Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Sebuah lorong rahasia.


__ADS_3

Sementara yang tengah dicari keberadaanya,


"Kau yakin hanya akan memasang dua angka?" Rymi meneliti nomor yang akan dipasangkan oleh Dayang Ju. Dia telah berganti peran menjadi Arash, si bandar judi berkedok penjual teh.


"Iya Tuan!"


"Hemmm, nomor ini cukup bagus!"


Lalu Rymi menutup pendaftaran lotre untuk slot pada malam hari ini, dia akan segera mengundi supaya juga bisa kembali ke istana dan beristirahat.


Bola berisikan angka mulai diturunkannya, satu persatu angka mulai keluar dan masing-masing orang dengan segera mencocokkan nomor yang mereka pasang.


"Delapan!" ujar Rymi menyebutkan angka pertama yang keluar.


"Asshhh!" de*ah orang-orang yang sudah tentu gagal di angka pertama. Mereka ada yang langsung saja balik badan dan juga ada yang tetap menunggu.


"Dua!" Rymi menyebutkan lagi angka kedua yang keluar.


"Satu!" lanjut Rymi lagi.


"Lima!"


Angka terakhir sudah keluar, sudah ditentukan akhirnya deretan angka yang keluar adalah, 8.2.1.5.


Banyak yang berhasil pada dua angka terakhir, 1.5 Rymi segera menghitung banyaknya koin emas yang akan dirinya keluarkan untuk dihadiahkan pada beberapa orang yang beruntung termasuk Dayang Ju. Rymi sudah memprediksi itu, angka 1.5 adalah angka yang dipasang oleh Dayang Ju, jadi dia sengaja membuat dua angka itu keluar.


"Terimakasih!"


"Yaaa, semoga kau puas!" ujar Rymi memberikan sedikit pujian.


"Astagaah! Lihatlah nomor yang ingin aku pasang, Tuan... Andai tadi aku memasang 2.1.5, tentu aku akan mendapatkan hadiah yang lebih banyak!" kali ini seorang kakek tua, Rymi melihat angka yang tertulis di kertas, memang benar seharusnya kakek tua ini bisa lebih beruntung.


"Tidak apa, lain kali bisa pasang lagi!" ujarnya memberikan semangat sekalian mengkibarkan taktik marketingnya.

__ADS_1


"Terimakasih, aku tidak menyangka akan bisa menang hari ini, Tuan... Astagah aku, padahal aku hanya memasang satu dan kena!"


"Anggap saja hari ini hari keberuntunganmu! Semoga uang yang kau dapatkan bisa bermanfaat..."


Rymi tergelitik hati, puja dan puji serta saran dan nasihat dia berikan, padahal menurut pengamatannya di dunia nyata, uang hasil lotre jarang sekali digunakan untuk bertahan hidup, kebanyakan orang yang pernah menang akan menggilai jenis judi ini, dan uang hasil menangnya tentu saja akan mereka pasangkan lagi, berharap bisa menang lagi dan lagi, sehingga tanpa sadar mereka nantinya akan berada di tahap kecanduan.


Dayang Ju juga sudah permisi, setelah menerima lima koin emas dia berlalu dengan riangnya.


Sementara Rymi, dia merasa lelah sekali, dia berkemas dan juga berniat untuk segera pulang ke istana.


...***...


"Asshhh! Para penjaga itu, mengapa mereka semakin banyak?" Rymi melihat begitu banyak penjaga di pintu gerbang, hal itu tentu akan menyulitkannya untuk masuk ke istana. Apa mungkin telah terjadi sesuatu, pikirnya?


"Aahhh, diserang? Bukankah penjagaan ketat semacam ini biasa dilakukan saat istana sedang diserang? Aiisshh merepotkan saja tinggal di dunia ini?" gumamnya seraya terus bersembunyi.


"Apa sudah ada tanda-tanda Yang Mulia Permaisuri kembali?"


"Yah kau benar, aku akan memeriksa setiap ruangan, dan kalian terus awasi di sini!"


Rymi mendengar itu, matanya membulat sempurna karena ternyata dirinya lah biang dari semua kegaduhan ini.


"Tapi kenapa? Apa mungkin, aku ketahuan keluar istana?" gumam Rymi pelan, dia sungguh bertanya-tanya.


Dia hendak masuk, namun satu-satunya akses untuk dirinya masuk ke istana sudah dijaga ketat, memang cari mati jika saja dia berani menampakkan diri.


Rymi beralih menuju halaman belakang, lamanya berpikir seketika dia ingat, ada akses jalan lain menuju istana dalam, tempat di mana dirinya membuat perapian waktu itu saat membakar burung, jika saja tempat itu tidak dijaga tentunya akan lebih mudah untuknya kembali ke kamar.


Rymi mempercepat langkahnya, mencoba mengingat-ingat di mana kiranya tempat itu, pagar tembok yang tinggi ini benar-benar menghalangi penglihatannya.


"Di sekitar sini, ada sebuah pintu, waktu itu aku bahkan keluar dari pintu itu untuk mencari kayu bakar, tapi... Mengapa tampak berbeda, aku tidak menemukan tempat semacam itu?"


Rymi berjalan menyusuri lagi, dia rasa ini memang sudah berada di sekitaran halaman belakang, namun sama sekali tidak menemukan akses masuk.

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus aku lakukan? Membiarkan kulit putih mulusku ini di serang oleh tentara nyamuk? Aisshhh, menyebalkan!"


"Trakk!"


Tiba-tiba saja kakinya menginjak sesuatu, seperti kayu yang sangat keras, namun penyusunannya tidak begitu tepat jadi tetap saja menimbulkan bunyi jika diinjak.


Benar, rumput yang lebat ini, pasti digunakan untuk menutupi sesuatu. Rymi membatin dan tangannya sudah dengan cepat mencari tau apa yang tadi diinjak olehnya. Menyingkirkan tanaman rambat yang cukup lebat itu, dan...


"Apa ini? Whoaaa, keren sekali, apa aku akan menemukan sebuah ruangan rahasia?" ujarnya penuh semangat, karena tangannya mendapati tali yang tersambung dengan sebuah papan kayu.


Rymi mencoba menarik tali itu, beruntungnya saat ini cahaya rembulan juga cukup membantu, sehingga dia tidak akan begitu kesulitan dalam penglihatan.


Brakkk!


Pintu kayu itu terbuka, terlihat seperti sebuah lorong namun Rymi masih ragu untuk memasukinya, lorong itu begitu gelap dan dia sama sekali tidak memiliki alat untuk penerangan.


Lama Rymi termenung memikirkan apa yang harus dirinya lakukan, jika kembali pun belum tentu juga dia bisa memasuki istana dengan mudah, menunggu di sini? Hal itu juga sangat tidak mungkin! Dan terakhir, memasuki lorong gelap itu... Entah apa yang akan dirinya temukan di sana, biasanya di tempat tersembunyi semacam ini, kalau bukanlah akses jalan rahasia untuk masuk menuju istana, bisa jadi adalah tempat penyimpanan senjata, atau bisa pula sebuah penjara, dan yang lebih parahnya lagi... Bagaimana jika, lorong ini adalah tempat untuk pembuangan manusia yang dieksekusi mati? Memikirkannya, Rymi benar-benar dilema.


"Masuk, tidak... Masuk, tidak..."


"Aisshhh, aku tidak suka penasaran seperti ini!"


Rymi mencari-cari alat untuknya membuat api, namun tidak juga dirinya temukan, hal itu membuatnya semakin kesal.


Ya ya, aku rasa aku harus melihatnya, setidaknya untuk aku bersembunyi!"


"Dugh!"


Rymi melompat ke bawah memasuki lorong, kemudian menutup pintu lorong itu, siap meninggalkan cahaya rembulan yang sedari tadi membantu penglihatannya, sekarang hanya tersisa kegelapan menyapanya.


Namun tiba-tiba...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2