
"Yang Mulia, sentuhlah Hamba!"
Selir Na Ra merasa puas, arak yang direkomendasikan Ibu suri ternyata sangat efektif, terbukti dari perlakuan Kaisar Jung yang kini tengah menatapnya penuh minat.
Kaisar Jung semakin mendekat, memegang pinggang Selir Na Ra posesif, matanya sudah diliputi kabut naf*u.
Keduanya berc*mbu mesra, melepaskan gemuruh di d*d*, dengan lihai Kaisar Jung malah sudah melucuti satu persatu pakaian Selir Na Ra.
"Aahhh, kau milikku, bukankah ini yang kau inginkan!" ujarnya parau.
"Ya Yang Mulia, sentuhlah Hamba!" sahut Selir Na Ra bersemangat.
"Heh, kau terlihat sangat menikmatinya, berhenti berpura-pura dan lihatlah bertapa perkasanya aku, malam ini akan kumaafkan, panggil aku suamimu, yaaahhh panggil aku dengan sebutan begitu!"
Selir Na Ra yang masih sadar terheran, bukankah selama ini kaisar Jung tidak begitu suka dipanggil dengan sebutan itu saat mereka bercinta. Suaminya itu akan marah dan menganggapnya pembangkang.
Tapi tak apa, bukankah itu berarti hal ini sungguh kemajuan yang pesat.
"Suamiku!" panggil Selir Na Ra mesra.
"Suamiku, sentuhlah aku sepuasmu!"
"Hahahaha..." Kaisar Jung langsung saja membuat Selir Na Ra berada di posisi siap, kemudian dia membenamkannya di sana.
"Aaahhh!" Selir Na Ra tampak menikmati saat Kaisar Jung memasukinya.
"Aahhhh, bukankah inilah yang kau inginkan selama ini, kau tidak bisa berpura-pura mengacuhkanku, seluruh dunia bahkan mengetahui siapa yang mencintai siapa? Oh Dae, aku tidak tau kau semenggairahkan ini!"
"Plaakkk!"
Kaisar Jung menampar kasar tubuh Selir Na Ra, perlakuannya sangat kasar sekali.
"Oh Dae, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, berhenti berpura-pura dan lihatlah, aku sedang mengga*gahimu saat ini, kau bisa melihat dengan jelas, hah... Lihat aku, lihatlah penyatuan ini, aku menang atas dirimu, akan kubuat kau bertekuk lutut!"
Selir Na Ra menangis saat mendengar itu, dia terisak, selain karena perlakuan Kaisar Jung sangat kasar padanya, tentunya karena ia juga tidak menyangka di pertempuran panas mereka kali ini, Kaisar Jung malah menganggap tubuhnya sebagai tubuh Permaisuri Oh.
"Yang Mulia, sadarlah!" ujarnya mencoba menghentikan.
"Yang Mulia, ini adalah Hamba Selir!"
"Hiks hiks!"
__ADS_1
Namun Kaisar Jung tidak lagi bisa mendengar rintihannya, karena arak rekomendasi dari Ibu Suri yang diberikan olehnya tadi, membuat Kaisar Jung tidak lagi menyadari apapun selain bermain gila.
Tubuh Selir Na Ra memanas, dia tidak sanggup saat Kaisar Jung semakin keras meneriaki nama Permaisuri Oh saat bersamanya.
"Oh Dae! Kau harus melihat ini, aku lah yang berkuasa, kau tidak akan bisa melawanku!"
"Oh Dae!"
"Oh Dae!
"Permaisuriku, mengapa aku begitu menginginkanmu!"
"Oh Dae!"
Selir Na Ra akhirnya menyerah, meski dalam hatinya tersirat kebencian semakin menjadi, namun untuk malam ini dia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti permainan Kaisar Jung.
Cukup lama mereka bertempur, Selir Na Ra semakin sakit hati, karena Kaisar Jung yang dianggapnya sungguh keterlaluan.
Bahkan nama Oh Dae terus saja terngiang di telinganya meskipun Kaisar Jung sudah tertidur lelap di sampingnya akibat kelelahan.
"Oh Dae.... Bisa-bisanya Kau!" geram Selir Na Ra. Kesabarannya kali ini sepertinya benar-benar akan habis.
...***...
Jangan-jangan dia sengaja berlaku baik untuk bisa lebih mudah meracuniku lagi! Ahhh yaaa dayang itu, apakah dia masih di sini, dayang yang berniat meracuniku?
Rymi mengambil makanan itu, dia membaunya terlebih dahulu sebelum dimakan, karena dia adalah ahli racun tentunya dia akan lebih mudah mengetahui makanan mana yang mengandung racun dan mana yang tidak.
"Ini aman!"
Rymi mengambil lagi makanan di mangkuk lainnya, dan kemudian melakukan hal yang sama. Namun makanan yang disuguhkan untuknya kali ini rupanya benar-benar aman.
Jadi dengan segera karena memang sudah lapar, Rymi melahap sarapannya.
"Aku tidak mengerti mengapa dia berubah secepat itu, tapi baiklah, aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya ini!" gumam Rymi dengan mulut yang masih penuh.
"Permaisuri sungguh banyak berubah, dia bahkan tidak memakan makanannya dengan benar!"
"Apa dia sungguh kelaparan? Serasa dia sudah tidak makan berbulan-bulan."
"Lihatlah, dia berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan, bagaimana mungkin seorang Permaisuri bisa melakukan itu, aku tidak pernah merasa dia pantas untuk menjadi Permaisuri negeri ini!"
__ADS_1
Dayang-dayang yang melihat cara makannya mulai berbisik, sangat pelan memang namun pendengaran Rymi yang begitu tajam tentunya masih bisa mendengar semua yang mereka katakan, dan juga Rymi bahkan bisa membaca gerakan mulut seseorang meski tanpa suara. Jadi, sepertinya dayang-dayang itu telah merusak selera makannya.
"Praangg!"
Mangkuk yang berisikan makanan itu sudah tercecer di lantai, pecah berkeping-keping dan hampir saja mengenai salah satu dayang, "Aisshhh, sudah kukatakan aku sungguh tidak menyukai pengganggu!" berangnya, mata elangya sudah memandang satu persatu dayang bak menguliti.
"Ampuni Hamba Yang Mulia Permaisuri!"
"Ampuni Hamba Yang Mulia Permaisuri!"
Semua dayang membungkuk hormat, dengan suara yang terdengar menyesal.
Rymi membuang muka, emosinya sedang buruk, dan di Istana ini selalu saja ada orang yang bersikap tidak menyenangkan. Dia mengumpat karena tidak bisa membunuh orang sembarangan, mengapa dia harus dituntut menjadi orang baik. Sungguh melelahkan.
"Kau, melihat cara makanku, kau berpikiran aku sudah tidak makan berbulan-bulan?"
"Kau! Kau bilang aku tidak pantas menjadi seorang Permaisuri?" tunjuknya pada salah satu dayang yang berbicara tadi.
"Benarkah? Lalu seperti apa yang pantas?"
"Aku bahkan tidak pernah menginginkan posisi ini, mengapa aku harus bekerja keras untuk itu?"
Aahhh, apa dia mendengarnya, bukankah aku bicara sangat pelan, bagaimana bisa dia mendengarnya?
Dayang yang berbicara tadi sungguh tidak percaya, apa yang dia katakan tadi malah didengar jelas oleh Permaisuri.
"Kau sedang bertanya apakah aku benar mendengarnya?" tanya Rymi langsung, dia mendekat lalu memandang sengit dayang itu.
Dayang itu tidak berani mengangkat wajahnya, hanya bisa tertunduk menyesali perbuatannya. Dia juga heran, bagaimana bisa Permaisuri Oh mengetahui apa yang dirinya pikirkan? Apakah Permaisuri Oh pernah belajar menjadi seorang cenayang, tidak mungkin kan?
"Mataku ini lebih tajam dari pada mata seekor elang, dan telingaku ini juga lebih tajam dari apa yang kalian pikirkan, aku bisa mendengar semuanya sekalipun kalian tidak bersuara, jadi... Bukankah sudah seharusnya kalian lebih berhati-hati?"
"Aahhhh! Ampuni hamba Yang Mulia Permaisuri!"
Er*ng seorang dayang yang mengatakan bahwa Permaisuri Oh tidak pantas menjadi permaisuri tadi, dan benar-benar merasakan kesakitan saat jari-jarinya diinjak keras oleh Rymi.
"Bukankah aku harus memberitahukan pada kalian, betapa kejamnya aku?" ujarnya santai seraya menampilkan senyum menakutkan. Semakin menekan injakannya, membuat semua dayang yang menyaksikan hal itu merasa sangat ketakutan.
"Katakanlah... Katakanlah pada seluruh penghuni istana ini, perlakuan seperti apa yang telah kalian terima saat melayaniku..."
"Hahahaha!"
__ADS_1
Rymi tertawa keras, sikap seperti ini jualah yang selalu dia tampilkan saat bisa mengalahkan lawannya di dunia nyata dulu. Satu hal yang harus semua orang tau, Rymi... Dia paling suka menjadi pusat perhatian.
Bersambung...