
"Ini gila!"
"Permaisuri jelek itu..."
Meski memikirkan banyak hal yang mungkin, namun Selir Na Ra tetap tidak bisa mengerti mengapa tiba-tiba saja Permaisuri Oh bisa berubah sedemikian rupa. Bukan hanya wajahnya, sifat dan juga tatapannya itu, Permaisuri saat ini bagaikan orang lain.
"Kau sedang memikirkanku?"
Selir Na Ra menoleh, melihat Permaisuri Oh yang sudah berada di hadapannya membuatnya semakin benci.
"Lancang, beraninya kau!" berangnya.
"Whoaaa, sikap macam apa ini? Apa kau tidak mendengar yang kukatakan tadi! Hei, Selir sialan, berhati-hatilah mulai saat ini!" Rymi mendekat, semakin mendekat hingga membuat lawan bicaranya sedikit gemetaran, "Heh, aku kira kau begitu jahat, tapi lihatlah, dengan orang yang pernah kau injak saja, kau takut begini!"
"Kau!"
Plaakkk!
Sebelum tangan Selir Na Ra mendarat di pipi Permaisuri Oh, Rymi malah sudah lebih dahulu menampar selir Na Ra.
"Kukatakan sekali lagi, kau harus lebih berhati-hati, aku yang lemah ini bisa saja mebahayakanmu!" ujarnya dengan sudut bibir tertarik.
Selir Na Ra tergugu, benarkah yang dialaminya tadi?
Permaisuri yang dulunya dicampakkan, yang dulunya selalu diinjak, mengapa bisa berubah menjadi menakutkan begitu, dan lagi... Benarkah dirinya takut saat Permaisuri Oh mendekatinya? Padahal dia bisa saja melawan, tapi mengapa tidak dia lakukan, tatapan itu.... Tatapan bagai hendak membunuh, seolah benar-benar memiliki dendam terhadapnya, dan tatapan itu sama sekali bukan tatapan seorang Permaisuri Oh Dae yang dirinya kenal.
"Aarrgggg!" teriak selir Na Ra marah.
"Panggilkan dayang itu, panggilkan cepat!" teriaknya menggema.
...***...
"Aku harus mencari tahunya sendiri, bagaimana bisa dia berubah begitu banyak, meski wajahnya... Aaahhh, aku tidak mungkin tertarik padanya!"
Kaisar Jung menghela napasnya dalam, hari sudah mulai malam dan langkahnya kini malah sudah membawanya berada di depan pintu kamar Permaisuri.
"Umumkan kehadiranku!" ujarnya memerintah.
"Yang Mulia Kaisar datang menemui Permaisuri..."
"Suruh Yang Mulia masuk!" terdengar sahutan dari dalam.
__ADS_1
Kaisar Jung masuk, dia melihat Permaisuri Oh sedang mengelola bahan kering yang biasanya digunakan untuk obat-obatan. Cukup heran, karena selama ini Permaisuri Oh tidak pernah melakukan hal demikian.
"Apa kau tidak akan menyapa Kaisar negeri ini?"
"Bukankah ini sudah hampir larut malam? Orang-orang seperti anda tentunya tidak harus melakukan pekerjaan di malam hari, begitupun juga denganku!" sahut Rymi enteng, matanya bahkan tidak menoleh pada Kaisar Jung, ia masih asik dengan kegiatannya.
"Kau..." Kaisar Jung ingin mengumpat, tapi dia tahan, kalau dia terus diliputi emosi maka yakin saja keluar dari ruangan ini tidak akan mendapatkan informasi apapun.
"Untuk apa kau melakukan itu?" tanya Kaisar Jung.
Rymi menghentikan kegiatannya, "Untuk membuat sesuatu yang berguna!" jawab Rymi, dia tidak ingin panjang lebar menjelaskan.
"Apa yang kau buat?"
"Racun!" jawab Rymi santai.
"Aaa... Apa?"
Rymi menyaksikan Kaisar Jung yang tergagap saat mendengarnya menyebutkan racun. Sungguh menarik, dari sini saja dia sudah bisa menarik kesimpulan.
"Eureka! Ternyata tidak sesulit yang kukira!"
"Siapa yang mengizinkanmu membuat racun di istana!" berang Kaisar Jung, dia benar-benar merasa kesal, tiba-tiba saja Permaisuri Oh membicarakan perihal racun.
"Kau..."
"Suamiku! Apa aku juga harus memperingatkanmu? Meskipun kau raja di istana ini, bukan berarti kau bisa semena-mena untuk memutuskan nyawa seseorang, apa lagi seseorang yang tidak bersalah sepertiku!"
"Tidak bersalah? Kau bahkan adalah sumber kesalahannya!"
"Itu adalah pemikiran orang bodoh!" tegas Rymi, aisshhh dia paling tidak bisa mentolerir drama romansa seperti ini, dia muak dengan kebucinan kecuali menyangkut Sam. Aahhh, nama itu, mengapa aku semakin merindukan botakku!"
"Pemikiran yang pendek!" gumam Rymi.
"Apa maumu?" tanya Kaisar Jung tiba-tiba. Sorot matanya tajam bagai hendak menguliti, namun sayangnya Rymi tidak peduli.
"Kau sudah berusaha menunjukkan usaha terbaikmu untuk membuangku, lalu bukankah aku harus memberikan sebuah apresiasi?"
"Apresi..."
"Aahhh, kau bahkan tidak tau kata segampang itu? Maksudku, penghargaan!"
__ADS_1
Kaisar Jung terdiam, kata-kata yang terlontar dari mulut permaisurinya ini benar-benar sangat aneh, dan juga syarat akan kecaman pedas.
"Bagaimanapun aku salut padamu, mempertahankan wanita jelek itu untuk tetap berada di sisimu, kau tau apa yang telah dilakukan selir kesayanganmu itu padaku?"
"Aahhh, atau jangan-jangan kau sudah tau dan membiarkannya!"
"Hahahahaha!"
Rymi tergelak keras, dia tidak terkejut karena menganggap dirinya juga tidak terlalu peduli seperti apa dulunya Kaisar Jung memperlakukan Permaisuri Oh.
"Oh Dae, kau benar-benar tidak takut padaku?"
"Takut? Aku sudah mencoba untuk takut padamu, tapi sayangnya tidak bisa, bahkan entah kenapa rasanya, menertawakan sikapmu padaku ini benar-benar membuatku senang!"
"Oh Dae..."
"Dalam arti kata lain, aku muak! Kau, memuakkan!"
Rymi sudah selesai menumbuk daun kering yang dijadikannya sebagai obat untuk jerawat, lalu dia mengambil air panas yang memang sudah tersedia di sebelahnya. Menyeduhnya kemudian memberikan satu gelas kecil pada Kaisar Jung.
"Minumlah?"
"Kau gila?"
"Bukankah begini cara kau membunuh istrimu?"
"Aaaahh, salah... Cara itu tidak berhasil kan!"
"Kau akan bertekuk lutut padaku, jangan berpura-pura dan berusaha untuk menjauhiku, kau pikir aku tidak mengetahui akal bulusmu itu? Selama ini, seluruh istana dan penduduk desa pun tau, siapa yang mengejar siapa?" ujar Kaisar Jung dengan geram, dia sungguh tidak percaya Permaisuri Oh akan berubah, mata yang dulu menatapnya penuh cinta kini seperti mata seseorang yang memiliki dendam, mata yang dulunya selalu mendamba kini hanya tersisa kebencian, perlakuan manis dalam setiap usaha Permaisuri Oh yang selalu diabaikannya, entah kemana hilang perginya sikap itu?
"Pfffttt!"
"Ya Kaisar sialan! Alangkah percaya dirinya kau ini... Seumur hidup aku bahkan hanya mencintai satu orang saja, untuk apa mencintai orang yang tidak bermoral sepertimu, hanya bermodalkan tampang f*ckboy seperti ini, apanya yang bisa diambil?" Rymi menggeram dengan sangat, berani sekali Kaisar sialan itu masih menganggap dia tertarik padanya.
Aku hanya mencintai Samudraku, kau tau! Aisshhh berapa lama lagi aku akan tersesat di sini?
"Haaahh..."
Ya Tuhan, Dewa, ataupun Langit yang kemarin berbicara, bukankah kau tau namaku adalah Rymi Arash, aku ini seorang penjahat, aku tidak berpengalaman dalam melakukan kebaikan, kau bisa lihat, pekerjaan ini sangat tidak cocok untukku!
Sementara Kaisar Jung, Dia dibuat kebingungan lagi olah gaya bahasa Permaisuri Oh yang dianggapnya sering berbicara aneh. Hari ini saja sudah begitu banyak kosa kata yang tidak bisa dimengerti olehnya. Kosa kata baru yang sama sekali tidak akrab ditelinganya.
__ADS_1
F*ckboy? Dia sedang bicara apa?
Bersambung...