Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
12# Otw Buper


__ADS_3

“ Hm... Lo besok sibuk gak? “ Tanya Keyra pada Una.


“ Enggak, emang kenapa bang? “.


Keyra tersenyum dan kemudian menjelaskan bahwa dirinya akan pergi ke toko elektronik untuk membeli peralatan kemah, disamping itu dirinya akan memberi Una perlengkapan lainya juga, selagi ada uang yang Juan berikan sebagai gaji, dirinya akan menggunakan hal tersebut untuk keperluan ini.


“ Jadi... apa lo mau ikut?, nanti sekalian gue cariin buat lo deh “.


“ Wah... mau-mau... kapan kita beli bang? Sekarang? “ Tanya Una antusias.


“ Nanti lah... sekarang kan dah malem, terlebih... kayaknya kita harus beresin barang-barang ini “.


Segera setelah itu, Keyra dan para maid kembali meletakan barang-barang yang menumpuk kembali ke tempatnya, tidak dengan Alfa yang keluar dengan perasaan kesal, Reza yang sejak tadi bertengger di pintu kini memasang ekspresi lega yang membuat ia nampak hidup kembali, Una juga membantu saat itu, tanpa lagi di suruh, ia membawa barang-barang yang semula berantakan kini menjadi rapi, sepertinya rasa inisiatif gadis itu meningkat seiring mendapat arahan baik dari Keyra.


“ Udah bang... jangan nempel mulu di pintu, udah ke cicak aja “ Ucap Keyra di tengah kegiatan.


“ Gue lagi cape mental nih, lo kerja aja sono... gak usah peduliin gue “. Ujar Reza yang masih dalam posisinya.


Beberapa menit kemudian, kamar sudah rapi seperti sedia kala, tak lupa untuk itu, Keyra berterima kasih kepada para maid sebelum mereka keluar, hal itu kembali mengundang perhatian Una yang sejak tadi melihat Keyra nampak sangat natural berinteraksi dengan para maid. Tidak seperti pada keluarga yang lain, entah kenapa para pekerja disini terlihat royal dan terbuka pada pemuda itu, baik dari segi kenyamanan saat mengobrol maupun saat melakukan kegiatan, mereka masih menghormati Keyra sekaligus santai terhadap anak itu.


Dan... setelah dilihat lebih teliti lagi, kenapa wajah abangnya ini sedikit mirip dengan Alfa?, bukan mengada-ngada, Una berpikir sesuai kenyataan, namun tidak terlalu memikirkan hal tersebut, gadis itu kini memeluk Keyra dari arah samping seperti biasa.


“ Kenapa? “ Tanya Keyra bingung dengan perilaku Una yang tiba-tiba.


“ Gak papa... Una seneng aja bisa tinggal bareng bang Kekey “.


Una tersenyum, sementara Keyra tanpa sadar mengelus rambutnya, sekarang ia mengerti kenapa anggota keluarga lain sangat peduli dan memanjakan anak ini, karena selain membuat hati hangat atas perlakuannya, orang yang sekalinya depresi pun mungkin akan kembali ceria jika bertemu dengan Una. Disaat merasa urusannya sudah selesai, Keyra hendak pergi dengan alasan ada pekerjaan rumah yang belum selesai, namun Una menghalanginya.


“ Bang Kekey main aja yuk sama Una disini... “


“ Tapi gue kan harus bantu-bantu buat makan malam... nanti aja ya, atau enggak... entar pas udah makan gue kesini lagi deh, kebetulan ada PR dari sekolah yang belum selesai, gue sekalian temenin lo tidur... “.


“ Asik... boleh, boleh... bang Kekey janji ya harus dateng ke kamar Una “. Ucap gadis itu dengan mengacungkan jari kelingking.


“ Iya, janji... “


Keyra membalas uluran jari kelingking Una, dirinya seperti sedang mengurus seorang adik perempuan kalau dipikirkan selama ini, Mungkin memory Keyra menangkap sesuatu yang membuat ia merasa nostalgia, dan setelah diamati lebih lanjut, ternyata sikap Una ini mirip sekali dengan adiknya Bianca. Dia cerewet, berisik dan penyayang, namun berbeda dengan Una yang manja, Bianca adalah gadis kecil yang mandiri, sepenglihatan Keyra, dirinya tidak pernah melihat Bianca mengeluh atau semacamnya, jika gagal pun ia akan terus melakukannya lagi dan lagi sampai berhasil.


Namun sayang, Keyra sedikit sedih karena tidak bisa melihatnya tumbuh dewasa, karena terpaut usia 5 tahun, Bianca meninggal bersama neneknya saat Keyra berusia 13 tahun, otomatis usia adiknya sekitar 8 tahun saat itu.


“ Bang Kekey... abang kenapa bengong? “ Tanya Una memiringkan kepalanya.


“ Ahaha... gak papa “.


Di situasi yang lain...


“ Ayah... kamu ngerasa gak sih kalau kita itu kayak pernah liat si Keyra “. Tanya Veriska pada suaminya.


“ Eh?, kamu juga mikir kayak gitu?... kirain cuma Ayah doang, tapi kalau aku sih biarin aja, paling muka dia yang pasaran “. Ucap Erlang.


Saat ini, pukul 07:30 malam, Erlang dan Veriska telah berganti pakaian, setelah perjalanan panjang yang melelahkan, keduanya tidur sejenak melepas penat setelah acara perjamuan keluarga, dan setelahnya dianjurkan oleh Noland untuk keliling dengan Keyra sebagai pemandu. Disaat itu, ada keanehan yang mereka rasakan saat dikawal oleh Keyra, tepatnya hanya mereka saja yang merasakan keanehan tersebut.


Dibilang pernah melihat sih mereka kurang yakin, namun saat memperhatikan sikap Keyra, cara bicaranya dan senyum ramahnya itu, Veriska dan Erlang seperti pernah melihatnya di suatu tempat, lebih tepatnya sih familiar, apalagi tahi lalat di pinggir mata sebelah kanan pemuda itu, mereka seakan pernah melihat orang dengan kriteria serupa, tapi siapa?.


Ditengah kegiatan tersebut, terdengar suara ketukan pintu disertai suara orang memanggil setelahnya. Segera tahu kalau orang itu adalah Alfa yang menyuruh mereka makan malam, keduanya bangkit dan keluar secara bersamaan.


“ Eh?, si Alfa mana? “ Tanya Veriska keluar kamar tidak melihat putranya.


“ Udah duluan kali, dia kan kalau urusan makanan suka express “ jawab erlang singkat.


Mengiyakan ucapan Erlang, keduanya kini berjalan sambil mengobrol santai, selain dari pembicaraan tadi, mereka hanya membahas seputar pekerjaan dan urusan Alfa yang akan langsung sekolah besok, di samping itu tidak ada yang lain lagi, mungkin sedikit melenceng flashback ke masa lalu, hingga keduanya keluar dari lift, mereka berjalan menuju ruang makan di lantai 2.


“ Ayah... itu si Alfa lagi jalan bareng sama Una “. Ucap Veriska menunjuk ke depan.

__ADS_1


Erlang menyipitkan mata, ia melihat seorang pemuda yang diduga adalah anaknya, sambil digandeng oleh Una si gadis imut, keduanya nampak sangat akbar sekali. Berniat membahas tentang sekolah besok, Erlang pun memanggil Alfa yang biasanya memakai kolor kini menggunakan sarung, tidak seperti dirinya saja, namun bukannya berhenti, anak itu malah asik mengobrol dengan Una, dipanggil sekali lagi malah Una yang melihat kebelakang, dan pemuda itu hanya menampilkan sedikit wajahnya kepinggir serta berakhir kembali melangkah maju.


“ Ni anak lama-lama jadi songong juga “


Karena kesal, Erlang mempercepat langkah dan sampai tepat di belakang Alfa dan Una. “ Heh... anak songong!, orang tua panggil bukannya berenti malah nyelonong aja, nyahut dikit kek “ Ucap Erlang seraya menepuk pundak pemuda itu.


Una dan pemuda yang Erlang marahi berbalik, seketika kedua orang itu menampilkan wajah kebingungan, terutama pemuda yang Erlang pegang pundaknya, dia bahkan diam tanpa ekspresi. “ Tuan manggil saya? “. Ucapnya.


“ Ya iya lah... masa manggil monyet? “.


“ Tapi nama saya Keyra... bukan Alfa “


“ Hah? Maksud kamu ap__... Eh? “


Erlang tercengang melihat wajah putranya, kenapa sedikit berubah, seingatnya Alfa tidak mempunyai tahi lalat di samping mata kanan, dan... kenapa warna matanya coklat terang?, bukankah warna mata Alfa hitam redup?.


“ Ayah... “ Panggil seseorang.


Melepaskan pegangannya di pundak pemuda itu, Erlang berbalik dan menemukan bahwa putranya sedang berdiri di samping Veriska, ia terdiam cukup lama, sampai menyadari kalau orang yang tadi ia panggil bukanlah Alfa, melainkan Keyra yang sejak tadi bersama Una.


Una dan Veriska tertawa, sementara Keyra diam bingung dan Alfa menatapnya dengan tatapan seolah dia berkata ‘ dasar... anak sendiri aja gak hafal rupanya’, dari situ Erlang menggaruk kepala yang tidak gatal, ia segera meminta maaf pada Keyra dengan berakhir seperti dianggap tidak pernah terjadi oleh anak yang bersangkutan.


Tapi dari situ Erlang menyadari satu hal, jika bukan karena warna mata, tahi lalat dan bentuk hidung Keyra, mungkin selebihnya anak itu sangat mirip dengan Alfa, apa jika seseorang beda keluarga dapat semirip itu ya?, pikir Erlang.


“ Hahaha... mangkanya... sebelum bertindak tanya-tanya dulu deh, kan jadi malu sendiri “ Ucap Veriska tertawa.


“ Bukannya Bunda yang kasih tau Ayah... kan jadi gak enak sama Keyra “.


“ Salah sendiri gak hafal rupa anak, padahal belum kakek-kakek tapi udah ada kejadian ke gini... gimana tua nanti “ Protes Alfa.


Mendengar ocehan dari Veriska dan Alfa di sepanjang jalan, pikiran Erlang sesekali melayang mengingat kejadian tadi, rasa penasarannya entah kenapa makin besar pada sosok Keyra, ia jadi ingin menyelidiki latar belakang anak itu, namun jika sampai ketahuan oleh anggota keluarga lain, apa ini semua akan baik-baik saja?.


´ Kok jadi penasaran gini sih? ‘ Batin Erlang.


Keesokan harinya, Keyra bersama dua cucu keluarga Elrahma pergi ke sekolah, namun pagi ini ada satu orang tambahan lagi, jadi totalnya ada tiga orang cucu Noland di dalam mobil selain dirinya yang merupakan orang asing.


Keempatnya masuk lewat gerbang sekolah, beberapa murid ada yang mengenal Alfa, mungkin karena dia pernah sekolah disini sebelumnya, jadi tak heran kedatangan kembali cucu ketiga keluarga Elrahma ke sekolah membuat gempar seluruh siswa.


Tidak banyak yang Keyra lakukan di sekolah selain rutinitas sebagai murid, upacara hari senin, belajar, istirahat dan makan di kantin bersama Una dan 4 orang pria tambahan, yaitu Reza, Alfa, Mark dan Emil, Keempatnya sangat dekat, sudah seperti bestie ceritanya.


Pulang sekolah, sesuai janji Keyra, ia pergi ke toko bersama dengan Una, tidak lupa dengan para kakak yang selalu ngintil kemana gadis itu pergi, sambil menjelaskan pungsi-pungsinya, Keyra menyuruh Una memilih barang yang ia suka untuk kemping nanti, dan gadis itu memilih sepaket peralatan masak beserta barang lain di toko yang lain pula, seperti tas carrier, matras, tenda dhoom, sleeping bag, sepatu, topi, jaket dan segala macam barang.


Awalnya Keyra mengaggap barang yang Una beli terlalu banyak, namun mengingat peralatan yang Una punya di rumah untuk kemping sangat minim, dirinya memaklumi hal tersebut, tentu Keyra sendiri beserta dua tuan muda lain juga berbelanja, namun saat ingin membayar, Una menawarkan diri untuk membayar milik Keyra sekalian menggunakan black card miliknya, jika dipikir-pikir lagi.. mana ada toko pinggir jalan yang menerima transaksi menggunakan balck card, kalau ada pun toko tersebut pasti adanya di mall-mall sana, bukan disini.


Dikarenakan para cucu keluarga Elrahma hanya mempunyai beberapa keping black card saja, pembayaran ini berakhir dengan saldo ATM Keyra yang berkurang separuhnya, hatinya cukup sakit melihat nominal uang yang tersisa itu, namun pada dasarnya uang yang ia punya adalah hasil bekerja dari keluarga mereka, jadi tidak apalah, toh uang yang tersisa juga masih cukup banyak untuk biaya hidup nyaman selama tiga bulan, itu menandakan bahwa gaji yang Keyra dapat dari Juan sangatlah besar.


Membahas tentang ATM, mengapa Keyra yang masih 15 tahun mempunyai benda tersebut diusianya yang masih belum cukup bahkan untuk membuat KTP, alasannya cukup sederhana, benda tersebut adalah milik mendiang ibunya dulu.


Hari terus berganti, kegiatan kemping pun sudah dekat yang mana Keyra akan berangkat Esok hari bersama yang lain, untuk urusan barang Keyra sudah selesai dari jauh-jauh hari, namun bukannya dia bersantai, Keyra kala itu malah makin sibuk dengan para orang tua yang rempong saat sang anak akan pergi berkemah. Terlebih bukan hanya Una yang disuruh membawa ini dan itu, namun hal itu terjadi pada Reza dan Alfa yang tidak bisa membantah perkataan ras terkuat di bumi ini, yaitu para ibu mereka.


Dan disaat itulah, Keyra turun tangan untuk angkat bicara, dirinya menjelaskan bahwa kemping itu tidak perlu membawa banyak barang, bukannya membantu, biasanya terlalu banyak membawa peralatan akan malah membuat diri sendiri repot. Contohnya kasur yang harus Reza bawa karena perintah Devina, benda itu mungkin berguna saat tidur, namun ketika hujan turun, semua siswa pasti tidak akan diperbolehkan tidur di tenda dan akan dipindahkan ke aula terdekat, dan dalam situasi tersebut, masa Reza harus bersusah payah mengangkat kasur di tengah hujan?, kondisi baiknya ada orang yang membantu, tapi kalau tidak ada kan Reza akan repot sendiri.


Masalah teratasi dengan penjelasan Keyra yang panjang kali lebar, akhirnya hari dimana mereka berangkat berkemah pun tiba, para siswa diwajibkan untuk memakai pakaian pramuka lengkap, termasuk Keyra dan para anak keluarga Elrahma kini sudah berada di sekolah. Tentu saja mereka diantar oleh para orang tua, namun tidak semua, yang ikut Hanya Devina, Veriska dan Erlang saja.


“ Una, sayang... kamu hati-hati ya disana, jangan sampai jauh-jauh dari Keyra “ Ucap Devina yang sejak tadi tidak melepaskan pelukan dari Una.


“ Alfa juga jangan nakal ok?... “ Ucap Veriska mengelus lembut anaknya.


“ Bunda... come on, aku bukan anak kecil “.


“ Kamu juga Eza, hati-hati disana ya... “ Ujar Devina melakukan hal yang sama pada Reza.


“ Em... mama, bisa tolong jangan peluk Eza lama-lama?, temen aku pada liatin... “.

__ADS_1


Reza merasa malu terutama ketika menyadari bahwa Keyra, Mark dan Emil berusaha menahan tawa mereka agar tidak keluar, lama kelamaan ketiganya seperti sedang bersekongkol untuk meledeknya nanti.


Keyra tersenyum melihat kehangatan keluarga itu, sejenak memperhatikan sekitar, siswa lain juga banyak yang diantar oleh orang tua mereka, dirinya cukup yakin bahwa rasa sayang para orang tua sangatlah besar pada anaknya, terlebih tanpa Keyra sadari, dirinya menatap kosong kearah pemandangan hangat itu, hatinya membeku, dan sedikit teringat dengan mendiang ibunya. Sampai tak sadar, ternyata sedari tadi Veriska memperhatikan gerak-gerik Keyra, sampai-sampai wanita itu mengetahui tatapan kosong pemuda tersebut. Wanita itu tersenyum, dan mendekat ke arah Keyra disaat yang lain sedang asik mengobrol.


“ Keyra... “ Panggilnya.


Pemuda itu terperanjat dan menoleh. “ Eh? Nyonya... iya, ada apa? “.


“ Kamu hati-hati disana ya... jaga diri baik-baik, dan saya serahkan yang lainnya ke kamu, karena saya percaya... kamu itu anak yang dapat diandalkan “.


Veriska berbicara sambil mengusap kepala Keyra, wanita itu sedikit menengadahkan pandangan karena Keyra lebih tinggi darinya sedikit, jika diukur dari tinggi badan pemuda itu, mungkin tinggi Veriska setara dengan telinga Keyra.


“ Baik nyonya... “


Panitia berbicara, murid-murid akan diberangkatkan sekitar 10 menit lagi, dari situ semua siswa termasuk Keyra diperintahkan untuk segera memasuki bus yang telah disediakan. Pemuda itu naik di bus 5 kelas 10, sementara Una di bus 3 panitia, awalnya gadis itu ingin duduk bersama Keyra namun guna mengurangi risiko kesalahan data, Keyra membujuk gadis itu untuk mematuhi peraturan dan berakhir dengan anggukan.


Rombongan bus pun berangkat, di jalan tidak banyak kegiatan yang Keyra lakukan, tapi dibalik itu dirinya mendapat beberapa teman baru saat perjalannya, salah satunya teman sebangku di bus, namanya adalah Angeline, gadis yang tenang dan elegan, satunya lagi adalah Paden, siswa ini sejenis dengan Bima, dia suka ngemil namun badannya tetap bagus, sementara yang lainnya ada Sindy, mereka merupakan teman ngobrol yang menyenangkan, sama seperti Lianza dan Salsa, orang-orang tersebut berteman tanpa memandang status.


Bus berhenti pada pukul 2 siang, lama perjalanan kali ini mungkin sekitar 6 jam karena Keyra dan yang lain berangkat dari sekolah pukul 8. Para panitia mengumpulkan seluruh peserta tepat setelah semuanya turun dari bus, mereka menginstruksi kan untuk segera mencari anggota kelompok yang sudah ditentukan, sebelumnya Keyra sudah membaca nama dan siapa saja yang sekelompok dengan dirinya, salah satu dari mereka ada yang Keyra kenal, dan orang itu adalah Lianza, Angeline dan Paden, sungguh tidak disangka-sangka.


“ Hallo Key, kita ketemu lagi... “ Sapa Angeline.


“ Hallo juga, mohon bantuannya untuk ke depan “.


Keyra berkenalan dengan 4 anggota lain yang tersisa, mereka adalah Putri, Yuda, Maftuh dan Silfa, masing-masing kelompok terdiri dari 8 orang, dan didalamnya harus terdapat ketua dan wakil. Dari situ, panitia mengintruksikan kembali agar para siswa masuk ke aula yang disediakan sesuai bus yang mereka naiki, karena Keyra berada di bis yang sama dengan Paden dan Angeline, ketiganya berniat untuk saling mengandalkan satu sama lain.


Kegiatan yang Keyra lakukan usai meletakan barang adalah pergi ke masjid, beberapa orang selain dirinya melakukan solat dzuhur dan sekalian menunggu adzan Ashar, karena sekolah ini netral, para siswa tidak semuanya beragama islam, sebagian ada yang kristen, sebagian lagi budha dan sisanya hindu dan beberapa agama lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, tentu mayoritas siswa disini adalah muslim.


Mungkin efek dari panitia yang disiplin, Keyra tidak sempat untuk bertemu dengan Una dan kedua kakaknya, ia sih tidak masalah meski tidak bertemu sampai kegiatan selesai, ditambah mungkin akan menganggu orang lain jika Una sudah melekat dengannya, ia juga akan kesulitan untuk mengikuti kegiatan jika gadis itu terus memintanya untuk bermain.


Ketika waktu sudah menunjukan pukul 15:30, Keyra kembali ke tempat istirahat. “ Kita abis ini ada kegiatan apa? “ Tanya Paden pada Angeline.


“ Hm...kalau menurut rundown, dari sekarang nyampe jam 4 itu istirahat, terus entar ada pembangunan tenda dari jam 4 sampe jam 5 “. Jawab Angeline.


“ Berarti sekarang boleh makan dong?, yuhu... akhirnya, gue bisa makan bekal yang mama siapin “. Ucap pemuda itu sambil membuka kotak bekal.


“ Perasaan lo pas di dalam bis ngunyah makanan mulu deh?, doesn’t your stomach feel full? “ Tanya Angeline.


“ Ayolah... yang tadi itu kan nyemil, kalau sekarang makan, beda lah... yang namanya makan itu harus pake nasi, kalau enggak bukan makan namanya “.


Keyra tertawa, sementara Angeline terheran-heran, apa perut pria itu masih muat untuk menampung makanan lagi, seingatnya saat dalam perjalanan, Paden sudah banyak sekali memakan berbagai macam makanan ringan, selain itu dia juga mengunyah roti sebanyak 3 bungkus, sungguh perut yang sangat luas.


Waktu istirahat sudah usai, semua peserta kembali diarahkan untuk berkumpul secara berkelompok lagi, dan dari situ, para panitia memfasilitasi tenda sebanyak dua unit per kelompok. Keyra berpikir, kira-kira berapa banyak dana yang sekolah butuhkan untuk membeli atau menyewa tenda ini?, terlebih jumlahnya bukan main karena kegiatan PTA ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 10, dan yang Keyra tahu seluruh siswa angkatannya tidak kurang dari 300 siswa.


Tidak memusingkan hal itu lebih lanjut, Keyra dan kelompoknya mulai membangun tenda yang disediakan tadi, dan tipe tenda tersebut adalah tenda dhoom untuk kapasitas 8 orang, cukup leluasa untuk ditempati oleh 4 orang saja, di tambah mungkin akan sedikit padat karena barang bawaan yang akan dipindahkan ke dalamnya nanti.


Waktu terus berjalan, hingga matahari berhenti bersinar digantikan dengan sang rembulan, kali ini Keyra dan kelompoknya sudah selesai mengerjakan semua keperluan dari mulai mendirikan tenda, membuat parit, dan mengemas barang, untuk kegiatan selanjutnya para siswa muslim diintruksikan pergi ke masjid untuk solat Magrib sampai Isya nanti.


Menurut ucapan panitia, malam hari ini tidak akan ada kegiatan sebelum besok, namun Keyra tahu, biasanya para panitia suka berbohong dengan ucapan mereka, jika dini harinya tidak dibangunkan untuk jerit malam, mungkin pagi harinya akan ada latihan militer kecil dadakan, semua itu ia ketahui karena pengalaman saat SMP dulu.


“By the way... untuk urusan masak gimana?, kita para cowok gak pada bisa nih... “ Ucap Maftuh ditengah kegiatannya yang sedang menyeruput kopi.


“ Tenang... kan ada gue, entar lo semua tinggal makan aja “ Jawab Silfa.


“ Emang gak dimasakin sama panitia ya?, padahal kan ribet kalau masak sendiri “ Ulas Putri.


“ Ya mau gimana lagi?... namanya juga kemping, ya kali panitia mau masakin buat siswa sebanyak ini? Mereka juga males lah “ kali ini Paden yang berbicara.


Keyra mengikuti obrolan sesekali, sementara yang lain sedang asik membahas itu dan ini, sejak awal ia amati dan dengar, ternyata yang memiliki pengalaman kemah mandiri itu hanya Silfa, Lianza dan dirinya saja, selebihnya juga pernah ikut, namun segala sesuatu disiapkan oleh panitia, seperti makanan contohnya, jika acara pramuka dilakukan seperti itu, bukan kah sama saja bohong yang awalnya ingin melatih siswa didik untuk mandiri malah dibuat enak dan dimanja.


‘ Hm... gue punya feeling kalau entar besok pas kegiatan masak, pasti para tuan dan nona muda bakalan repot ‘ Batin Keyra


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2