
Keyra tercengang, pemuda itu terdiam kala melihat interaksi antara Ika dan Veriska yang sedang bercengkrama. Beberapa menit yang lalu, sebenernya Keyra sudah berniat untuk memperkenalkan ibu sambungnya kepada orang-orang keluarga Elrahma, karena selain Una, Reza dan Alfa, serta Devina yang baru menyapanya tadi, semua orang dirumah ini belum melihat dan mengetahui tentang Ika.
Tapi yang membuat terkejut, entah kenapa kala pandangan ibunya dan bunda Alfa ini bertemu, kedua orang tersebut langsung menyapa satu sama lain dengan akrab seolah sudah kenal sejak lama.
" Ya ampun, Ika... Kamu gimana kabarnya? Aku gak nyangka lho bisa ketemu kamu disini? " Ucap Veriska setelah dirinya memeluk wanita yang ada didepan.
" Haha... Aku baik Ver dan sama gak nyangkanya kayak kamu, oh iya... Kamu juga gimana kabarnya? Baik kan? Atau... Jangan bilang masih belum move on sama mantan? " Ujar Ika.
" Hust!, Jangan ngomong kayak gitu, aku sekarang udah punya suami dan anak tau ".
" Becanda... Kamu gak seru ih ".
" Em Permisi, ibu... Apa udah kenal sama Tante Riska? ".
" Tante? ". " Ibu? "
Kerya menghentikan obrolan dua wanita didepannya, dengan sopan ia bertanya perihal Ika yang apakah sudah mengenal Veriska lebih dulu atau tidak, namun bukanya menjawab, dua orang ibu tadi malah penasaran dengan panggilan pemuda tersebut kepada mereka. Dari sisi Ika, dia heran kenapa anaknya itu memanggil Veriska dengan sebutan 'tante', sementara disisi Veriska, wanita itu juga sama herannya dengan Keyra yang menyebut Ika dengan panggilan 'ibu'.
" Tunggu, tunggu... Keyra, jangan bilang ibu sambung kamu yang dibilang itu orang yang ada didepan saya? " Tanya Veriska dan kala itu Keyra jawab dengan sejujurnya.
"What?!, Ika... Kamu ibunya Keyra?! "
" Iya, dan... Jangan bilang kamu majikannya Aldo juga? " Tanya Ika balik.
" Aldo? " Tanya Veriska.
" Itu nama anak ku yang kamu sebut Keyra, nama kecilnya Aldo ".
" Oh, ya ampun... Kok bisa kebetulan gini ya? "
" Jadi bener kamu majikan dari Aldo? Berarti aku harus manggil kamu nyonya majikan dong " ucap Ika dengan senyum jahil.
" Apaan sih? Gak perlu lah, lagian Keyra itu udah aku anggap keluarga sendiri ".
" Tapi tetep aja, Aldo kan kerja di rumah ini, jadi otomatis aku sebagai orangtuanya juga sama aja ".
" Enggak, pokoknya gak ada kayak gitu-gitu an ".
Setelah kenyang bereuni, Ika dan Veriska mulai menjelaskan bahwa mereka itu adalah teman dekat ketika masih di universitas yang sama, meskipun program studi yang mereka ikuti berbeda, tapi karena satu asrama, kedua orang itu menjadi teman dekat dan bersahabat sampai sekarang, meskipun tidak terlalu sering bertukar kabar karena terhalang kesibukan masing-masing setelah keduanya berumah tangga.
" Jadi... Bunda Veri itu sahabatan sama ibu Ika ya? " Tanya Una yang kini berada ditengah-tengah Devina dan Cilla. Sementara Veriska duduk dekat Keyra yang bersebelahan dengan Ika.
" Iya, sayang... Bahkan sampai sekarang kita masih sempet tukar kabar, cuma udah beberapa tahun gak ketemu aja ".
" Waw... Berarti semenjak kak Veri ke Singapura kalian belum pernah ketemu? ". Kali ini Cilla yang bertanya.
" Pernah sih ketemu, tapi itu juga karena kebetulan Ika lagi ada kerjaan ke Singapura ".
" Oh, pas aku masih jadi desainer itu ya? " Ucap Ika.
" Iya kalau gak salah, soalnya kita ketemu pas di tahun pertama aku tinggal di sana ".
" Haha, suka jadi Inget pas kita kuliah deh Ver ".
__ADS_1
" Iya, ya "
Semua orang mendengar ceritanya Ika dan Veriska tentang pertemanan mereka dimasa lalu, keduanya nampak sangat senang membahas satu sama lain, hingga Keyra menyadari satu hal, sepertinya ibu sambungnya ini merindukan saat masa-masa dirinya muda dulu, ketika masa kuliah, masa berkarir dan mencari kerja, semua itu terlihat jelas dari sorot matanya yang seolah berkilau ketika mengobrol.
" Ibu dulu kerja jadi desainer? ".
Keyra bertanya, membuat atensi semua orang beralih padanya. " Iya, nak... Cuma ibu berenti karena jagain adek kamu ini ". Ucap Ika sambil mengelus pelan perutnya.
" Hm... Setau Aldo ibu sih emang wanita karir sih, tapi kok Aldo gak tau kalau ibu desainer? ".
" Eh? Kamu gak tau? Perasaan ibu dah bilang deh ".
" Hee... Kapan? Enggak ah ".
" Ih, ni anak pikunan bukan sih? Kan ibu selalu bilang, nak... Kalau kamu mau ada acara dan perlu baju khusus buat acaranya, bilang aja ke ibu ya, ibu bisa bikinin ".
" Oh... Kirain aku ibu itu tukang jahit lho ".
" Masih sejenis sih, tapi kan kalau desainer lebih banyak kerjaannya ".
" Untungnya Aku gak minta tolong ke ibu, kalau enggak pasti nantinya bakal nyusahin ". Ucap Keyra sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Ika.
" Hey... Justru ibu pengennya kamu itu ngandelin ibu, dan juga mana ada orang tua yang bakal ngesara direpotin sama anaknya?, Enggak ya ".
" Hahaha... Tapi enggak menutup kenyataan kalau para anak itu bener nyusahin kan? ".
" Mungkin bener... Tapi itu ketutup sama rasa sayang orang tua ke anaknya ".
" Ya iya lah... Ngapain pake nanya? ".
Ika mencubit pipi Keyra beberapa kali, namun bukannya menolak atau menghindar, pemuda itu malah tetap diam sambil tersenyum dengan melirik ke arah wajah Ika yang terkekeh melihat dirinya.
Dari sekian banyaknya aktivitas, kegiatan Keyra dan Ika kini mendapat respon terkejut dari semua orang yang ada disana, baik itu Veriska, Devina dan Cilla, mereka cukup terpesona melihat sisi Keyra yang seperti ini. Tidak lagi bersikap tegas layaknya orang dewasa, Keyra didepan mereka ini seolah menampilkan seorang anak manja yang sedang disayang oleh sang ibu, walaupun memang kenyataannya benar.
Teruntuk Una, sekarang ini gadis itu sudah mulai terbiasa dengan perubahan karakter sang abang, kalau dilihat dari umurnya sih wajar-wajar saja, toh usianya saja baru 15 tahun, tidak seperti Una sendiri yang berusia 17, Sikap Keyra yang seperti itu memang sudah seharusnya.
" Ya ampun... Baby Keyra, kok kamu jadi keliatan imut banget sih didepan kak Ika? " Tanya Cilla.
" Hm? Perasaan sama aja deh, saya enggak ngerasa beda sama sekali ".
" Bener kata Cilla lho Key, enggak kayak biasanya, kamu didepan Ika itu seolah jadi diri kamu sendiri, kalau diliat kan kamu itu pembawaannya dewasa banget, selain tenang dan berpikiran bijak, kamu itu jarang banget ngandelin orang lain ". Kali ini Devina yang berbicara dan mendapat anggukan oleh semua orang.
" Haha, saya bersikap kayak biasanya kok tante, itu mungkin menurut pandangan kalian aja ".
" emang iya ya kalau kamu biasanya bersikap dewasa? " Tanya Ika melihat kearah Keyra.
" Engga bu, Aku kan dah bilang... Lagian siapa juga yang mau jadi orang dewasa? Kalau kata bang Qian sih mending jangan dulu deh... Dewasa itu gak enak ".
" bang Qian? oh... Pemilik kafe yang dulu kamu kerja disana kan? ". Tanya Ika dan dijawab anggukan oleh Keyra.
" Ya udah... Kalau gak ngerasa ngapain dipikirin, toh kamu juga masih kecil " lanjut Ika sambil mengusap-usap kepalanya.
" Ibu, aku ini udah gede ya ".
__ADS_1
" Lah? Katanya tadi bilang belum? ".
" Kan itu mah dewasa, beda sama gede... "
Semua orang terkekeh, lucu dengan Keyra versi anak gede belum dewasa ini, terlebih jarang-jarang mereka akan melihat pemuda itu bersikap manja, profesinya sebagai Bodyguard membuat Keyra harus bersikap layaknya orang-orang kuat.
Hingga waktu terus berjalan seiring jarum jam yang berputar, di ruang tamu ini sudah banyak orang tambahan yang ikut mengontrol dan berkenalan dengan Ika, jika ingin tau, selain Reza dan Alfa, para orang tua dan Razka juga kini sudah pulang dari kerja mereka.
" Hm... Aldo, kayaknya ibu harus pulang dulu deh, sekarang udah jam 4 soalnya, takut ayah nyariin ". Ucap Ika kala itu memegang pundak anaknya.
" Ya udah... Kalau gitu Aku anter ya bu ".
Keyra hendak beranjak dari duduknya, namun sebelum hal itu terjadi, Ika menolak tawaran pemuda itu dengan alasan supaya dia segera beristirahat. Sejak tadi, dia sudah sangat memperhatikan wajah anaknya yang kian memucat dari war ke waktu, terlebih tangan putih Keyra yang sebelumnya ia pakai untuk mencium tangan Ika sudah terasa lebih panas dari sebelumnya.
Tentu saja itu membuat semua orang yang ada disana menjadi khawatir, mengingat kondisi anak itu yang masih sangat rapuh terkait lukanya, Cilla yang disana sebagai dokter melirik ke bagian perut Keyra yang kini tengah dipegang sejenak oleh yang punyanya.
Berakhir dengan kalah oleh bujukan Ika, Keyra mengantar ibunya sampai depan rumah dengan wanita itu yang masuk ke mobil hendak diantar oleh pak supir keluarga Elrahma.
" Kamu jaga kesehatan ya, sayang... Abis ini langsung istirahat, toh Minggu itu hari libur kamu kan? " Ucap Ika yang memunculkan wajahnya dibalik jendela mobil.
" iya ibu, tenang aja... Aku bakal jaga diri kok ".
" Ya udah... Ibu pulang dulu ya nak, dan Veri... Aku titip anak ku ya ".
Mendapat anggukan dari Veriska yang sejak tadi berada dibelakang Keyra, Una, Reza dan Alfa melambaikan tangan pada Ika ketika mobil yang dinaikinya melesat keluar gerbang rumah.
Hingga saat itu telah lewat, Keyra yang sejak tadi menahan diri didepan ibunya mulai kalah dengan rasa sakit diperut.
Pemuda itu terhuyung, dan untungnya tidak sampai jatuh karena dengan sigap ditopang oleh Veriska dan Alfa secara bersamaan.
" Luka lo makin sakit Key? " Tanya Reza sedikit membungkuk melihat wajah Keyra yang tertunduk.
" Cuma lemes doang bang ". Ucap Keyra dengan senyum teduhnya meski pucat" bang kekey istirahat dulu yuk, pokoknya abis ini gak boleh ngapa-ngapain dulu!... Awas aja kalau alasan mau pergi lagi ".
Kali ini Una mengancam, namun bukannya takut, Keyra malah terkekeh sampai membuat gadis itu cemberut, memang ada hal lucu apa hingga membuat abang didepan itu tertawa?, Perasaan dia sudah bersikap tegas layaknya mengikuti gaya sang kakak sulung yang tegas.
Hingga waktu terus berjalan, semua orang pun menuntun Keyra pergi ke kamarnya, namun bukan lagi kamar tamu, ruangan yang Keyra pakai ini adalah kamar yang berada di lantai tiga, yaitu lantai kamar para tuan dan nona muda.
Meski awalnya menolak, Veriska dan Noland adalah orang yang paling memaksa dia untuk pindah ke kamar tersebut, dan pastinya semua itu berakhir Keyra yang kalah saat negosiasi, menentang sesuatu yang sudah diputuskan oleh mereka berdua susahnya minta ampun, kalau sudah sekali begitu ya harus begitu, dan kalau sekali harus begini ya begini, sungguh orang yang mempunyai watak keras bagai batu.
Hari demi hari terus berganti, kini sudah dua Minggu berlalu sejak kejadian penyerangan tempo hari kala Keyra yang saat itu mendapat luka diperutnya. Meskipun para tuan muda juga mendapat hadiah serupa berupa luka lebam dan goresan, namun tak ayal kalau semua itu tidak semengerikan luka yang Keyra dapatkan.
Sampai-sampai, entah ada badan dari mana datangnya, semua penghuni di rumah Elrahma kini selalu memperhatikan setiap kegiatan Keyra, baik yang kecil maupun besar, mereka seolah tidak luput dari kata khawatir. Wajar-wajar saja jika Una dan Cilla yang kala itu adalah orang paling perhatian dari semuanya, karena mereka memang terobsesi dari awal pada Keyra, namun apa jadinya jika Reza, Alfa, Razka sampai para orang tua pun kini juga ikut sama perhatiannya?, Itu membuat Keyra gila!.
Terlebih absen sekolah selama masa istirahat itu sangat membuat Keyra bosan, untungnya ada teman lamanya yang menemani dengan obrolan di group chat online, setidaknya pemuda itu tidak terlalu merasa suntuk.
' Hah... Moga aja istirahat gue gak diperpanjang lagi '. Batin Keyra.
Bersambung
untuk chapter ini agak dikit ya, aku ngebut nulis soalnya, kalau ada salah kasih tau aja ok.
See you next chapter
__ADS_1