Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
23# Bantu pasutri paruh baya


__ADS_3

Kabar bahwa Keyra yang menerima hadiah dengan senyuman dari seorang gadis menyebar dengan cepat, semua orang membicarakan hal tersebut karena baru kali ini di sekolah terdapat orang yang segerombol dengan para Es dari kutub utara bersikap ramah dengan senyum hangatnya. Dari situ siapakah es dari kutub utara yang disebut?, tentu saja mereka adalah Reza and the geng, keempatnya terkenal sangat sulit didekati, terlebih sikap cuek bin juteknya itu yang membuat sebagian para primadona putri disekolah banyak yang mengejar meski berakhir ditolak mentah-mentah.


Dalam sejarah tiga tahun terakhir, hanya Inez lah yang dapat meluluhkan hati salah seorang dari keempatnya, orang tersebut adalah Alfa yang jatuh hati pada pandangan pertama, namun sayang, sepertinya dilihat dari kejadian pas PTA tempo hari, yang mana Inez terkenal sedikit kasar dan tempramental pada pria malah bersikap ramah dan frienly dengan Keyra, sampai-sampai pemuda tersebut dapat menyebut panggilan dekatnya, wah... apakah ini yang biasa disebut cinta segitiga?, sungguh pembahasan yang sangat hangat disekolah.


“ Bang... gue pulang jalan kaki aja ya “ Ucap Keyra yang saat ini baru sampai ke parkiran.


“ Kenapa? “ Tanya Reza.


“ Mau mampir ke suatu tempat, bentar doang kok “.


“ Bang kekey mau kemana? Una mau ikut ya “. Ucap Una dengan sedikit rengekan.


“ Mending jangan deh na, sebenernya gue cuma mau ke kontrakan lama aja, kemaren-kemaren juragan kontrakannya chat gue, katanya sih bakalan ada orang yang mau nempatin rumah itu, jadi beliau minta tolong gue buat beres-beres dikit kalau lagi gak sibuk... “.


“ Yah... emang kenapa bang?, Una bakalan bantu kok, gak bakalan diem doang “.


“ Una sayang... kamu ngapain kesana, bantu beres-beres itu cape lho, nanti kalau kamu pegel-pegel gimana? “ Ucap Reza menenangkan.


“ Una gak bakalan kerja yang berat-berat kak, lagian kontrakan bang Kekey gak terlalu besar, iya kan bang Kekey?, Una kan pernah kesana “.


“ My beautiful Una, kenapa kamu mau ngerjain pekerjaan yang berat gitu?, entar kalau ketiban benda yang kamu bawa gimana?, terus kalau luka sampai infeksi kan bahaya “. Kali ini Alfa yang membujuk.


“ Ih... kak Reza sama kak Alfa kok ngomong kayak gitu sih?, lagian rasa cape itu hal yang lumrah kalau kita lagi kerja, terus walaupun lecet dikit kan gak papa, Una itu udah besar kak, Una udah bisa jaga diri... “.


Masih dengan rengekannya, Keyra menghela nafas karena menjadi penonton dari perseteruan ketiga bersaudara ini, padahal masalah sepele lho, kenapa harus diperpanjang sih?.


“ Ok semuanya udah, udah, udah... kalian gak usah berantem lagi, mending gini aja deh Una, lo sekarang lebih baik pulang duluan sama para kakak “.


“ Tapi bang__... “.


“ Jangan potong dulu, gue bakalan jelasin pelan-pelan, jadi tolong dengerin ya “ Lanjut Keyra memotong omongan Una dan dijawab anggukan olehnya.


“ Nah... abis itu, dikarenakan lo bersi keras pengen ikut gue ke kontrakan, abis kalian pulang, ganti baju dan bersih-bersih segala macem tek-tek bengek plus makan juga... entar lo sama para tuan muda nyusul gue aja ke kontrakan, menurut gue nih... kalau dadakan langsung kesana pasti orang tua kalian khawatir, dan untuk meminimalisir gue kena marah sama Om Juan, kalian jangan lupa izin sama beliau sebelum kesini “.


Usulan itu diterima dengan muda oleh Alfa dan Reza, kedua pemuda tersebut menganggukkan kepala dengan ekspresi biasa saja, menurut mereka ini lebih baik dari pada langsung kesana, keuntungannya sih sudah jelas jika Una pulang terlebih dahulu pasti Keyra sudah melaksanakan sebagian pekerjaan disaat gadis itu datang ke kontrakan, ide yang cemerlang, Reza dan Alfa sedikit mengakui kecerdasan Keyra, meskipun setengah hati, tidak sepenuhnya ikhlas.


‘ Yah... padahal Una mau bantu-bantu bang Kekey supaya kerjaannya cepet beres, kasian kan kalau abang ngerjainnya sendiri ‘ Batin Una memandang murung Keyra yang tersenyum padanya.


***


Keyra melesat dengan skateboard yang sebelumnya sengaja ia bawa, dengan angin yang berhembus mengenai surai, pemuda itu menikmati segarnya udara siang hari menjelang sore ini ketika hendak menuju kontrakan nya dulu, dan sekitar 10 menit kemudian dia pun sampai ditempat tujuan.


“ Eh? ini kontrakan yang gue tempatin dulu gak sih? “ Tanya Keyra pada diri sendiri.


Bukan tanpa alasan dia seperti itu, dilihat dari jauh pun bangunan yang semulanya kecil entah kenapa berubah menjadi rumah tingkat dengan nuansa elegan, apa Keyra salah ingat dimana tempat ia tinggal dulu?. Disaat pemuda itu sedang dilanda kebingungan, terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang membuat fokusnya berpaling ke arah pelaku.


Keyra berbalik, ia menemukan ada 3 orang yang mendekat kearahnya, diantara kedua pria dan wanita paruh baya itu Keyra mengenal salah satunya sebagai juragan kontrakan, pak Parman.


“ Hallo Keyra, gimana kabar kamu? “. Ucapnya seraya tersenyum hangat menyapa pemuda dihadapannya.


“ Eh, pak Parman... alhamdulillah, saya sehat-sehat aja “. Ucap Keyra setelah mencium tangan pria itu dan sedikit membungkuk ke arah dua orang dibelakangnya.


“ Hm... saya liat kamu makin ganteng aja ya, ini pasti efek kerja kamu yang bagus... “.


“ Hehe, si bapak bisa aja, tapi emang bener sih... saya makan teratur, jadi gemuk dikit deh “.


“ Sebelumnya saya mau minta maaf karena nyuruh kamu bantu buat beres-beres... kamu gak lagi sibuk kan? Saya liat kayaknya kamu langsung kesini abis pulang sekolah “.


“ Enggak kok pak, saya lagi senggang, jadi santai aja... dan lagi saya kaget lho sama rumah ini, kapan di renovasi nya?, udah bagus aja saya liat “.


“ Baru beres beberapa hari yang lalu, tinggal isi sama barang-barang doang, terus ini bukan kontrakan saya lagi Key “.


“ Dibeli orang lain kah? “.


“ Iya, dan kenalin... dibelakang saya ini orang yang bakalan tinggal dirumah itu “.


Pak Parman memperkenalkan dua orang dibelakang sebagai Pak Dharma dan Ibu Yuli, diceritakan bahwa keduanya baru pulang dari luar negri dan ingin menetap di Indonesia, sebelumnya mereka hendak membeli rumah di perumahan sekitar sini, namun saat melihat kontrakan pak Parman yang strategis, keduanya memutuskan membeli bangunan serta tanahnya untuk dibangun ulang menjadi rumah yang impian yang saat ini sudah berdiri kokoh dihadapan. Namun entah kenapa Keyra melihat keduanya seolah pernah bertemu, pak Dharma dan bu Yuli nampak familiar, terutama wanita paruh baya itu, wajahnya mirip dengan seseorang, namun Keyra tidak ingat siapa orangnya.


“ Ouh... jadi tuan sama nyonya ini baru pulang dari luar negri ya, terus sekarang tinggal di mana? “. Tanya Keyra dengan senyum ramah yang tak pernah lepas dari wajahnya.


“ Kita sementara nginep di hotel dulu, dan untungnya barang-barang yang kita pesen bakal sampai hari ini, jadi kemungkinan besar bisa langsung pindah besok “ Ucap Pak Dharma, lelaki yang terlihat hampir mendekati usia 60 tahun, namun badannya masihlah tegap seperti seorang tentara.


“ Wah... kalau gitu saya seneng dengernya tuan “.

__ADS_1


“ Fufu, kamu anak yang ramah ya, jadi kangen cucu saya deh “. Ucap bu Yuli.


“ Ouh... tuan sama nyonya punya cucu ya?, kenapa gak ikut bantu pas pindahan? “.


“ Ahaha... itu... “.


Pasutri tersebut saling memandang satu sama lain, keduanya tersenyum canggung tanpa melanjutkan kata-kata, dari situ Keyra tersadar dan mengerti karena sudah melontarkan pertanyaan yang seharusnya tidak ia utarakan. “ Em... maaf tuan, nyonya... kayaknya saya terlalu kepo, mending omongan saya yang tadi itu gak usah dijawab, saya jadi ngerasa bersalah “.


“ Gak papa kok nak, kita cuma bingung aja mau ngejelasinnya gimana “. Ucap Bu Yuli.


“ Kalau gitu sekali lagi saya minta maaf ya “.


“ Iya, gak papa... ngomong-ngomong kamu sekarang kelas berapa? Diliat dari seragamnya... kayaknya kamu udah SMA ya? “ Tanya pak Dharma.


“ Iya tuan, saya baru kelas 10 “.


“ Ouh... kelas 10, berarti kamu sekitaran 16 atau 17 tahun dong? “. Ujar Bu Yuli.


“ Itu... saya baru 15 tahun nyonya “.


***


Disebuah jalur jalan raya Jakarta, melesat cepat sebuah mobil berwarna hitam dengan kecepatan sedang, cuaca yang cerah hari ini cukup membuat atmosfer bumi terasa panas, ditambah banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, serta berbagai individu yang melakukan pekerjaannya masing-masing, suasana kota makin terlihat ramai seiring berjalannya waktu meski hari mulai menjelang sore.


Membahas sebuah mobil tadi, Una adalah salah satu penumpang yang kini tengah memainkan ponselnya, bersama dengan dua orang kakak yang selalu siap ngintil kemana saja, Reza dan Alfa mengobrol ringan seputar game yang mereka mainkan kemarin-kemarin.


“ Hm... kak Eza, kok bang Kekey gak bales pesan Una ya? “ Tanya gadis imut itu yang sedari tadi menekuk wajahnya.


“ Hpnya mati kali “.


“ Tapi aktif lho, Una sempet nelpon cuma gak diangkat... apa bang Kekey nyimpen hpnya di dalem tas? “.


“ Una cantik tenang aja, bentar lagi juga kita bakalan sampe kok... kamu gak perlu ngirim pesan ke si Keyra, dia kan orangnya sok sibuk “. Ucap Alfa dengan sedikit menjelekan nama Keyra diakhir kalimat.


“ Hm... kak Alfa kebiasaan “. Una menekuk wajah, ia kembali memfokuskan diri pada ponsel membuat Alfa yang terabaikan menjadi bingung, sebenarnya ia salah bicara atau apa sih?, perasaan dari tadi dirinya sudah menahan diri untuk tidak memaki dan mengatai Keyra yang jelek-jelek.


“ Gue salah apaan Za? “ Tanya Alfa bingung kepada Reza yang berada disampingnya.


“ Jangan tanya deh, lo bloon nya tingkat dewa kalau urusan beginian, walaupun gue juga gak demen sama tu anak... tapi setidaknya gue gak mau Una tau hal itu “. Ucap Reza sedikit merendahkan suara di akhir kalimat.


“ Udahlah... gak usah dipikirin, dah mau nyampe nih, mending lo benerin resleting celana noh, dari tadi kebuka juga “.


Alfa terkejut, ia melihat selangkangannya yang menampakkan pakaian dalam berwarna biru padam, bergegas menutup resleting, pemuda itu menggerutu karena anak yang berada disampingnya kenapa baru memberitahu hal ini, jika telat kan bahaya kalau sampai dilihat oleh orang lain.


“ Haha... paling burung lo gak suci lagi “ Ucap Reza terkekeh.


“ Bangsul emang lah, lo sama si Keyra sama aja, tengilnya kebangetan “.


Sambil terus tak menghiraukan ocehan Alfa, Reza memfokuskan pandangan ke depan sesekali melihat kaca spion untuk memperhatikan adiknya, Una. Meskipun dalam perkataan kedua pemuda tersebut tidak suka dan sering kesal pada Keyra, namun ketahuilah hati mereka sebenarnya adalah pribadi yang baik, namun gengsi untuk mengutarakannya secara langsung, mulut dan hati tidak pernah sama.


Beberapa menit kemudian, Ketiganya sampai ditempat tujuan.


“ Ini tempatnya Za? “ Tanya Alfa melihat beberapa orang yang tengah sibuk mengangkat barang.


“ Menurut alamatnya sih iya... coba gue telpon Keyra bentar “.


Reza mengeluarkan telpon genggamnya, dan mengklik salah satu nomor yang mana rentetan angka tersebut tersambung ke ponsel Keyra.


Tut..tut...tut...


“ Hallo? “ Ucap seseorang disebrang telepon.


“ Hallo Key, gue sama Alfa, Una udah nyampe nih, lo dimana? “. Ucap Reza sambil keluar dari mobil diikuti kedua orang lainnya.


“ Oh, kalau gitu tunggu bentar ya, gue kesana... lo ada di depan kan bang? “.


“ Iya, cepet kesini buruan... Una udah nunggu nih “.


“ Iya sabar, gue kan jalan pake kaki, kalau terbang baru lo boleh protes“.


“ Ok, gue tutup dulu “.


Reza memutuskan panggilan, kali ini dia melihat sekeliling komplek yang mana cukup ramai dengan beberapa orang dan kendaraan yang berlalu lalang, sepertinya jalan disini cukup umum untuk menjadi jalur alternatif, karena dari banyaknya kendaraan, Reza melihat banyak angkutan umum yang lewat, sambil menunggu kedatangan Keyra, Reza mengelus sambil menenangkan Una yang selalu antusias ketika menyangkut perihal anak itu, hingga 5 menit kemudian pemuda yang ditunggu pun datang sambil berlari sedang.

__ADS_1


“ Huu... lama amat si, dah pegel tau gue nunggu “ Ucap Alfa ketus sambil melihat Una yang langsung memeluk ringan Keyra.


“ maaf bang, tadi antriannya panjang banget “.


“ Emang bang Kekey abis dari mana? “ Tanya Una menengadahkan pandangan pada pemuda yang lebih tinggi darinya itu.


“ Abis beli minum di minimarket tadi, nih... lo mau gak? gue beli banyak buat yang lain juga soalnya “.


“ Buat abang aja... Una liat bang Kekey kayak lagi cape banget “.


“ Enggak kok, kerjaannya cepet karena banyak yang bantuin, mending kita langsung kesono aja... Kebetulan mereka lagi pada istirahat “.


Mengikuti arahan Keyra, Una beserta Reza dan Alfa kini berjalan menuju rumah tingkat yang terdapat banyak orang sedang duduk disana, terdiri dari 3 orang bapak-bapak yang sedang duduk selonjoran sambil memakan camilan dan 1 orang ibu-ibu yang kini tengah mengobrol dengan seorang pemuda seumuran dengan Razka.


“ Ya ampun key... kok lo baru dateng sih? Orang-orang udah pada keausan noh “.Ucap pemuda tersebut pada Keyra.


“ Maaf bang, saya tadi abis jemput temen dulu “.


“ Oh... temen Keyra juga ikut bantu, ya udah sini duduk dulu... kebetulan kami lagi istirahat, jadi kalian tunggu sambil makan camilan aja ya “. Ucap ibu-ibu ya berada di sebelah si abang.


“ Madam... nih minuman nya, saya taro dimana ya? “ Tanya Keyra pad ibu tersebut.


“ Taro di situ aja Key “.


Keyra meletakan bungkusan yang ia bawa tadi di atas meja, seraya sambil mengobrol ringan dengan si abang dan si madam, mereka berdua merupakan tetangga Keyra saat masih tinggal dikontrakan, meskipun bisa dibilang ketiganya jarang sekali bertemu, namun melihat dari akrab dan santainya mereka kala berbicara, Una yang melihat sosok Keyra pun kini menilai bahwa pemuda itu adalah tipe orang yang mudah bergaul.


Ditengah para kakak yang disapa oleh orang lain, dan Keyra yang masih mengobrol asik dengan si abang dan madam, gadis yang semula diam kini milih bersandar ditembok sambil mengalihkan perhatian pada ponsel pintarnya. Gadis itu memang sangat ingin bersama dengan Keyra, sebenarnya ia hendak bercerita tentang reaksi teman-teman dikelas ketika ia memperlihatkan atraksi saat Keyra main skateboard tempo hari, namun ia juga tidak ingin mengganggu momen abangnya yang sudah lama tidak mengobrol dengan orang-orang disini.


“ Haha... udah deh udah... saya kan jadi malu bang, apaan kali nyambung ke pernikahan segala? “ Ucap Keyra tersenyum canggung.


“ Ya nyambung lah Key, semua hal yang kita lakuin pasti berujung ke pernikahan, kan kerja juga ujung-ujungnya nabung buat kawin “.


Keyra terdiam, tidak ingin membahas hal itu lagi dan memilih kabur dari percakapan dengan alasan ingin menemani Una, si abang dan madam yang dibelakang terkikik lucu melihat pemuda itu menjauh dengan perasaan yang pasti tidak bisa diungkapkan, mulai dari rasa malu, bingung, pusing, dan... entahlah, bodo amat gak mau dipikirin.


“ Eleh-eleh... pasti si Keyra bingung soal percakapan tadi “. Ucap Abang memandang Keyra yang kini sedang berinteraksi bersama Una.


“ Itu gara-gara kamu si... lagian ngebahas pernikahan ke anak yang baru masuk SMA, ngaco emang kamu ya “.


“ Niatnya kan cuma iseng Dam... “.


Obrolan terus berlanjut, ditengah percakapan madam dan si abang yang membuat telinga Keyra panas dan berdengung, pemuda itu kini mengajak Una untuk masuk ke dalam dan pergi bertemu dengan pemilik rumah, ia cukup antusias dan senang bila ketiganya bertemu dan akrab, sementara itu Keyra tidak hanya mengajak Una, melainkan Reza dan Alfa pun ia seret kedalam menuju dapur.


Selama mengamati keadaan beberapa saat yang lalu, Keyra menemukan kalau Yuli merasa kesepian meski tidak terlihat jelas, mungkin efek sudah lanjut usia, seorang pasti akan merasa sedih jikalau anggota keluarganya terutama sang anak sibuk kerja dan tidak sempat meluangkan waktu untuk dirinya, terlebih meskipun sudah memiliki cucu, seiring berjalannya waktu pasti akan ada jarak yang memisahkan ketika mereka memasuki usia remaja.


Walau tidak membantu terlalu banyak, Keyra berencana untuk mengurangi rasa kesepian Yuli dan Dharma dengan cara mempertemukan keduanya dengan cucu keluarga Elrahma, ketiga orang ini cukup berbakat untuk membuat para orang tua senang, sikap mereka yang manja pada keluarga mungkin dapat membuat pasutri paruh baya itu sedikit mengurangi rasa rindu mereka terhadap keluarga.


“ Jadi... gue minta tolong sama kalian ya “ Ucap Keyra ketika keempatnya berada diruang tamu setelah menerima penjelasan panjang lebar.


“ Ok, bang... Una gak masalah kok “.


“ Gue sih ok aja, Tapi apa untungnya gue ngelakuin hal itu? “ Tanya Alfa


“ Iya lho... meskipun cuma bersikap seperti biasa ke mama sama papa... tapi kalau ke orang lain gue gak biasa, plus tenaga gue ke kuras juga “. Susul Reza dengan mendramatiskan kata-katanya.


“ Ok, ok... entar gue beliin kalian jajanan, tapi tolong jangan bilang sama om Juan, gue gak mau kena semprot “.


“ Deal!!! “. Ucap Una, Reza dan Afa bersamaan.


Semuanya berjalan menuju tempat yang disebut, sambil terus senyam-senyum memikirkan tentang enaknya jajanan yang Keyra beli nanti, keempat orang itu masuk ke sebuah ruangan dan menampakan dua orang yang terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan orang itu tidak lain adalah Dharma dan Yuli. Tidak dengan sang istri yang sedang mengoseng-oseng bahan makanan di wajan kala memasak, sang suami kini lebih terlihat seperti sedang membereskan peralatan makan, dan saat itu juga, fokus keduanya kini beralih pada para remaja yang masuk dengan senyum sopan.


“ Eh? “.


Dharma dan Yuli terdiam, dengan pandangan yang terpaku pada rombongan Keyra yang baru masuk ke dapur, kedua orang itu mematung seolah terkejut dengan apa yang sedang mereka lihat, sama halnya dengan Una, Reza dan Alfa, Keyra dibuat bingung dengan situasi sekarang, ada apa dengan kelima orang itu?, dirinya yang bingung hanya celingak-celinguk memperhatikan ekspresi setiap orang yang kini cosplay jadi batu, bahkan berkedip pun mereka tidak.


' Kok malah pada jadi patung gini sih? ' Batin Keyra.


“ Em... maaf, kalian-kalian kenapa pada bengong gini? “.


Tepat saat kalimat Keyra keluar, semua orang sadar, namun setelahnya peristiwa tak terduga pun terjadi.


“AAAAARGH!!! “.


Mereka berteriak, membuat jantung Keyra hampir copot dengan detakan yang tidak terkontrol, apa yang terjadi?. “ OPA DHIMAS?!!!, OMA YULI?!!! “. Ucap para cucu Elrahma dengan ekspresi tak dapat dijelaskan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2