
"Srakkkkk!"
"Baguslah, memang lebih baik seperti ini!"
"Aku dan dia cukup sepadan, jadi... Mari kita selesaikan ini!"
Rymi bergumam seraya menantang, namun saat melihat tatapan Rang Yuan terhadapnya, dia cukup heran, tatapan itu seperti tatapan kekecewaan.
Rang Yuan menyerang Rymi tanpa ragu, Rymi belum melawan, dia hanya bergerak mengelak, belati di tangannya padahal sudah dia siapkan.
"Bisakah bersikap patuh? Kau pikir semua orang begitu peduli padamu, hah!" bentak Rang Yuan sembari mengayunkan pedang, namun tidak juga kena.
"Aku tidak hidup dibawah kendali siapapun, jadi... Aku anggap perkataanmu ini sebagai bentuk kepedulian, terimakasih... Meskipun sepertinya kau juga tidak begitu peduli pada wanita ini!" sahut Rymi percaya diri.
"Heh, jangan salahkan aku jika kau kubawa dengan terluka!"
"Tentu!"
Perkelahian pun tidak bisa terhindarkan, kali ini melihat Rang Yuan yang semakin bertambah gesit, Rymi merasa harus melawan, dia si ahli belati tentu saja seharusnya bisa memenangkan pertarungan dengan mudah.
"Sial!" erang Rang Yuan saat lengan bawahnya berhasil disabet mulus oleh Rymi, darah segar bahkan merembes membasahi pakaiannya.
Rymi berdiri dengan gagahnya, "Aku akan mengampunimu, tentu saja jika kau mau sepakat denganku!" ujarnya kemudian.
"Cih! Sepakat denganmu, mimpi sana!" Rang Yuan berdiri lagi, hendak menyerang Rymi namun Rymi tak kalah cepat, dia menjuruskan belatinya tepat mengenai kaki atas Rang Yuan, belati dari tulang kebanggaannya itu harus bersarang di sana, tertancap mulus hingga membuat Rang Yuan mengerang keras, "Aaarrrgggghhh!"
"Kau sepertinya memang tidak bisa diajak bicara baik-baik, jadi... Bukan salahku yaaa!" angkuh Rymi.
"Permaisuri..." ujar Rang Yuan terbata, "Sebenarnya, apa yang bisa membuatmu berubah? Kau... Kau... Bukan seperti Permaisuri Oh yang kukenal, bagaimana bisa kau..."
Rymi melangkah maju, dia berjongkok untuk memastikan kondisi Rang Yuan, "Kalau aku bisa mengalahkanmu dengan mudah seperti ini, seharusnya sudah cukup untuk membuatmu tahu diri, kau sedang berhadapan dengan siapa! Benar?"
"Siapa... Siapa kau?" tanya Rang Yuan, raga wanita di hadapannya ini tentu saja adalah raga Permaisuri Oh, namun jiwanya lain sekali, jiwanya benar-benar berbeda. Meski tidak ingin percaya, namun Rang Yuan jelas menyadari itu.
"Aku?"
__ADS_1
"Kau... Bukan Permaisuri Oh!" tebak Rang Yuan, meski tidak ada sesuatu apapun yang bisa meyakinkannya,
"Hemmm... Bingo! Whoaaa haruskah aku ucapkan selamat?" Rymi mengambil tangan kanan Rang Yuan dan langsung menyalaminya, sementara Rang Yuan yang tidak mengerti apapun tentu saja langsung menarik tangannya.
"Apa maksudmu? Selamat apanya?" bingungnya.
"Selamat, tentu saja karena kau adalah orang pertama yang bisa mengerti aku, kau tau..." Rymi semakin mendekat mensejajarkan posisinya, mata keduanya bertemu, Rymi tidak berniat memutus pandangan meski menyadari Rang Yuan salah tingkah dibuatnya. "Meski kau tidak ingin mempercayai, tapi kau benar... Aku memang bukan Permaisuri Oh!" jelasnya.
"Rymi Arash!" Rymi memperkenalkan diri menepuk dadanya pelan, "Aku adalah wanita dari masa depan! Aahhh tidak-tidak, maksudku... Dari dunia yang nyata!" ralatnya karena merasa dia saat ini memang tangah hidup di dunia novel.
Tatapan terkejut memang tergambar di wajah Rang Yuan, seolah baru saja mendengar lelucon yang sangat jelas. Dunia nyata apanya? Memangnya dunia tempat dirinya hidup ini tidak nyata, palsu? Pikirnya lucu.
"Kau bercanda?" kedua alisnya hampir bertemu, lalu salah satu sudut bibirnya tertarik.
Rymi lagi-lagi harus kecewa, berpikir kalau Rang Yuan adalah pria yang cukup peka nyatanya terbantahkan. "Cih, pria benar-benar sama saja!" gumamnya seraya mendelik kasar.
"Bukannya kita memang hidup di dunia nyata, kau pikir apa?" sanggah Rang Yuan.
"Aisshhh, sudahlah sudahlah manusia kuno sepertimu memang tidak akan mengerti!" lalu, "Aaaahhghhhh!" Rang Yuan mengerang kesakitan, darah segar juga sudah mengalir di kakinya saat Permaisuri Oh mencabut paksa belati yang tertancap.
"Permaisuri tunggu... Asshhhh!" Rang Yuan berusaha mencegah, namun kakinya saja terlalu sakit untuk diajak berdiri.
...***...
Selir Na Ra tidak berhenti memaki, dia membentak siapapun dayang yang berada di dekatnya, suasana hatinya saat ini benar-benar kacau.
Bagaimana tidak, sengaja dipulangkan begitu tau kalau yang menemani Kaisar tadi bukanlah Permaisuri Oh melainkan dia, memangnya apa salahnya kalau dia? Bukankah mereka sama-sama adalah wanitanya Kaisar?
Apa lagi, Kaisar Jung jelas saja lebih mencintainya dari pada Permaisuri Oh, yah seharusnya memang lebih mencintainya, namun benarkah rasa itu masih sama? Apa sekarang cinta Kaisar Jung terhadapnya sudah berubah, dia tidak lagi menjadi wanita nomor satu di hati Kaisar Jung?
Berkali-kali dia menampik itu, namun rasanya bayang-bayang penyatuan mereka di malam itu, serta sikap Kaisar Jung yang dianggapnya kelewat perhatian terhadap Permaisuri Oh membuatnya tertunduk dan harus menelan kecewa.
"Oh Dae... Akan kubunuh kau kalau sampai berani melewati batas! Aku menyesal tidak langsung membunuhmu waktu itu, tidak kusangka kau akan bertindak sejauh ini!" gumamnya menggerutu.
"Hanya ini yang bisa kau lakukan?"
__ADS_1
Selir Na Ra terperanjat, wajahnya langsung memucat kala melihat siapa yang berbicara. Dengan angkuh sang ibu Suri berjalan mendekat, matanya menatap Selir Na Ra penuh selidik, dan juga emosi yang tertahan. Wajah itu juga mengisyaratkan kekecewaan, tentang harapan yang tidak sesuai kenyataan.
"Hamba Selir memberi hormat pada Yang Mulia Ibu Suri, suatu kehormatan juga tentunya Yang Mulia datang bertandang ke kediaman Hamba Selir ini!"
"Plaakkk!" tanpa aba-aba dan Selir Na Ra pun tidak menyangka, Ibu Suri langsung melayangkan tamparan di wajahnya begitu jarak mereka sudah dekat.
"Yang Mulia!" isaknya terkaget seraya mengusap pipi.
"Kenapa? Aku seharusnya memberi peringatan lebih padamu, dasar tidak berguna!" ketus Ibu Suri.
"Yang Mulia, apa kiranya kesalahan hamba Selir hingga Yang Mulia bertindak begini?"
"Salahmu? Kau masih bertanya apa kesalahanmu? Apa menurutmu kau itu terlalu suci hingga kau merasa tidak melakukan kesalahan?" tanyanya tegas. Namun jawaban seperti itu sayangnya tidak juga bisa membuat Selir Na Ra mengerti tentang kesalahan apa yang telah dirinya perbuat.
"Hamba... Hamba sungguh tidak mengerti Yang Mulia!"
"Heh!" Ibu Suri berpaling dan duduk dengan angkuh, "Kau yang membunuh dayang itu?" tanyanya tanpa memandang Selir Na Ra.
"Hamba?"
"Ya, tangan kotormu itu, kau membunuhnya dan melakukan trik seperti kau sedang dijebak? Aku mengetahui semuanya!" jelas Ibu Suri. Dia bangkit, lalu kembali melayangkan tatapan tajam.
"Yang Mulia, sungguh untuk masalah pembunuhan itu, Hamba benar-benar tidak terlibat, dia... Oh Dae lah, Oh Dae lah yang membunuhnya, Oh Dae bahkan mengatakannya sendiri padaku, dia sudah bersaksi bahwa dayang itu memang benar dibunuh olehnya!" jelas Selir Na Ra, tentu saja dia harus menyangkal dan meluruskan kebenaran.
"Oh Dae..."
"Ya Yang Mulia, Oh Dae, dia telah membunuh Dayang itu, sungguh!"
"Hahahahaha! Oh Dae? Kau pikir dengan menjadi tua maka kesehatan otakku juga harus menjadi tidak berfungsi dengan benar, jangankan dayang itu, aku bahkan tidak percaya dia bisa membunuh seekor semut!" tegas Ibu Suri yakin.
"Tapi Yang Mulia..."
"Berhenti mengatakan omong kosong!" tegas Ibu Suri.
Bersambung...
__ADS_1