
Noland berjalan di lorong menuju ruang makan, dirinya pergi kesana hanya untuk memesan secangkir kopi dan camilan agar diantar ke kamarnya, sebenarnya sih jika benar-benar ingin, pria paruh baya itu tinggal menyalakan bel pemanggil saja agar para maid yang datang ke tempat dan Noland sendiri tinggal bilang apa yang ia mau, mungkin semenit kemudian akan ada yang datang lagi ke kamarnya untuk mengantarkan apa yang ia minta.
Sambil berjalan santai, Noland sampai di tempat yang dituju, namun pria itu dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang terlihat sedang makan lahap dengan boneka besar duduk di kursi sebelahnya, dan seperti yang di duga orang itu adalah Una. Nampak sekilas, gadis kecil itu hanya sekedar makan sesuatu, mungkin berupa sup karena disajikan dengan mangkuk, terlebih Una nampak dengan asik menyendok dan menyeruput kuah itu.
“ Una, sayang... kamu lagi makan nak? “ Panggil Noland di samping Una.
“ Hm?, Opa... iya, Una lagi makan ini nih... rasanya enaaaaak banget, Opa mau? “ Ucap gadis itu sambil menyodorkan mangkuk sup nya.
Sejenak Noland melihat apa yang ada di dalam mangkuk Una, namun setelahnya ia terkejut dengan warna merah yang cerah itu, padahal mencium sedikit baunya saja sudah membuat hidung tersengat dan mata menjadi sakit, apalagi yang akan terjadi kalau Noland sendiri yang memakannya?.
“ Sayang... kamu gak boleh makan makanan pedes, itu gak baik buat lambung, kalau orang dengan penyakit maag makan ini, asam lambung mereka pasti langsung naik “. Ucap Noland menasehati.
“ Yah... padahal ini enak lho Opa, Una masih mau makan, tinggal dikit lagi kan sayang kalau dibuang... kata bang kekey buang makanan itu gak boleh, mubajir... “ Ucap Una.
Kakek dari gadis itu hanya tersenyum canggung, dirinya tidak bisa membantah perkataan itu dan pada akhirnya Una memakan semua sup sampai habis. Noland memperbolehkannya, meskipun takut terjadi apa-apa pada gadisnya, namun melihat ketahanan Una pada rasa pedas itu bukan main, dirinya mungkin akan memperbolehkan anak itu makan pedas sesekali.
Sejak kecil, Raimuna dengan panggilan akrab Una sangat sekali makan makanan pedas, baik itu camilan maupun makanan berat, ini berawalan sekitar gadis itu berusia 6 tahun, dirinya yang bosan mencoba masuk ke dapur dan menemukan camilan yang disiapkan untuk ayahnya tempo hari, karena pas dicoba rasanya tidak cukup kuat, Una kecil mencari beberapa bahan bumbu untuk memperkuat rasa camilan tersebut, alhasil gadis itu menemukan bumbu cabai dan menaburkannya ke piring, meskipun awalannya pedas, namun ternyata Una menyukainya, bahkan terus menambah bubuk cabai sampai tidak tersisa di wadahnya.
Pernah suatu hari, ketika Una sedang gila-gilanya pada makanan pedas, wanita itu pernah meminta bantuan pada teman SMP nya untuk membelikan makanan serupa, tapi kali ini adalah makanan terpedas di dunia, alhasil kelakuan Una diketahui oleh Reza saat tengah mengonsumsi makanan itu, bahkan sudah tinggal sedikit yang ada piring. Hal itu membuat keluarga Elrahma gempar, mereka membawa putri bungsu itu ke rumah sakit karena takut terjadi apa-apa padanya, namun setelah dokter memeriksa keadaan, katanya kondisi Una stabil-stabil saja.
Mengingat kejadian itu, Noland hanya tersenyum dan mengelus kepala Una, ketahanan lidah cucunya pada pedas bukan main-main, mungkin Noland sendiri tidak ingin membuat gadis itu kecanduan makanan pedas, tapi kalau sekedarnya masih aman, ia tidak masalah untuk mengijinkan Una sesekali.
“ Kamu boleh makan pedes sayang... tapi jangan berlebihan ok? “ Ucap Noland dengan lembut.
“ Iya Opa... Una makan ini untuk yang terakhir kali kok, soalnya bang Kekey bilang gak mau Una sakit, jadi abang nyuruh Una buat makan sekali ini aja “. Ucap Una dengan senyum imutnya.
“ Keyra? “
“ Iya, sebagai gantinya, Una juga nyuruh abang buat makan bareng... awalnya Bang Kekey nolak, saat itu Una sedih, tapi akhirnya kita makan bareng deh tadi “.
“ Eh? Una makan sama dia?, bukannya anak itu baru habis olahraga? “
“ Enggak kok, bang Kekey olahraganya udah selesai dari jam 8 “.
Noland mengerutkan dahi, perasaan pas bertemu dan bercakap dengan Keyra tadi, dirinya mendapati bahwa pemuda itu habis berolahraga karena banyaknya keringat yang mengucur ditubuhnya, namun apa yang Una sampaikan jelas menunjukan kalau pemuda itu sudah selesai olahraga lebih awal.
‘ Terus dia keringetan gitu abis ngapain? ‘ Batin Noland.
Tapi tidak terlalu dipikirkan, Noland memilih untuk duduk disamping Una serta mulai bermain dan sekedar bercerita setelah sekian lama, tidak ada salahnya kan menghabiskan waktu bersama cucu tercinta dulu sebelum dirinya sibuk, dan dari semua kegiatan refreshing yang Noland lakukan, kegiatan ini adalah favoritnya.
***
Beberapa saat sebelumnya, ketika Noland bertemu dengan Keyra, pemuda itu pergi setelah kakek tersebut menyuruhnya istirahat. Keyra berjalan pelan sampai depan kamarnya, namun dengan cepat dia masuk dan mengunci pintu kamar, tubuh Keyra merosot, dia terduduk lemas bahkan berdiri saja nampak sulit, perutnya sakit tidak tertahan, keringat yang mulanya sedikit kini mengucur keras, diikuti dengan wajahnya yang kian memucat, Keyra bangkit dan berlari terhuyung menuju nakas di sebelah ranjang tidurnya.
“ Sial!... kali ini lebih parah “. Gimamnya.
Mengobrak-abrik laci, Keyra menemukan sebotol obat berwarna hijau muda, dan setelah diperhatikan lagi, sepertinya itu adalah obat lambung. Tanpa menunggu lebih lama, Keyra membuka salah satunya dan langsung minum bersamaan dengan segelas air yang ada di atas meja, pemuda itu menunggu sejenak, sambil selonjoran dilantai dengan nakas tadi sebagai sandaran ia berharap bahwa asam lambungnya ini akan segera mereda.
Diketahui, Keyra ternyata mempunyai asam lambung yang parah sejak kecil, dirinya tidak terlalu suka makanan berminyak yang berpotensi membuat maag nya kambuh, dan kali ini apa penyebab asam lambungnya naik?, ternyata itu akibat Keyra makan bersama Una. Sesuai dugaan, sejak tadi dirinya mencoba melarang gadis itu untuk makan makanan pedas, namun melihat Una sedih membuat dia merasa iba dan memperbolehkannya dengan syarat hanya boleh makan ini untuk yang terakhir kali, hal itu disetujui oleh Una, namun gadis itu juga meminta syarat sebagai imbalannya.
Makan sup bersama adalah hal yang Una minta, awalnya Keyra menolak lembut dengan alasan tidak terlalu suka makanan pedas, namun dari situ Reza datang secara tiba-tiba dan memprovokasi Keyra, terlebih Una terlihat sedih kembali karena abangnya tidak mau makan bareng. Dengan terpaksa dan berberat hari, Keyra makan semangkuk sup yang super pedas itu, perutnya menjerit sakit bahkan saat sup belum habis, namun ia tidak ingin Una bersedih plus membuktikan pada Reza yang saat itu tersenyum sombong sebelum pergi.
Keyra menghela nafas, rasa sakit diperutnya mulai mereda seiring berjalannya waktu, ia bangkit dan duduk di ranjang masih dengan memegang perut bagian kiri. “ Huft... hah..., si Una kuat banget sih makan ke gituan?,... terus gara-gara si kampret Reza lagi maag gue jadi kambuh... dasar tuan muda gak ada akhlak “.
Sambil menggerutu, Keyra terus berusaha menahan rasa sakit yang tersisa, dirinya harus segera bersiap untuk siang nanti, Kabarnya anak pertama Noland akan datang ke mansion bersama istri dan putranya, sehingga Juan menyuruh Keyra untuk memakai pakaian formal memperkenalkan diri sebagai body guard pribadi Una.
“ Udahlah, daripada kesel mikirin kejadian tadi, mending gua siap-siap buat siang nanti... “.
Keyra beranjak dari duduknya, setelah merasa sudah baikan ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan, keringat yang ia keluarkan cukup banyak sampai membuat atasan baju basah dan badan menjadi lengket, terlebih entah kenapa tubuhnya menimbulkan harum yang bukan berasal dari keringat sendiri, mungkin ini efek karena Una terus melekat sampai-sampai bau badan gadis itu ikut menempel di tubuh Keyra, tapi pemuda itu tidak memusingkan hal tersebut, toh ketika ia mandi baunya juga akan menghilang jadi tidak masalah.
Pukul 12 siang
Semua anggota keluarga Elrahma sudah berkumpul di ruang tamu, termasuk Juan yang 1 jam lalu baru pulang dari dinasnya, dengan pembahasan ini dan itu disertai tawa yang mengiringi obrolan, semuanya duduk sambil sesekali makan camilan ditengah menunggu seseorang datang.
Dari perkumpulan itu, ternyata masih ada satu orang anggota keluarga yang belum turun, dan orang itu adalah Una berserta Keyra yang mungkin masih bersiap.
__ADS_1
“ Hm... Una kok belum turun sih?, dia lagi ngapain? “ Tanya Juan bertanya pada Razka.
“ Sebenernya dia udah beres, tapi katanya nunggu dijemput sama Keyra “. Jawab pemuda itu.
“ Yaelah... orang kayak gitu ngapain mesti di tunggu sih, udah lah... mending Eza aja yang jemput Una “.
Reza bangun dari duduknya, Ia sudah menahan sabar dari tadi karena Keyra, jika bukan karena pria itu, mungkin Una sudah sejak tadi datang dan kumpul bersama yang lain. Namun, belum selesai Reza menggerutu saat berjalan dari sofa, pintu lift terbuka dan menampilkan dua sosok orang didalamnya. Mereka keluar membuat orang-orang diam terpana, dan sesuai dugaan yang mana kedua orang itu adalah Una dan Keyra.
seperti biasanya, si gadis Una adalah wanita yang cantik dan mempesona, namun tidak biasa, Una saat ini adalah gadis yang tampil dengan luar biasa berbeda. Tidak lagi ada jepit rambut boneka, gelang bunga, maupun pita berwarna ping, penampilan gadis itu sudah layaknya seperti remaja dewasa yang elegan dan anggun. Pertama dari rambut, yang tadinya diikat kini disanggul rapi dengan membiarkan poni panjangnya terbagi di kedua sisi, selain itu pakaian yang Una gunakan adalah baju lengan pendek cream yang bawahnya dimasukan ke dalam rok coklat selutut, terlebih di lengan kiri Una kini melingkar sebuah jam tangan hitam kasual yang menambah kesan semua orang menjadi tertarik padanya.
Selesai dengan Una, kali ini giliran Keyra. Pemuda yang biasanya hanya memakai kaos lengan pendek dan jeans itu kini berpenampilan seperti orang yang berbeda, dengan memakai setelan jas hitam ala body guard, yang lebih menguntungkannya adalah kondisi badan Keyra yang bagus, sehingga pemuda itu nampak lebih cocok disebut tuan muda perusahaan dibandingkan dengan body guard.
Reza mematung, Juan dan Noland terdiam, sementara Devina dan Razka terkagum-kagum pada mereka berdua, kelimanya tahu bahwa kedua orang itu merupakan orang yang rupawan, namun ketika melihat penampilan mereka yang begitu menawan sehingga mungkin dapat mengundang banyak perhatian orang, semuanya di buat tak bisa berkata-kata saat itu.
“ Gimana semuanya? Una cantik gak? “ Tanyanya menampilkan senyum imutnya.
“ Wah... Una cantik banget!!! “ Reza dan Razka bicara secara bersama.
“ Haha... iya, gak kerasa ya Una kita ternyata udah besar “ Ujar Noland.
“ Anak siapa dulu dong yah... “ kali ini Devina dan Juan bicara bersamaan.
Semua orang memuji kecantikan dan penampilan Una, sudah sekian lama mereka tidak sesenang dan antusias begini, dan tidak mereka sadari, Keyra yang berada terpaut 1 meter dibelakang tersenyum puas. Sebenarnya, tata rambut, gaya pakaian dan aksesoris yang Una kenakan adalah hasil dari usahanya, mulanya sih Una tidak seanggun itu, namun karena jiwa seorang kaka yang ingin mendadani adiknya muncul, Keyra pun merenovasi cara berpakaian Una, dari dalam hati, dirinya merasa puas karena respon orang-orang sangatlah positif, tapi entah apa yang akan terjadi jika semuanya tahu kalau dibalik perubahan Una ada campur tangan Keyra di dalamnya, sungguh reaksi yang Keyra tunggu-tunggu.
‘ Gue jadi gak sabar, gimana ya reaksi mereka pas tau kalau Una itu gue yang ngerias?... hahaha... pasti bakalan pada cengo ‘ Batin Keyra.
Sementara yang lain terus menerus memberikan perhatian pada Una, Devina melirik keyra yang kini berada di belakang anak gadisnya, wanita itu melihat penampilan keyra dari atas sampai bawah, wajar saja jika pemuda itu akan terlihat gagak dan rupawan, selain faktor wajahnya yang mendukung, bentuk tubuh anak ini sangatlah bagus dimata Devina.
“ Hm... kamu juga sekarang tampil beda ya Key, Saya jadi terpana deh sama ketampanan kamu “ Pujia Devina meski hanya Keyra seorang yang memerhatikan.
“ Hehe... makasih nyonya, tapi kayaknya ini faktor dari bajunya deh, kalau biasanya kan saya gak ganteng-ganteng amat “ Ucap keyra tersenyum canggung.
“ Itu karena rambut depan kamu yang panjang, lain kali tolong potong ya... “
“ Itu... kayaknya saya harus mikir dua kali deh Nyonya “
Devina tersenyum, ia sudah menduga kalau Keyra akan merendah, sebenarnya jika dilihat omongan siapa yang paling benar, mungkin orang akan berpendapat bahwa ucapannya lah yang sesuai dengan kenyataan. Dilihat sekilas pun Keyra itu adalah orang yang tampan, tapi ada satu kebiasaan anak itu yang tidak terlalu Devina sukai, selain panjang, keyra memiliki poni yang dapat menutupi wajah bagian atasnya, ini mungkin hal yang sepele, namun menurut Devina kenapa tidak di potong saja poni itu, toh kegiatan itu cukup menguntungkan untuk menarik perhatian dan memperbaiki kesan.
“ Una... kenapa kamu gak dari dulu aja pake gaya kayak gini?, sebelumnya tata rias suka ngeluh karena kamu gak suka... kalau Papa tau dia bakalan dandanin kamu secantik ini, udah dari dulu papa bakalan naikin gaji dia deh “ Ucap Juan pada anak gadisnya.
Semua orang membenarkan ucapan Juan, namun tidak dengan Una yang nampak heran, sejak kapan tata rias mendandaninya secantik ini, sejauh itu hal yang Una tahu hanya abangnya lah yang selalu membuat dirinya tampil cantik.
“ Papa... Una gak di dandanin sama tata rias kok “.
“ Eh? Terus siapa dong selain dia? “
“ Tentu bang Kekey dong, abang hebat kan mah? “ Ucap Una dengan bangga.
“ HAAAAH?!!!!! “
Ruangan hening sejenak setelahnya, sementara Keyra yang dibelakang berusaha menahan tawa agar tidak terdengar. Semuanya terkejut, tak begitu percaya dengan apa yang mereka dengar, mereka memang tahu kalau Keyra akhir-akhir ini selalu menata rambut Una, namun jika sampai mengarahkan Una dalam berpakaian sehingga gadis itu muncul dengan menawan, keluarga ini tidak pernah menyangka hal tersebut.
“ KEYRA!!!! “
Reza yang pertama kali membuka suara, suaranya sangat keras sampai memekakkan telinga hingga semua orang terkejut dibuatnya, sementara itu kini Keyra mulai ancang-ancang untuk berlari karena takut Reza akan naik darah. Dan benar saja, sesaat kemudian Reza berlari dan mengejar Keyra yang kabur dari pemuda itu.
“ Keyra!, lo apain adek gue hah?!, cepet sini lo berenti!, gue gibeng juga nih... “. Ucap Reza sambil berlari.
“ Ogak banget gue nurutin ucapan lo, yang ada pasti malah babak belur digebugin “ Timpal Keyra.
Keduanya berlari mengelilingi arena sofa dan meja ruang tamu, ke kiri dan ke kanan, Keyra seakan mengajak Reza untuk main kejar-kejaran, dan kelakuan mereka ini sudah mirip sekali dengan kucing dan tikus yang saling mengejar.
“ Eza... kalian udah kaya Tom and Jerry tau gak, berenti-berenti... Opa pusing kalau gini liatnya, kamu juga Keyra... haduh... ampun deh “ Ucap Noland memijat keningnya.
“ Hm, Kak Eza kenapa ngejar bang Kekey kayak gitu?, apa mereka lagi main kejar-kejaran? “. Una bingung, Razka dan Devina tertawa sementara Juan dan Noland menghela nafas bersamaan, kedua pria dewasa itu cukup dibuat pusing oleh Keyra dan Reza, terlebih anak kedua Juan tidak mendengar omongan Noland saat diperintahkan untuk berhenti. Namun dari situ, secara tiba-tiba Keyra mendadak berhenti hingga membuat Reza yang mengejar menabrak dan terpental jatuh ke belakang.
__ADS_1
“ Aduh!... janc*k emang lu Keyra!, kalau mau berenti gak usah mendadak gitu ege! “. Bentak Reza yang bangun dari jatuhnya.
“ Kita bahas tentang ini entar aja, sekarang ada hal yang lebih penting... “.
Wajah Keyra menjadi datar, itu membuat Reza menegang dan memilih untuk menuruti perkataannya, dirinya bingung dengan perubahan ekspresi Keyra yang begitu cepat, ditambah apa yang membuat anak itu tiba-tiba mengubah ekspresinya?. Saat Keyra berbalik dan menuju ke belakang, Reza melihat ada beberapa orang yang dibimbing salah seorang maid masuk membawa koper, rasa antusiasnya naik, senyumnya menjadi lebar saat melihat sosok yang kini juga tersenyum balik padanya, dan masalahnya dengan Keyra tadi seolah hilang bagai ditiup angin kencang.
“ Hallo Everyone... I’m back, apa kalian semua rindu sama Alfa? “ Ucap salah seorang pemuda dari ketiga orang itu.
Seluruh anggota keluarga bangkit mendekat dan menyambut hangat ketiga orang yang di sebut, terutama Noland, pria paruh baya itu nampak senang dan memeluk pria dewasa diantara wanita dan pemuda tadi, sementara Devina, Reza dan Razka masing-masing bertukar sapa dengan wanita dan pemuda disebelahnya.
“ Ya ampun... dasar Erlang gak tau diri, baru inget pulang kamu ya? “ Ucap Noland menepuk-nepuk bahu pria itu.
“ Aku kan ngurus kerjaan disana Ayah... itu juga kan buat perusahaan kita “.
“ Tapi setidaknya... kamu dinas kesana udah kayak pindah rumah aja, berapa tahun kamu tinggal disana? Lama amat ngurus kerjaan kayak gitu juga “. Ucap Noland.
“ Hey... Juan, kamu liat reaksi Ayah?, padahal yang salah itu kan siapa? “
Juan hanya tersenyum canggung tak menjawab, ia bingung jika sudah menemukan Ayah dan kakaknya sedikit berseteru, pasti kedepannya bakalan panjang.
“ Oh iya... kamu gimana kabarnya kak Veri? “ Tanya Devina pada istri dari Erlang yang nama lengkapnya adalah Veriska.
“ Baik kok Dev... aku disana baik-baik aja... kecuali... kasus-kasus yang dibuat Alfa di sekolah “ Ucap wanita itu melirik anaknya yang kini melihat balik.
“ Hah... come on mom, aku kan udah pindah, masa harus dibahas lagi sih? “. Ucap Alfa mengeluh.
“ Hah?... kamu masih sering bikin kasus? Udah kelas tiga juga... bukannya tobat “ kali ini Razka yang berbicara.
“ Hehe...Enggak terlalu banyak kok kak Azka, Alfa kan cuma menikmati masa muda doang “. Jawabnya.
“ Yaelah... ngibul lu?, dari dulu gak pernah berubah emang, kayak gua dong “ Kali ini Reza yang membuka suara.
“ Diem!... lu juga sama pas kita sekelas dulu, suka bikin onar kan... haha... jadi inget pas itu deh “
“ Ets... itu kan dulu... gue yang sekarang beda lah, sudah jadi good student “.
Semuanya tertawa, beberapa dari mereka nyerocos menanyakan pertanyaan satu sama lain, namun tidak dengan Una, dirinya masih duduk diam di tempat sambil duduk memperhatikan interaksi keluarganya, hal itu mengundang perhatian Keyra, kenapa gadis itu tidak nimbrung?, apa sebelumya ia tidak akur dengan mereka?, dan dengan inisiatif yang tinggi, Keyra pun mendekati dan berbicara tepat disampingnya.
“ Una, lo gak ikut nyapa mereka? “ Tanya Keyra.
“ Em.... Una takut ketemu kak Alfa bang “ Ucap anak itu menunduk.
“ Oh... jadi si kak Alfa itu suka jailin lo, udah gak papa... kan ini hari pertama kalian ketemu, jadi dia juga gak bakalan langsung usil kok, toh sekarang ada gue yang jagain lo sebagai body guard “. Ucap Keyra.
“ Enggak bang, kak Alfa enggak pernah jailin Una... dia baik kok, tapi... “.
Una tidak melanjutkan ucapannya dan menghela nafas melihat ke arah pemuda yang disebut kini berjalan ke arahnya, sepertinya remaja yang bernama Alfa itu menyiapkan ancang-ancang untuk memeluk Una, dan betul saja, setelah Ia berlari dan berteriak tidak jelas, tangannya menangkap tubuh kecil Una.
“ Ya ampun Una sayang... how are you honey?, kamu sehat kan?, kamu rindu gak pas kakak gak ada?, atau kamu bosen karena kak Reza ngajak mainnya gak becus? “ Ucap Alfa mengajukan seribu pertanyaan.
Una tersenyum canggung, dirinya mungkin senang dengan pelukan hangat itu, namun mendengar ocehan Alfa yang tiada ujungnya, telinga Una serasa berdengung dibuatnya. “ Kak Alfa... udah dong, mulut kakak berisik tau, Una kan bingung mau ngomong apa... “ Ucap Una cemberut.
“ Yah... padahal abang kangen Una lho “.
“ Tapi tetep aja, jangan ngomong terlalu banyak, inget ya... “
Una memperingati Alfa untuk tidak berbicara banyak mulai ke depan, dan langsung disetujui oleh pemuda itu, selain Alfa, Veriska dan Erlang kini mulai menyapa dan memeluk si gadis Una, dilihat sekilas pun kedua orang itu juga sangat menyukai Una, mungkin Una ini adalah harta karung keluarga mereka, dan menurut sepenglihatan keyra, teryata Una ini merupakan cucu perempuan satu-satunya di keluarga Elrahma, jadi wajar sama gadis itu dianggap lebih berharga dari pada berlian.
Disaat semua orang berkumpul dan mengobrol, Keyra masih tetap di posisi dengan tangan yang dilipat ke belakang, hal ini iya lakukan supaya terlihat layaknya body guar, dirinya menyisir ruangan, sesekali memperhatikan satu-persatu anggota keluarganya, namun tatapannya berhenti di suatu tempat, yaitu pada Veriska, istri dari anak pertama keluarga ini.
Keyra menatap lurus wanita tersebut tanpa di sadari orang lain, wajahnya cantik meskipun sudah tak lagi muda, senyumnya ramah dan teduh dan membuat orang merasa nyaman ketika didekatnya, serta tutur kata lembut yang keluar dari mulut Veriska entah kenapa membuat Keyra mengingat sosok yang sangat ia rindukan.
Wanita itu terlihat seperti mendiang ibunya, meski dari fisik dan visual sangat jauh berbeda, namun mungkin sama-sama memancarkan aura keibuan, hati Keyra sakit menatap senyum teduh wanita itu, terlebih ada sedikit rasa rindu yang terselip di hati saat melihatnya, hingga sebelum disadari oleh yang lain, pemuda itu mengalihkan pandangan kebawah dengan wajar datar, meskipun tanpa ekspresi, sebenarnya perasaan Keyra saat ini sedang bercampur aduk, antara sedih, rindu, sesak, dan ada satu lagi perasaan yang belum bisa diprediksi dengan jelas, dan menurut tanda-tandanya... apakah ini adalah rasa iri?, melihat orang lain bahagia dengan keluarganya sementara ia tidak?, tapi entahlah, setelahnya Keyra tidak terlalu memikirkan hal itu.
‘ Ok, Keyra... semuanya sudah berlalu, ibu dan yang lain udah tenang di alam sana, sekarang tinggal fokus sama yang sekarang ‘ Batin Keyra.
__ADS_1
Bersambung.