
"Aku sudah membuangnya!"
"Hemmm..." Kaisar Jung mengangguk, dalam hatinya masih tersimpan keraguan, apakah yang dilakukannya kali ini sudah benar? Melindungi yang bersalah, dan menutup mata untuk hal yang padahal sudah jelas adalah sebuah kesalahan.
Dayang itu sudah dikirim ke tempat pembuangan, dinyatakan bunuh diri maka mayatnya tidak layak untuk dimakamkan. Dia membebaskan Selir Na Ra akan semua tuduhan, dalam satu kali perintah.
"Aku butuh bantuanmu!" pinta Kaisar Jung setelah sepersekian detik berpikir.
" Ya Yang Mulia, Hamba siap menjalankan perintah!"
"Selidiki Mentri Dalam Negeri, apa saja yang dirinya lakukan dalam satu tahun ini, awasi gerak-geriknya!"
"Ya Yang Mulia!"
"Perihal Selir Na Ra, biar aku yang memberinya hukuman!"
Butuh pemikiran yang matang untuk memutuskan hukuman apa yang akan dia berikan pada Selir Na Ra, Ayah Selir Na Ra adalah salah satu dari lima orang terkaya di negeri ini, jika dia bertindak gegabah tentunya hal itu sungguh akan berpengaruh bagi pemerintahan.
Namun dirinya juga tidak bisa membiarkan yang bersalah bisa menghirup udara dengan segarnya, haruskah dia buat sedikit sesak? Paling tidak untuk membuat Selir Na Ra menyadari kalau udara di istana ini sudah tidak bagus lagi untuknya bernapas.
...***...
"Ini gila! Aku rugi sekali hanya memasang dua angka!"
"Benarkah?"
"Iya, lihat, nomor yang ingin aku pasang, seharusnya aku memasang tiga angka, tapi karena kurang yakin aku melewatkan satu angka!"
"Jadi apa kau kena?"
"Tentu saja, yaaa meskipun cuma dua angka, lihat!" seseorang itu memperlihatkan lima buah koin emas. "Padahal aku hanya memasang tiga koin perak!"
"Sungguh!"
"Hemmm!" angguknya percaya diri.
"Hebat! Aku mau pasang lagi untuk besok!"
"Ya, aku juga!"
"Ya ya, aku pun, aku akan memasang tiga angka!"
__ADS_1
"Teman-teman, bagaimana kalau kita memasang dua angka, tapi dalam jumlah banyak!"
"Apa maksudmu?"
"Dengar, aku telah mengamati bagaimana perjudian ini bekerja, jika kita memasang empat angka kemungkinan berhasilnya akan lebih sedikit dan uang yang harus kita keluarkan untuk mendaftar juga terbilang lumayan, ya meskipun kalau kita kena koin emas yang kita dapatkan juga sangat banyak, hal itu memang sebanding, tapi bayangkan... Kalau kita memasang dua angka, seperti tadi, bukankah lumayan banyak orang yang berhasil. Lotre ini dibuka dua kali dalam sehari, kita bisa memasang dengan angka yang variatif, sehingga kemungkinan berhasilnya..."
"Benar! Mengapa aku tidak terpikirkan!"
"Aahhh, otakmu memang sering lamban bekerja jika tentang uang!"
"Tidak juga!"
"Hemmm..."
"Ya sudah, apa kalian sudah menyiapkan nomor untuk dipasang sore nanti?"
"Aku ingin tidur siang terlebih dahulu, barang kali saja aku bisa bermimpi, bukankah waktu itu ada gosip, seseorang mendapatkan satu kantong penuh koin emas, menang dengan empat angka karena memasangkan nomor yang disebutkan di mimpinya!"
"Benarkah gosip itu?"
"Ya ya aku juga pernah mendengarnya!"
"Yang Mulia Kaisar tentunya tidak akan membiarkan perjudian ini, dia tentu akan mengusut tuntas sampai ke akarnya!"
"Aaasshhh benarkah? Ya ya, kita memang harus diam!"
Rymi berlalu, dia tersenyum smirk saat mendengar itu, aahhh hidup yang terlalu mudah baginya.
Dayang Ju sepertinya bekerja dengan baik, belum genap dua puluh empat jam tapi kedai teh sudah memiliki banyak pengunjung, yaaa... Terus lah bicarakan itu diam-diam... Sebarkan rumornya, gosip yang kalian tebar adalah ladang uang bagiku...
Menipu... Tentu saja itu adalah sebuah keahlian!
Rymi kembali ke istana, setelah dia menyamar jadi pemuda si cadar merah.
Koin emas yang dirinya pinjam pada Kaisar Jung adalah langkah awal untuk menebarkan aroma sedap akan perjudian yang dirinya dalangi. Rymi bahkan rela memakai hampir seluruh sisa koin emasnya untuk diberikan pada Dayang Ju.
Tidak apa, karena menurutnya sebentar lagi uang yang diberikannya itu akan kembali padanya. Dayang Ju saja hari ini sudah memasang dua kali namun tidak ada yang kena.
Besok sepertinya dia akan memanjakan Dayang Ju lagi, memberinya sedikit harapan.
Ya ya, mari kita buat sedikit drama tarik ulur, setelah nantinya baru aku akan benar-benar menariknya, itu sangat menyenangkan!
__ADS_1
"Kakak..."
Rymi menolah, tampak dua orang putri sedang menunggu di kediamannya, Putri An dan Putri Yu, untuk apa keduanya menemuiku, pikir Rymi.
Apa mungkin sudah tidak ada larangan bagi mereka berdua untuk menemui Permaisuri Oh.
"Ah kalian! Ada apa?" tanya Rymi langsung.
"Kakak, sepertinya kami harus mengingatkanmu, kau memang sudah banyak berubah!" ujar Putri Yu, wajahnya menampilkan kesedihan, namun Rymi bisa membaca itu hanya bercanda. Entah apa tujuan kedua adik iparnya ini menemuinya.
"Mengingatkanku?"
"Dua minggu lagi adalah ulang tahun Yang Mulia, Kakak tidak ingat? Dulu Kakak adalah orang yang paling bersemangat tapi kali ini... Apa benar Kakak melupakannya?"
Hemmm... Bagaimana aku akan ingat, janganlah ulang tahun Jung sialan itu, ulang tahun wanita ini saja aku tidak tau!
"Ah begitu yaaa... Ya aku sedikit lupa, tapi karena kalian sudah mengingatkan..."
"Nah kan, Kakak memang jauh berubah, aku jadi ingin bertanya sesuatu kalau seperti ini." Putri An langsung saja memotong pembicaraan Rymi, dia sedikit kesal akan tanggapan Permaisuri Oh yang sepertinya tidak mau tau.
Sementara Rymi, dia membuang muka, lumayan kesal saat pembicaraannya dipotong, sudah tau kan kalau bagaimana kejamnya Rymi, dia paling tidak suka ada orang yang tidak menghormatinya. Ya meskipun... Dia juga tidak pernah hormat pada orang lain sih.
"Apa?" tanya Rymi. Dia mencoba meredam kekesalannya.
"Apa Kakak sudah tidak mencintai Yang Mulia?"
"Hah?" Rymi terkejut akan pertanyaan itu, Cinta? Heh perasaan semacam apa itu, jelas saja dia tidak mencintainya karena yang tengah berada di sini adalah Rymi Arash bukannya Permaisuri Oh yang bodoh itu.
Cinta? Untuk Kaisar sialan itu? Yang benar saja!
"Hemmm... Kakak seperti ini, membuat kami tidak yakin!"
"Kalian... Apa kalian benar-benar melihat perubahanku?" tanya Rymi. Yang sepertinya menanyakan hal yang sudah sangat jelas jawabannya. Bukannya dia yang membuat semua perubahan itu menjadi sangat kentara. Dia sama sekali tidak bisa bersikap seperti layaknya Permaisuri Oh. Rasa cinta ataupun ketidakberdayaannya, Rymi tentu saja tidak akan terbelenggu oleh karakter semacam itu.
Kedua putri itu mengangguk pasti. "Kakak berubah, sangat berubah... Yah meskipun aku juga senang karena Kakak tidak lagi menjadi seorang yang lemah, Kakak bisa membalas perbuatan mereka yang menghina Kakak, Kakak tidak lagi mudah ditindas, tapi... Aku berharap cinta Kakak terhadap Yang Mulia masih sama, aku sangat berharap suatu hari nanti kalian bisa menjadi pasangan yang bahagia!" Putri An berucap lembah lembut, Rymi jadi tidak tega untuk mematahkan angan-angan gadis itu.
"Kakak sudah sangat menderita, dan kami lihat... Beberapa hari ini Yang Mulia juga sudah mulai menerima Kakak... Bukankah ini adalah kesempatan yang bagus untuk memulai kisah cinta yang telah lama Kakak dambakan?"
Duh mereka ini berbicara tentang apa sih? Cinta? Aku sungguh muak jika harus memaksakan diri mencintai Kaisar Sialan itu!
Bersambung...
__ADS_1