
“ Una, gua mau keluar bentar ya entar siang “.
“ Hm?, mau kemana? “
“ Mau... ke tempat seseorang? “.
Keyra kini masih berada diruang tengah bersama dengan Una dengan kegiatan yang tidak berubah, pemuda itu berniat memberitahu kepergiannya pada gadis disamping karena takut kalau-kalau dia nanti mencari, meskipun tidak menjelaskan hendak kemana, Keyra sebenarnya ingin mempercepat kunjungan menuju makam sang adik, Nenek dan ibunya. Kenapa? karena kala pemuda itu pikir-pikir lagi setelah beberapa saat, dirinya lebih baik pergi disaat senggang daripada harus meminta izin di hari-hari biasa.
“ Una mau ikut boleh gak bang? “. Ucap Una, mendokakkan kepalanya melihat kearah Keyra.
“ Mending jangan deh, kalau lo sakit lagi gimana? Baru juga sembuh... cuaca sekarang soalnya lagi panas terik “.
“ Yah... emang bang Kekey mau kemana sih?, Una gak bakal bikin repot kok bang, yah bang... Una ikut ya “.
Keyra gelagapan, dirinya bingung antara harus mengijinkan atau tidak, pasalnya semenjak kejadian tempo hari, dia sedikit khawatir membiarkan Una pergi tanpa pengawalan ekstra dari para body guard, dan lagi entah kenapa Keyra merasa enggan kalau salah satu dari keluarga ini tahu kalau dia hendak pergi ke makam. Merasa ada sedikit keributan yang terjadi diruang tamu, Reza dan Alfa yang baru datangpun melihat kerah Una yang nampaknya terlihat sedang membujuk Keyra, sedangkan pemuda itu menampilkan sorot menolak dari ekspresi wajahnya.
“ Hey, Hey… What happen?, Una cantik lagi kenapa nyerempet Keyra kayak gitu? “. Tanya Alfa yang kini beranjak duduk di sebelah Una.
“ Ini bang… bang Kekey tadi bilang kalau nanti siang bakalan izin keluar, tapi pas Una minta buat ikut gak diizinin, hiks… “. Ucapnya sedikit terisak.
“ Hm… ajakin aja kali Key, toh Una juga anak baik ini, dia gak bakal ngerepotin lo “, Ujar Reza, duduk di sofa tunggal dekat Keyra.
“ Gue gak ngerasa direpotin kok bang, cuma untuk kali ini… gue gak bisa biarin Una ikut, karena urusan pribadi, cuaca kali ini agak panas buat dia yang baru sembuh “. Ungkap Keyra menjelaskan.
“ Lo juga belum sembuh, btw “. Celetuk Alfa, kala Una sudah tidak merengek karena ia sogok dengan camilan manis.
“ Kalau gue kan beda ceritanya… “.
“ Sama aja tuh “.
Alfa dan Reza bicara secara bersamaan, hal itu membuat Keyra diam dengan raut wajah malas dan kemudian menghela nafas pelan, sepertinya ia akan cukup sulit keluar pada siang minggu ini, jika para tuan mudanya saja bilang begitu dan tidak terlalu mengijinkan ia untuk keluar, apalagi respon para orang tua nanti, terlebih mengingat kejadian penyerangan kala dirinya terluka tempo hari, entah kenapa perilaku keluarga Elrahma terhadapnya terasa lebih lembut dan perhatian, tidak lupa agak sedikit protektif.
Contoh kecilnya saja, cara bicara semua orang yang ada disini berubah menjadi lembut meskipun awalnya memang tidak terlalu kaku, tapi pasti semuanya tahu kalau anggota keluarga Elrahma akan berbicara formal kepada orang luar selain berinteraksi dengan anggota keluarga. Terlebih Keyra heran dengan satu hal, dirinya kan sudah jelas adalah orang asing yang masuk dan menjadi pekerja di keluarga ini, tapi kenapa gaya bicara semua orang terkesan non formal padanya, padahal mereka masih berbicara formal pada bu Jola dan kak Meta yang sudah bekerja lama sekalipun.
“ Hah... intinya gue minta maaf ya Na, lo gak bisa ikut gue karena... banyak hal, tapi gue janji gak bakalan lama kok “. Ucap Keyra.
“ Hiks... beneran ya, terus kalau mau keluar bang Kekey juga harus bilang, Una gak mau abang lama-lama diluar “.
“ Haha, iya, iya... emang gue pernah ya pergi tanpa bilang ke elu? “.
“ Pernah, pas pertama kali abang datang ke rumah, kan waktu itu kita makan bareng, bang Kekey pulang gak bilang-bilang, untung aja Opa turutin permintaan Una buat nyusul abang “.
Keyra memalingkan wajahnya perlahan, hal itu membuat Reza dan Alfa dibuat tertawa kecil melihatnya. ‘Ni anak kenapa masih inget aja sih?, padahal kejadian itu udah lama ‘.
Kembali membuka topik pembicaraan baru, Keyra mulai membahas tentang apa yang terjadi disekolah selama Reza dan Alfa absen karena sakit, mungkin karena waktu ujian sudah mulai dekat, para guru tidak tanggung-tanggung memberikan tugas lebih banyak kepada siswa agar bisa mempersiapkan bekal untuk ujian nanti. Terlebih hal itu juga sedikit membuat Keyra kewalahan dengan berbagai hal, hanya ingin mengingatkan saja, pemuda itu kan baru beberapa hari masuk ke kelas 11, otomatis selain menyelesaikan tugas, Keyra juga harus mengejar ketertinggalan pelajaran yang sebelumnya belum ia pahami dengan sempurna.
Untuk Una, gadis itu nampaknya tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan, tugas bagi seorang siswa itu memanglah belajar, namun jika berlebihan... itu juga mungkin tidak terlalu baik, maka dari itu, daripada pusing-pusing mencerna obrolan para kakak, Una memilih untuk menonton acara yang ada di televisi, sambil tubuhnya bersandar penuh ke badan Keyra, gadis itu menikmati elusan dari abangnya sambil sesekali memakan camilan.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, saat ini jarum jam dinding sudah menunjuk ke angka 2, yang berarti Keyra kini sudah siap untuk pergi ke makam tanpa orang lain ketahui. Untung saja obrolannya dengan para tuan muda selesai karena Una merengek ingin tidur, jadi kakak-kakak dengan senang hati mengantar gadis itu ke kamar meskipun awalnya meminta Keyra untuk ikut.
“ Sip... kalau gini gue tinggal berangkat deh “.
Keyra mengusap surainya sambil melihat pantulan diri di dalam cermin, pakaian yang ia kenakan kali ini cukup sederhana, hanya dengan kemeja coklat kotak-kotak yang sengaja bawahnya ia keluarkan dan celana hitam kasual nan polos tidak ada motif lain yang terpampang, tentu saja Keyra tidak lupa membawa jaketnya untuk dikenakan dijalan nanti. Karena mau apapun keadaannya, laki-laki itu identik dengan jaket dan hoodie, mereka pasti tidak akan pernah lepas dari benda tersebut jika hendak pergi.
Segera setelah semuanya siap, Keyra keluar kamar setelah ia mengambil papan seluncurnya, mungkin kali ini dia akan berangkat menggunakan skateboard, dan ketika dirinya turun dari lantai tiga lalu melewati ruang tengah dan tamu, beberapa orang ada yang menyapa termasuk Devina dan Veriska yang sedang duduk disana.
“ Tadi Una bilang kalau kamu mau keluar, jadi tante udah bilang sama supir buat siap-siap nganterin kamu “. Ucap Devina kala Keyra hendak pamit.
“ Eh?, gak usah tante, saya bisa naik kendaraan umum kok “.
“ Ada mobil di rumah ngapain harus naik angkot? Lagian sekarang ini lagi panas-panas nya lho Key...inget ya, kamu masih belum sembuh “. Kali ini Veriska yang berbicara.
“ Gak perlu tante... saya kan gak bakal lama-lama keluarnya kok, lagian tempat yang bakal saya datangin gak jauh dari mansion ini “.
__ADS_1
“ Ya udah kalau gitu... kamu hati-hati dijalan ya “.
Keyra mengangguk, lalu mencium tangan kedua wanita didepannya sebelum keluar dari mansion. Pemuda itu melesat menggunakan papan seluncur sambil menikmati terpaan angin hangat yang mengenai tubuh, meskipun cuaca hari ini nampak terik, Keyra cukup suka karena disaat bersamaan angin di siang sekarang pun menghembus dengan kencang, jadi meski panas juga tidak terlalu menyengat dengan adanya hal tersebut.
15 menit waktu berjalan, idak jauh dari TPU Keyra berhenti disebuah toko bunga, dia masuk dan tak lupa menyapa kasir yang sudah lama ia kenal saat berkunjung ke toko, nama pria itu adalah Dea, umurnya mungkin tidak jauh berbeda dari bang Qian, tapi yang pasti, pemuda didepannya ini sudah menikah.
Dipilihnya berbagai rangkaian yang ada disana, mata Keyra menyisir ruangan melihat kesana kemari untuk mencari satu jenis bunga yang menjadi incarannya, dan mungkin karena bunga yang dicari pun sedikit jarang, Keyra baru menemukan bunga tersebut setelah mencari lebih lama kedalam toko.
“ Mas... harga bunga ini berapa? “. Tanya Keyra membawa bunga Mawar kuning ke meja kusir, salah!... kasir maksudnya.
“ Satu tangkainya 12 ribu dek... “. Ucap Dea, yang sudah terbiasa memanggil Keyra dengan sebutan ‘dek’.
“ Hm... kalau gitu saya beli 6 ya mas “.
“ Boleeeh... khusus untuk hari ini, mas kasih diskon deh, karena kamu pelanggan tetap di toko mas, jadi 6 tangkai itu mas hargain 50 ribu aja “. Ucapnya sambil membungkus bunga yang sebelumnya Keyra pegang.
“ Wah... tumben-tumbennya nih mendadak jadi dermawan, saya abis mimpi apa ya kemaren? “. Ucap Keyra dengan senyum jahil.
“ Kamu ya, udah baik mas kasih diskon, malah curiga... “.
“ Haha... saya cuma becanda mas, jangan baperan ih, nanti kak Ela nya ketularan “. Ucap Keyra, sambil membawa-bawa nama istri Dea.
“ Enggak bakal... dia kan orangnya perfect ".
“ Iyain aja deh, biar cepet... kalau gitu saya duluan ya mas, takut keburu ujan soalnya, dan lagi makasih nih diskon nya ya “.
“ Gak mampir dulu dek?, lagian takut ujan dari mana?, tu langit bahkan gak ada awannya sama sekali “.
“ Enggak dulu deh mas, entar-entar deh saya mampir “.
“ Ya udah, hati-hati dijalan ya dek “
“ Siap mas “.
...Hera Putri Binti Andharma Arkan...
...Lahir : 9 Juli 1982...
...Wafat : 10 Oktober 2012...
...Inara Adelia Bin Abdul...
...Lahir : 24 Maret 1948...
...Wafat : 28 Mei 2020...
...Bianca Audy Arkan bin Fedrik Santoso...
...Lahir : 10 Oktober 2012...
...Wafat : 28 Mei 2020...
“ Assalamualaikum, Bu, nenek... adek... gimana kabar kalian? Maaf ya Aldo baru dateng setelah sekian lama “.
“ Sekarang aku dateng buat ziarah, berhubung bentar lagi adek ulang tahun, abang ucapin selamat ulang tahun ya dek... walaupun agak kecepetan, semoga kamu tenang terus bareng ibu sama nenek disana “.
Duduk diantara ketiga makam, Keyra mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh diatas dan sekitaran kuburan, tidak lupa menyiramnya dengan air yang ia beli tadi agar tanahnya menjadi lembab, Keyra membersihkannya dengan perasaan ikhlas dan senang, hingga saat melihat semuanya sudah bersih dan rapi, Keyra meletakan bunga masing-masing dua tangkai di atas nisan keluarganya.
Dilanjut dirinya yang duduk bersila didepan kuburan sang adik, yaitu ditengah-tengah antara makan sang ibu dan neneknya, Keyra mulai melantunkan ayat suci dan melafalkan hadiah puji untuk ketiga keluarganya, diawali dengan alfatihah, Keyra khusuk melantunkan doanya agar tersampaikan pada sang keluarga, cukup lama ia berdoa, ketika tepat jarum jam tangannya menunjuk kearah angka 4, pemuda itu sudah selesai dan mengusap pelan wajahnya sambil mengucap kata amin di akhir kalimat.
“ Khusus hari ini abang kasih surat alfatihah paling banyak buat adek, dan lagi... bunga yang abang kasih paling gede dan lebat lho, gimana?, adek suka gak?, suka dong pastinya... masa gak seneng sih dikasih hadiah sama abang kamu yang ganteng ini, abang bakal berdoa yang terbaik buat kamu, ibu sama nenek... jadi sebagai gantinya, doain abang juga biar selalu ada di jalan yang bener ya dek “. Keyra berbicara sambil mengelus nisan adiknya.
Pemuda itu bercerita lebih banyak, dari dirinya yang bertemu dengan Una dan keluarga Elrahma hingga bekerja disana, pemuda itu juga berbicara banyak hal perihal dirinya yang pindah sekolah dan mendapat lebih banyak teman di sana, cukup lama ia berceloteh meluapkan curhatan didepan ketiga nisan keluarga, sampai pada akhirnya ucapan Keyra terhenti karena banyak air yang menetes dari langit, ia tidak sadar bahwa langit sudah menggelap mulai mengeluarkan butir demi butir air hujan.
__ADS_1
“ Huft... hah... mungkin hari ini abang cuma sebentar jenguk kalian, maafin Aldo karena harus buru-buru ya bu, nek... adek juga, nanti abang janji bakal balik lagi deh, kalau gitu aku pamit ya... Assalamualaikum “.
Tersenyum kala berpamitan dengan keluarganya, Keyra bergegas mempercepat langkah sambil menenteng skateboard yang ia bawa, hujan kali ini entah kenapa terasa sangat tiba-tiba, padahal kan saat ia berangkat ke sini cuaca sangatlah terik dan menyorot, namun tak apalah, dengan begini ia bisa berteduh sebentar di suatu tempat yang memang sudah ingin Keyra kunjungi sejak awal.
“ Aduh... padahal baru sebentar, baju gue udah basah aja “.
Keyra berhenti disebuah toko dengan keadaan baju yang setengah basah, sambil memeras sebagian kain yang banyak terkandung air, pemuda itu bersyukur karena dirinya bisa lebih cepat karena menggunakan skateboard, kalau saja Keyra keluar hanya dengan berjalan kaki, sudah pasti kondisi bajunya akan lebih basah dari sekarang.
Setelah merasa semua sudah selesai, Keyra pun masuk ke toko kue ditempat ia berteduh, dengan nuansa hangat dan minimalis dari bangunan dan interior di kafe ini, dirinya menyisir ruangan mencari keberadaan seseorang yang sudah lama tidak ia temui, sampai pada pandangan Keyra berhenti pada seorang pria yang sedang duduk di sebuah sofa, pemuda itu mendekat dan mengucapkan salam membuat pria yang sebelumnya asik menyeruput kopi menoleh kearahnya.
“ Hai Om, kangen sama Aldo yang ganteng ini? “. Tanya Keyra dengan senyum lebar.
“ Eh?, Aldo?, ini beneran kamu anak nya kak Hera? “.
“ Ya iya lah... masa bukan sih? “.
Pria yang disebut om oleh Keyra itu tersenyum lebar, dia beranjak dari duduknya lalu memeluk Keyra dengan erat, sudah cukup lama beliau tidak bertemu dengan pemuda yang ada di pelukannya, apakah sudah 6 bulan?, atau hampir satu tahun?, tapi entahlah... yang penting dirinya senang kala Keyra datang dengan wajah yang lebih berseri dari terakhir kali dia ingat.
“ Ya ampun... kamu gimana kabarnya Do?, om Banu sampai kangen karena jarang banget ketemu kamu “. Ucap pria tadi yang menyebut dirinya sebagai Banu.
“ Alhamdulillah... saya baik-baik aja kok om, om Banu sendiri gimana?, kayaknya saya liat... ni toko makin gede aja “. Ucap Keyra mencium tangan Banu setelah acara pelukan yang cukup lama.
“ Haha... kamu bisa aja Do, cuman emang bener sih, toko om ini udah agak bagusan, plus punya cabang di kota sebelah lho “.
“ Wih... calon-calon orang tajir nih “.
“ Aamiin “.
Keyra diajak duduk oleh Banu ke sofa yang ia duduki tadi, sambil berbincang melepas rindu ditengah hujan yang mengguyur, pria itu pergi ke dapur sejenak dan kembali dengan nampan berisi macam kue untuk dihidangkan pada Keyra.
Sedikit informasi, pria bernama Banu ini merupakan om sekaligus teman dekat dari almarhum mendiang ibu Keyra, meski dibilang teman dekat, awalnya Banu adalah junior Hera kala masih belajar di tingkat sekolah menengah, namun seiring berjalannya waktu, mereka kian dekat dan sudah bisa dibilang menjadi sahabat sampai Hera meninggal, bahkan kala sahabatnya sudah tiada, Banu masih tetap berhubungan dengan sang anak yang menjadi peninggalan dari sang wanita.
“ Jadi... kamu sekarang Keyra jadi bodyguard di mansion keluarga Elrahma?, Elrahma yang punya group EL R itu? Apa gak bahaya?, umur kamu itu masih belia lho Do “ Ucap Banu.
“ Ya... mau gimana lagi Om, anak bungsu mereka yang maksa buat Aldo tinggal disana, awalnya keluarga itu mau ngangkat Aldo jadi anak angkat, tapi aku tolak dan buat perjanjian kayak tadi “.
“ Kenapa kamu gak bilang sama Om?, padahal kan kamu tau kalau om bisa bantu “.
Keyra menghela nafas, ia memang awalnya kurang menerima bekerja di keluarga Elrahma karena paksaan, namun seiring berjalannya waktu, Keyra mulai terbiasa dan nyaman tinggal disana, tidak cukup dengan gaji yang besar, Keyra juga disediakan fasilitasi yang sama dengan anggota keluarga, dan satu hal yang pasti, disana ia diperlakukan seperti bagian dari keluarga, tentu saja Keyra senang bahkan ia berpikir untuk enggan meninggalkan pekerjaan itu suatu hari nanti, namun balik lagi pada takdirnya, Keyra itu merupakan orang asing, dan sudah pasti akan pergi dari mereka yang notabenenya bukan siapa-siapa.
Melihat Keyra yang tidak menjawab, Banu berhenti bertanya lebih banyak, sedikit banyaknya dia tahu kalau Keyra pasti sudah memastikan satu hal sebelum bertindak, sejak kecil dirinya tahu kalau pemuda disampingnya ini selain cerdas juga selalu berpikiran dewasa, jadi tak ayal kadang dirinya lupa kalau Keyra masih anak dibawah umur yang memerlukan nasihat dan masukan.
Waktu terus berjalan, Banu mengalihkan topik obrolan dan membahas hal lain sehingga keduanya lupa dengan percakapan awal, saat ini waktu sudah menunjukan pukul 5. Unung saja sebelum itu Keyra sudah minta izin numpang solat di toko Banu, tentu saja sang om dengan senang hati mempersilakan hal tersebut, dan kala Keyra hendak melangkah dari tempat, Banu memberikan sebuah bungkusan berisi beberapa kue sebagai oleh-oleh, awalnya Keyra menolak karena tidak ingin merepotkan, namun bukan Banu namanya jika ia mengambil kembali barang yang ia beri, pria itu malah mengancam akan menambah kue agar Keyra bawa pulang.
“ Udah sono buruan balik... mumpung hujannya udah reda, kalau masih mau balikin tu kue, mending Om tambahin lebih banyak, mau? “.
“ Hehe... gak usah Om, segini juga cukup kok, malah seharusnya gak usah ngasih segala lho “.
“ Oh... mau ditambah, ha? “.
“ Dah lah... Aldo pulang dulu ya om, ni kue Aldo bawa, tuh liat... dibawa ya “.
“ Hahaha... iya, hati-hati dijalan, jangan meleng.. “.
“ Siap... kalau gitu Aldo pamit Om, Assalamualaikum “.
“ Waalaikumussalam...”
Keyra pergi setelah mencium tangan Banu, dengan senyum lebar sebelum ia melesat menggunakan papan seluncur sambil menenteng bingkisan, om nya dari belakang tersenyum tipis menatap kepergian anak sahabatnya yang entah sejak kapan sudah remaja saja, padahal seingatnya dulu, Keyra itu masihlah anak kecil yang tidak pernah ia lihat menangis.
‘ Kak... anak kamu udah besar, kuat dan tangguh kayak kamu, andai kak Hera sekarang lagi liat dia dari sana, pasti kakak ngerasa bangka punya anak kayak Aldo ‘ Batin Banu sebelum dia masuk kedalam toko.
Bersambung
__ADS_1
Hallo semua, maaf sebelumnya aku gak up chapter ya, ada sedikit hambatan dalam penyusunan kata, tapi udah bisa di handle kok, untuk kalian yang masih setia nunggu cerita Keyra, aku mau ucap banyak terimakasih ya, semoga kalian selalu senang dan sehat selalu...