Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Yang Mulia...


__ADS_3

"Kasim Co! Sekali lagi, kau berhutang nyawa padaku!" ujar Rymi penuh percaya diri.


Lutut Kasim Co lemas seketika, di atas kepalanya sedang menggeliat seekor ular berbisa, di bagian dekat kepala ular itu tertancap belati milik Permaisuri Oh, darah dari ular itu membasahi wajahnya.


Kasim Co masih berusaha menetralkan jantungnya, bahkan celananya sudah basah, tidak bisa menahan sesuatu memalukan terjadi saat dirinya benar-benar ketakutan.


"Yang Mulia, ampuni Hamba..." Kasim Co segera berlutut, apa jadinya kalau tadi dia benar-benar dibunuh. Ahhh membayangkannya saja Kasim Co belum tentu sanggup. Masih banyak hal yang harus dirinya lakukan di hari tua, terutama Kaisar Jung belum sepenuhnya berbahagia jika perihal asmara. Dia tidak bisa pergi begitu saja sebelum Kaisar Jung memiliki seseorang yang benar-benar dicintai dan mencintainya.


Rymi mensejajarkan posisinya dengan Kasim Co, sudut bibirnya tertarik, "Aku tidak yakin kau melakukan kesalahan, tapi... Setidaknya aku harus tau, tujuanmu datang ke sini!"


"Yang Mulia..."


"Apa kau akan tetap diam?"


"Yang Mulia, sungguh Hamba tidak memiliki maksud apapun!" kekeh Kasim Co, namun entah mengapa Rymi sulit untuk mempercayai, menurutnya penyamaran ini sudah sangat sempurna, bukankah aneh saja jika Kasim Co mengenalinya.


"Hamba berjanji, akan merahasiakan apa yang telah hamba lihat, saat Hamba membuka mulut Hamba siap untuk dibunuh, namun untuk saat ini, Hamba mohon... Lepaskan Hamba!"


"Untuk saat ini?" Rymi menangkap suatu yang aneh, apa maksudnya dengan untuk saat ini?


"Yang Mulia, Hamba mohon..."


"Selama kau bisa memegang teguh janjimu, aku bisa saja melepaskanmu, tapi... Perlu kau ingat ini baik-baik, aku paling tidak suka dengan pengkhianatan!"


Nanti saja akan aku selidiki dia, dia ini begitu mencurigakan, terutama dia satu-satunya orang yang mengenaliku dengan penyamaran seperti ini!


"Ba... Baik Yang Mulia, Hamba berjanji akan merahasiakan ini!" Kasim Co bisa bernapas lega, tatapan Permaisuri Oh tidak semengerikan tadi.


Sementara Rymi dia mengambil pakaian dayang yang tergeletak sembarang, pakaian itu terjatuh dari tangan Kasim Co tadinya.


Rymi mencari tempat untuk berganti pakaian, Kasim Co tentunya akan membawanya kembali ke istana.


Mereka mulai berjalan lagi, Kasim Co lalu membawa Permaisuri Oh pada suatu tempat. Di sana sudah ada Putri An dan Putri Yu yang menunggui mereka dengan gelisah.


"Kakak! Kakak ipar dari mana saja! Seluruh istana sudah hampir gila dibuatmu, Yang Mulia benar-benar marah, bahkan saat ini Yang Mulia sedang menunggu Kakak ipar di kamar!"


"Hah? Kamar? Mau apa dia?" tanya Rymi terkejut, mengapa pula harus menunggunya di kamar.


"Yang Mulia sangat marah karena Kakak yang dianggap telah menipunya, sudah kami katakan kan, keluar istana apa lagi malam-malam begini, sungguh bukanlah hal yang benar!" ujar Putri Yu, menekankan kembali kata-katanya tempo hari.

__ADS_1


"Hemmm, tapi... Apa harus menungguiku di kamar? Ah ya kamar siapa?"


"Jelas saja kamar Kakak ipar, kali ini Kakak Ipar pasti tidak akan bisa kembali ke kediaman Kakak dengan mudah!"


Rymi mengangguk paham, ya ya... Berarti penjagaan ketat di pintu gerbang tadi benar-benar diperintahkan untuk menangkapnya. Aisshh Jung sialan itu, benar-benar cari perkara dengannya.


"Tuan Putri, jadi Yang Mulia Permaisuri harus bagaimana sekarang?" Kasim Co yang tadinya berada agak jauh mulai mendekat.


"Asshhh, bau apa ini?" sontak saja Putri An langsung menutup hidung kala Indra pembaunya mengendus sesuatu.


"Iya, bau! Seperti bau air kenc*ng!"


"Eh!" Kasim Co beringset mundur, sadar diri akan bau yang dirinya bawa.


"Tadi dia ketakutan melihat ular besar!" ujar Rymi, jelas saja berbohong.


"Hah, ular besar? Kakak ipar, apa kakak ipar tidak apa-apa?" Putri Yu membalik dan meneliti tubuh Permaisuri Oh, memastikan Kakak iparnya itu kembali dengan selamat.


"Tidak tidak... Aku baik-baik saja, aku ini tidak akan takut hanya karena seekor ular!" ujar Rymi percaya diri.


"Kasim Co!" serunya kemudian.


"Ya Yang Mulia!"


Kasim Co terheran, melakukan sesuatu apa?


Lalu Rymi menyuruh Kasim Co mendekat, Putri An dan Putri Yu juga. Dia membisikkan sebuah rencana untuknya bisa kembali dengan selamat ke kediamannya.


...***...


"Yang Mulia, ini sudah hampir tengah malam, Yang Mulia bisa mulai beristirahat!"


"Dayang No!" Selir Na Ra tersenyum miris, "Bagaimana bisa, Yang Mulia Kaisar mengingkari janjinya? Apakah, Yang Mulia benar-benar tidak akan datang menemuiku? Apa kiranya yang tengah mereka lakukan?"


"Yang Mulia, Hamba juga mendengar kabar kalau Permaisuri Oh sebenarnya kabur dari istana, dan Yang Mulia Kaisar sedang menunggu untuk meminta pertanggungjawaban Permaisuri Oh yang telah berani melanggar pantang!"


Dayang No memang mendengar itu tadi saat ingin melihat apakah Kaisar Jung masih berada di kediaman Permaisuri Oh atau tidak, telinganya yang lumayan peka, mendengar sesuatu yang cukup menyenangkan, desas desus di istana dalam yang tengah hangat dibincangkan.


"Sudah kuduga... Suamiku, tentunya mempunyai alasan untuk berada di sana, tentunya dia akan memberikan hukuman yang pantas atas pelanggaran itu!"

__ADS_1


"Ya Yang Mulia!"


"Dayang No, haruskah aku menemui Yang Mulia Kaisar!" tanyanya penuh percaya diri.


"Ya Yang Mulia!"


Selir Na Ra bangkit, dia mulai berjalan menuju kediaman Permaisuri Oh, menurutnya Kaisar Jung pastinya tidak akan mudah untuk melepaskan Permaisuri Oh kali ini.


Tadinya dia sempat kecewa, namun karena mendengar alasan mengapa Kaisar Jung masih berada di kediaman Permaisuri Oh, dirinya bisa sedikit berlega hati. Kembali pada keyakinannya kalau Kaisar Jung tidak mungkin memiliki perasaan lebih terhadap Permaisuri Oh.


Tap tap tap, derap langkahnya terdengar serasi, Selir Na Ra sudah menyiapkan beberapa patah kata untuk membuat Kaisar Jung semakin membenci Permaisuri Oh.


"Umumkan kehadiranku!" pinta Selir Na Ra, dia bersikap begitu anggun, siap menemui suaminya.


"Taa... Tapi Yang Mulia..."


"Kenapa? Yang Mulia Permaisuri sedang tidak berada di kamar? Aku sudah tau, kedatanganku ke sini bukanlah untuk menemui Yang Mulia Permaisuri, aku mendengar Yang Mulia Kaisar sedang berada di sini, jadi aku berniat mengunjunginya!"


"Bukan begitu, tapi..."


"Umumkan kehadiranku!"


Kedua dayang yang berjaga menggeleng pelan, dayang No langsung saja memelototi keduanya, mengisyaratkan untuk kedua dayang itu bersikap patuh.


"Tidak bisa, Yang Mulia Kaisar mengatakan tidak bisa..."


"Buka!" ujar Selir Na Ra dingin, berani sekali dayang rendahan ini menghalanginya, pikir Selir Na Ra tak habis pikir.


"Kalian tidak dengar, buka pintunya, ini perintah!" bentak Dayang No.


Karena tidak terdengar jawaban dan juga pintu yang tidak kunjung dibuka, maka Selir Na Ra berniat membuka paksa pintu itu.


Brakkk!


Selir Na Ra mematung, lututnya seketika lemas saat pintu itu berhasil dibuka.


"Yang Mulia..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2