Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
27# Meminta tanda tangan


__ADS_3

Saat ini, Keyra tengah memegang seuntai kertas putih berisikan tulisan yang mana didalamnya terdapat imbauan untuk ditanda tangani oleh walinya, dan sesuai dugaan, kertas itu adalah surat perijinannya untuk lompat kelas.


Setelah belajar bersama Una tadi, Keyra masih kepikiran dengan langkahnya yang satu ini, sebenarnya jika ia mau, bisa saja langsung membawa dan meminta tanda tangan pada Noland pada saat ini juga, masalahnya adalah apakah Noland akan memberikan tanda tangannya atau tidak?. Kenapa? alasannya cukup sederhana meskipun banyak orang yang tidak memikirkan hal tersebut, Noland itu merupakan orang besar mau dilihat dari manapun juga, dia adalah seorang CEO dari group El R yang tersohor sampai mendunia, terlebih satu langkah yang dia buat pasti akan sangat berpengaruh pada hal yang berhubungan.


Dari situ Keyra mempunyai asumsi perihal tanda tangan, jika ia secara gamblang meminta hal tersebut dengan santainya, bukan tidak mungkin Noland akan berpikir bahwa dirinya merencanakan sesuatu yang jahat, di keluarga ini posisinya sebagai orang luar sangatlah jelas dan mutlak, terlebih kedatangannya pun terjadi secara tiba-tiba. Kalau berpikir kesana, mungkin saja Noland beranggapan bahwa Keyra sedang berniat menyalin tanda tangannya untuk membuat surat pindah kuasa ataupun rencana jahat lain. Bisa-bisa kepalanya akan dipenggal saat itu juga.


“ Haduh... gue harus gimana ini? “. Gumam Keyra menghela nafas untuk kesekian kalinya.


Waktu terus berjalan, saat ini Keyra melihat jam dan menemukan sudah memasuki waktu solat isya, pada saat itu senyumnya mereka, mungkin setelah melakukan ibadah pikirannya akan jernih dan dapat memutuskan apa yang terbaik perihal surat perizinan ini, dan segera setelah itu dia bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. ‘ Ya Allah... berilah kemudahan pada hambamu yang lemah ini, semoga hamba dapat menemukan jalan yang terbaik untuk keluar dari masalah ‘ Batin Keyra.


~


“ Una sayang, kamu kenapa bengong mulu?, apa ada hal yang ngeganggu pikiran kamu? “.


“ Hah?, kenapa kak Eza? “.


Una bertanya kembali karena tida mendengarkan ucapan Reza, sementara untuk sang kakak kini memandang khawatir kearahnya, berbeda dengan Alfa yang saat ini menatap keduanya tanpa ekspresi, pemuda itu mungkin sepemikiran dengan Reza kalau Una si gadis bungsu mereka tengah memikirkan pria yang kamarnya berada di lantai dua.


“ Una Cantik, don’t be like that... kalau ada apa-apa bilang sama kita ya, coba cerita, mungkin aja kita bisa bantu “. Ucap Alfa berpindah posisi dari meja belajar Una menuju ranjang dan duduk di samping Una.


Gadis itu menunduk sejenak lalu mengangkat pandangan menatap Reza dan Alfa secara bergantian, dilihatnya raut wajah para kakak nampak khawatir, dan pada saat itu juga sesuatu terlintas dibenaknya secara tiba-tiba. ‘Kalau Una gak cerita kaya gini... kayaknya malah bikin kak Eza sama kak Alfa khawatir deh’. Batinnya


Gadis itu menghela nafas. “ Una lagi khawatir sama bang Kekey kak “. Ucapnya.


“ Khawatir kenapa? “. Tanya Reza.


“ Sejak tadi, kayaknya bang Kekey punya beban pikiran yang dipendam sendiri, soalnya pas belajar bareng Una liat fokus bang Kekey kayak pecah, pasti kak Alfa tau karena kakak juga ada disana kan? “.


“ Hm... bener juga Na, apa mungkin dia masih mikirin hal yang sama pas di mobil waktu itu? “ Tanya Alfa.


“ Mungkin... “.


“ Jadi maksud kalian Keyra bertingkah aneh? “.


Bukan Reza yang berbicara, melainkan seorang pemuda yang kini baru masuk ke kamar Una beberapa detik yang lalu, perawakan orang yang berbicara tadi cukup tinggi melebihi kedua kakak rese Una, dan sesuai tebakan dan dugaan, pemuda yang melangkah dengan mengenakan pakaian biasa ini adalah Razka, yaitu cucu pertama keluarga Elrahma sekaligus anak sulung dari Juan.


Reza, Alfa dan Una tersenyum lebar, bukan tanpa alasan, namun ketika ketiganya melihat sang kakak entah kenapa hati yang tadinya gundah terasa lebih ringa, sedikit informasi tambahan, selain rupawan dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan, Razka juga merupakan orang yang dapat diandalkan di setiap situasi, contohnya untuk sekarang ini.


**Me**ski terkenal hemat bicara dan terkesan dingin, sebenarnya Razka itu tipe individu yang menyayangi orang terdekatnya dengan tindakan, bahkan saat Reza maupun Una dan Alfa dalam masalah, pemuda itu selalu datang diwaktu yang tepat untuk membantu atau bahkan sekedar memberi saran ditengah kesibukannya yang padat.


“ Kak Azka, Una seneng deh kakak datang diwaktu yang tepat “. Ucap Una memeluk sang kakak sulung yang kini duduk disebelahnya mengantikan posisi Alfa.


“ Jadi... apa masalah yang kalian bahas tadi?, dan kenapa dia bisa bersikap aneh gitu? “. Tanya Razka.


“ Itu kak, Keyra mulai aneh semenjak kita pulang sekolah “.


Alfa menjelaskan dengan detail pada Razka dari mulai pertama Keyra bersikap aneh, meskipun jika sebenarnya tidak terlalu mengherankan, namun saat mendapat sikap Keyra yang tidak seperti biasanya membuat ketiga orang itu sedikit khawatir, pasalnya pemuda yang mereka obrolkan bisanya memiliki sifat yang ceria meski terkesan dewasa, namun hari ini tidak lagi menemukan Keyra yang seperti itu, mereka lebih seperti melihat sisi Keyra yang selalu nampak serius dan tidak mudah diajak becanda, cukup sulit dimengerti memang, namun inilah kenyataanya.


“ Oh... jadi gitu ceritanya? “. Tanya Razka dan dijawab anggukan oleh ketiga adiknya.


“ Hm... gini aja deh, urusan Keyra biar kakak yang beresin, sekarang kalian tidur dulu aja... “.


“ Yah... kak Azka “.


Reza, Alfa dan Una mengeluh secara bersamaan, dari semua perilaku Razka yang mereka sukai, hanya inilah yang selalu membuat mood mereka buruk, pemuda itu selalu menyuruh mereka tidur awal, padahal kan masih tidak masalah jika anak SMA tidur pada pukul 10 malam, terlebih sekarang kan baru juga pukul 8 lewat, Razka bahkan sudah menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing, itu pun dengan nada yang menekan pula.


‘ Kak Azka baik, tapi juga nyebelin ‘ Batin mereka bersamaan.


~


“ Haha... Ega, sayang, pacarku, cintaku, pokoknya kamu jangan ninggalin aku lagi ya... “.


“ Baik, Gina “.


Di sebuah kamar, terlihat ada seorang wanita yang tengah mengobrol dengan orang yang ada disampingnya, meski begitu, seseorang yang disebutkan nyatanya bukanlah manusia, melainkan hanya sebuah robot boneka seukuran pria dewasa, dengan desain yang berkualitas dan settingan kecerdasan buatan terbaru, benda itu jika dilihat sekilas sudah seperti manusia asli, namun sayang karena sepintar apapun dan secanggih apapun benda yang diciptakan, selagi bukan makhluk ciptaan tuhan, mereka tidak akan pernah memiliki emosi maupun hati nurani.


Tidak jauh dari tempat duduk si wanita bernama Gina itu, nampak seorang pria paruh baya kini menatap sendu kearahnya, pandangannya sulit dimengerti, kosong namun terkandung kesedihan mendalam di netranya, terlebih ada satu sorot tajam yang terpancar, namun lagi-lagi sorot itulah yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


Seraya melihat interaksi antara Gina dengan robot disampingnya, sang pria kini masuk kedalam setelah ia mengetuk pintu beberapa kali, fokus Gina kini teralih pada dirinya.


“ Wah... papa, selamat malam “. Ucapnya dengan senyum lebar menghiasi wajah.


“ Malam juga sayang, kamu lagi apa? “. Tanya pria itu yang kini duduk dikursi berhadapan dengan Gina, ternyata dia adalah ayahnya.


“ Hihi, aku lagi ngobrol bareng sama Ega, dia bilang aku cantik... iya gak sayang? “.


“ Iya, Gina adalah wanita tercantik yang pertama saya lihat “. Ucap boneka tersebut.


Seketika itu juga, Gina memeluk erat benda disamping, perasaan senangnya menjalar dari dada hingga memenuhi kepala, dia gembira bukan kepalang. Sementara itu, sang pria paruh baya hanya menatap putrinya miris, mungkin jika melihat perilaku sang gadis, sudah pasti semua orang akan menganggapnya sebagai orang gila, namun satu hal lagi yang membuat hatinya sakit, anggapan orang tentang kejiwaannya yang gila itu adalah kenyataan, sungguh fakta yang menyakitkan.


“ Maafin Papa sayang, papa janji... papa akan balas dendam dengan keluarga itu! Awas saja kamu, Prata... “ Gumamnya.


***


Keesokan harinya


Pagi ini, pada pukul 06:15, Keyra sudah siap dengan seragam sekolahnya sambil menggenggam erat sebuah kertas, dan benar sesuai dugaan, kertas itu adalah lembaran sama dengan yang semalam ia pegang. Walaupun sedikit terlambat, dengan tekad yang sudah ia kumpulkan sejak tadi malam, Keyra memutuskan untuk memberitahu Noland dan meminta tanda tangannya untuk surat perizinan ini, kalau masalah ditolak atau tidaknya akan ia pikirkan nanti, setidaknya Keyra dapat dengan percaya diri menjawab kalau dia tidak akan memiliki niatan buruk.


“ Sip... Ayo Keyra!, lo pasti bisa! “.


Keyra menarik nafas dan melangkah mantap, dengan perasaan yang antusias, tegang dan menggebu-gebu menjadi satu, pemuda itu hendak membuka pintu dan pergi ke lantai tiga tempat dimana Noland masih berada, namun disaat ia menarik kenop dan memutarnya, muncul seseorang setelah Keyra membuka lebar.


“ Kak Razka? “.


Tuan muda sulung, adalah sebuah panggilan Keyra secara pribadi kepada orang yang ada didepannya saat ini, meskipun tidak tahu apa tujuannya berdiri di depan kamar, namun jika dilihat dari cara dia memandang, sepertinya pemuda itu hendak membicarakan suatu hal.


“ Em... itu, maaf Keyra, tadinya saya mau ngomong satu hal sama kamu, tapi... kayaknya kamu lagi ada perlu ya “. Ucap Razka sedikit kaku.


“ Oh, kalau mau ngomong silakan aja kak, saya bisa handle nanti kok... terlebih urusan saya juga gak terlalu penting “.

__ADS_1


Razka tersenyum, sementara Keyra menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar dengan membiarkan pintu tebuka lebar, meski niatan awalnya tertunda tanpa disangka-sangka, sepertinya kali ini Keyra harus mengurungkan rencana awal yang ingin meminta tanda tangan Noland, oleh sebab itu dirinya memilih meletakan kertas yang sebelumnya digenggam erat ke atas meja belajar sebelum duduk berseberangan dengan Razka.


“ Jadi... kak Razka mau ngebahas tentang apa? “ Tanya Keyra mengawali pembahasan.


“ Huft... hah... mungkin saya bakalan langsung to the point aja Key, jadi... semalem Una bilang, kalau... kamu bersikap aneh sejak kemarin “.


Pernyataan Razka membuat Keyra menaikan sebelah alis, cukup heran dan sedikit terkejut, apakah benar ia bersikap aneh sejak kemari?, perasaan ia tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak. “ Em... maaf kak, sikap anehnya itu kayak gimana ya? “. Tanya Keyra ingin mendapat penjelasan yang lebih detail.


“ Dari cerita Alfa sama Reza, mereka ngeliat kamu enggak kayak biasanya... terlihat dingin dan tidak muda didekati, seperti orang yang memendam sesuatu “.


“ Em, tapi... saya beneran gak papa kak, terlebih... disini saya hidup berkecukupan berkat keluarga Elrahma, jadi apa yang harus saya pusingkan? “.


“ Benarkah?, tapi meski tidak di rumah, kamu pasti punya masalah di sekolah kan? “. Tanya Razka membuat Keyra diam sejenak.


‘ Tunggu, apa karena mikirin tu surat perizinan gue jadi bersikap aneh?, tapi perasaan enggak deh, gue kan cuma mikir doang ‘ Batin Keyra.


“ Itu... kayaknya ini salah paham deh kak, meskipun yang diomongin kakak tadi bener adanya, saya cuma punya masalah kecil di sekolah kok, dan mungkin bentar lagi juga bakal saya beresin “.


Keyra tersenyum, sementara Razka menatapnya tanpa ekspresi, entah kenapa kegiatan tuan muda sulungnya ini membuat Keyra tidak nyaman, apalagi saat wajah kulkasnya yang beku itu sejajar dengan wajahnya. ‘ Ya ampun... ni tuan muda sulung kenapa sih?, kok natap gue lekat banget? ‘


“ Keyra... “. Ucap Razka setelah beberapa saat terdiam.


“ I, iya... “.


“ Jangan simpan beban pikiran sendiri, sekarang kamu bagian dari keluarga Elrahma, jadi apa yang terjadi sama kamu, itu adalah tanggung jawab kami, terlebih kamu sudah resmi bekerja disini, jadi mau sekecil dan seberat apapun masalahnya... tolong bilang, ok? “.


Perkataan Razka membuat Keyra terbungkam, pemuda itu mengepalkan tangan meski tidak terlalu erat, ucapan orang yang ada didepannya ini seolah menjadi pukulan keras, dirinya yang sudah terbiasa sendiri cukup canggung jika harus membagi beban pikiran, terlebih kan keluarga Elrahma ini masihlah asing bagi dirinya, dan juga Keyra masihlah cukup sadar diri dengan posisi sebagai orang luar, dan pertanyaannya, apakah ia pantas?.


“ Mungkin ini adalah hal yang sulit bagi kamu, Key... tapi percaya saja, cobalah untuk membiasakan diri dengan keadaan disini, enggak hanya kamu, semua pekerja disini juga sama, mereka yang bekerja dibawah naungan keluarga Elrahma sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri “.


“ tapi... bukannya saya ini orang luar? “ Ucap Keyra menatap lekat kearah iris mata Razka.


“ Apa hubungannya?, toh kamu udah tinggal disini “.


Keyra menghela nafas, sepertinya beberapa hari ini dia terlalu banyak berpikir ketika mengambil langkah, meskipun hal itu berguna untuk menghitung besar tidaknya hal negatif yang didapatkan, namun jika nyatanya sia-sia kan percuma juga.


“ Maaf ya kak, saya udah buat Una sama yang lain khawatir “. Ucap Keyra sedikit menunduk dan mendapat balasan berupa senyuman halus dari Razka.


“ Gak papa, saya paham... mungkin kamu perlu beradaptasi dengan lingkungan disini, tapi satu hal yang harus kamu tau Keyra... “.


Razka bangkit dan melangkah mendekat menuju kearah tempat Keyra duduk. “ Kamu sekarang gak sendiri, jadi jangan pernah ngerasa sungkan “. Ucapnya sambil mengelus lembut rambut Keyra sebelum berlalu dari hadapannya.


‘ Hm... enggak sendiri ya? ‘ Batin Kera, yang setelahnya senyum lebar pun terukir di mulut manis pemuda itu.


Setelah mengobrol sebentar dengan Razka pagi tadi, Keyra sadar kalau dirinya terlalu banyak berpikiran yang tidak-tidak, sehingga saat itu juga, tepat usai sarapan sebelum berangkat sekolah, Keyra menemui Noland di ruang tamu dan menjelaskan perihal surat perizinannya untuk lompat kelas.


Awalnya berjalan normal dengan Keyra yang menjelaskan dengan lantang dan jelas, namun setelah itu suasana di rumah berubah heboh, bukan karena hal lain, tapi karena hal yang disampaikan oleh Keyra sendiri penyebabnya, terkecuali Una, Reza dan Alfa yang sudah mengetahui dan terkejut duluan saat pulang sekolah kemarin, para orang tua menatap kagum Keyra yang dapat naik kelas dua kali dalam setahun, meskipun dulu Razka adalah anak yang cerdas, namun tidak pernah tuh sampai lompat kelas karena kelewat pintar, terlebih semuanya lebih terkejut saat Una menambahkan kalau Keyra pernah lompat kelas sekali di masa lalu saat masih duduk dibangku SMP.


Hingga keterkejutan para orang tua terus berlanjut samapi jam 7 pagi, Keyra dan ketiga orang lainnya pergi ke sekolah dengan kondisi sudah terlambat sekitar 15 menit, oleh karena itu mereka sedikit mendapat teguran dari guru BK, untung saja saat itu Razka gerak cepat dan menelpon kesiswaan bahwa mereka berempat terlambat karena ada kendala kecil saat di rumah, otomatis baik itu Keyra, Una maupun Alfa dan Reza pun terbebas dari hukuman.


Hari terus berganti, hingga tibalah akhir pekan yang sudah Una dan tuan muda sulungnya tunggu-tunggu, seperti janji beberapa hari sebelumnya, mereka berdua hendak pergi ke rumah pasutri paruh baya Dharma dan Yuli, tentu harus ada keberadaan Keyra juga disana, meski terkesan agak mendadak, tapi semuanya tetap berjalan sesuai rencana, terlebih tidak hanya mereka bertiga, kali ini Reza dan Alfa tidak pernah lepas untuk ngintil di belakang Una.


~


“ Gak terasa ya udah malem aja, kalian yakin gak mau nginep dulu?, pulang malem-malem gini agak bahaya lho “. Ucap Yuli yang kini tengah berdiri mengantar para tuan dan nona kelurga Elrahma yang hendak pulang setelah singgah sebentar.


“ Gak usah khawatir Oma, lagipula jalan raya pas malem minggu itu bakalan rame kok “. Jawab Razka dengan senyum lembutnya.


“ Yaudah, kalau gitu kalian hati-hati ya, dan Cilla... jangan ngebut pas bawa mobil nanti “ Ujar Dharma dengan senyum jahil yang sengaja untuk membuat wanita cantik itu kesal.


“ Hey... Opa, aku itu gak suka ngebut-ngebut ya, cuma agak cepet aja bawanya “.


‘ Itu mah sama aja oneng!, punya aunty gini amat sih? ‘ Batin Reza dan Alfa secara bersamaan, entah kenapa dalam hal ini pikiran meraka satu frekuensi.


“ Hahaha... ok, ok, intinya pas udah nyampe nanti jangan lupa kasih kabar ya, entar kita kapan-kapan main ke sana ko “. Ucap Dharma sambil mengelus lembut rambut Cilla, sementara orang yang bersangkutan hanya tersenyum menikmati sentuhan.


“ Iya, tenang aja Opa, Oma... kalau begitu kita berangkat ya”.


Razka dan yang lain segera masuk kedalam mobil, dengan Keyra yang paling terakhir masuk, pemuda itu naik ke mobil setelah dirinya pamit dan mencium kedua tangan pasutri paruh baya itu, sungguh kegiatan yang membuat mereka selalu bernostalgia jika dekat dengan Keyra. Hingga tidak lama setelah itu, dua unit mobil yang sebelumnya terparkir kini melesat mengikuti jalan raya menuju mansion keluarga Elrahma.


Dijalan menuju pulang


“ Wah... hari ini Una seneng banget, bisa kumpul bareng Opa Dharma sama Oma Yuli emang asik ya kak... “. Ucap Una yang berada di kursi belakang bersama Keyra, sementara Razka sibuk mengemudikan mobil.


“ Iya bener, lain kali mau ikut kumpul bareng lagi gak sama Kakak? “. Tanya Razka.


“ Wah... mau, mau... tapi nunggu kak Azka beresin kerjaan dulu, kalau gitu semangat kerjanya kak Azka, mudah-mudahan kerjanya cepet beres “.


“ Hahaha... iya, iya, nanti kakak bakalan gercep deh “.


“ Bang Kekey juga jangan lupa ikut ya “.


“ Tenang aja, gue kan harus selalu sama elu “. Jawab Keyra.


“ Oh iya, lain kali kita beli hadiah sepesial dulu buat Oma Yuli sama Opa Dharma ya, katanya sih mereka mau main ke rumah “.


“ Iya kah?, asik... berarti kita harus siapin hadiahnya dari sekarang ya kak “.


“ Iya siap... “


Sementara Una dan kakaknya bercengkrama, Kerya kini terfokus penuh pada ponselnya, beberapa menit yang lalu muncul notifikasi pesan tidak lama setelah Una membuka suara tadi, dan saat membuka chat tersebut, betapa terkejutnya Keyra kalau orang yang mengiriminya pesan adalah ibu sambungnya, yaitu ibu Ika.


**Ibu Ika**


“Assalamualaikum, Aldo... ini ibu nak, apa sekarang kamu lagi sibuk? “


Me


“ Waalaikumussalam, enggak kok bu... Aldo lagi senggang, ngomong-ngomong ada apa bu? Tumben ibu nge chat Aldo malem-malem “.

__ADS_1


Keyra menunggu beberapa saat sambil membalas cerita Una yang sesekali bertanya padanya.


Ting


Ibu Ika


“Ibu cuma mau tau kabar kamu aja, emangnya gak boleh ya? “.


Me


“Cie yang lagi kangen... kayaknya ibu lagi rindu berat nih sama Aldo, ekhem... sombong dikit ah”


Ibu Ika


“Dasar, rasa PD kamu ketinggian tau Al, kurangin dikit deh... nanti jatuh sakit”.


Me


“Hey, tapi fakta ibu kangen Aldo bener kan?, hayo... jujur aja deh gak usah bohong”.


Ibu Ika


“ Haha, iya deh iya... ibu kangen kamu, pengen deh kita ketemuan lagi, kira-kira kamu kapan punya waktu senggang nak? “.


Me


“ Wah... kebetulan besok Aldo libur bu, mau jalan-jalan? Entar Aldo traktir deh, minggu kemarin Keyra udah gajian lho “.


Ibu Ika


“ Iya kah?, wah... kamu lagi banyak cuan dong “.


Me


“ Hehe, Alhamdulillah... nanti Aldo bakalan ajak ibu keliling deh, biar gak bosen juga “.


Ibu Ika


“ Ibu jadi kayak diajak kencan gini nih, aduh... haha, kalau ayah kamu tau udah pasti disangka lagi selingkuh “.


Me


“ Tenang aja bu... mau selingkuh beneran juga gak papa kok, hehe...“.


Ibu Ika


“ Hust... itu mulut ya, jangan ngomong sembarangan, sayang... “.


Me


“ Iya, iya maaf... kalau gitu kita jadi kan ketemuan besok? “.


Ibu Ika


“ Jadi dong... paling jam 10 kita ketemuan di taman alun-alun kota aja, gak terlalu jauh dan gak terlalu deket juga “.


Me


“ Siap... nanti kalau ada apa-apa tinggal chat Aldo aja ya bu “


Ibu Ika


“ Iya iya... kalau gitu udah dulu ya nak, ibu juga mau ada perlu bentar, kamu jangan begadang ya, awas aja kalau besok malah kesiangan dan lupa “.


Me


“ Enggak lah bu, masa orang tua sendiri lupa sih?, dan juga ibu juga jangan lupa jaga kesehatan ya... jangan terlalu cape, entar si debay nya keringetan pas di dalem perut “.


Ibu Ika


“ kamu ada-ada aja Al, ya udah... ibu pait dulu ya, inget ok!, GAK BOLEH GADANG! “.


Me


“ SIAP KANJENG IBU... “.


Obrolan dalam Chat Keyra kini berakhir, dengan senyum lebar yang tertera di wajah rupawan nya, Una yang sejak tadi melihat pemuda itu senyam-senyum sendiri dibuat penasaran dan berakhir bertanya.


“ Bang Kekey lagi chat an sama siapa?, kok kayaknya seru banget sih? “. Tanya nya.


“ Oh, itu... ini gue lagi tukar kabar sama ibu, kebetulan besok mau ketemuan di taman alun-alun kota “.


“ Wah... ibu Nikael itu kan? Yang ketemu pas di pasar? “ Tanya Una dan dijawab anggukan oleh Keyra.


“ Una boleh ikut gak bang, boleh ya? Una soalnya pengen ketemu dan mau lebih deket sama ibunya bang Kekey “.


“ Iya boleh, tapi disana enggak bakalan ada acara apa-apa Na “.


“ Gak papa, yang penting Una ikut bang Kekey “.


Keyra tersenyum, melihat gadis yang kini melekat di lengan kanannya membuat ia merasa gemas, terlebih karena sudah bertukar sapa dengan sang ibu, hati Keyra saat ini tengah berbunga-bunga menantikan hari esok agar segera bisa bertemu dengan Ika, sungguh hari yang ditunggu-tunggu. Meskipun berbeda dengan orang lain, mereka ketemuan dengan pacar, tapi tak apa untuk Keyra, dia lebih senang bertemu dengan ibunya ini.


‘ Hah... jadi pengen langsung besok aja, gak sabar gue mau ketemu sama Ibu ‘ Batin Keyra, namun sesaat kemudian ada sesuatu yang ditangkap oleh matanya.


Deg


‘ Mobil itu... ngikutin kita bukan sih? ‘.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2