
"Brakkkk!" pintu dibanting keras, tatapan tajam bak ingin menguliti terpancar dari iris hitam Selir Na Ra.
"OH DAEEE..."
Rymi mendongak, dia memang sudah menunggu kedatangan Selir Na Ra, menunggu rivalnya itu menunjukkan sifat aslinya.
"Kau datang? Bagaimana rasanya? Hahahaha!" Rymi sungguh puas, melihat wajah marah namun juga tertekan Selir Na Ra.
"Apa yang kau lakukan? Kau... Kau yang membunuhnya!" pekik Selir Na Ra, banyak para dayang di luar yang pastinya akan mendengar teriakannya. Dia akan menggunakan itu, Permaisuri Oh tentunya belum bisa mengambil hati banyak orang di istana ini, jadi tentu saja pastinya semua orang akan mendukungnya. Selir Na Ra sungguh percaya diri untuk aksinya kali ini.
"Aku? Membunuh siapa? Bukankah kau tau, aku adakah wanita yang lemah, mana mungkin bisa membunuh?" sangkal Rymi, namun wajahnya syarat akan kepuasan, membuat Selir Na Ra semakin yakin dayang yang juga adalah suruhannya itu telah mati di tangan Permaisuri Oh.
Namun dia juga masih meragu dan sedikit membenarkan akan apa yang Permaisuri Oh katakan baru saja, bagaimana orang selemah Oh Dae bisa membunuh orang.
"Tatapanmu waktu itu... Pasti memiliki maksud lain, malam di mana kau juga berada di sana, melihat mayat dayang itu tergantung, aku yakin... Kau dalang dibalik semua yang terjadi!"
Meski begitu, Selir Na Ra mencoba yakin. Bagaimanapun tidak ada tertuduh yang lebih meyakinkan dari pada Permaisuri Oh. Apa lagi melihat tatapan Permaisuri Oh malam itu, seperti begitu puas dan meremehkannya.
"Whooaaa... Selir Na Ra, aku tidak memiliki dendam terhadap seorang dayang, di Istana ini... Jikapun ada orang yang harus ku bunuh, maka orang itu mungkin adalah dirimu... Sungguh bukankah kau yang paling mengetahui, bagaimana kiranya aku begitu membencimu!" sahut Rymi santai, dia berjalan semakin mendekat, sudut bibirnya terangkat, tangannya mulai terulur memegang pundak Selir Na Ra, "Sudah kukatakan, kau harus lebih berhati-hati... Aku yang lemah ini, bisa saja membahayakanmu!" bisiknya penuh penekanan tepat di telinga Selir Na Ra.
"Lancang!"
Plakkk!
Sekali lagi, tamparan itu kalah cepat dilayangkan Selir Na Ra, sebelum bisa menampar Permaisuri Oh, Rymi sudah lebih dulu mengayunkan tangannya dan mendarat di wajah putih Selir Na Ra.
"Sekali lagi, aku harus memperingatkanmu untuk menjaga batasan, bukankah kau tau... Siapa aku dan siapa dirimu!"
"Kau..." Selir Na Ra memberang, dia ingin mengayunkan tangannya lagi membalas tamparan Permaisuri Oh, namun segera Rymi menahan tangan Selir Na Ra dan memelintirnya kuat.
"Asshhh... Lepas!" ringis Selir Na Ra kesakitan.
__ADS_1
"Aku dengar... Ketua Penyelidikan menemukan sebuah kertas yang berisikan konspirasi antara kau dan salah satu Menteri Negeri ini, Dayang itu menelannya namun sayang sekali kertas itu harus tersumbat di kerongkongannya. Selir Na Ra, entah apa yang kau lakukan terhadap dayang itu sebelum dia menemui kematiannya? Tapi, sebagai seorang Permaisuri Negeri ini, aku hanya bisa memberikanmu nasihat, jangan terlalu kejam, sepertinya kau senang sekali membunuh orang yang tidak bersalah!" ujar Rymi, dia menatap Selir Na Ra mengiba, namun dalam hatinya sungguh siapa yang tau dirinya begitu puas.
Dia juga berbicara lumayan keras, sehingga dayang-dayang yang berjaga di luar bisa mendengar informasi darinya ini dengan jelas.
Wajah Selir Na Ra pias, apa yang baru saja dirinya dengar ini? Kaisar Jung sama sekali tidak memberitahukan padanya tentang ini, apa Permaisuri Oh bercanda? Hanya menakut-nakutinya.
"Lancang! Itu tidak benar, beraninya kau berkata ketidakbenaran!"
"Sudah kuduga, kau tentu akan menyangkalnya, lebih baik.. Jika kau ingin mengetahui kebenarannya, kau bisa menemui suami tersayang kita berdua, tanyakan padanya, mengapa dia memilih menutupinya?"
Selir Na Ra terduduk lemas, niatnya ingin menjebak Permaisuri Oh untuk mengakui perbuatannya yang telah membunuh dayang suruhannya, namun apa yang terjadi kini, dia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakiti hatinya.
"Kau tidak apa Selir Na Ra? Sepertinya kau sedikit lelah, atau... Hatimu merasa sakit?"
Rymi mensejajarkan posisinya dengan Selir Na Ra, jarinya terulur mencengkram erat rahang wanita itu. Lagi-lagi dia membisikkan sesuatu yang lebih-lebih membuat Selir Na Ra tercengang.
"Aku memang membunuhnya, ternyata kau cukup pintar, mulai hari ini aku akan sangat menyukaimu... Mari kita berteman, supaya kau bisa lebih mengetahui apa saja yang akan kulakukan pada orang-orang di sekelilingmu!"
"Kau! Su..."
"Berhati-hatilah dengan wanita lemah ini!"
"Aaasshhh... Oh Dae kah akan mendapatkan balasannya!" teriak Selir Na Ra menggema setelah cengkraman itu terlepas. Namun bukannya takut, yang dilakukan Permaisuri Oh selanjutnya sungguh tidak pernah Selir Na Ra bayangkan.
"Aahhh, Selir Na Ra... Kau sungguh tidak bisa dinasehati sepertinya, aku berkata kau seharusnya bersikap baik pada wanita yang lemah, namun kau benar-benar seperti hilang kendali!" teriak Rymi keras.
"Siapapun di luar, mohon untuk membawa Selir Na Ra pergi, sepertinya dia begitu frustasi akan wajahku yang sudah sembuh!" Rymi mencakar wajahnya sendiri, menggoreskan beberapa luka supaya tampak lebih meyakinkan. "Astagah wajahku... Selir Na Ra, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?" pekik Rymi memulai debut aktingnya, dia terlihat begitu menjiwai perannya sebagai wanita lemah yang tersakiti.
"Oh Dae!" Selir Na Ra semakin gila, ia jadi benar-benar frustasi karena melihat kegilaan Permaisuri Oh, bagaimana bisa Permaisuri Oh memfitnahnya, bahkan hal itu dilakukan di hadapannya sendiri.
"Asshhh... Tolong!" pekik Rymi semakin kuat, ia mengacak rambutnya supaya lebih berantakan, dan menjatuhkan sendiri tubuhnya... "Brakkk!"
__ADS_1
"Yang Mulia Permaisuri!"
Bersamaan dengan itu, beberapa dayang datang menghampiri, melihat wajah tertekan dari keduanya, namun yang lebih terlihat teraniaya adalah Permaisuri Oh.
Karena sebagian orang yang sudah menghormati Permaisuri Oh, jadinya kali ini sudah ada yang menolong Rymi.
"Tidak! Dia hanya bersandiwara, aku tidak melakukan apapun padanya!" teriak Selir Na Ra, saat beberapa dayang menatapnya mencurigakan.
"Selir Na Ra, aku akan memaafkanmu jika kau segera pergi dari kediamanku!" Rymi membuang muka, dia meminta bantuan salah satu dayang untuk membawanya beristirahat di pembaringan.
"Oh Dae, kau..."
"Yang Mulia, apa yang Yang Mulia Selir lakukan?"
"Dayang No, dia hanya bersandiwara!"
"Dayang No, bawa Yang Mulia Selir Agung ke kediamannya, sebelum keadaan semakin memburuk!" ujar salah satu dayang senior yang juga telah berada di sana, dia segera datang karena mendengar keributan.
"Aisshhh.. Oh Dae, keluar kau!" pekik Selir Na Ra tak puas.
"Oh Dae!" teriaknya sudah seperti orang gila, yah Selir Na Ra bahkan memang hampir gila rasanya menghadapi Permaisuri Oh kali ini.
"Lihatlah, dia benar-benar bagai menanggalkan harga dirinya!"
"Apakah itu sifat aslinya? Bukankah di istana ini dia adalah wanita yang terkenal dengan keanggunannya?"
"Apa sekarang aku harus mempercayai Permaisuri Oh, melihat ini... Ini benar-benar tidak bisa dipercaya!"
Selir Na Ra mendengar kasak kusuk para dayang menceritakannya, semudah itu pemikiran orang lain tentangnya berubah? Bagaimana bisa? Apakah tadi dirinya benar-benar hilang kendali? Tidak mungkin!
Lutut Selir Na Ra seketika menjadi semakin lemas, dia serasa tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. "Dayang No, bawa aku cepat ke kediamanku!" ujarnya lirih.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia!"
Bersambung...