Permaisuri Oh

Permaisuri Oh
Bisnis haram.


__ADS_3

"Yang Mulia Permaisuri... Yang Mulia Permaisuri..."


"Ehe... Hei, ada apa? Mengapa kau terlihat begitu terburu-buru?" tanya seorang dayang yang tengah berjaga.


"Aku... Aku hanya ingin bertemu Yang Mulia Permaisuri, mohon bukakan pintu untukku, dia memanggilku jika apa yang diperintahkannya sudah selesai!" jelas seorang dayang, wajahnya tampak lelah, dia saja masih mengatur napas karena habis berlarian.


"Kau sesenang ini? Dan juga dari mana kau?"


Para dayang yang berjaga memandang heran, mereka bahkan tidak yakin ada orang yang menampilkan muka sebahagia itu saat ingin menemui Permaisuri Oh.


"Aku... Aku diperintahkan Yang Mulia Permaisuri untuk mengurus sesuatu di halaman belakang." dustanya, tentu saja dia harus menutupi apa yang terjadi.


"Hemmm, ya baiklah!"


Dayang itu masuk, dilihatnya Permaisuri Oh yang tengah menggambar sesuatu.


"Ah, dayang Ju, bagaimana?" tanya Rymi langsung saat menyadari kedatangan dayang yang disuruhnya untuk keluar istana.


"Yang Mulia Permaisuri! Mohon terimalah bakti hamba... Jika Yang Mulia menepati janji Yang Mulia untuk membagi hasil yang kita dapat, maka hamba berjanji akan mengabdikan diri pada Yang Mulia."


"Apa?" Rymi sok terkejut, padahal dirinya sudah mengira hal seperti ini tentu akan terjadi.


"Yang Mulia Permaisuri... Terimalah bakti hamba!" Dayang yang bernama dayang Ju itu membungkuk, hari ini keberuntungan sedang berpihak pada mereka, keempat nomor yang tadi dirinya pasang benar-benar menghasilkan. Nomor yang keluar benar sama persis, maka dia bisa membawa pulang satu kantong koin emas, berat sekali saat dia mengeluarkan kantong itu dari balik bajunya, isinya benar-benar sangat banyak.


"Aahhh... Apa maksudmu? Apa maksudmu kita menang? Nomornya keluar?"


Dayang Ju mengangguk, "Yang Mulia, kita bahkan bisa kaya mendadak!"


"Aahhh, benarkah?"


Rymi langsung mengambil satu kantong emas itu kemudian membaginya sama rata untuk dayang Ju.


"Ini bagianmu! Nanti kalau aku bermimpi lagi, maka bisakah kau menolongku lagi?"


Tentu saja dayang Ju akan mengangguk. Ini adalah kesempatan besar.

__ADS_1


"Permaisuri, apakah aku juga bisa memasangkan nomorku sendiri?" tanya Dayang Ju.


"Tentu saja, itu hakmu!" jawabnya.


Dayang Ju merasa sangat senang, besok dia berencana akan memasang satu lagi.


"Kalau begitu, Hamba pamit undur diri Yang Mulia!"


"Hemmm..." angguk Rymi.


...***...


"Ini!"


"Apa? Cepat sekali!"


"Aku kan hanya meminjamnya sebentar!"


"Apa yang kau lakukan dengan koin emas ini?"


"Hanya melakukan sesuatu untuk aku bisa bertahan hidup!" jawab Rymi santai, yah memang benar sih, dia memang menggunakan koin-koin emas itu hanya untuk bertahan hidup di negeri yang entah berantah ini.


"Kata-kata itu, sekarang kau lebih sering mengucapkannya, namun dengan sifat angkuhmu yang sekarang ku rasa hal itu memang diperlukan!" sindir Kaisar Jung.


"Aisshhh, kau ini, sudahlah... Bukankah seharusnya seorang suami memberikan harta yang sangat sedikit ini untuk istrinya, tapi aku... Malah meminjam dari suamiku!" Rymi mencibir, menampilkan wajah kesalnya.


"Tragis sekali, Permaisuri ini hidup di istana dan menjadi wanita nomor satu di negerinya, namun kenyataan yang sebenarnya, dia bahkan tidak lebih dari wanita miskin!"


"Oh Dae, kau menginginkannya?"


Kaisar Jung tidak mengerti, dulu Permaisuri Oh adalah orang yang pasrah, tidak pernah meminta lebih kecuali kasih sayang yang memang tidak pernah didapatkan. Namun, agaknya terlalu berlebihan jika seseorang berubah begitu banyak, sifat yang ditunjukkan bahkan sangat berbanding terbalik.


"Ya ya, sepertinya aku harus memberitahumu... Hei Jung di dunia modern bahkan dari ujung kuku pun semuanya serba uang, wanita akan mati lebih cepat jika dia tidak diberi uang, Aisshhh beruntung saja saat ini aku hidup di dunia kuno!" gerutu Rymi.


"Kuno? Kau berkata apa? Bagaimana bisa kau berkata bahwa kau hidup di dunia yang kuno, semenjak pemerintahanku bahkan dunia sudah menjadi lebih modern!" Protes Kaisar Jung, dia tidak terima Rymi berkata begitu tentang kehidupannya. Dia tersinggung.

__ADS_1


"Saat ini, coba kau pikir, bukankah begitu banyak orang biasa yang bisa mempelajari baca tulis sejak pemerintahanku!"


"Aku bahkan mampu mengatasi kekeringan selama tiga tahun terkahir, pusat medis juga berkembang pesat!" Kaisar Jung menjabarkan beberapa jasanya, baginya hidup kuno yang seperti apa, bahkan negeri mereka sungguh sudah sangat berkembang.


"Hemmm, ya ya... Seharusnya aku mengerti, karena saat ini nyatanya aku juga sedang berbicara dengan orang yang kuno!" gumam Rymi, sudahlah... Yang sebenarnya juga adalah, tidak akan ada yang mengerti arah pembicaraannya, karena dia Permaisuri Oh, bukannya Rymi Arash.


"Apa? Kau menyebutku apa? Kuno? Aisshh, Oh Dae kau semakin kurang ajar sepertinya!"


Rymi tersenyum smirk, sedang mencoba bersikap masa bodoh.


"Ah Jung, bagaimana mayat dayang itu? Bukankah kau seharusnya menghukum si pembunuh!" pancing Rymi untuk pembahasan mengenai dayang yang mati itu.


"Kau benar-benar berharap Selir Na Ra dihukum?" tanya balik Kaisar Jung.


"Itu terserahmu... Bagaimana jika Permaisuri ini yang melakukannya, apakah kau juga akan berpikir dahulu sebelum memutuskan akan menghukumnya atau tidak seperti ini?"


"Aisshh, aku ini bicara apa, tentu saja hal itu sungguh tidak mungkin, kau pastinya tidak akan ragu untuk menghakiminya, membunuh Permaisuri ini sekali lagi, itu adalah hal yang pasti sangat ingin kau lakukan bukan?" lanjut Rymi.


"Apa aku berkata benar Jung? Bahwa hidupnya tidak seistimewa Selir Na Ra!" sindir Rymi.


Kaisar Jung terperangah, bukannya dia merasa bersalah atau memikirkan Selir Na Ra, gilanya yang ada dipikirannya saat ini malah tentang Permaisuri Oh, Kaisar Jung menganggap Permaisuri Oh lagi-lagi mengungkapkan keluh kesahnya. Sebagai seorang istri dan Permaisuri yang butuh perhatian, baginya menggemaskan sekali saat Permaisuri Oh sedang mengungkapkan kemarahan, perasaan semacam apa ini?


"Kau sedang kesal? Beristirahatlah!" Kaisar Jung menarik diri, dia berencana meninggalkan Permaisuri Oh, sungguh jantungnya mulai sulit dikondisikan saat melihat tatapan tajam Permaisuri Oh, mengapa dia tidak menyadari kalau sebenarnya Permaisurinya itu begitu menarik.


"Aaiishhh, sekarang dia mulai menjadi suami yang tidak pengertian!" gerutu Rymi, bertambah kesal pulalah dia.


"Oh Dae! Aku mendengarmu! Kau beristirahatlah..." pinta Kaisar Jung, secara tidak langsung menyuruh Permaisuri Oh untuk pergi dari kediamannya.


"Ya ya, memangnya siapa juga yang mau berlama-lama di sini!" angkas Rymi.


Mending aku menyiapkan rencana untuk besok, pastinya akan banyak sekali orang yang berdatangan, Dayang itu tentu akan melakukan tugasnya dengan baik, perihal uang... Siapa yang tidak menyukainya!


Rymi pergi dari kediaman Kaisar Jung, dia akan memantau keadaan di sekitar Istana, apa bisnis haramnya berjalan dengan lancar?


"Hoho, lihatlah orang-orang yang sangat antusias itu, ya ya aku akan sabar menunggu kedatangannya..." gumamnya saat melihat sekelompok dayang sedang berbincang serius, pendengaran tajamnya juga mengetahui apa yang sedang para dayang itu bicarakan. Kedai teh itu sepertinya akan segera viral dan memiliki banyak pengunjung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2