Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Hantu Perawan.


__ADS_3

"Dia mengeluarkan banyak darah!"


Di hadapannya saat ini terbaring tidak berdaya tubuh Kasim Co yang menyedihkan. Tabib istana sedang berusaha menyelamatkan seseorang yang katanya paling banyak mengetahui tentang hidup Kaisar mereka dan salah satu orang yang berharga juga bagi Kaisar Jung. Karena Kasim Co adalah orang yang mendampingi Kaisar Jung bahkan sejak Kaisar Jung pertama kalinya melihat dunia.


Kondisi Kasim Co membuatnya meredam segala emosi yang ingin dirinya tumpahkan, dia tidak jadi bertarung melawan Permaisuri Oh. Namun sebagai gantinya ia berhasil memenjarakan Permaisuri Oh untuk nantinya diadili.


"Lakukan apapun!" titahnya.


Yah, lakukan apapun, dia tidak bisa membiarkan Kasim Co mati begitu saja.


Bau amis darah memenuhi rongga hidungnya, kain yang sudah dipenuhi warna merah berceceran di lantai. Obat-obatan sudah diberikan, lukanya juga sudah dibalut, namun tidak juga bisa membuat darah Kasim Co berhenti. Kalau dibiarkan terus begini nyawa Kasim Co tidak akan bisa diselamatkan.


Di sisi lainnya,


"Apa aku akan dihukum mati?" tanyanya pada penjaga di penjara.


"Anda sudah membuat kesalahan, kali ini dipastikan tidak lagi ada pengampunan!"


"Aku? Mengapa tidak ada ampun? Aisshh, apakah nyawaku bisa disama ratakan dengan Kasim itu?"


Rymi mendengus kesal, bukankah terlalu rendah jika ia harus dihukum mati karena tidak sengaja membunuh seorang Kasim? Ahh tidak tidak, bukan dia yang membunuhnya, yang terjadi tadi adalah bentuk pertahanan diri, kalau saja seorang penjaga itu tidak menyerangnya, maka dia tidak akan menarik tangan Kasim Co untuk sebuah perlindungan.


Semua orang yang menjadi saksi melihat itu, tapi mengapa juga dirinya yang disalahkan dan malah akan diberikan hukuman?


"Ya ya, lagi pula, melawan ataupun tidak tetap saja aku yang salah, jika aku mati pun belum tentu dia menghukum orang yang membunuhku, bahkan mungkin saja dia akan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam merayakan kematianku!" gumam Rymi, mau bagaimanapun kondisi ini tentunya lebih baik menurutnya.


Apa Kasim itu benar-benar sudah mati? Kalau belum mungkin aku bisa melakukan sesuatu.


"Hei, kau kemarilah!" panggilnya pada seorang penjaga.


"Apa Kasim itu sudah mati?"


Penjaga itu mendelik, bukankah terlalu santai untuk ukuran seseorang yang bersalah, maksudnya apa menanyakan itu?


"Aahhh, jangan salah paham, dulunya aku sering kali mendapatkan luka tusuk saat menjalankan misi, aku rasa kalau dia belum mati... Aku bisa menyelamatkannya!"


"Hah?"

__ADS_1


Semua yang berjaga di penjara itu menyergit heran, menyelamatkan? Memangnya Permaisuri Oh bisa melakukan apa?


"Kalian tidak percaya?"


Rymi kembali kesal saat melihat tanggapan dari semua penjaga, tidak ada yang serius menganggap ucapannya.


Namun sebuah ide terlintas dipikirannya, "Hoho, apakah hidupku benar-benar akan berakhir seperti ini?"


"Haaahhh!" menghela napas, lalu Rymi berencana memulai debut meratapnya.


"Permaisuri yang malang, seharusnya aku memang tidak membuat gaduh, seharusnya aku memang menjadi Permaisuri yang bodoh saja, sehingga setidaknya aku akan mati dibunuh dari pada harus menerima hukuman mati lalu dicap sebagai seorang penjahat, seumur hidupku aku tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi padaku!"


"Diamlah! Kau kira meratap bisa mengubah segalanya? Yang Mulia Kaisar tidak akan lagi memedulikan ratapanmu!"


"Aaaa benarkah?" Rymi menampilkan wajah tersedihnya, "Kau... Jika diizinkan, sebenarnya aku ingin menemui Yang Mulia Kaisar untuk terakhir kalinya!"


"Heh, tadi kau bertindak begitu garang, tapi lihatlah sekarang..."


"Izinkan aku mengungkapkan penyesalanku, jikapun aku harus mati bukankah penyesalanku ini lebih baik ditinggalkan saja, aku tidak bisa membawanya bersamaku, rasanya pasti sungguh berat!"


"Kau bisa mengatakan penyesalan itu saat menerima hukuman nanti!"


"Hah? Hantu perawan?"


"He'em!" angguk Rymi teratur.


"Kalian tau, bahkan Kaisar Jung belum pernah menyentuhku sama sekali, rasa penasaran ini, penyesalan, dan juga rasa cinta yang tak berbalas, aku tidak yakin akan sanggup membawanya juga saat jiwaku berpisah dari raga ini!"


"Jadi... Akan lebih mudah bagi sang langit untuk mengutukku, aahhh dia pasti tidak akan mengizinkanku mencapai nirwana, aku akan terkatung-katung berkeliaran di istana ini, aahhh sungguh Permaisuri yang malang!"


"Lalu... Saat malam tiba, aku akan menjerit kesakitan, menangis keras, di penjara ini, di kamarku, di tempat-tempat yang pernah aku kunjungi semasa aku hidup!" Rymi mendongakkan kepalanya, lagi-lagi ia memasang mimik muka tersedihnya.


"Hiks hiks hiks, rasa penyesalan ini, sungguh akan berat jika aku bawa sampai ke langit!"


Aiishhh, mudah saja mengelabuhi mereka, lihatlah wajah bingungnya itu...


"Ku dengar, jika seorang perawan mati, apa lagi jika dia dieksekusi mati, rohnya benar-benar akan gentayangan!"

__ADS_1


"Apa kalian semua akan sanggup menghadapi badai itu? Badai jeritan tangis hantu perawan, hihihihi!"


"Sayup-sayup saat bulan purnama beranjak naik, bahkan hewan pun terdiam tidak berani mengeluarkan suara karena ketakutan, hantu perawan itu... Datang, dia datang, datang... dia datang membawa rasa penyesalannya... Datang... Lalu dia datang, berjalan mengelilingi istana dengan membawa rasa penasaran yang teramat, lalu dia mulai menangis... Mendayu, suaranya yang terdengar pilu akan dibawa oleh angin malam memenuhi istana ini, dia datang... Datang..."


"AAAAAHHHHHHH!"


Enam orang penjaga penjara itu menjerit hebat serasa tidak mampu lagi mendengar cerita Rymi, Aahhh sungguh mengerikan sekali rasanya jika sampai ada hantu perawan di Istana nantinya.


"Baiklah baiklah, kami akan segera memberitahukan pada Kaisar, mengatakan kalau kau meminta bertemu sebelum menerima hukuman!"


"Hemmm, benarkah? Ya ya, katakan saja begitu! Cepat, cepatlah!"


...***...


"Aaahhh, keberuntungan ini, selalu saja berpihak padaku, tanpa aku harus repot-repot menyingkirkannya, dia sudah akan meninggalkan istana ini dengan sendirinya."


"Langkah untuk merebut tahta itu, aku tidak menyangka akan secepat ini!"


"Yang Mulia, apakah Yang Mulia bahagia!"


"Dayang No, kiranya sudah berapa lama kau berada di sisiku?"


"Sudah sedari Yang Mulia lahir!"


"Apa kau pernah melihatku sebahagia ini?"


Dayang No yang adalah Dayang pendamping Selir Na Ra pun menggeleng pelan.


"Harus aku akui, mendengar kabarnya akan dihukum mati sungguh membuatku bahagia, dan terlebih.... Alih-alih dia menerima hukuman itu karena membunuh Yang Mulia Kaisar, bodohnya dia malah dihukum mati karena membunuh orang rendahan, Kasim tak berguna itu juga memang seharusnya mati, selama ini dia juga merupakan penghalang bagiku, maka... Untuk itulah aku sungguh bahagia dengan keadaan yang mungkin sudah kehendak Langit ini."


"Ya Yang Mulia, Hamba turut berbahagia mendengar kabar ini!"


"Dayang No, bawa aku ke penjara, meski bagaimanapun sebagai orang yang akan mengambil alih tahtanya sebagai Permaisuri, bukankah aku harus menunjukkan sikap baikku? Yaaa, sekalipun itu hanya sandiwara belaka! Hahahahaha!"


"Ya Yang Mulia!"


Selir Na Ra bersama Dayangnya kemudian bergegas menuju penjara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2