
“OH DAE!!!” jelas sekali terbaca raut kekesalan di wajah sang penguasa negeri ini, dia marah namun perasaannya justru dilanda dilema. Kalau saat ini yang membuat masalah dengannya adalah Oh Dae yang dahulu, mungkin dia tidak akan segan-segan untuk menghukumnya, menyiksa atau bahkan membunuh wanita itu, namun meski beberapa kali dirinya tolak untuk mengakui, perasaannya begitu tidak karuan di saat setiap kali Oh Dae membantah kehendaknya seperti ini.
Seolah tersihir, tanpa Kaisar Jung sadari sebenarnya dia sudah takluk akan pesona istrinya sendiri.
“Cari... Temukan dia, bawa dia dalam keadaan baik-baik saja, katakan aku tidak akan memarahinya, sungguh tidak akan menuntut apapun!” pintanya kemudian, memerintahkan seluruh orang kepercayaannya untuk menemukan Permaisuri Oh dengan segera. Padahal kedatangan orang-orangnya kali ini baru saja mengabarkan bahwa pencarian mereka kehilangan jejak.
Mata Kaisar Jung terpejam, tangannya mengusap pelan dadanya yang sesak, mengapa hatinya kini sungguh tersiksa, tidak seharusnya dia yang seorang penguasa negeri ini harus begitu mengharapkan seseorang. Apa lagi hanya seorang wanita, bukankah meskipun wanita itu adalah seorang Permaisuri, dia pantas untuk bertindak, bahkan membuangnya saat itu juga pun bukan masalah besar seharusnya.
Namun lain hal yang terlihat pada pihak yang sedang membuatnya dilema, Permaisuri Oh tampak santai, Rymi duduk pada sebuah kedai tidak jauh dari perbatasan kota, mengedarkan pandangannya sekeliling, dia berpakaian biasa, namun masih menunjukkan kesan mewah seperti seorang bangsawan. Kali ini tidak menyamar sebagai pria, melainkan sebagai wanita cantik yang anggun, namun tetap menggunakan cadar untuk menyamarkan identitasnya.
Wilayah ini masih termasuk dalam kekuasaan Kaisar Jung, kota berikutnya pun juga, namun sudah agak jauh dari istana.
Membawa kepingan koin emas yang menurutnya harus ia selamatkan, Rymi masih mencari tempat yang aman untuk menyimpan semua penghasilannya itu.
__ADS_1
"Kau di sini?" langkah Rymi terhenti, meski baru beberapa kali bertemu namun pendengarannya yang tajam serta ingatannya yang kuat membuatnya langsung saja mengenali siapa yang berbicara di belakangnya.
Rymi tidak langsung menoleh, otaknya dipaksa cepat untuk memikirkan solusi, setidaknya untuk membuat ia tetap dalam keadaan aman.
"Seluruh istana sedang gempar karena Permaisuri negeri ini kabur, dan yang sedang dicari malah sedang bersenang-senang, benar-benar kekanakan!"
Rymi menoleh, dibalik cadarnya itu dia menampilkan senyuman, matanya agak menyipit kala melakukannya, Rang Yuan berdiri gagah di hadapannya, pedangnya masih belum dibuka, mungkin tergantung apa yang akan terlontar dari mulutnya sebagai tanggapan. Sorot mata pemuda itu seperti memiliki dendam terhadapnya. Baru kali ini juga Rymi mendengar Rang Yuan memanggilnya dengan tidak santun, 'Kau!' seharusnya tidak terlontar dari mulut pria itu meski mereka sedang tidak berada di istana saat ini.
"Heh," Rang Yuan mendengus kesal, "Kekanakan!"
"Aku tidak biasanya seperti ini, hanya saja di dunia entah berantah semacam ini rasanya begitu minim fasilitas untuk aku bertahan hidup, aku harus memutar otakku dengan keras bagaimana kiranya aku jangan sampai terlihat seperti wanita yang menyedihkan!"
"Laki-laki yang hanya tau pengabdian sepertimu tidak akan tau betapa sulitnya menjadi aku, cih... Kalau aku kekanakan lalu kalian semua apa, menyebalkan!" Rymi tak kalah, dia mendengus marah.
__ADS_1
"Kembali!" pinta Rang Yuan tanpa peduli apa yang dikatakan Permaisuri Oh sebagai alasan.
"Tidak mau!" tolak Rymi. "Aku akan kembali namun tentunya tidak bersamamu, itu sama saja seperti aku benar-benar tertangkap!"
"Hei, bukannya kau sudah ketahuan?" berang Rang Yuan. Wajar saja kan jika dia membawa istri Tuannya yang kabur ini pulang.
"Tuan! Aku tidak biasa menerima penghinaan, sebaiknya mundur selagi aku menahan diri!" tegas Rymi. Dia bersiap-siap untuk kabur lagi, masalahnya bukan dia tidak mau ikut pulang, tapi koin emasnya ini begitu berharga.
"Berhenti!"
Srakkkk! Rang Yuan mengeluarkan pedang, siap untuk bertarung. Dia tau yang dihadapinya kali ini adalah seorang wanita, dan juga wanita nomor satu di negeri ini, namun seolah mudah untuk mengerti situasi, baginya jika tidak begitu Permaisuri Oh tidak akan bisa dibawa kembali dengan mudah.
Bersambung...
__ADS_1