama ini selalu dihindarinya, dibencinya karena memiliki wajah yang buruk rupa dan lebih-lebih cara Permaisuri Oh menjadi Permaisuri Negeri ini sungguhlah tidak dirinya sukai, menjebaknya dalam sebuah pernikahan, dia harus sampai membereskan semua orang-orang yang mengetahui peristiwa malam itu supaya bisa menjaga nama baiknya.


Namun, yang dilakukan olehnya selama satu tahun ini hanyalah menghindar, Kaisar Jung sama sekali tidak pernah mencoba untuk membalas perasaan Permaisuri Oh, baginya menyiksa Permaisuri Oh dengan cinta sepihak itu sudah sangat benar.


Apa lagi, dia mencintai Selir Na Ra. Orang yang selalu hadir disaat-saat terpuruknya, kalaulah bukan karena Selir Na Ra, dirinya tidak akan pernah diangkat menjadi Kaisar Negeri ini.


"Haaahh... Yah, ada kalanya aku memang suka orang memanggilku dengan nama itu saja, Jung, panggilan itu terasa lebih ringan, seolah beban bisa ku lepaskan meski hanya barang sejenak!"


"Yang Mulia... Ketua penyelidikan datang menghadap!"


Suara dari luar menyadarkannya, Kaisar Jung memperbaiki penampilannya, dia tersenyum samar, sungguh rasanya dia masih tidak percaya bisa menyukai panggilan Permaisuri Oh terhadapnya.


"Jung! Aku akan memanggilmu begitu, kau bisa memanggilku Oh Dae, jadi kita impas!"


"Panggillah aku sesuka hatimu, Oh Dae... Kau ternyata begitu menggemaskan!" gumam Kaisar Jung sangat pelan. Memperbaiki lagi penampilannya, melihat wajahnya yang memerah, tak ayal membuatnya harus tersenyum lagi.

__ADS_1


Astagah... Perasaan ini sulit sekali aku kendalikan! Oh Dae itu... Dia bahkan telah memenuhi sebagian otakku.


Bersambung...


__ADS_2