
Alfa, orang yang pertama kali bicara setelah dikenalkan sebagai anak dari majikan Keyra, pria itu menggunakan tutur kata yang baik saat perkenalan, hal itu membuat Reza dan Una menjadi kagum dibuatnya, tanpa terkecuali Keyra yang saat ini menatap pria itu sedikit berbeda dari hari-hari biasa. Tidak hanya sampai pada perkenalan Alfa, kedua orang yang lain pun mulai membuka suara secara bersamaan, Ika yang melihatnya cukup lucu dengan kelakuan mereka.
“ Fufu... kalian ini anak yang sopan ya, dan juga tolong sampein salam saya ke orang tua kalian... saya mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mau memperkerjakan Aldo... “ Ucap Ika sedikit menundukkan kepala.
Ika duduk sesuai permintaan Keyra, mereka melanjutkan obrolan seputar perkenalan dan membahas tentang satu sama lain. Di dalam pembicaraan itu, satu hal yang Una, Reza dan Alfa temukan dari sisi Keyra yang mereka tidak ketahui, berbeda dengan biasanya, pria yang selalu sok benar dan dewasa itu kini berubah menjadi bocah yang tenang dan ceria di depan ibunya, meskipun mereka tahu jika sebagian orang akan membuat wajah lain ketika dihadapan orang tua mereka, namun saat melihat contoh langsung dari ulasan tadi sangat tidak mereka sangka-sangka.
“ Wah... jadi disini Aldo yang paling muda ya?, apa dia sering bikin masalah?... secara dia ini anak yang agak susah diatur kalau lagi ngambek “.
“ Ibu... aku yang sekarang kan gak bakalan kayak gitu “ Ucap Keyra menghela nafas.
“ Hihi... bagi ibu kamu itu masih kecil Al... “.
Sambil tertawa, Ika mengelus lembut rambut Keyra yang sedang menutup wajah dengan kedua tangan, terlihat jelas kalau pemuda itu sedang merasa malu. “ Em... permisi tante “. Ucap Una di tengah kegiatan ibu dan anak itu.
“ Iya, ada apa cantik? “.
“ Kenapa tante manggil bang kekey pake sebutan Aldo? Apa itu panggilan akrab? “.
“ Hm... gimana ya?, tante manggil Aldo pake nama itu karena nama awalnya memang ‘Aldo’, malah tante agak bingung karena kalian manggil dia Keyra, apa kamu ganti nama Al? sejak kapan? “ Tanya Ika menatap sipit Keyra.
“ Ahaha... bukannya nama itu gak terlalu penting ya, waktu SMP aku cuma ganti nama panggilan aja kok, gak sampai ganti nama bu... “. Ucap Keyra yang berusaha hati-hati dalam berbicara.
“ Tapi harusnya kamu bilang dulu sama ibu... kan bisa ganti nama panggilan selain ‘Keyra’, nama itu kayak perempuan tau, meskipun bagus, tapi ibu lebih suka nama kamu jadi ‘Zeiran’... atau ‘Anjelo’ juga boleh “.
Keyra hanya bisa mendengar ocehan dari Ika, ia bingung kenapa wanita itu harus mempermasalahkan nama panggilan, padahal jika dia ingin, bisa saja kan Ika tinggal memanggil dirinya dengan nama yang dia suka, tidak perlu repot-repot menasehati panjang lebar.
Disamping itu, Una beserta kedua kakaknya tertawa melihat Keyra terpojok, dalam sejarah singkat tinggal bersama pemuda itu, mereka tidak pernah melihat Keyra dalam kondisi benar-benar tak ada harapan untuk menang, biasanya saat berdebat dengan Reza dan Alfa, kedua pemuda itu selalu berakhir kalah saat perang argumen dengan Keyra, baik di rumah maupun disekolah, alasan Keyra selalu saja membuat keduanya kalah telak sampai tidak bisa membantah.
Lain dari keduanya, kini Una menatap Keyra dengan senyuman hangat, gadis itu senang karena bisa melihat abangnya yang menjadi diri sendiri di depan Ika, mungkin setiap anak akan selalu seperti itu, namun tanpa ia sadari, didalam hati dirinya merasa iri dengan Ika yang dapat membuat Keyra berbicara santai. Tidak serupa dengan orang lain, Keyra selalu menggunakan bahasa gaul ketika berinteraksi dengan sesama teman, berubah menjadi formal ketika berbicara dengan orang dewasa ataupun yang lebih tua, dan tidak pernah tuh Una mendengar Keyra menggunakan panggilan santai pada diri sendiri, ya... meskipun ungkapan gue/lo itu ucapan santai juga, namun sejauh ini Una tidak pernah mendengar Keyra menggunakan kata panggilan Aku/Kamu selain pada Ika sekarang ini, ingin rasanya pria itu berbicara dengan santai para dirinya.
‘ Kapan ya bang Kekey bisa ngobrol sesantai itu sama Una? ‘ Batin Una.
Beberapa menit kemudian, ke lima orang itu menghabiskan waktu masih dengan mengobrol seperti biasa, namun karena hari sudah menjelang siang, Ika berniat pamit karena sudah banyak panggilan tak terjawab dari seseorang, tidak lupa untuk bertukar nomor dengan Keyra, sejujurnya Ika sangat ingin mengobrol lebih lama dengan pemuda itu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan membuat mereka hanya bisa berbincang dengan waktu yang cukup singkat.
“ Kalau gitu... ibu pulang dulu ya Aldo “ Ucap Ika.
“ Hati-hati ya bu... jaga debay nya baik-baik “. Ujar Keyra.
“ Haha... tenang aja, adik kamu bakalan ibu jagain kok, dan juga... “
Ika tidak melanjutkan ucapannya, ia diam tersenyum dan melakukan suatu hal yang membuat Keyra dan ketiga cucu keluarga Elrahma terkejut menatapnya, wanita itu memeluk Keyra, sambil mengalirkan air mata, Keyra panik ketika mendengar isak tangis dari ibunya itu.
“ Eh?... ibu kenapa nangis? “ Tanya Keyra panik.
“ Ibu gak papa sayang... ibu cuma seneng bisa ketemu lagi sama kamu, untungnya kita bisa komunikasi lagi “. Ucap Ika masih dengan tangis harunya.
Keyra membalas pelukan dan mengelus lembut punggung ibu sambungnya, ia merasa bersalah karena dulu tidak sempat memberi kabar ketika pindah dari rumah asalnya, namun jika mengingat hal tersebut, tindakan yang Keyra lakukan saat itu adalah perbuatan paling tepat dari yang lain.
“ Aldo minta maaf ya bu... aku janji deh gak bakalan kayak gitu lagi “. Ucap Keyra.
“ Kamu harus janji ya, boongin orang tua dosanya gede lho “. Kali ini Ika berbicara sambil mengusap air matanya.
“ Iya... tenang aja, aku mana mau dikutuk kayak malin kundang “.
“ Haha... iya, iya... kalau gitu ibu pergi dulu ya, kamu gak usah anter, dan juga jangan lupa hubungin ibu ok... “.
Ika pergi setelah Keyra mencium tangannya, wanita itu hilang dari kerumunan orang sampai tak terlihat lagi, hanya diam setelah kepergiannya, hati Keyra kini terasa hangat karena bisa bertemu dengan orang yang baik setelah keluarganya dulu, sungguh hari ini adalah hari yang beruntung.
“ Huft... hah... pulang yuk, kayaknya jalan-jalannya sampai disini aja “ Ucap Keyra mengajak para cucu keluarga Elrahma untuk pulang.
“ Ayo aja sih, tapi Key... bukannya lo mau beli sesuatu ya?, apa gak jadi beli? “ Tanya Reza.
“ Hah? “
__ADS_1
***
Una, Reza dan Alfa saat ini sedang menunggu seseorang didalam mobil, sambil melihat kearah jendela, gadis yang sejak tadi mengkhawatirkan abangnya tidak pernah berhenti cemas. Yang di tunggu oleh ketiganya adalah Keyra, sejam yang lalu setelah bertemu dengan ibu asuhnya, pemuda itu lupa dengan benda yang hendak ia beli di awal rencana, karena lokasinya cukup jauh dan berada di ujung pasar, dia menyuruh cucu keluarga Elrahma untuk menunggu di dalam mobil, melihat cuaca yang sudah mendung, Keyra takut ketiga orang yang bersamanya kehujanan.
Perlahan tapi pasti, butiran air yang turun dari langit kini bertambah banyak, yang awalnya hanya gerimis sedang saat ini berubah menjadi hujan deras, Una makin cemas, kenapa Keyra yang ia tunggu tidak kunjung datang.
“ Kakak... kok bang kekey belum keliatan juga sih? “ Ucap Una pada kedua kakaknya.
“ Sabar sayang... palingan bentar lagi juga dateng, mungkin aja Keyra lagi neduh bentar “. Jawab Reza duduk di kursi pengemudi mencoba menenangkan adiknya.
" Hah... padahal ngapain juga sih kita nunggu dia?, langsung pulang aja ngapa... toh dia bisa pulang sendiri kok “ Ucap Alfa ketus.
“ Kak Alfa kenapa masih gak suka mulu sih sama bang Kekey?, emang salah abang apa? “ ucap Una sedih.
“ Una... kamu kenapa sedih buat orang kayak dia sih?, dia itu orang asing... jangan terlalu percaya sama dia sayang... kamu liat sendiri kan kalau keluarga dia itu broken home, biasanya orang yang hubungan orang tuanya rusak itu suka gak bener “. Ucap Alfa kesal dan berniat mengungkapkan semua pendapatnya.
“ Udah Alfa, lo terlalu berlebihan, kita gak berhak nge vonis orang dari latar keluarganya... “.
“ Tuh kan... lo juga jadi ikut-ikutan, kalian semua udah dicuci otaknya sama si Keyra, gue ngomong kayak gini karena khawatir sama kalian, gimana kalau anak itu mulai jalanin aksi jahatnya disaat kalian lengah dan udah percaya sama dia?, terlebih anak buangan kayak dia itu gak pantes tinggal di rumah kita, dari mukanya aja udah keliatan kalau bocah itu licik banget, udah gak tau diri, rese lagi... dasar sampah, taunya cuma__... “
“ Cukup!!! “.
Una membentak sehingga ucapan Alfa terpotong, pria itu terkejut saat melihat gadis mengarahkan tatapan yang tajam dan benci pada dirinya, disertai dengan air mata yang mengalir melewati pipi, gadis itu menggertakkan gigi karena sudah muak dengan apa yang kakak sepupunya katakan.
“ Cukup kak, kak Alfa udah kelewatan!!... apa kakak tau omongan kakak tadi salah besar?! Kakak tau gak gimana keadaan bang Kekey sebelum ketemu keluarga kita?, kak Alfa gak tau kan kalau bang Kekey itu bener jahatnya apa enggak?, dan apa kakak punya bukti kalau bang Kekey itu mau nyakitin Una sama yang lain?, gimana? Enggak kan? Gak punya kan?, jadi... ATAS DASAR APA KAK ALFA HINA BANG KEKEY?!!!! “.
Una naik darah, dia berbicara dengan keras sampai memekakkan telinga bagi orang yang mendengarnya, hal itu membuat Alfa diam, sementara Reza segera pindah ke kursi belakang untuk menenangkan gadis tersebut.
“Una, udah ya... kamu gak boleh marah-marah sayang, gak baik “ Ucap Reza menenangkan adiknya.
“ Hiks... gimana Una gak marah kak?, kakak tau kan selama beberapa bulan kebelakang bang Kekey gak pernah nyakitin kita, malah bang Kekey yang jagain kita dari penguntit-penguntit itu... Hiks, Una kesel sama kak Alfa karena selalu nyangka bang Kekey itu jahat, pokoknya Una benci!, Una benci kak Alfa!!!... “.
Gadis itu menangis dengan keras sehingga membuat Reza dengan sigap memeluk tubuh kecilnya, ia tidak pernah melihat Una yang semarah ini, meskipun tidak lagi melempar-lempar barang seperti sebelumnya, kali ini Reza merasa kalau adiknya tidak main-main dengan kata-kata yang ia ucapkan.
“ Shut... sayang, please don’t cry... iya Keyra itu gak jahat kok, dia orang baik yang selalu jagain kita, jadi kamu tolong tenang ya... “. Ucap Reza mengelus rambut Una.
“ Haduh... gara-gara lo Alfa, kalau sekiranya gak suka Keyra jangan diungkapin didepan Una, udah tau ending nya bakalan gini, cepet lu minta maaf... “ Ucap Reza menggerutu.
“ What? Ngapain harus minta maaf Eza?, gua kan gak sal__...”.
“ Gak usah komen, siapa orang yang bikin Una nangis sekarang?, kalau bukan karena lo mungkin dia bakalan anteng-anteng aja... “
“ Iya gue salah, Una sayang... kak Alfa minta maaf ya, entar-entar bakalan mikir-mikir lagi deh kalau ngomong... “ Ucap Alfa.
“ Hiks... hiks... Kak Alfa OMDO!!!, Una gak percaya!!!... “.
Reza dan Alfa menutup telinga mereka, suara Una saat ini bahkan bisa dibilang dapat membangunkan orang yang sedang tidur pulas, sambil terus merengek, kedua pria itu membujuk, menasehati bahkan mengiming-imingi kalau keinginan yang Una mau akan terkabul jika dirinya berhenti menangis, namun bukannya berhenti, gadis itu malah kembali terisak dan memanggil nama Keyra sepanjang waktu.
“ Oh my... si Keyra mana sih?, mana hujannya gak berenti-berenti lagi.. “ Ucap Reza kesal.
Masih dalam keadaan kacau, Reza dan Alfa menyempatkan diri melihat ke luar jendela untuk mencari keberadaan Keyra, beberapa saat kemudian, wajah mereka berubah cerah ketika melihat seorang pemuda yang menerobos hujan dan mengetuk pintu mobil.
“ Bang, buka pintunya... “ Ucap pemuda diluar yang diketahui sebagai Keyra.
“ Al, buka kunci nya ege... “ Instruksi Reza yang menyuruh Alfa.
Keyra masuk setelah Alfa menonaktifkan auto door lock, kondisinya cukup memprihatinkan, sambil membawa barang yang dibungkus oleh plastik, semua pakaian yang Keyra kenakan sangat basah dan penuh dengan air, terlebih wajahnya yang memucat dan badan yang menggigil serta tangannya yang keriput menandakan bahwa pemuda itu sudah kehujanan cukup lama.
“ Bang Kekey... “.
Una memeluk Keyra disaat pemuda itu baru saja duduk, ia tidak mengerti kenapa kedatangan nya disambut dengan tangis kencang Una, apa yang terjadi selama ia pergi?.
“ Eh Una jangan dulu meluk, baju gue basah semua... entar lo juga malah ikut kena “ Ucap Keyra yang perkataanya tidak didengar oleh Una.
__ADS_1
“ Udah Key... biarin aja Una ke gitu, mungkin dengan meluk lo, dia bakalan lebih tenang... “ Ucap Reza sembari mengambilkan handuk kecil untuk Keyra gunakan.
“ He?...uhuk, uhuk... emang Una kenapa? Apa dia ngerengek karena gue lama? “.
“ Ya... salah satunya itu, tapi ada hal yang lain “.
Reza tidak melanjutkan obrolan lebih lama, dia memilih untuk memainkan ponselnya dengan menautkan earphone di kedua lubang telinga, sementara saat Keyra melihat Alfa yang sekarang hendak mengemudi, dirinya mengamati bahwa pemuda itu mungkin sedang dalam keadaan mood yang buruk, itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang tertekuk. Tidak memperhatikan lebih lama, Keyra memfokuskan diri untuk membujuk Una yang masih menangis, pemuda itu meminta maaf karena sudah lama membuatnya menunggu, dan dengan senjata andalannya, Keyra dapat membuat Una berhenti menangis 5 menit kemudian.
‘ Hm... ada kejadian apa ya pas gue gak ada tadi?, kayaknya para tuan muda ini lagi pada pundung satu sama lain ‘.
***
Sebuah mobil masuk melalui gerbang mansion yang besar, kendaraan itu berhenti di depan pintu rumah di tengah hujan deras, dari situ keluar seseorang yang menerobos hujaman air dan pergi ke teras untuk mengambil payung. Orang tersebut adalah Keyra, pemuda itu membawa sekitar dua buah payung untuk digunakan para tuan muda agar mereka tidak basah, untuk dirinya tak apalah meski harus merasa kedinginan, ditimpa oleh air hujan kembali bukanlah masalah dibanding perasaan menggigil disepanjang jalan menuju kemari.
Semuanya masuk kedalam, kecuali dirinya yang sedang memeras pakaian guna meminimalisir air yang menetes ke lantai, jika ia masuk dengan kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin para maid akan direpotkan karena harus mengepel area basah yang baru dilewatinya.
“ Hm... gue gimana masuknya ini?, em... apa minta bantuan para maid aja ya? “.
Ketika memikirkan hal tersebut, secara kebetulan Keyra menemukan seorag butler yang keluar dari rumah, pria itu nampak terkejut saat melihat keadaan Keyra yang basah kuyup, untuk sekedar info selewat, butler itu adalah orang yang paling dekat dengan Keyra dibanding butler lain, namanya adalah Toni.
“ Ya ampun Keyra... lo udah kayak kucing kebulusan “. Ucapnya mendekat ke arah Keyra.
“ Bang Toni bukannya tolongin saya, uhuk... bawa handuk buat ngeringin badan ke, saya kedinginan nih “.
“ Haha, Iya, iya... ya kali gue tega, Nih pake... lo kenapa bisa nyampe basah kuyup kayak gitu? “ Tanya Toni sambil memberikan sehelai handuk kecil.
“Biasa... takut para nona sama tuan muda kebasahan, jadi saya ujan-ujanan buat ambil payung yang ada di sana tadi “. Ucap Keyra sambil menunjuk ke arah yang bersangkutan.
“ Oh pantes... entar kalau udah selesai langsung ke dapur aja minta teh angget ke bu Jola “.
“Ok, siap... “.
Keyra menghabiskan petang hari ini dengan bermain bersama Una sampai esok harinya juga, sebagai orang yang berprofesi menjadi body guard, ia memang sudah seharusnya selalu berada di dekat Una, terlebih entah kenapa gadis itu menjadi lebih lengket dari pada hari-hari biasa semenjak ia kembali dari pasar dalam keadaan basah kuyup tempo hari, dan satu hal yang ia amati akhir-akhir ini, ternyata kedekatan antara Una dengan Alfa secara murni merenggang, sebenarnya hanya dari pihak Una sendiri yang dengan jelas memperlihatkan kekesalannya pada si Alfa, mungkin pemuda itu sudah berbuat hal yang sangat Una benci, jadi disaat pria tersebut bertanya pun si gadis Una tidak menjawab dan malah melanjutkan kegiatan yang sedang dilakukan.
Hal itu mengundang perhatian para orang tua, mereka sempat menanyakan sebab apa yang membuat Una bersikap seperti itu pada Alfa, namun bukannya menjawab, Una malah berkata seperti ini ‘ Sebelum kakak minta maaf sama bang Kekey, Una gak bakalan pernah mau ngomong sama kak Alfa, TITIK!!! ‘.
Semuanya heran, sontak melemparkan pertanyaan pada Keyra, namun apa yang harus ia jelaskan?, dirinya sendiri juga bingung tidak tahu makna dari ucapan Una, apalagi sebab dia berkata seperti itu, terlebih Keyra sedang tidak berada di tempat kejadian.
Keesokan harinya, kerenggangan mereka masih terus lanjut sampai ke sekolahan, bahkan saat berangkat pun Una tidak ingin semobil dengan Alfa sampai menyuruh seorang supir untuk pergi mengantarnya bersama Keyra, sebenarnya apa yang dilakukan oleh kakak sepupunya Una sampai gadis itu marah seperti ini?.
Dijalan, Keyra memandang Una yang sedang asyik bercerita sambil memegang tangannya seperti biasa. “ Uhuk, Una... “ Ucap Keyra ditengah omongan panjang gadis itu.
“ Iya, kenapa bang? “.
“ Lo lagi selek sama bang Alfa? “. Tanyanya yang hanya dijawab dengan kesunyian.
Una menunduk sedikit, ia mengalihkan pandangan dari Keyra ketika pemuda itu berusaha menatap wajahnya. “ Sebenernya apa yang buat lo marah banget sama dia?, lama gak baikan sama saudara itu kurang bagus lho... “.
“ Tapi... kak Alfa nyebelin bang, Una bahkan masih inget dengan jelas apa yang kak Alfa omongin pas itu “. Ucap Una membuka suara
“ Emang kak Alfa ngomong apa?, apa sampai segitunya lo marah cuman gara-gara omong kosong doang? “.
“ Hiks... omongan kak Alfa jahat banget, Una gak bisa maafin “
Una meneteskan air mata, Keyra sedikit panik karena tidak menyangka kalau pembicaraan ini sampai membuat gadis itu menangis, separah apa sih Alfa melukai wanita ini, jika memang sudah keterlaluan, ia tidak akan segan untuk menghajar anak itu demi Una, terlebih Keyra berada dalam posisi untung karena melakukan hal yang benar.
“ Shut... udah Na, lo jangan nangis lagi, cerita sama gue, apa yang di ucapin sama kak Alfa waktu itu?, kalau lo gak cerita kan gue pusing mau mutusin salah apa enggak nya... Jadi... Ekhem... tolong lo buka suara ya, ok? “.
Keyra membujuk, sedikit demi sedikit dirinya mulai menerima curhatan dari Una, pemuda itu mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan gadis itu, namun saat mengetahui penyebab dan akar masalah dari perdebatan keduanya, Keyra menghela nafas dan mengusap wajah, ternyata hanya masalah Alfa yang menjelek-jelekan dirinya, padahal kalau dia sendiri tidak akan terlalu mempermasalahkan hal tersebut, tapi kenapa Una sampai sebegitunya?.
“ Ya ampun Una... kirain gue apaan, padahal cuma omong kosong doang lho... “.
“ Itu bukan omong kosong bang, Kak Alfa dengan entengnya bilang kalau bang Kekey itu orang yang gak bener, orang jahat, gak tau diri, udah bilang rese lah sampah lah... mana bisa Una nerima gitu aja? “ Ucap anak itu diiringi deraian air mata.
__ADS_1
‘ Hah... dasar Una, lo baik banget sih jadi manusia... gue aja yang dihinanya be aja, tapi lo rela nangis dan marah demi gue?, haha... jadi nostalgia, kapan ya terakhir kali ada orang kayak gini selain keluarga?, eh?... apa gak ada ya? ‘ Batin Keyra.
Bersambung