Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
43# Sama Persis


__ADS_3

Perseteruan antara Cilla, Razka dan Arid terus memanjang, hal itu membuat Keyra yang paling dekat dengan meraka hanya bisa menggeleng kepala, sepertinya tidak yang muda maupun tua, kalau sudah disatukan dengan orang terdekat, pasti cepat atau lambat akan terjadi peristiwa adu mulut. Terlebih Keyra baru tahu kalau Razka yang biasanya tenang dan kalem bisa sebobrok dan secerewet ini.


“ Haha... Kamu pasti pusing ya Key liat perdebatan dimana-mana “. Tanya Veriska pada Keyra, sedangkan pemuda itu hanya tersenyum lalu melihat sekitar dan menemukan apa yang wanita itu ucapkan.


“ Pusing sih enggak, Tan... cuma agak baru aja, soalnya saya baru liat mansion ini penuh sama orang-orang “. Jawab Keyra.


“ Ya ampun, padahal ini itu belum semuanya lho, cuma empat orang tua sama pekerja aja yang kumpul, belum keluarganya “. Ujar Yuli.


“ Emang biasanya lebih dari ini? “.


“ Pasti lah, untuk Faren... istri dan anaknya gak ikut karena satu alasan, kalau si Cakra anak-anaknya masih ada diluar negri dan gak bisa ikut kumpul, terus anak dan cucu oma pun belum dateng, katanya sih udah deket, tapi entah kenapa gak nyampe-nyampe “.


“ Eh?, anak nyonya mau kesini? “.


“ Ya iya dong, masa enggak sih, dan lagi... bisa gak kamu jangan manggil saya ‘nyonya’?, gak enak didenger lho, Key. Panggil 'Oma' “.


“ Ahaha, itu... iya Oma “.


“ Good boy “


“ Hm... ok, ok, mungkin kali ini aku bakal pamit duluan ya semuanya, mau siap-siap buat makan malem “. Ucap Devina lalu beranjak bersama Yuli yang menawarkan diri untuk membantu.


“ Hm... kalau gitu aku pulang dulu aja ya Ver, dah sore juga soalnya “. Ucap Ika.


“ Eh?, kok udah mau pulang? Bu Ika gak mau nginep dulu? “. Ucap Una.


“ Iya nih, nginep aja lah Ka, bahaya tau kalau sampai rumah kemaleman “. Susul Veriska.


“ Gak usah deh, ini juga aku gak enak karena udah ngerepotin “.


“ Ya ampun... ngerepotin apa sih, ya enggak lah, orang hamil keluar sore itu pamali tau, pokoknya kamu harus nginep, iya gak Key “. Ucap Veriska dan dijawab anggukan cepat oleh Keyra.


“ Iya bu, Aldo khawatir kalau nanti dijalan ada penyerangan tiba-tiba “.


“ Penyerangan apa? “. Tanya Ika membuat Keyra meringis, pasalnya ia kelepasan karena membahas soal penguntit atau musuh dari keluarga Elrahma.


“ Maksud aku begal bu, atau enggak... gimana kalau nanti bannya tiba-tiba bocor pas ditengah jalan jadi kemaleman?, terus gimana kalau mobilnya mogok dan supirnya gak bisa benerin?, kalau enggak gimana kalau tiba-tiba ada makhluk halus yang hadang perjalanan ibu pas pulang nanti? “. Ucap Keyra dengan pertanyaan beruntunnya, Una dan Veriska sampai tertawa kecil karena melihat Ika yang menghela nafas berkali-kali menghadapi Keyra versi bawel ini.


“ Iya, iya... ibu bakalan nginep “. Putus Ika membuat orang yang menatapnya mengembangkan senyuman.


“ Nah... gitu dong, abis ini mending aku anter kamu ke kamar tamu, sekalian istirahat juga “. Ucap Veriska.


“ Eh? langsung sekarang?, enggak nanti aja? “.


“ Sekarang aja bu Ika, Una bakal ikut temenin deh, bang Kekey mau ikut juga kan? “. Tanya Una.


“ Ayo “.


“ Kalau gitu... Una bawa makanan yang ini deh ya, biar nanti bisa sambil nyemil “. Ucap Una sambil mengambil sepiring camilan, namun beberapa detik kemudian Keyra mengambil piring itu dari tangan Una.


“ Biar gue aja yang bawa, takut jatoh entar “.


“ Ok “.


Keyra, Una, Ika dan Veriska melangkah menuju lantai dua, meninggalkan para suami dan anak-anak yang masih asik dengan kegiatan masing-masing, si gadis bungsu keluarga Elrahma itu seperti biasa mengandeng tangan Keyra kala mereka jalan berendengan. Namun belum genap 6 langkah, atensi semua yang ada disana tertuju pada seseorang yang muncul sambil mengucapkan salam.


“ Assalamualaikum, Semuanya... “.


Keyra dan ketiga wanita disampingnya menoleh kebelakang, memperhatikan siapa tamu yang datang, matanya menangkap ada sepasang suami istri dan seorang pemuda dengan wajah ramah, kalau dilihat mungkin dia seumuran dengan Keyra, atau lebih tua sedikit seumuran dengan Reza dan Alfa?. Entah lah, yang pasti pandangan Keyra kini bergeser pada sang ayah, perawakannya bagus, cukup tinggi dan bisa disamakan dengan Erlang, lalu lanjut ke arah sang ibu yang rambutnya terurai__...


Deg


Tunggu... Dia...


Prang

__ADS_1


Semua orang terkejut dan menoleh ke arah sumber suara timbul. Dimana Veriska dan Ika yang kini sedikit kelimpungan dengan kekacauan didepan mereka, Keyra adalah pelaku dari orang yang memecahkan piring hingga membuat kebisingan. Tiga wanita disekitarnya sudah banyak bertanya menanyakan apakah dia baik-baik saja, namun bukannya menjawab, pemuda berusia 16 tahu itu hanya diam dan tidak memberikan respon, malah jika dilihat lebih teliti, pandangan Keyra saat ini lebih terkesan kosong sambil terus terpaku kearah depan.


Heran dengan kelakuan sang anak, Ika yang pertama kali menyadari pun mengikuti arah pandang Keyra. Didepan sana, Ika melihat bahwa anaknya sedang memandang ke arah tiga orang yang baru datang tadi, lebih tepatnya ke arah perempuan disebelah seorang remaja, awalnya Ika bingung, apa yang salah dengan wanita tersebut sampai membuat Keyra menatapnya seperti itu?, terlebih dia sudah seperti patung yang tidak bergerak, dipanggil tak menyahut, bahkan diguncang sedikit oleh Veriska dan Una pun sejak tadi hanya diam saja.


Ika semakin mengamati wanita yang Keyra pandang, lama-kelamaan ia merasa wajah itu nampak familiar, hingga di menit ke tiga pun tiba, mata Ika membulat sambil menutup mulut karena terkejut.


“ Keyra... hey!, jangan buat tante takut, nak... kamu kenapa?, jawab tante, sayang. Dan kamu Ika, kenapa kamu malah ikut-ikutan kaget kayak gitu? “. Ucap Veriska.


“ Bang Kekey, hiks... “.


Fokus semua orang yang membeku kini buyar, Erlang dan Juan memilih mendekat kearah Keyra dan tiga wanita disekitarnya, sementara para tuan muda memilih diam ditempat terkecuali Cilla yang bergegas memeriksa apakah ada yang terluka atau tidak.


“ Ibu? “.


Pergerakan semua orang terhenti, bahkan Noland dan ketiga temannya yang hendak mendekat pun menjadi urung, apalagi dengan kebingungan ketiga orang yang baru datang tadi, mereka tidak tahu dengan situasi yang ada didepan. Sebuah kata muncul dari mulut Keyra yang sejak tadi tertutup, membuat Ika yang disampingnya menatap sang putra tak percaya.


Benar, wanita yang baru datang tadi... sangat mirip dengan almarhum ibu Keyra, yaitu Hera. Namun tidak dengan jilbab yang menutupi rambut, perbedaannya hanya itu, selebihnya terlihat sama persis, senyum manisnya, lesung pipinya, bahkan raut wajah khawatir pun sangat, sangat, sangat mirip.


“ Ini... gak mungkin... gak mungkin! “.


Mendadak Keyra menjadi histeris, nafas pemuda itu memburu, wajahnya panik hingga membuat orang khawatir melihatnya, apa yang terjadi pada Keyra?, terlebih tanpa memikirkan dirinya akan terluka, Keyra maju ke depan 5 langkah dan melintasi pecahan piring tadi. Ika yang tersadar segera mencekal pergelangan tangan Keyra, takut terjadi hal yang tak diinginkan, wanita itu berusaha untuk berpikir jernih ditengah keterkejutan yang melanda.


“ Aldo, tenang nak... tenang “. Ucap Ika sambil memegang kedua bahu Keyra.


“ Bu Ika, Ini gak mungkin kan?... a, aku lagi halusinasi kan? “


Keyra berucap dengan suara lirih, semua orang yang mendengarnya merasa tercubit, entah kenapa nada bicara pemuda itu nampak sangat sedih, ditambah matanya yang berkaca-kaca, semua orang dirumah baru pertama kali melihat Keyra yang seperti ini, tidak ada lagi Keyra yang ramah si anak dewasa, tidak ada lagi Keyra si tengil dan menyebalkan, dan tidak ada lagi Keyra yang manja hanya pada Ika, sekarang... hanya ada Keyra, yang rapuh.


“ Tenang, sayang... ibu tau kamu mikir apa, jangan panik ok “.


“ Tapi, tapi... ini gak masuk akal bu, kenapa dia mirip sama almarhum Ibu Aldo? “.


“ Mungkin cuma kebetulan, Do... atur nafas kamu, jangan panik nak, badan kamu sampai gemetaran gini, Ya Allah... “.


“ Kalau sekilas aku gak masalah... tapi ini, ini_... “.


Ucapan Keyra terhenti, kala itu Ika langsung membawa sang anak kepelukannya, tidak ada embel-embel menolak, bukannya kaget maupun heran, Keyra malah diam sambil membalas pelukan sang ibu sambung. Di balik pundak Ika, hati pemuda itu kacau, kepalanya tidak bisa berpikir jernih, entah kenapa kala melihat wajah duplikat sang ibu semuanya terasa runtuh, perasaan rindu langsung menghujam Keyra sampai membuat dadanya sesak, ingin rasanya ia menangis terisak dan langsung memeluk sosok yang mirip almarhum ibunya itu, namun air matanya tak kunjung keluar, dan lagi ia masih waras dan merasa tidak boleh sembarangan memeluk orang lain.


Dari situ semua orang makin bingung, terutama Veriska, selain ikut merasa perih melihat Keyra yang nampak rapuh, wanita itu penasaran dengan hal yang membuatnya menjadi seperti sekarang.


“ Ika, ada apa ini?, kenapa Keyra jadi kayak gitu? “. Ucap Veriska menghampiri dan disebelahnya masih ada Una yang setia mengikuti.


“ Itu... Aldo gak papa kok Ver, dia... dia cuma agak kaget karena satu hal “.


“ Kaget? “.


Ika bingung, pasalnya ia tahu kalau Keyra itu adalah tipe orang yang benci jika masalah dirinya tersebar, namun di situasi yang seperti ini, sepertinya ia tidak ada pilihan selain mengungkap kejanggalan ini.


“ Sayang, ibu izin kasih tau ya... “. Ucap Ika pelan meminta izin pada Keyra, meskipun tidak mendapat respon.


“ Sebenarnya... Aldo cukup kaget liat nyonya yang ada disana “. Ika membuka suara, matanya mengarah pada orang yang dituju, yaitu wanita yang baru datang bersama anak dan suaminya tadi.


“ Maaf, apa ada yang salah sama saya?, saya khawatir liat dia kayak gitu “. Ucap wanita tersebut membuat Ika tersenyum.


“ Tidak nyonya, justru saya sebagai orang tuanya mau minta maaf... sedikit mau menjelaskan, sebenernya saya itu ibu tiri Aldo, pemuda yang ada di pelukan saya, dan... mungkin penyebab dia kayak gini itu karena ngeliat wajah nyonya, karena dilihat darimanapun, muka nyonya terlihat sama persis dengan mendiang ibunya “.


“ Mi, mirip sama ibunya? “. Tanya wanita itu dengan mimik wajah yang berubah.


“ Iya... tapi sayangnya beliau udah meninggal sejak Aldo kecil “. Lanjut Ika.


Orang-orang disana mengangguk-anggukan kepala, mewajarkan reaksi yang Keyra tunjukan tadi, mereka paham rasa rindu akan orang yang sudah tidak dapat mereka temui lagi, ditambah kasus Keyra cukup prihatin, emosi pemuda itu pasti susah dikendalikan kala menyangkut sang ibu.


“ Ibunya Keyra, boleh saya tanya satu hal? “.


Bukan wanita tadi, melainkan orang lain yang menanyakan pertanyaan tersebut. Berasal dari kerumunan Noland berada, orang itu adalah Dharma yang sejak tadi hanya menyimak keadaan.

__ADS_1


“ Iya tuan, silakan... “.


“ Kalau boleh tau... nama mendiang ibu nak Keyra itu siapa ya? Kenapa bisa mirip dengan anak saya? “.


Sebagian orang bingung, sementara yang lain merasa penasaran untuk apa seorang Dharma menanyakan nama almarhum ibu Keyra?, padahal jika melihat situasinya, pria itu tidak akan mendapat keuntungan dengan mengetahui hal tersebut. Namun disamping itu, Noland adalah orang yang mengetahui alasan dari tindakan sahabatnya, sedikit banyaknya ia paham kala Dharma bereaksi dan tertarik dengan orang yang mirip dengan wanita yang baru datang tadi.


“ Maaf, apa... nyonya ini anak dari tuan? “. Tanya Ika terlebih dahulu.


“ Oh, iya... sebelum itu perkenalkan, dia anak kedua saya, namanya Heni. Lalu disebelahnya itu cucu saya, Evan dan yang di paling ujung Zein, menantu saya “. Ucap Dharma memperkenalkan mereka bertiga.


“ Kalau gitu saya minta maaf sekali lagi tuan karena sudah tidak sopan “.


“ Enggak, enggak... ibu gak perlu minta maaf, terlebih saya masih penasaran sama nama ibunya Keyra, karena... em... mungkin aja itu kenalan saya, soalnya dulu pernah ada yang mirip dengan Heni “. Ucap Dharma sementara Heni sang anak menatapnya tajam tanpa orang lain ketahui.


“ Iya kah?, kalau tidak salah ingat... nama ibu Aldo itu... Hera Put__... “.


“ Ibu “.


Ucapan Ika terhenti oleh Keyra yang kini lepas dari pelukannya, tidak lagi dengan wajah panik maupun gelisah, kondisi pemuda itu kini nampak normal seperti sedia kala. Alfa yang sejak tadi memperhatikan menaikan sebelah alis, menurut pendapat yang baru ia pikirkan, sepertinya Keyra itu adalah orang yang memiliki banyak topeng.


“ Aldo... “.


“ Aku gak papa bu “.


Keyra berbalik menghadap kerumunan, lalu dua detik kemudian ia membungkukkan badan. “ Untuk semuanya... saya minta maaf karena sudah membuat keributan “. Ucapnya.


“ Keyra... kamu gak perlu membungkuk gitu, kita gak papa kok “. Ucap Juan menghampiri.


“ Iya, bener... malah om lebih khawatir sama kamu, apa kamu baik-baik aja?, muka kamu agak pucet Key... “. Susul Erlang bersamaan dengan Veriska dan juga Una yang menanyakan hal serupa.


Keyra tersenyum teduh seperti biasanya, lalu menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja, meskipun begitu semua orang masih ragu, walau kala ini Keyra mulai membersihkan kekacauan dengan larangan dari Veriska, interaksi anak itu kembali normal seolah tidak terjadi apa-apa. Bersamaan dengan semua orang yang mulai bersikap seperti biasa, Heni, Evan dan Zein mengulang perkenalan diri mereka dan ikut bergabung dalam acara.


Tapi satu hal yang hanya diketahui oleh perasaan masing-masing, Dharma dan Heni sekarang sedang dalam suasana hati yang rumit, dalam benak mereka penuh dengan banyak pertanyaan, meski raut wajah mereka tidak terpengaruh dengan isi pikiran, Dharma dan Heni masih terfokus dengan kejadian tadi, lebih tepatnya kala Ika menyebutkan nama ‘Hera’, yaitu ibu dari Keyra.


‘ Ini gak mungkin kan?, apa benar kalau itu... ‘dia’? ‘ Batin Dharma dan Heni secara bersamaan.


***


Malam pun tiba, kala waktu menunjukan pukul 8, semua orang berkumpul untuk melakukan makan malam, tidak hanya keluarga Elrahma, baik itu para tamu Noland pun ikut bergabung dengan meja yang sudah di tata dan diperbesar oleh para pekerja.


“ Bu Jola... ini makanannya udah semua kan? “. Tanya Keyra kala semua piring sudah tersusun rapi diatas meja.


“ Kalau makanan semuanya udah, paling tinggal minumnya doang “. Jawab bu Jola.


“ Ya udah, kalau gitu saya ambil ya “.


“ Eh... gak usah nak Keyra, kamu mending langsung duduk aja, dari tadi udah bantuin emang gak cape?, mending sekalian langsung istirahat aja “.


“ Gak papa bu, saya belum cape kok... malah saya agak gak enak kalau gak ikut bantu-bantu “.


“ Gak perlu nak, mending kamu langsung kemeja makan aja... tadi ibu liat nyonya Ika nyariin kamu lho “.


“ Eh?, beneran? “.


“ Ngapain saya boong, mending nak Keyra samperin gih “.


“ Ya udah kalau gitu, saya izin duluan dulu ya bu, maaf gak bisa bantu banyak “.


“ Iya, hati-hati jalannya ya nak Keyra “.


Keyra mengangguk dan berjalan dari dapur menuju ruang makan, dari situ ia melihat suasana tempat tersebut cukup ramai. Dilihat ada beberapa orang tambahan yang sudah ia kenali selain ibunya duduk disamping Veriska, termasuk... wanita yang mirip dengan ibunya itu, hati Keyra seolah teriris melihat senyum lembut dan ramah darinya.


‘ Ibu... aku liat ada orang yang miriiip banget sama ibu... Aldo jadi kangen, pengen deh rasanya meluk dia sebagai ganti karena gak bisa meluk ibu ‘ Batin Keyra, dengan senyuman teduhnya, pemuda itu pun melangkah menuju meja makan dengan perasaan yang bercampur aduk.


Bersambung

__ADS_1


Hayo... Heni itu siapanya Keyra, hayo...


__ADS_2