
"Aku tidak bisa menghukumnya!"
"Yang Mulia, yang dilakukan Selir Na Ra sungguh tidak bisa termaafkan begitu saja!"
"Kasim Co, menurutmu... Aku harus bagaimana?"
"Yang Mulia, Hamba... Tidak merasa pantas untuk memberikan pendapat, namun karena Yang Mulia sudah bertanya, menurut Hamba... Tentu saja memaafkan Selir Na Ra dan menutup kasus ini begitu saja juga bukanlah hal yang baik!"
"Dia adalah istriku!"
"Bukankah... Permaisuri Oh juga adalah istri dari Yang Mulia, namun beberapa minggu yang lalu Yang Mulia bahkan membiarkannya meminum racun itu!"
"Kasim Co, kau..."
"Ya, Hamba mengetahui itu Yang Mulia, namun Hamba mencoba diam saja karena bagi Hamba mungkin hal itu akan bisa melepaskan Yang Mulia dari kebencian terhadap Yang Mulia Permaisuri."
"Kasim Co, mungkinkah... Ini adalah sebuah balasan. yang diberikan oleh Langit kepadaku?"
"Yang Mulia, tolong jangan menjadi rapuh!"
"Aku memberikan cinta padanya, dia selalu aku nomor satukan selama ini, kesenjangannya di istana ini tak luput dari perhatianku, dia pun juga mengetahui kalau aku mencintainya!"
"Yang Mulia, maaf jika Hamba berkata lancang, menurut Hamba... Perasaan yang Mulia terhadap Selir Na Ra selama ini, tidak lebih dari sebuah rasa tanggung jawab, loyalitas karena Selir Na Ra adalah anak dari Menteri Pertahanan, yang secara tidak langsung memberikan dukungan penuh saat Yang Mulia hendak menjadi Kaisar Negeri ini!"
"Padahal, harus Yang Mulia ketahui, sebenarnya Yang Mulia mempunyai potensi tersendiri untuk menduduki singgasana itu! Orang-orang mempunyai alasan kuat, mengapa Yang Mulia harus menjadi Kaisar Negeri ini, Yang Mulia adalah orang yang berbakat, pintar, cerdas dan juga memiliki jiwa pemimpin yang kuat, Yang Mulia adalah panutan kami!"
"Tidak... Aku mencintai Selir Na Ra, Kasim Co, aku sudah memastikannya!"
"Lebih tepatnya, bukan mencintai, harus mencintai!"
__ADS_1
"Maafkan Hamba Yang Mulia, Hamba telah lancang mengatakan ini, sudah lama sekali Hamba ingin berbincang berdua dengan Yang Mulia, namun baru kali ini Hamba bisa mengungkapkannya!"
"Ah yaaa, dan perihal... Yang Mulia Permaisuri, meskipun selama ini Yang Mulia terlihat begitu kejam, namun sering sekali Hamba perhatikan, Yang Mulia tidak suka Yang Mulia Permaisuri menjadi pusat perhatian!"
"Kasim Co!"
"Maafkan Hamba Yang Mulia..."
"Asshhh!"
"Jangan menunduk, kau belum sembuh total, sudahlah, kali ini aku memaafkanmu berbicara omong kosong, aku tidak mungkin menyukai Oh Dae dulunya, sudah jelas sekali kalau aku mencintai Selir Na Ra. Dia yang selalu aku perhatikan, dia adalah pusat duniaku!"
"Sekali lagi, maafkan Hamba Yang Mulia!"
"Hemmm..."
Kasim Co, adalah orang yang begitu dekat dengan Kaisar Jung, dibandingkan dirinya bahkan Kaisar Jung mungkin lebih-lebih dekat dengan Kasim Co. Orang tua itu adalah orang yang paling Kaisar Jung percayai.
Untuk itulah dia dan Ayahnya tidak menyukai Kasim Co, karena dianggap suatu hari nanti akan bisa memengaruhi Kaisar Jung.
Dan yang didengarnya baru saja, membuatnya panas hati. Dengan berani Kasim Co mengatakan kalau selama ini Kaisar Jung tidak mencintainya. D*da Selir Na Ra tiba-tiba saja menjadi sesak, dia begitu ingat kala di malam pertama mereka Kaisar Jung bahkan sama sekali tidak memandangnya, harus begitu mabuk untuk bisa tidur bersama.
Selama ini Selir Na Ra cukup menyandang beban yang begitu berat, dikatakan oleh seluruh istana kalau dia adalah wanita Kaisar, Kaisar Jung yang terlihat memberikan seluruh cinta padanya, namun untuk menyebut kata 'Suamiku' saja sebagai penguat hubungan mereka, Selir Na Ra tidak bisa melakukannya, Kaisar Jung membuat batas yang tidak bisa dirinya tembus. Berkata sangat mencintainya, bahkan hubungan mereka berhasil membuat iri seluruh istana, namun siapa yang tau kalau kadang dirinya merasa lelah, perhatian yang diberikan Kaisar Jung terhadapnya adalah juga bagai luka yang tidak pernah mengering baginya.
Dia bisa merasakan itu, untuk itulah dia harus serakah, untuk itulah dia harus melumpuhkan semua rivalnya, sehat ataupun tidak dia harus melakukannya. Berharap cinta mereka bisa mekar dengan sendirinya jika terus saja dipupuk, berharap suatu hari nanti Kaisar Jung hanya akan melihatnya saja dan bukan sebatas cinta berlandaskan pembalasan budi.
Sedikit lagi, sedikit lagi waktu itu dia akan menjadi Permaisuri Negeri ini, jika saja Permaisuri Oh benar-benar mati, namun sekarang pertahannya benar-benar akan runtuh.
"Selirku!"
__ADS_1
Suara itu menyadarkan lamunannya, Selir Na Ra mendongak, mendapati wajah Kaisar Jung yang menatapnya penuh selidik.
"Hamba Selir memberi hormat pada Yang Mulia!"
Selir Na Ra memperbaiki sikapnya, dia tidak mau menyulut kecurigaan karena dia yang tiba-tiba saja berada di sini, di depan pintu ruangan pemulihan.
Kaisar Jung mengangguk membalas sapaan Selir Na Ra.
"Hamba baru saja datang untuk menemui Yang Mulia Kaisar, ada sesuatu yang harus Hamba bicarakan!"
"Hemmm, katakanlah!" pinta Kaisar Jung langsung saja.
"Jika Yang Mulia Kaisar tidak keberatan, kita bisa berbicara seraya meminum teh di paviliun, cuaca sore hari ini begitu cerah, Hamba rasa suasananya cukup bagus untuk suami istri berbincang santai bersama!"
Kaisar Jung sedikit curiga tentang apa yang akan dibicarakan Selir Na Ra, namun dia cukup yakin kalau Selir Na Ra tidak akan bertanya tentang kasus yang mereka tangani baru-baru ini, "Baiklah! Namun, aku masih harus menyelesaikan beberapa tugas pemerintahan hari ini, jadi... Jika kau tidak keberatan, kita bisa bersama setelah tugasku hari ini selesai, aku akan menjemputmu di kediamanmu nanti!"
"Ya Yang Mulia, Hamba akan menunggu!"
"Selir Na Ra!" seru Kaisar Jung sebelum berlalu.
"Ya Yang Mulia!"
"Apa kau baik-baik saja?"
Selir Na Ra tersentak, apa maksudnya Kaisar Jung menanyakan kondisinya. Apa Kaisar Jung menyadari kalau dari tadi dia memang sudah berada di sini.
"Hamba... Hamba, dalam keadaan baik Yang Mulia!" ujarnya sedikit tergagap.
Bersambung...
__ADS_1