
"Jangan terlalu dipikirkan, Yuan pasti akan menemukan penyusup itu!" ujar Kaisar Jung bermaksud menenangkan Permaisuri Oh yang dilihatnya kini tampak gelisah.
Ashhh, dia ini... penyusup itu bahkan sedang berada di hadapanmu, gila saja aku harus khawatir!
Tapi, bagaimana jika Yuan mencurigaiku? Dia benar-benar melihat dengan jelas saat aku mengambil belati. Kali ini aku benar-benar ceroboh, belakangan ini karena terus-terusan mengurusi masalah si gila Ayaz, aku malah jadi sama cerobohnya.
Rymi sangat menyayangkan tindakannya yang begitu tanpa perhitungan, dia tau Yuan tentunya bukan orang bodoh, dari tatapan mata saja Rymi sudah bisa melihat bagaimana seharusnya pria itu bekerja dalam menangani masalah.
Sama sekali tidak menyinggung masalah belati saat Kaisar Jung membawanya keluar kamar tadi, tentunya Yuan juga bukanlah orang yang gegabah.
Aku benar-benar harus berhati-hati dengan pria itu. Sekarang dia sudah mempunyai kartuku. Harus membungkam mulutnya, yahhh... Sebelum dia mengatakan temuannya ini pada Jung, aku harus sudah lebih dulu bertindak.
"Oh Dae!" sentak Kaisar Jung. Dia sudah berapa kali memanggil istrinya itu, namun Permaisuri Oh tidak menyahut.
"Ah, ya..."
"Kau melamun?"
"Emmm..."
"Tidak usah terlalu dipikirkan, kau aman di sini!"
Aman? Bahkan aku merasakan sinyal bahaya jika berada sekamar denganmu, dasar F*ckboy!
"Yah, sangat aman!" sahut Rymi terdengar acuh.
"Hemmm, pintar! Istriku memang pintar!"
Rymi serasa ingin muntah mendengar pujian Kaisar Jung, dia memiringkan sudut bibirnya tanda tak suka. Namun Kaisar Jung tidak melihat itu.
"Kau sudah makan malam?" tanya Kaisar Jung.
"Sudah!" singkat Rymi. Dia berbohong, tapi memang tidak begitu lapar juga meskipun dia belum makan malam ini.
"Sudah ingin tidur?" malam memang sudah sangat larut, Kaisar Jung sepertinya benar-benar melupakan sesuatu, begitu menginginkan Permaisuri Oh berada di dekatnya, sampai melupakan permintaan Ibu Suri untuk menghabiskan malam bersama Selir Na Ra.
"Kau duluan saja, aku masih belum mengantuk!" jawab Rymi.
"Hemmm... Kalau begitu, bagaimana jika kita melakukan sesuatu?"
Mata Rymi mengkilat. Sesuatu? Si gila ini mau melakukan apa? Dengusnya kesal.
__ADS_1
"Tidak!" tolak Rymi cepat.
"Ayolah!" bujuk Kaisar Jung.
"Hei, kau gila! Aku bahkan masih belum bisa memaafkanmu tentang kejadian malam itu, kau malah seenaknya ingin melakukan lagi?" bentak Rymi. Terang-terangan dia menolak. Namun sepertinya dia telah salah paham, karena makna dari 'sesuatu' itu, sebenarnya Kaisar Jung sama sekali tidak berniat untuk melakukan sesuatu yang dimaksudkan Rymi.
"Kejadian malam itu?"
"Hemmm, kau pikir aku akan dengan senang hati menerimanya?" ingin sekali rasanya Rymi mencengkram erat lengan kokoh itu, mencabik-cabik tubuh Kaisar Jung, dia sungguh kesal. Bagaimana bisa Kaisar Jung memberikan saran semacam itu sementara keadaan istana sedang ditakutkan oleh penyusup. Yah meskipun dirinya adalah sumber masalah yang terjadi sebenarnya.
"Ahhhh..." kini Kaisar Jung mengerti, dia mengangguk paham. "Oh Dae, tapi... Maksudku bukan sesuatu semacam itu!"
"Hah?"
Kaisar Jung tersenyum lucu, sedikit getir karena itu artinya Permaisuri Oh bahkan menolaknya, meskipun dia tidak berniat untuk bercinta, namun ditolak padahal belum menyinggung hal itu sama sekali tentunya menyakitkan.
"Maksudku... Melakukan sesuatu, seperti bermain kartu, menulis puisi, atau apapun yang ingin kau lakukan untuk menghilangkan kegundahan." jelas Kaisar Jung.
Rymi tersenyum canggung, oh jadi bukan sesuatu yang... Asshhh, memalukan... gerutunya membatin.
"Tidak mau!" tolaknya.
"Bercerita?"
"Tidak!"
"Kenapa tidak mau?"
"Aku tidak mempunyai mood yang cukup untuk melakukan hal yang tidak berguna!" delik Rymi.
"Mood?"
"Hemmm!"
"Belakangan ini, kau berbicara sedikit aneh, ada beberapa kosa kata yang tidak bisa ku mengerti, kalau tidak salah, mood adalah... suasana hati, gambaran perasaan?"
Rymi beralih duduk, tanpa menghiraukan dan memberikan jawaban atas perkataan Kaisar Jung dia berlalu.
Kaisar Jung mendekat, rasanya semakin Permaisuri Oh melayangkan penolakan, dia juga semakin tertantang.
"Satu lagi, f*ckboy? Aku sungguh tidak tau arti kata itu, bisa kau jelaskan?" tanyanya.
__ADS_1
"Cih!" decih Rymi. Tidak tau f*ckboy, f*ckboy itu ya dirimu, geram Rymi.
"Ayolah, sudah lama aku penasaran!"
"Kau selalu mengatakan aku, 'dasar f*ckboy!' seperti mengumpat, kau tidak sedang mengataiku kan saat menyebutkan itu?"
Rymi mend*sah pelan, "Kau sungguh ingin tau?"
"Emm!" angguk Kaisar Jung.
"Aku memang sedang mengumpatimu!" jawab Rymi enteng.
"Oh Dae..."
"Kenapa? Kau tidak terima?"
Kaisar Jung menatap tajam Permaisuri Oh, tidak ada satupun orang yang berani mengumpat padanya, lalu apa ini, istrinya sendiri bahkan terang-terangan mengakui. Padahal tadinya dia berharap Permaisuri Oh akan takut padanya saat dia menanyakan itu, rasanya mana berani Permaisuri Oh berkata sejujur ini. Meskipun berbohong, yah... Memang rasanya lebih baik begitu.
"Mau tidak mau aku harus mengakuinya, kau sudah bertanya! Memaksaku lagi!" acuh Rymi terdengar tak ingin disalahkan.
"Oh Dae!" hidung Kaisar Jung kempang kempis, nafasnya sudah memburu tidak karuan, kalau saja tidak mengingat dirinya sudah jatuh cinta pada istrinya ini, dan perasaannya saat ini sedang pada masa berkembang dan berharap akan segera bermekaran, tentunya situasi saat ini bukanlah hal yang baik.
"Mungkin kedengarannya memang tidak cukup baik, tapi aku tidak suka berbohong untuk menyenangkan hati orang lain, akan lebih baik kau terima saja kenyataannya, Ya Jung... Istrimu ini tidak lagi mengagung-agungkanmu seperti dulu!"
"Aishhh rasanya lega sekali saat kita harus bersikap apa adanya seperti ini! Meskipun ada kalanya pemilik tubuh ini meracau, mengganggu kinerja mulutnya, wanita munafik ini memang ada kalanya suka berbicara semaunya, hanya untuk menarik perhatianmu, cih!" kesal Rymi, malam ini sepertinya dia beruntung, bisa membuat Kaisar Jung kesal, dan tubuhnya sama sekali tidak dikendalikan oleh Permaisuri Oh.
"Apa maksudmu?" geram Kaisar Jung. Dia ingin marah, namun sayangnya tidak bisa.
Rymi berdiri, dia mendekati Kaisar Jung, mensejajarkan posisinya untuk berhadapan. Kini jarak keduanya sangat dekat, bahkan Rymi bisa mendengar napas Kaisar Jung yang memburu.
Tangannya sudah terulur menyentuh dada bidang Kaisar Jung yang masih tertutup pakaian mewahnya. Merayapkan jari-jarinya di sana, lalu menyapu di bagian pundak.
"Seperti aku yang begitu menderita selama ini, bukankah umpatan semacam itu seharusnya tidak akan bisa membuatmu marah? Jangan menjadi cupu hanya karena aku sedikit menghinamu, bukankah... Wanita yang kini berada di hadapanmu ini, pernah kau hina, kau caci maki dia lebih dari itu?"
Rymi mulai membelai lembut wajah Kaisar Jung, "Yang kukatakan itu sungguh tidak seberapa, sangat jauh dari kata sepadan! Aku mempunyai saran, mulailah untuk menguatkan hati, karena bisa saja hari-hari berikutnya aku akan melakukan lebih!"
"Aaahhh, bukan akan! Tapi, harus! Sebuah keharusan saat aku berbicara mengumpatimu, aku seharusnya lebih membuatmu terhina! Hahahahaha!" pekik Rymi menakutkan.
"OH DAE!!!"
Bersambung...
__ADS_1