
"Tuan... Anda datang lagi, kali ini akan aku sediakan bahan yang lebih bagus, baru saja datang hari ini, ini lihatlah!" pemilik toko obat herbal yang dirinya kunjungi minggu lalu semakin bersikap ramah padanya. Mata Rymi menilik setiap gerak wajahnya, sepertinya dia menemukan hal yang aneh.
Sikap ramah yang ditunjukkan Pak Tua ini seperti sebuah keharusan, yaaa bukankah sudah seharusnya penjual memperlakukan pembeli dengan ramah, tapi... Bukankah dia terlalu berlebihan?
Siapa yang menyuruhnya, ada apa? Pasti telah terjadi sesuatu di toko ini!
Rymi meneliti setiap ruangan, namun dirinya tidak menemukan hal yang aneh.
"Ah ya Tuan, kalau boleh saya bertanya, siapakah gerangan Tuan ini, barang kali saja saya mengenal keluarga Tuan!"
Aahhhh, benar sekali, ada yang mengincarku, kurasa orang ini sangat penasaran denganku!
"Aku tidak punya keluarga!" jawab Rymi.
Jangankan keluarga, nama tempat ini saja dia tidak tau, yang Rymi tau hidupnya kini sangat menyedihkan, itu saja! Selebihnya, dia sudah tidak sanggup untuk mendengar kenyataan pahit lainnya.
"Haahh?"
"Ya, hidup sendiri, sebatang kara!"
"Tapi, bukankah anda sangat kaya untuk ukuran orang yang hidup sendiri!"
Kaya? Aku bahkan merasa jadi orang yang paling miskin, bertahan hidup di dunia ini!
"Jadi Tuan, saya harus memanggil Tuan apa untuk kita bisa mengenal lebih dekat?"
Rymi tersenyum smirk, ternyata usaha Pak Tua ini giat juga pikirnya.
"Arash!"
"Hah?" Pemilik toko melongo kebingungan, mendengar Rymi menyebutkan sebuah nama, bukankah nama seperti itu terlalu asing bagi mereka. Marga seperti apa yang dikenakan Tuan ini pikirnya.
"Kau tanya namaku kan, namaku Arash!"
__ADS_1
Rymi sengaja mengambil nama belakang dari nama aslinya, dan juga dia merasa seolah menjadi dirinya sendiri saat mengenakan nama itu. Rymi Arash, aahhh Marco Arash, mengingat nama itu Rymi semakin merindukan Daddynya.
"Ahhh ya ya, Tuan Arash!" sahut Pak Tua itu canggung.
"Kau total saja semuanya, aku sedikit buru-buru!" Rymi segera mengambil dua koin emas untuk membayar belanjaannya.
"Tuan, ini sangat banyak!"
"Ah yaaa benarkah? Baiklah!" jika ada yang berpikir kalau Rymi akan berbaik hati mengatakan Pak Tua itu untuk menerima saja bayarannya yang lebih, maka kalian salah, Rymi tidak cukup baik untuk bisa berbagi.
"Tuan..." pemilik toko itu melongo tidak percaya, dia kira pelanggan kaya rayanya ini akan mengikhlaskan saja lebihnya, huh mimpi saja sana.
Rymi pergi membawa satu kantong besar bahan-bahan kering yang dibelinya itu. Saatnya mencari kuda untuk memudahkan hidupnya, pikir Rymi.
...***...
"Belakangan ini Yang Mulia tidak mengunjungi kamar hamba selir, jadi hamba selir ini mendatangi Yang Mulia, hamba selir sendiri yang akan menjamu Yang Mulia malam ini!"
Selir Na Ra mulai menuangkan teh untuk Kaisar Jung, bahkan setelahnya tidak ragu untuk menempel di tubuh suaminya itu, karena biasanya Kaisar Jung juga tidak keberatan.
"Aahh, sebaiknya jika kau masih ada yang harus dikerjakan, kau bisa mengerjakannya, aku tidak akan mengganggumu!"
Mata Selir Na Ra langsung saja terbuka lebar, apa yang baru saja Kaisar Jung katakan, apa itu sebuah penolakan?
"Aahhh maksudku, kau bisa melanjutkan aktifitasmu tanpa harus memedulikan aku, aku hanya sedang tidak terlalu nyaman jadi maaf jika beberapa hari ini aku mengabaikanmu!"
"Tidak nyaman? Apa ada yang telah membuat Yang Mulia tidak nyaman? Apa ini mengenai Permaisuri?"
"Hemmm..." mengangguk, "Dia berubah terlalu banyak!" Kaisar Jung tertunduk, pelan tangannya juga mengurai pelukan Selir Na Ra. Ia duduk dengan baik, lalu menopang dagu untuk lagi-lagi berpikir.
"Seperti ada sebuah rahasia yang dia simpan!" ujar Kaisar Jung, tanpa mempedulikan Selir Na Ra.
Selir Na Ra membuang muka melihat tanggapan Kaisar Jung terhadapnya, apa saat ini dia sedang diabaikan?
__ADS_1
"Kalaulah ada yang bisa Hamba Selir ini bantu, maka Hamba Selir siap untuk melakukan tugas apapun!" ujarnya lembut, meski dalam hatinya memaki, bagaimana bisa Kaisar Jung memikirkan Permaisuri itu.
"Ah benar! Dia mengatakan ada yang telah kau lakukan padanya, memangnya apa yang telah kau lakukan?" tanya Kaisar Jung pada Selir Na Ra. Dia tiba-tiba saja teringat akan perkataan Permaisuri Oh malam tadi.
"Bagaimanapun aku salut padamu, mempertahankan wanita jelek itu untuk tetap berada di sisimu, kau tau apa yang telah dilakukan selir kesayanganmu itu padaku?"
"Aahhh, atau jangan-jangan kau sudah tau dan membiarkannya!"
Memangnya apa yang dilakukan Selir Na Ra padanya?
Selir Na Ra tampak gugup, meneguk kelat salivanya, berusaha bersikap tenang, tidak akan ada yang berani Permaisuri itu katakan, pikirnya menenangkan diri.
"Yang Mulia, bukankah Yang Mulia sudah tau bagaimana kelakukan Yang Mulia Permaisuri selama ini, Hamba Selir tidak mengetahui apa yang telah Yang Mulia Permaisuri katakan pada Yang Mulia, tapi apapun itu Hamba Selir hanya bisa meminta untuk Yang Mulia bisa menyaring perkataan Yang Mulia Permaisuri terlebih dahulu!"
"Na Ra, mengapa tiba-tiba kau bersikap begitu sopan, Oh Dae saja tidak sedang berada di sini, lagi pula bukankah kau biasanya memaki dia?"
Bukannya mendengar dengan jelas permintaan Selir Na Ra, Kaisar Jung malah salah fokus pada gaya bicara Selir Na Ra yang menurutnya begitu berubah.
"Bagaimanapun, peristiwa kemarin menyadarkan Hamba, bahwa seorang Permaisuri tetaplah seorang Permaisuri, Hamba Selir ini seharusnya tidak pernah menginginkan lebih, cukup dengan bisa mencintai yang Mulia Kaisar saja Hamba Selir sudah sepatutnya berterimakasih, Hamba Selir ini akan mengabdikan diri pada Yang Mulia, terimalah sikap tulus Hamba Selir ini!" ujar Selir Na Ra sembari terisak, bagaimanapun dia tidak boleh terlalu menunjukkan taringnya saat ini, harus selalu bersikap baik, supaya bisa lepas dari segala tuduhan nantinya.
Yah begitu lebih baik, Kaisar pastinya akan berpikir dahulu sebelum menyalahkanku jika saja aku ketahuan.
Oh Dae benar-benar harus diberi pelajaran, pelan-pelan dia pastinya akan memengaruhi Kaisar Jung. Tidak bisa dibiarkan, Kaisar Jung harus mencintaiku, aku sudah melakukan segala hal, aku sudah masuk lebih dalam, tidak bisa lagi untuk kembali, aku tidak bisa melepaskan impianku begitu saja.
Seharusnya Tahta Permaisuri memang milikku, Oh Dae lah yang bersalah telah merampasnya!
"Na Ra... Betapa mulianya hatimu!" puji Kaisar Jung. Rasanya dia benar-benar tidak salah dalam mencintai wanita selama ini, Selirnya ini begitu baik hati.
"Sudah sepantasnya Hamba Selir bersikap demikian, Mulai saat ini, perlakukan lah Yang Mulia Permaisuri dengan baik!"
Tiba-tiba saja berubah, dia tidak bisa begini, kebenciannya terhadap Oh Dae bagai sudah mendarah daging, apa dia baru saja memainkan drama? Apa yang sebenarnya terjadi?
Kaisar Jung memeluk mesra Selir Na Ra, mengusap lembut punggung itu untuk menenangkannya, namun dalam pikirannya mulai berkelana. Selir Na Ra berkata tidak seperti biasanya, perubahan itu membuat Kaisar Jung mulai meragu. Istana adalah tempat yang paling kotor, meskipun dia sendiri menjadi bagian dari tempat kotor itu.
__ADS_1
Di sini dia melihat keganjalan yang sangat jelas namun tentunya dia akan tetap berpura-pura tidak tau.
Bersambung...