
"AAAAAHHHHHHH!"
Teriakan keras terdengar dari kamar Selir Na Ra. Banyak orang berlarian menuju sumber suara, lalu menemukan wajah pucat Selir Na Ra yang ketakutan, tak jauh dari Selir Na Ra tubuh tak bernyawa seorang dayang sedang menggantung diri. Orang-orang yang melihat tentu saja langsung mengira dayang itu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" semua orang bertanya-tanya, mengapa dayang itu bunuh diri di kediaman Selir Na Ra.
Kaisar yang saat itu baru hendak tertidur pun segera menuju tempat kejadian, sebagai suami yang baik tentunya dia harus menenangkan salah satu istrinya.
"Selirku, apa yang terjadi?" tanyanya panik, melihat seorang dayang yang tengah menggantung membuatnya murka.
"Beraninya seorang dayang rendahan mengakhiri hidupnya sendiri di istana!"
Zaman ini, orang yang melakukan bunuh diri adalah pendosa, meskipun ia melakukannya untuk menyelamatkan seseorang namun tak luput dari kecaman masyarakat kalau dia tak lebih dari seorang pendosa.
Apa lagi, istana adalah tempat yang suci, dilindungi oleh langit, maka tentu saja bunuh diri di istana adalah sebuah dosa yang sangat besar.
Mayat mereka yang bunuh diri tidak layak untuk dimakamkan. Akan dibawa ketempat pembuangan mayat, dibiarkan membusuk lalu perlahan dimakan oleh tanah, meninggalkan kerangka mereka yang menjadi saksi atas kematiannya.
Rymi berjalan seraya menampilkan wajah kantuknya, dia sudah mengira akan terjadi hal seperti ini.
Bukankah hal semacam ini memang biasa terjadi di istana, di drama ataupun dunia nyata, istana adalah tempat yang paling mengerikan...
"Apa yang terjadi? Mengapa dayang itu bunuh diri di kamar Selir Na Ra?"
"Selir Na Ra tidak ada hubungannya kan dengan dayang itu?"
"Tidak mungkin dayang itu mati begitu saja, begitu banyaknya tempat untuk mati di istana ini mengapa dia memilih kamar Selir Na Ra!"
"Yah kau benar, ini mencurigakan!"
Bisik-bisik para istri Kaisar Jung memenuhi telinga Rymi, sudahlah ini tentunya akan menjadi tontonan yang menarik.
Mayat dayang itu langsung saja dipindahkan, dibawa ke ruang penyelidikan, tentunya sebelum mayat itu masuk ke pembuangan harus diketahui dulu penyebab kematiannya.
Rymi mendekat di antara kerumunan, lalu matahya tidak sengaja bertemu tatap dengan Selir Na Ra, Rymi tersenyum puas pada Selir Na Ra.
__ADS_1
"Yang Mulia Kaisar, bisakah Yang Mulia menemaniku malam ini, aku takut, aku takut sekali!" pinta Selir Na Ra.
"Cih!" Rymi berdecih, sebegitu inginnya Selir Na Ra diperhatikan oleh Kaisar Jung menurutnya.
Kau pikir aku akan cemburu, aku hanya akan mencintai Samudraku, dia jauh lebih tampan dibandingkan Kaisar sialan itu!"
Tak lama semua orang bubar, termasuk Rymi, dia gerah berlama-lama melihat pasangan di hadapannya ini, bukannya dia cemburu tapi sungguh yang ada dirinya hanyalah iri, karena di saat seperti ini mengapa dia malah menginginkan Sam.
Seharusnya aku bermanja dengan si Botak, melakukan berbagai macam gaya, aisshhh sudah lama sekali aku tidak merasakannya!
...***...
Paginya, ditemukan keganjalan pada tubuh mayat dayang istana itu. bekas memar dileher seperti dicekik, serta lidah yang terluka hebat membuat para pihak penyidikan kesusahan mencari penyebab kematian dayang istana itu.
Kedua alasan itu sama-sama mungkin. Mereka masih belum bisa memutuskan, dayang istana ini mati dibunuh atau bunuh diri.
Untuk itulah pihak penyelidikan ingin menggeledah ruangan Selir Na Ra, mereka akan mencari lebih banyak bukti untuk mengungkapkan kasus yang dianggap mereka tidak wajar ini.
Selir Na Ra tercengang, dia tidak bisa menerima ini, bagaimana bisa dirinya kini seolah menjadi seseorang yang dicurigai. Namun karena merasa yakin bukanlah dia yang membunuh dayang istana itu, maka Selir Na Ra pun bersedia untuk pihak penyelidikan menggeledah kamarnya.
Di pihak lainnya,
Sejak bangun tadi dia juga sudah melihat jahitan di perutnya, dia benar-benar tidak bisa mempercayai Permaisuri Oh mampu melakukan itu.
"Ini, makanlah untuk menambah darahmu! Kau kehilangan banyak darah, makanan ini akan membantu proses pemulihan lebih cepat!" ujar Rymi memberikan begitu banyak makanan yang bisa membantu menambah darah.
Kasim Co hanya bisa menurut, karena dikabarkan Kaisar Jung sendirilah yang memerintahkan Permaisuri Oh untuk merawatnya.
Rymi mendengar semua orang di istana sedang membicarakan Selir Na Ra, kematian yang tidak wajar dari dayang istana itu digadang sebagai penyebabnya.
"Ya ya, seharusnya kalian mengenaliku lebih dekat, aku adalah ahlinya dalam mengurus hal semacam ini!" gumamnya pelan, Kasim Co tersenyum canggung, dia mengira Permaisuri Oh sedang sangat percaya diri karena telah berhasil menyelamatkan nyawanya.
Namun yang sebenarnya Rymi tampak begitu puas atas pencapaian lainnya, membuatnya teringat lagi akan kejadian semalam.
Flashback,
__ADS_1
"Hamba pantas mati!"
"Cih! Pantas mati! Kau ingin menyelamatkannya hingga akhir, yaaa lakukan lah, itu mungkin juga pilihan yang baik, setidaknya aku tidak mengotori tanganku yang berharga ini untuk membunuhmu!"
"Ampuni hamba Yang Mulia Permaisuri!"
"Tidak ada pilihan lain, kau katakan dengan jujur siapa yang mengirimmu, atau... Kau mati bunuh diri untuk menyelamatkannya, aku tidak akan rugi jika kau memilih pilihan kedua!"
"Hamba..." Dayang istana itu terpaksa menggigit lidahnya sendiri untuk mengakhiri hidupnya, keluarganya sedang dipertaruhkan, dia tidak bisa mengkhianati Selir Na Ra.
Yah, Selir Na Ra adalah orang yang menyuruhnya untuk memberikan Permaisuri Oh racun, dan juga dayang itu datang untuk menggeledah kamar Permaisuri Oh.
Karena melihat dayang itu hampir mati, Rymi segera mencekik lehernya hingga dayang itu benar-benar menemui kematiannya, dengan pemikiran yang cepat dia juga berencana melakukan suatu hal.
Rymi menuliskan sesuatu di kertas, lalu dia membentuk bulat sembarang kertas yang berisikan tulisannya itu, memasukkan bulatan kertas itu ke dalam kerongkongan dayang istana. Memaksa masuk semakin dalam.
"Suruhan siapapun kau, aku tidak peduli! Yang terpenting tubuh tak bernyawamu ini bisa aku gunakan untuk berburu!"
"Baiklah! Mari kita buat pesta perayaannya! Kau pikir ini adalah acara intinya? Hemmm, kau salah, tentu tidak semudah itu..." Rymi tersenyum smirk, Rymi yang jahat sepertinya memang tidak bisa terlepas begitu saja darinya.
Dia membawa tubuh dayang itu dengan hati-hati, Rymi juga menyamar sebagai dayang istana, dia melangkah menuju kamar Selir Na Ra.
Rymi memang ahlinya dalam menyelinap, bukan hal sulit baginya untuk memasuki kamar Selir Na Ra yang hanya dijaga oleh para dayang. Dalam sekejap Rymi sudah berhasil masuk.
Selir Na Ra sedang tertidur pulas, awalnya Rymi hanya ingin meletakkan sembarang mayat dayang yang dibawanya itu di kamar Selir Na Ra, tapi melihat Selir Na Ra yang tertidur begitu pulas membuatnya berpikiran untuk merubah rencana menjadi lebih berkelas.
Rymi mengambil kain di tempat penyimpanan, menjadikan simpul yang biasanya digunakan oleh seseorang untuk bunuh diri. Lalu dengan pasti menggantungkan leher dayang itu, membuat seolah-olah dayang istana itu benar-benar tewas karena bunuh diri jika dilihat dari sekilas.
"Nikmatilah peranmu! Ku rasa dia akan terkejut melihatmu yang berakhir seperti ini!"
"Hei, ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kau pikir aku tidak tau siapa yang menyuruhmu? Nikmatilah konflik yang terjadi antara kalian berdua, aku akan menonton semuanya dari balik layar!" gumamnya sangat pelan pada mayat yang tergantung sebelum meninggalkan kamar Selir Na Ra.
Flashback off.
Entahlah, rasanya selalu ada sensasi tersendiri saat mengambinghitamkan orang lain!
__ADS_1
Batin Rymi rasanya bagai meledak-ledak, sungguh ia puas sekali atas pencapaiannya.
Bersambung...