
“Mas, kamu tidak bisa begitu dong? Gimana bisa kamu menjadikan aku sebagai umpan kamu agar kamu bisa ketemu sama mantan kamu?!! Keterlaluan kamu mas!!!!” Amuk Radina saat tiba di rumah dan mendapati Tyo sedang tidur lelap.
Bukan main kelakuan Tyo yang menjadikan Radina sebagai tameng agar bisa bertemu dengan Ayu bahkan di tinggalkan sendiri setelah insiden tadi di restoran dan setelah sampai di rumah ia bahkan mendapati Tyo yang tengah tidur pulas tanpa dosa sekalipun.
“Masss..... “ Teriak Radina sambil menggoncangkan bahu Tyo dengan keras. Sakit hati dengan perlakuan Tyo bahkan Kata-kata Ayu tadi yang masih terngiang-ngiang di telinganya seakan menambah stress namun tetap dengan keras kepala ingin bertahan dengan Tyo
“apa sih? Ganggu orang tidur saja” ucap Tyo dengan nada sinis tidak suka di bangunkan apa lagi di teriaki. Jika saja yang membangunkannya Ayu bahkan jika Ayu memukulnya dengan balok saat membangunkannya Tyo pasti tetap akan tersenyum tanpa marah-marah atau merasa terganggu bila di bangunkan, tapi berbeda dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang.
“kamu dengerin aku dulu mas. Kenapa kamu jadi berubah? Di mana mas Tyo yang dulu? Aku capek mas... Aku capek tiap hari kamu cuekin aku, aku lagi hamil mas.. Sakit hati aku di perlakukan begini” ungkap Radina di sela tangisannya.
“Radina, bukannya dari dulu aku memang seperti ini? Bukankah sikapku ini lah yang membuat kamu semakin gencar menginginkanku? Terus sekarang kamu mau menuntut agar aku bagaimana lagi? “ tanya Tyo yang lelah dengan Radina
“Mas, apa sedikitpun tidak ada aku di hati kamu mas? “
“Aku tidak tahu. Sudahlah, lebih baik aku tidur di ruang kerjaku saja. Aku capek pengen istirahat bukan dengerin kamu merengek kayak anak kecil” ucap Tyo lalu berdiri hendak meninggalkan kamar
“mas... Mas Tyo’ panggil Radina namun tidak di indahkan Tyo
“Apa aku tadi kelewatan sama Radina ya? Kok nggak enak banget ingat kejadian yang tadi ya... “ tanya Ayu pada dirinya sendiri.
Sejak pulang dari restoran hingga tiba di apartemen ia memang hanya diam saja begitupun dengan Bayu yang mengantarkan Ayu pulang tadi. Ingin sebenarnya Bayu mengajak Ayu untuk ngobrol atau sekedar menghibur namun urung ia lakukan sebab melihat Ayu yang hanya diam dengan wajah ditekuk entah apa yang di pikirkan Ayu tadi hingga Bayu pun ikut bungkam bahkan saat Ayu turun ia hanya bilang jika tidak ingin di antarkan sampai depan pintu apartemennya.
“Ayu, kenapa juga kamu harus pikirkan orang yang sudah membuat rumah tangga kamu hancur? Yang sudah merebut mas Tyo dari kamu? Yang sudah membuat luka hati? “ lagi Ayu bermonolog
“Tapi dia kan lagi hamil.. Kasihan juga dengan Radina, kok kelihatannya banyak beban banget itu perempuan ya? Bukannya harusnya dia sama mas Tyo bahagia ya? Ahhhh.... Bodoh amat sih kamu Ayu... Isi pikiran kamu yang coba positive thinking inilah yang bikin mas Tyo kibulin kamu huh... “ sambil memukul pelan kepalanya sendiri.
__ADS_1
Entah terlalu baik, polos atau bodoh sehingga orang-orang yang seharusnya ia benci malah ia kasihani meskipun masih ada rasa kecewa dan amarah namun apakah kata-kata yang ia lontarkan terhadap pasangan tadi sudah keterlaluan atau tidak entahlah yang pasti ia terlalu lelah memikirkannya hingga tertidur.
Dddrrrtttt ddrrtttt drrrttttt
“Halo... “ sapa Ayu
“Halo, maaf tengah malam ganggu kamu. Udah tidur ya? “ tanya Bayu dari sebrang sana. Karena khawatir dengan Ayu akhirnya ia memberanikan diri menelpon Ayu tengah malam tentunya setelah ia menyelesaikan pekerjaannya memeriksa laporan kantor yang menumpuk di ruang kerja yang tadi ia bawa pulang dari kantor. Jangan di kira Bayu hanya bos yang kerjaannya di kantor padahal jika di rumah ia sering begadang memeriksa berkas-berkas perusahaan, meninjau kembali laporan keuangan perusahaan dan bahkan menyusun strategi untuk tender dan menganalisis bursa saham
“Iya sudah dari tadi. Nggak dengar ya suaraku serakserak gimana gitu? “ kata Ayu yang kesadarannya baru terkumpul
“Iya aku tahu. Emm, kamu nggak apa-apa kan soal yang tadi? Maaf kalo aku tanyain masalah itu”
“nggak apa-apa kok. Kenapa? “
“oh ya sudah tidurnya di lanjutkan saja. Besok pagi aku jemput kamu. Kita ke kantor bareng. Slamat malam”
“iya... Malam” telepon di matikan dan Ayu pun melanjutkan tidur
“mana pacar kamu? “
“Kapan kamu punya pacar? “
“ Sampai kapan jomblo terus? “
“Kapan kamu nikah? “
“Kamu gay ya? “
__ADS_1
Pertanyaan-pertanyaan mama yang macam begitu sudah jadi makanan harian Bayu sebelum mengenal Ayu jadi ia sudah terbiasa namun pagi ini di meja makan seperti biasa ada papa Ryan dan mama juga Bayu yang sementara sarapan tiba-tina di tanya mama perihal hubungannya dengan ayu
“Bayu, kamukan udah kenal cukup lama sama Ayu, terus Ayu kan udah cerai sama mantan suaminya terus kamu kapan ajak dia ke rumah? Kenalin secara resmi kek begitu... “ sindir mama namun yang di tanya hanya diam tidak menggubris. Bayu tahu jika ia menjawab pasti mamanya yang kepo tingkat langit itu bakalan menginterogasinya seharian dan yang pastinya mama nggak akan ijinin Bayu ke kantor sebelum interogasi nya selesai dan yang jadi gantinya ke kantor pasti papa Ryan wkwkkwkwk
“kok nggak di jawab sih? Gini aja deh pertanyaannya. Mmmm, mama dengar Ayu sekarang kerja di kantor kamu ya? Nah kamu pasti sering antar jemput Ayu kan? Pasti kamu sering mampir ke apartemen Ayu kan? Kamu ngapain aja sama Ayu? “ tanya mama lebih dalam lagi dengan mata menyipit
Memang ya ibu-ibu sekarang informasinya sangat akuran, tajam dan terpercaya bahkan pertanyaannya kayaknya masih ada lagi nih yang lebih jauh
“Apaan sih ganggu Bayu lagi sarapan aja” kata Bayu sambil menggigit roti tawar yang di olesi selain nanas kesukaannya
“Kamu kalo di apartemen ayu ngapain aja Bayu? Umur kamu kan udah matang, sedang Ayu kan berpengalaman. Kalian sudah sama-sama dewasa, pasti sudah melakukan hubungan dewasa yah? Hahahaha ternyata anak mama terbukti bukan penyuka sesama jenis hehehe” tanya mama sambil heboh sendiri dan tertawa kencang hingga membuat Bayu yang mendengar pertanyaan mama seketika menyemburkan air putih yang baru di teguknya
“Ma, mama malu-maluin aja. Udah ah Bayu berangkat kerja. Lama-lama Bayu tinggal di sini bisa ikutan sableng kayak mama. Nanti ya kalo Bayu nikah sama Ayu, ogah Bayu ngajak Ayu tinggal di sini. Nanti Ayu di ajarin yang nggak bener sama mama nanti” kata Bayu kemudian beranjak dari ruang makan. Ia lebih memilih cepat-cepat melarikan diri dari kelakuan mamanya sedang papa Ryan hanya tertawa melihat tingkah anak dan istrinya.
Lima belas menit berkendara untuk tiba di depan apartemen Ayu dan tidak menunggu waktu lama karena begitu Bayu sampai di depan apartemen Ayu sudah menunggu
“Lama menunggu ya? “ tanya Bayu yang kemudian melajukan mobil ke jalan raya setelah Ayu duduk dalam mobil
“Pagi pak... Baru kok nggak nunggu lama” jawab Ayu dan kemudian mereka sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa ada pembicaraan lainnya hingga tidak terasa hmpir sampai di kantor Bayu
“Pak Bayu, bisa saya turun di depan saja? Saya nggak enak di liatin teman-teman karyawan kalo harus turun depan kantor” Kata Ayu.
“ya sudah, turun di sini saja ya” Bayu pun menghentikan mobilnya tidak jauh dari kantornya. Sebenarnya ia tidak ambil pusing jika ia menurunkan Ayu di depan kantor tetapi ia mengerti dengan apa yang di pikirkan karyawan-karyawannya jika salah satu karyawan nya bisa barengan dengannya ke kantor pasti akan ada gosip di perusahaannya dan ia tidak mau sampi Ayu merasa risih dengan gosip tersebut apa lagi jika sampai Ayu meminta resign.
“iya Pak. Terima kasih tumpangannya” Ayu oun segera keluar dari mobil dan berjalan kaki.
__ADS_1
__________
part ini aku rubah karena banyak yang komplain dengan bab sebelumnya