Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Siapa wanita itu?


__ADS_3

"Ya Jung!" berang Rymi tak kalah garang, dia memang menantang. Jika Kaisar Jung berpikir Permaisuri Oh akan takut padanya maka hal itu salah besar, Permaisuri Oh yang berada di hadapannya saat ini sungguh tidak akan takut akan apapun, sekalipun itu Kaisar Jung yang katanya adalah sang penguasa.


Kaisar Jung menghempaskan napas pelan, Permaisuri Oh bukanlah orang yang bisa ditaklukan dengan gertakan, bahkan tindakan pun mungkin tidak akan mempan. Jadi dia harus apa? Harus apa untuk mendapatkan cinta istrinya ini?


"Oh Dae... Aku tau, dulu aku telah salah, dulu aku mungkin sudah sangat membuatmu menderita..."


"Hemmm, bukan mungkin, tolong digarisbawahi, kau benar-benar pria kejam, suami jahat!" koreksi Rymi. Dia langsung menyela.


Kaisar Jung ingin marah, paling tidak suka saat ucapannya dipotong. Namun, yang melakukannya ini adalah Permaisuri Oh, dia sungguh jadi serba salah.


"Ya..." angguknya, "Aku akui, aku minta maaf!"


"Aasshhh, sangat tidak gentle! Setelah melakukan kejahatan yang tak terhitung kalinya, bertindak tega tanpa menghiraukan perasaan istrimu, kini kau minta maaf dengan wajah tanpa dosamu itu, aku yakin otakmu itu sudah bergeser, tidak berada di tempat yang seharusnya, benar-benar memuakkan!" geram Rymi.


"Oh Dae, aku bahkan telah memaafkan tindakanmu ini yang menghinaku, namun kau..."


"Ya ya! Kau berbicara seolah-olah aku lah penjahatnya dan kau korban di sini, hei Jung! Kau tidak mengerti juga ya, aku bahkan sama sekali tidak melihat ketulusan saat kau meminta maaf, hanya cara bicaramu saja yang sengaja dibuat lembut!"


"Yang bisa kulihat, saat ini... Kau menginginkan tubuhku? Ingin bercinta denganku, kau melihat wajahku sudah tidak buruk rupa lagi, jadi kau merasa tertarik! Mengapa kau tidak datang pada beberapa istrimu dan minta dimanjakan? Kau pikir tugas istri hanya melayani di atas ranjang saja? Apa aku ini istri yang sengaja dipungut olehmu? Hingga kau bisa memperlakukan aku sesuka hatimu, begitu?"


"Oh Dae, kau ini bicara apa? Jelas-jelas aku meminta maaf dengan tulus!" sanggah Kaisar Jung. Dia lelah berdebat, namun istrinya ini seakan tidak ada habisnya mengajaknya bertengkar.


"Tulus? Hanya bagimu! Tulus itu tidak untuk diucapkan, kau tau!" dengus Rymi.


"Oh Dae, lalu aku harus apa?"


"Entahlah, mengapa tanya aku?" acuhnya mengangkat bahu.


Kaisar Jung menganga tidak percaya, ingin sekali rasanya dia membungkam mulut Permaisuri Oh yang telah dianggapnya asal bicara, namun tidak dirinya lakukan, akhirnya lebih memilih menjambak rambutnya kasar, Kaisar Jung benar-benar bingung menghadapi Permaisuri Oh.


"Lalu kita akan melakukan apa? Hari sudah cukup larut, kau juga tidak berniat untuk tidur!"


"Kalau kau sudah mengantuk, aku tidak pernah mencegahku untuk tidur duluan, jangan bersikap terlalu peduli, dulunya bahkan kau tidak pernah menghiraukanku, aku mati di hadapanmu saja kau tidak akan melakukan apapun!" sindir Rymi.


"Oh Dae kau..." perkataan Kaisar Jung tertahan, "Aahhhh..." ada perasaan marah, namun memilih untuk menyudahi perdebatan saja.

__ADS_1


Kaisar Jung berlalu, dia naik ke atas pembaringan, menepuk pelan bantal dan mulai mencari posisi nyaman untuk tidur. Namun perasaan kesalnya pada Permaisuri Oh benar-benar mengganggu.


...***...


"Siapa yang mengetahui penyamarannya selain aku? Tidak mungkin aku yang pertama!"


"Putri Yu dan Putri An, yah mereka berdua pasti mengetahui!"


Yuan masih betah memikirkan hal yang menurutnya tidak masuk akal. Ingin dirinya tidak mempercayai, karena sewaktu bertarung tadi yang dihadapinya sungguh seperti seorang pendekar, gerakan yang lincah, kecepatan dan ketepatan tangan yang sangat ahli, cara seseorang itu menatap, dan lagi suaranya... Dirinya sama sekali tidak percaya suara yang berbicara padanya tadi adalah suara seorang Permaisuri negeri ini, suara itu suara pria!


Masih ada dua kemungkinan, seseorang itu adalah orang yang sama yakni Permaisuri Oh, atau... Seseorang itu memanglah orang lain, hanya saja bekerja sama dengan Permaisuri Oh. Namun jika dilihat dari postur tubuh, memang cukup meyakinkan.


"Apa sudah tertangkap?" suara seseorang mengagetkan Yuan dari lamunan.


Selir Na Ra sudah berdiri tak jauh darinya, datang menemuinya di ruangan pribadi miliknya, Yuan segera bangkit, hal ini menurutnya sangat tidak pantas.


"Salam hormat Hamba pada Yang Mulia Selir Agung!" sapanya.


"Hemmm!"


"Yang Mulia, ada apakah gerangan Yang Mulia menemui hamba hingga meluangkan waktu berharga Yang Mulia untuk datang ke sini?"


"Kau mengusirku? Sudah berani?" sentak Selir Na Ra.


"Ahhhh, bukan begitu maksud hamba Yang Mulia... Namun, meski bagaimanapun, suasana seperti ini sangatlah tidak pantas, hamba hanya tidak ingin menyulut kabar buruk dari orang yang tidak bertanggung jawab, di istana sungguh bukanlah tempat yang bisa dikatakan aman, banyak mata dan telinga yang bertindak tidak sesuai kehendak kita, jadi mohon untuk Yang Mulia Selir Agung mengerti!" jelas Yuan dengan sangat detil, bahkan sudah mencakup pada intinya bahwa dia tidak ingin ditemui hanya berdua begini, di ruangan pribadi seperti ini pula.


Selir Na Ra tampak acuh, dia tidak terlalu menghiraukan, meskipun kata-kata Yuan memang dianggap ada benarnya.


"Aku hanya ingin menanyakan apakah penyusup itu sudah ditemukan?"


"Untuk itu... Itu adalah masalah yang sedang Hamba tangani, jadi hamba akan mengatakannya saat tugas hamba sudah benar-benar selesai, itupun haruslah Yang Mulia Kaisar yang terlebih dahulu mengetahui dari pada siapapun!" jawab Yuan.


"Kau benar-benar setia!"


"Terimakasih atas pujiannya, hamba akan melakukan yang terbaik!"

__ADS_1


"Cih!" decih Selir Na Ra.


Kemudian dia berlalu, ingin mendapatkan informasi terkini dari Yuan, heh mustahil!


Yuan melihat punggung Selir Na Ra yang menjauh. tiba-tiba dirinya ingat akan sesuatu.


Flashback,


"Aku akan melihatnya sekali lagi, kau cepat bantu aku!"


"Yang Mulia, tapi... bagaimana jika kita ketahuan?"


"Aaahhh Yuan, kau ini terlalu takut akan apapun, aku hanya ingin melihat calon istriku!" bentak Kaisar Jung, yang saat itu masih menjadi putra mahkota. Mereka hanyalah anak-anak yang berusia dua belas tahun. Sewaktu berjalan-jalan di pasar Kaisar Jung tidak sengaja hampir saja tertabrak kuda, hal itu membuatnya terjatuh, beruntung ada seorang putri bangsawan yang menyelamatkannya.


Kedatangannya ke sini, untuk melihat sekali lagi wajah putri itu, putri yang menolongnya. Mulai hari itu Kaisar Jung sudah menetapkan bahwa sang penolongnya itulah yang akan menjadi istrinya kelak. Toh si putri juga dari keluarga bangsawan, jadi hal itu tentunya akan lebih memudahkannya.


Dia tengah berada di balik tembok yang cukup tinggi, sedikit kesulitan untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Yuan yang kurus itu pun menjulangnya, menahan beban yang bolehkah dirinya akui cukup menyusahkannya.


"Waahhh, dia cantik sekali Yuan!" puji Kaisar Jung kecil.


"Yang Mulia, hamba... Hamba tidak kuat lagi, asshhhh..." dan "Brakkkk!" keduanya jatuh bersamaan.


"Yuan, kau membuyarkan betapa cantiknya bunga persikku!" kesal Kaisar Jung seraya memegangi bok*ngnya.


"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba..."


"Aasshhh sudahlah!" berhubung Yuan adalah satu-satunya sahabat baginya jadi Kaisar Jung harus memaklumi, lagi dan lagi.


"Jika seperti ini terus, bagaimana kau bisa menjadi pelindungku? Tubuhmu ini bahkan kurus dan kecil, yang ada nanti malah aku yang akan melindungimu!" ejek Kaisar Jung.


"Maafkan Hamba Yang Mulia!" Yuan tertunduk, mulai saat itu dia berjanji untuk berlatih ilmu bela dirinya dengan sungguh-sungguh. Sesuai janjinya, dia akan menjadi pelindung Yang Mulia Kaisar negeri ini suatu hari nanti.


Flashback off.

__ADS_1


"Apakah... Wanita itu adalah Selir Na Ra? Mengapa dari awal aku tidak pernah yakin, mengapa aku merasa wanita itu, bukanlah Selir Na Ra? Meski bagaimanapun Jung meyakinkanku, mengapa rasanya aku tidak bisa membenarkan?" lirihnya, sampai saat ini pun tanpa sepengetahuan Kaisar Jung, Yuan juga sudah berusaha menyelidiki siapa wanita itu, namun selalu saja bagai menemui jalan buntu.


Bersambung...


__ADS_2