
“Lancang!”
Srakkkk!
Beberapa prajurit istana siap menodongkan pedang ke arah Rymi, bahkan sedikit bergerak saja pedang itu bisa melukainya kalau saja pemuda berpakaian mewah di hadapannya ini tidak mengisyaratkan untuk berhenti.
“Lalu, jika kau tidak tertarik untuk bekerja di istana, untuk apa kau mengikuti sayembara ini?”
“Entahlah!” jawab Rymi enteng, “Aku rasa hanya untuk menunjukkan kemampuanku, aku bersenang-senang!”
“Kau pikir sayembara ini lelucon?” pemuda itu tampak marah.
“Aisshhh, kau mudah sekali percaya, santai saja, aku berencana untuk memenangkan perlombaan ini, itupun kalau kau setuju, yang sebenarnya adalah... Shuuttt, apa kau bisa lebih mendekat!” pinta Rymi, dia benar-benar tidak sopan, tidak tau saja sedang dengan siapa ia bicara.
Dengan ragu pemuda itu mendekat, dia cukup penasaran akan apa yang akan dikatakan Rymi.
“Aku butuh uang, tidak banyak... tapi setidaknya bisa untuk aku makan dan membeli beberapa keperluanku, kau terlihat sangat kaya dari pakaianmu, aku jadi yakin untuk meminta kesepakatan ini!” bisik Rymi tanpa malu, dia benar-benar melampaui batas. Dikiranya zaman kerajaan dan zaman modern itu sama.
Pemuda itu tersenyum smirk, kini dia merasa tertantang.
“Aku bisa memberikan apapun yang kau mau!” ujarnya menyeringai.
“Benarkah?”
“Hemmm! Tentunya, baiklah! Mari kita membuat kesepakatan?”
“Wah, bernegosiasi adalah keahlianku, katakan... Apa yang ingin disepakati?” ujar Rymi antusias.
“Bertarung!”
“Hah? Kau yakin?”
“Bertarung denganku, jika kau bisa mengalahkanku maka aku akan memberikan apapun yang kau mau, sebaliknya jika aku bisa mengalahkanmu maka kau harus ikut denganku untuk menjadi pengawal di istana!” tantang pemuda itu.
Bukannya takut Rymi malah tersenyum penuh keyakinan, baiklah... Anggap saja ini adalah pekan olahraga setelahnya cuti melahirkan.
“Sudah lama sekali aku tidak meregangkan otot-ototku, mungkin ini tidak begitu tepat, tapi yaaa akan aku atasi!” gumamnya percaya diri.
Pertarungan itu dimulai, tidak ada dukungan yang diberikan pada Rymi, sebanyak yang Rymi dengar dukungan menggema untuk lawan mainnya, yang ternyata adalah sang pangeran kedua.
“Hyaaattt!”
__ADS_1
“Kyaaa!”
“Tak!”
“Ting Ting!”
“Crassshh!”
“Brakkk!”
“Bugh bugh...”
Suara senjata dan pukulan badan beradu, pertarungan yang terjadi cukup sengit. Bahkan semua warga yang menyaksikan itu mulai tidak percaya, takut saja kalau pangeran ke dua akan dikalahkan oleh seorang rakyat biasa.
“Braaakkk!”
Bersamaan dengan itu, sebuah pedang panjang hampir saja mendarat di leher pangeran.
“Game over!” ujarnya mengakhiri permainan seraya menyergap sang pangeran dengan pedang.
“Kau! Beraninya kau melukai yang mulia pangeran!” Pekik prajurit lainnya.
“Bukankah aku harus melakukannya untuk mengakui kemenanganku!” sahut Rymi beralasan.
Pengawal dan prajurit yang hadir bersamanya tertunduk, mereka mau tidak mau harus menuruti perintah. Meskipun di mata mereka tersirat kebencian karena Rymi yang telah berhasil mengalahkan Tuan mereka.
“Apa begini cukup?” tanya Pangeran ke dua setelah melemparkan satu kantong koin emas pada Rymi.
Rymi membuka kantong itu, koin berkilauan menyilaukan matanya, sungguh emas kuno memang tiada duanya.
“Terimakasih sudah menepati janji! Ah yaaa, kata-kata kau yang berani menerima kekalahan itu, aku terkesan!” puji Rymi sebelum berlalu meninggalkan tempat sayembara itu.
“Ikuti dia, dan juga... cari tau siapa dia sebenarnya, siapa namanya, di mana tempatnya tinggal, aku tidak pernah melihat jurus yang dia gunakan tadi, aku harus mempelajarinya!”
“Baik yang Mulia!”
“Hari ini sayembara cukup sampai di sini, siapa yang terpilih tadi maka bisa kembali ke tempat ini besok hari!”
Semua orang bubar, desas desus kehebatan Rymi yang mereka kira adalah seorang pria menjadi trending topik di seluruh desa.
...***...
__ADS_1
"Sama sekali tidak ada yang bagus di sini, bagaimana aku bisa merawat tubuh ini?"
"Kosmetik ini sangat kuno, aku bahkan tidak tau cara pakainya!"
Rymi memutuskan untuk membeli beberapa stel pakaian jadi saja, penjaga toko tampak keheranan karena orang biasa sepertinya memborong pakaian mewah.
Setelah membeli pakaian Rymi mencari tempat yang menjual tanaman obat. Dia akan meracik sendiri obat untuk jerawatnya sekalian juga mencari bahan yang bisa digunakan untuknya mempercantik diri.
"Haaahh, untung saja menjadi anaknya Marco membuatku lebih terlatih, akhirnya kemampuanku memang digunakan untuk hal yang tepat!"
"Dulu aku selalu ditugaskan untuk membuat racun, namun kali ini aku lebih banyak membuat obat! Akan aku perhitungkan, jika aku punya lapak di sini untuk berjualan obat setidaknya itu juga menjanjikan kan?"
"Aiishhh, pemikiran semacam apa itu, seharusnya aku itu memikirkan bagaimana caranya bisa kembali, yah benar! Bagaimana caranya aku kembali? Alih-alih memikirkan itu, kenapa juga aku harus bertahan di sini?"
Rymi bergumam, langkahnya terhenti pada salah satu kedai di pasar itu, dia akan beristirahat sebentar untuk mengisi perutnya.
"Harus menebus dosaku dengan berbuat kebaikan, kebaikan apa?"
"Silakan, mau pesan apa?" salah satu pelayan kedai menghampirinya, Rymi bertanya apa saja yang dijajakan di kedai itu, lalu meminta pelayan membawakan makanan berat untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Setelah makan, Rymi kembali berjalan, dia tidak menyangka akan menemui perjalanan hidup yang seperti ini, kemana-mana saja harus berjalan kaki.
Langkahnya terhenti di toko obat, membeli beberapa bahan kering yang diperlukan, dia akan meracik sendiri obat jerawat ataupun skincare yang akan dirinya pakai untuk merawat tubuhnya.
"Baiklah! Beri aku waktu satu minggu!" gumamnya percaya diri, tentu saja karena saat ia melihat bahan yang tersedia di toko obat itu dirinya begitu kagum. Jika di dunia nyata Daddynya harus berburu bahan untuk membuat obat dan racun hampir di seluruh penjuru negara, namun di dunia novel ini semua bahan yang diperlukan taunya bisa dia temukan hanya dengan satu toko saja.
"Tuan? Untuk apa kau membeli sebanyak itu?"
"Apa ada batasan untuk membeli?" tanya balik Rymi. Tidak di dunia nyata maupun dunia novel Rymi sepertinya memang tidak bisa menjawab pertanyaan, selalu saja menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.
"Sebenarnya tidak, tapi bahan-bahan ini kadang sulit sekali terjual karena jarang digunakan oleh tukang obat, Tuan membeli sebanyak itu apa bahan obat ini benar-benar berguna?" si penjaga toko tampak tidak yakin.
"Kau tau, di kehidupan selanjutnya bahkan harga tanaman ini begitu mahal dan juga langka!" jawab Rymi.
"Mahal? Langka? Tuan ini bercanda, bahkan ini adalah bahan-bahan yang murah dan banyak ditemukan di hutan?"
"Kau tidak percaya?"
Penjaga toko itu menggeleng pelan, dia benar-benar tidak percaya.
"Ya sudah, aku tidak memaksa!" ujar Rymi santai.
__ADS_1
Lalu dia membawa bahan kering untuknya membuat obat dan skincare itu dalam satu kantong yang cukup besar, saatnya kembali ke istana dan melakukan perubahan.
Bersambung...