
"Crasshhh!"
"Ting, Ting"
"Tak, Bugh... Bammmm!"
Mata Rymi berkilat, dia baru saja pulang dari pengundian lotre slot malam, namun langkah kakinya dicegat oleh seseorang dan berlanjut dengan berkelahi.
Pemuda itu menyerangnya dengan giat, berapa kali pedang tajam itu mengarah padanya, namun beruntung saja Rymi benar-benar ahli dalam bertarung.
"Siapa Kau?" tanya pemuda itu.
Di serang di lingkungan istana, tentunya orang ini buka lah orang sembarangan.
Bukankah dia...
Rymi seketika ingat, dia pernah melihat pemuda ini sebelumnya, mengikuti gerak-geriknya saat hendak keluar istana tadi, mungkinkah pemuda ini adalah seorang mata-mata Kaisar Jung. Yah mungkin saja begitu.
Dia tidak bisa menaruh kecurigaan pada orang lain, selain Kaisar Jung dan Selir Na Ra tidak begitu banyak orang yang akan urus tentang kehidupannya.
"Tidak penting siapa aku! Karena kita sudah bertarung, maka tidak ada pilihan lain selain menjadi lawan!" sahut Rymi. Dia mengeluarkan belati dari balik bajunya, kemudian pertarungan sengit harus terjadi.
Harus Rymi akui, pemuda yang menjadi lawannya kali ini, memiliki tingkat ilmu bela diri yang mengagumkan. Mereka sudah cukup lama bertarung namun Rymi masih juga belum bisa mengalahkannya.
Hingga...
"Asshhhh!"
Pemuda itu berteriak keras, matanya sudah penuh dengan pasir, Rymi terpaksa melakukan itu, dia harus kabur, karena kalau tidak, kelihatannya tidak akan cukup jika saja harus mengalahkannya.
Apa lagi Rymi yang tidak terlalu bisa leluasa berkelahi, dia harus melindungi cadar merahnya. Jangan sampai ada yang mengetahui kalau Permaisuri Oh dan Tuan Arash adalah orang yang sama.
"Hosh hosh hosh!" napasnya begitu berat karena terpaksa berlari cepat. Rymi memegangi jantungnya yang masih berdetak kencang. Bukan karena jatuh cinta, ini murni karena saking letihnya.
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang tak kalah cepat pula, Rymi mengambil bajunya, mengganti pakaian menjadi setelan Permaisuri Oh saat tidur, menyembunyikan dan menyimpan rapi pakaian pria yang digunakannya untuk menyamar. Semuanya ia lakukan dengan sangat cepat, dia sudah ahli dalam melakukan hal seperti ini, karena dunianya memang mengharuskan dia untuk bertindak cepat dan waspada.
Merias sedikit wajahnya sebelum tidur, dia harus kelihatan seperti orang yang benar-benar mengantuk, karena bukan tidak mungkin Kaisar Jung akan datang untuk memastikan sesuatu setelah ini.
Dan benar saja,
"Brakkk!" pintu kamarnya dibanting keras. Rymi sudah berakting tidur saat terdengar langkah kaki mulai memasuki kamar.
"Periksa! Periksa setiap sudut ruangan, jangan sampai ada yang terlewat, pastikan pria itu tidak bisa melarikan diri!" suara itu, bukan suara Kaisar Jung, Rymi terlalu peka akan suara, jadi suara siapapun yang pernah berbicara padanya, akan dengan mudah untuk dirinya ingat.
Suara itu, suara orang yang menyerangku tadi...
Rymi mulai berakting lagi, menjadi seseorang yang tidak mengetahui apapun dan cukup kaget melihat sesuatu yang telah terjadi di kamarnya.
"Tunggu! Hei, bukannya kurang sopan ya kalau kau masuk kamar orang tanpa izin? Aku ada di sini lho, apa orang segede aku ini benar-benar tidak bisa kau perhitungkan?" tanya Rymi. Dia sok kaget dan shock.
"Di mana pria itu?" tanya orang itu marah. Sebenarnya dia ini siapa sih? Rymi cukup heran. Agen rahasia? Wah, di mana-mana penjahat memang selalu berurusan dengan orang semacam itu, tidak apa aku sudah biasa, batin Rymi.
"Pria yang masuk ke kamar Yang Mulia tadi?" jawab pemuda itu.
"Aaahhhh!" Rymi berteriak kaget, mungkin orang akan mengira teriakannya itu karena terkejut mendapati kabar ada seorang pria yang masuk ke kamarnya, namun lain halnya Rymi, sungguh dalam hatinya benar-benar tidak menyangka, apa itu artinya pemuda ini melihatnya masuk kamar tadi? Apa dia sedang dicurigai saat ini?
"Ada seorang pria masuk ke kamarku? Begitu?"
Pemuda itu mengangguk membenarkan.
"Whoaaa, apa kalian tidak berjaga? Tidur? Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?" gerutu Rymi, sok kesal.
"Yang Mulia, hamba benar-benar meminta maaf, tapi Hamba harus segera menemukan pria itu!"
Rymi mengangguk, "Tadinya aku ingin marah, tapi...mendengar kau mengatakan itu, yah... Kau carilah sampai dapat! Gila saja rasanya jika penyusup seperti itu malah bisa-bisanya bersembunyi di kamarku?"
Cari... Cari saja sampai dapat, aku akan memujamu kalau kau bisa menemukannya.
__ADS_1
Pemuda itu mengangguk, memerintahkan prajurit untuk lebih fokus mencari.
Namun tak lama,
"Oh Dae!"
Rymi menoleh, satu masalah belum selesai malah masalah lain datang lagi. Kaisar Jung menatap panik ke arahnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kaisar Jung khawatir.
"Hemmm!" dingin Rymi.
"Oh Dae, aku mendengar ada penyusup masuk ke kamarmu? Apa kau benar-benar tidak apa?"
"Aku tidur, terbangun saat pintu kamar dibanting keras. Baru mengetahui kalau ada penyusup masuk ke kamarku!" dustanya semakin menjiwai.
"Asshhh syukurlah!" Kaisar Jung memeluk Permaisuri Oh tanpa ragu, Rymi bahkan belum siap. Namun, untuk menjaga citra seorang Kaisar, baiklah akan Rymi usahakan untuk tidak menolak. "Syukurlah kau tidak apa-apa! Kau tau, aku takut sekali kalau pemuda itu mencelakaimu!"
"Ahhhh... Yuan!"
"Ya Yang Mulia!" jawab pemuda bernama Yuan itu, membuat Rymi juga mengetahui kalau nama pria yang menyerangnya tadi adalah Yuan.
"Cari sampai dapat, dan bawa penyusup itu hidup-hidup ke hadapanku!" titah Kaisar Jung. Sungguh Rymi susah sekali menahan tawa karena mendengar drama kesalahpahaman di hadapannya ini. Tidak tau saja mereka kalah seorang pria yang sedang mereka cari bahkan sedang berada di antara mereka. Bertingkah sok polos tanpa dosa.
"Oh Dae, kau bisa tidur di kamarku untuk beristirahat, kau tampak mengantuk, kau pasti lelah seharian ini!". pinta Kaisar Jung.
Lelah? Yah, kuakui aku cukup lelah karena harus kabur tadi.
"Tidak apa! Aku akan menunggu di sini saja!" jawab Rymi, tidur di kamar Jung sialan itu, ogah saja!
"Oh Dae? Apa kau baru saja menolakku? lagi?"
Bersambung...
__ADS_1