Pesona Keyraldo

Pesona Keyraldo
16# Jalan-jalan


__ADS_3

Akhir pekan...


Keyra duduk diatas sajadah seusai melaksanakan solat subuh, sembari melakukan rutinitas tadarusnya, semenjak pindah ke rumah keluarga Elrahma, Keyra mempunyai waktu luang yang banyak dibandingkan dengan saat ia di kontrakan dulu, terlebih pola makan dan istirahatnya menjadi teratur saat ini.


Berhubung hari ini adalah akhir pekan, Keyra berniat untuk pergi ke luar siang harinya, mungkin sekedar pergi keliling sebentar, terlebih ada satu hal yang selama ini ingin Keyra lakukan kembali, pemuda itu sungguh merindukan kegiatan tersebut.


Melipat alas solat dan meletakan peci di atas meja, pada pukul 5 ini Keyra pergi ke lantai dua menuju kamar Una, ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum penghuni kamar itu keluar dari kamarnya. Gadis yang dibicarakan mengucek mata yang masih ingin terpejam, sepertinya Una masih belum bangun sepenuhnya.


“ Eh?, bang Kekey... ada apa bang? “ Tanya Una yang mulai sadar.


“ Enggak ada hal yang penting, cuma mau liat lo doang... dan... apa lo udah solat? “ Tanya Keyra.


“ Belum bang, Una masih ngantuk, jadi nanti aja ya... “


“ Hey... mana boleh kayak gitu, solat itu kewajiban, gak boleh ditinggal... emang lo mau dapet dosa? “.


“ Hah? Gak mau bang... Una gak mau “.


“ Mangkanya... udah cepetan sono wudhu, biar gue liatin lo udah hafal belum setelah diajarin tempo hari “.


“ Ok, bang... “.


Keyra masuk ke kamar Una, ia membiarkan pintu terbuka lebar, takut terjadi apa-apa kalau tertutup rapat, secara kan dia ini adalah pria tulen, bisa gawat kan kalau dirinya masuk ke dalam kamar seorang gadis yang sedang sendirian ditengah hawa nafsunya yang mungkin tak bisa dirantai, untung Keyra memiliki penahanan diri yang cukup baik.


Setelah berwudhu, Keyra duduk di kursi belajar Una sambil melihat gadis itu sembahyang, dirinya sedikit mengoreksi sambil mempraktikkan gerakan seusai sholatnya selesai, sambil ikut mengikuti arahan, Una yang semula tidak terlalu bisa gerakan dan bacaan solat mulai memahami dengan baik berkat abangnya itu.


Satu hal berharga yang Una dapat setelah bertemu dengan Keyra, selain menjaganya meski menggunakan profesi sebagai body guard, pemuda itu mengajarkan banyak hal padanya di setiap situasi, contoh besarnya adalah mengajarkan dia cara beribadah yang baik dan benar, serta belajar untuk membaca kitab suci Al-Qur’an. Selain dari hal besar tadi, Keyra juga sangat sering menasehati Una tentang etika dan tata krama, baik itu pada yang lebih tua, pada sesama dan pada orang yang lebih muda, itu semua Keyra jelaskan dengan tutur kata lembut yang mudah untuk Una pahami.


“ Bang kekey... kok abang bisa hebat gini sih soal agama?, bang Kekey belajar dari siapa? “ Tanya Una setelah ia belajar mengaji.


“ Em... dulu... gue punya orang tua yang baik banget, beliau rajin ibadah, suka tolong orang, dan yang pasti... dia adalah orang yang ngajarin gue tentang semua ini “. Ucap Keyra dengan antusias.


“ Itu mamanya abang ya? “ Tanya Una ditengah cerita.


“ Betul... selain itu, gua juga punya nenek yang baik juga, dia ngajarin gue tentang cara menahan amarah, memecahkan masalah dengan kepala dingin, dan masih banyak hal yang beliau ajarin ke gue... terlebih, gue dan adik gue waktu itu jadi tau mana jalan yang harus diambil sebelum bertindak “.


“ Eh? bang Kekey punya adik?, kok Una gak tau? “


“ Kan lo gak nanya, meskipun sekarang... dia udah tenang di sisi Allah SWT... “


“ Kalau... mama sama nenek bang kekey? “.


“ Sama, mereka juga udah gak ada “.


Keyra tersenyum, sementara Una menunduk dengan perasaan bersalah, ia tidak berniat untuk mengingatkan kembali kesedihan abangnya, namun sudah terlanjut, gadis itu bingung disaat dirinya hendak menghibur Keyra.


“ Maaf ya bang... Una gak sengaja udah bikin abang rindu mereka “. Ucap nya.


“ Gak usah dipikirin... gue gak papa kok, meskipun gue rindu inget masa-masa dikala masih tinggal sama mereka, sekarang gue cuma bisa ngirim doa biar mereka makin tenang disana “.


“ Em... kalau gitu, Una juga mau ngirim doa buat mereka ya bang “.


“ Iya boleh... mereka pasti seneng karena dapet doa dari orang yang imut kayak lo... “.


“ Huaaa.... Bang Kekey... “. Una terharu, tangannya sudah mengambil ancang-ancang untuk memeluk Keyra, namun pemuda itu keburu menahannya karena takut wudhu mereka sama-sama batal.


“ Hehe, Una lupa bang, untung aja diingetin... tapi... Una kan pake mukena, jadi kan harusnya gak bakal kena kulit “.


“ Untuk jaga-jaga Na... gimana kalau kena tanpa kita sadar, kan bahaya “.


“ Iya deh... kalau gitu ayo kita doa buat keluarga bang kekey “.


Una dan Keyra mengangkat tangan, keduanya membaca surat Al-fatihah untuk dikirimkan ke keluarga Keyra, dalam hatinya yang paling dalam, Keyra berharap agar sedikit doa dari yang ia ucapkan tiap harinya dapat membuat Ibu, Nenek dan Bianca ditempatkan disisi paling utama di alam sana, dan sebelum sempat Una sadari, Keyra menitihkan sebutir air mata kerinduan dari mata kirinya.


‘ Ya Allah... Keyra berdoa, semoga keluarga yang Keyra sayangi ditempatkan di tempat terbaik dalam lindunganmu ya Allah... Aamiin... ‘.


***


Pagi ini, pada pukul 9 setelah sarapan, Keyra bersiap untuk melakukan rencana awalnya untuk sekedar jalan-jalan biasa, berhubung hari libur, tugasnya juga sebagai body guard ikut libur sesuai jadwal yang diberikan oleh Juan, terlebih orang tua itu malah menyuruh Keyra untuk pergi menginap ke karyawisata di suatu tempat.


Entah kenapa, Keyra merasa bahwa perlakuan dari anggota keluarga ini makin ramah pada dirinya, tidak hanya Devina dan Veriska yang sejak awal dengan baik menerima keberadaanya, kini Juan, Razka, Noland dan Erlang bahkan bersikap baik padanya tidak seperti pada pertemuan pertama, terkecuali para anak rese si Reza dan Alfa itu, mereka masih tetap usil padanya dan menyebalkan diusia yang sudah cukup dewasa, dasar kekanak-kanakan.


“ Bang Kekey mau kemana? “ Tanya Una disaat dirinya melihat Keyra berpenampilan rapi.

__ADS_1


“ Gue mau keluar sebentar, mumpung hari libur... jadi pengen keliling sekitar daerah sini “.


“ Wah... Una boleh ikut gak?, kebetulan hari ini Una gak ada kegiatan... “


“ Hm... mending jangan deh, soalnya hari ini bakalan panas, gue gak mau lo nanti kecapean “. Jawab Keyra mengacuhkan tatapan tajam dari Reza dan Alfa.


“ Yah... bang kekey... Una bakalan baik-baik aja kok, jadi boleh ikut kan... boleh kan Mah... “ Ucap Una yang secara tidak langsung mengadu pada Devina.


“ Iya, gak papa... kamu ajak Una aja Key, kasian lho dia sampe ngerengek kayak gitu... “


Keyra menghela nafas, untuk membantah perintah dari sang nyonya cukup sulit dilakukan, terlebih isyarat mata Noland saat itu dengan santainya mengatakan bahwa Keyra harus membiarkan Una ikut bagaimanapun caranya. Berakhir dengan mengiyakan permintaan, Una melompat girang dan segera bersiap menuju kamarnya, dari situ Reza dan Alfa juga mengajukan diri untuk ikut serta bersama Una, Keyra bingung dengan hobi kedua tuan muda itu, apa mereka saking tidak percayanya pada Keyra sampai-sampai saat jalan bersama Una pun harus ikut?, bukankah tindakan itu terlalu berlebihan?, sungguh para remaja yang sayang adik, bukan... lebih tepatnya posesif.


Beberapa menit kemudian, Keyra beserta 3 cucu keluarga Elrahma pergi menggunakan mobil untuk sekedar jalan-jalan, niatan awal yang dirinya persiapkan rusak total karena ulah dari orang-orang ini, mulanya sih dia hanya ingin mencari angin segar dan naik angkutan umum sambil melihat-lihat jalan yang sudah lama tidak ia lewati, tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah terjadi.


Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Reza kini berhenti di sebuah parkiran, tempat itu berada disebuah pasar tradisional yang dulu sangat sering Keyra kunjungi setiap harinya, mengajak si gadis Una, para tuan muda juga ikut dibelakang sambil memperhatikan sekitar.


‘ Haduh... kenapa gue jadi ngasuh kayak gini sih? ‘ Batin Keyra.


Pemuda itu menggenggam tangan si gadis Una, kepadatan penduduk saat memasuki pusat pembelanjaan lokal memang sudah biasa, jadi guna meminimalisir gadis itu tersesat atau terpisah, Keyra tidak melepaskan tangannya sedikitpun meski mendapat hawa dingin terus menerus dari arah belakang, siapa lagi yang memancarkan aura itu selain Reza dan Alfa. Keempatnya berhenti di sebuah toko kue sederhana, si ibu jualan yang awalnya tengah menghitung nota menjadi terkejut saat melihat Keyra tersenyum padanya, dan ternyata toko yang Keyra kunjungi adalah tokonya bu Inah, yaitu langganan saat ia membeli kue dulu.


“ Ya ampun Key... kamu kemana aja?, kabar kamu sehat? “ Ucap bu Inah menyerahkan pekerjaannya pada sang putra.


“ Saya baik-baik aja bu, gimana tokonya?, laris manis kali... saya liat pelanggan disini makin rame “. Ucap Keyra yang melepaskan pegangan tangan Una pada Reza sejak awal kedatangannya.


“ Alhamdulillah... makin kesini sedikit demi sedikit toko ibu makin terkenal, ini juga kan berkat kamu Key, selain beli dari toko ibu, kamu malah sekalian ngepromosiin ke yang lain... pokoknya ibu banyak-banyak ngucap makasih ke kamu lah Key... “.


Keyra dan bu Inah mengobrol sekitar 5 menit ke depan, pemuda itu menyudahi obrolan dengan alasan sedang mengantar seseorang, keduanya berpisah dengan bu Inah yang memberi bingkisan berupa kue pada Keyra, beliau berharap banyak agar pemuda itu bisa berkunjung lebih sering dimasa depan.


“ Lo mau gak Una? “ Tanya Keyra menawarkan kue ringan dari toko bu Inah.


“ Ini kue apaan bang? “.


“ Ini kue tradisional, yang dibalut daun pisang ini namanya bugis, kalau yang ijo ini putu ayu... terus yang ini lapis ketan, dodol garut, pokoknya enak semua deh “.


“ Kalau yang ini apa bang? “ Tanya Una menunjuk salah satu yang ada di bungkusan.


“ Ouh... ini kalau gak salah lemper deh namanya, rasanya enak lho, pedes dan gurih gitu...”


‘ Ni anak kalau ngomongin makanan pedes langsung semanget aja... ‘.


Keyra dan yang lain pergi mencari tempat duduk untuk singgah sejenak, mereka beristirahat sambil memakan kue yang dibawa tadi, respon para tuan muda tentang kue ini berujung positif, sepertinya mereka tidak masalah memakan makanan tradisional selama rasa dari benda itu enak, terlebih mungkin karena sudah berkeliling pasar agak lama, keduanya menghabiskan setengah dari kue yang mungkin awalnya berisi sekitar belasan buah.


“ Hm... masih laper nih, Key... beliin makanan laen dong “. Ucap Reza.


“ Makanan kayak gimana? “.


“ Em... camilan yang gurih aja deh “.


“ Sekalian sama Es nya, gue mau perisa mangga “ Kali ini Alfa yang berbicara.


“ Hm... tumben tuan muda Alfa pengen yang ras__... “.


“ Sekali lagi lo manggil gue ‘tuan muda’, dicekek abis lu Key “. Ancam Alfa.


Keyra tersenyum canggung, sementara Una menceramahi kakaknya yang satu untuk jangan terlalu kasar kepada dirinya, walau agak menyebalkan, menurut pengamatan selama ini, Alfa ini merupakan orang yang sedikit bisa diajak kompromi selagi Keyra tidak melakukan hal yang tidak ia sukai, sama halnya dengan Reza dulu, mungkin orang dari keluarga Elrahma semuanya seperti itu, Keyra sempat tidak menyukai mereka di awal pertemuan, namun setelah mengenal mereka cukup lama membuat ia sadar kalau keluarga ini adalah tipe individu yang kalau sudah kenal pasti akan sangat dekat, mungkin definisi yang paling tepat untuk mereka adalah ‘don’t judge a book by its cover’.


Menuruti permintaan tuan muda, Keyra membelikan beberapa makanan dan minuman yang sekiranya cocok di lidah anak orang kaya itu, hasilnya mereka menerima dengan baik, bahkan Alfa terlihat anteng mengunyah makanan yang Keyra bawa. Di tengah kegiatan menjaga anak-anak dari keluarga Elrahma, Keyra juga ikut serta menikmati sedikit camilan yang ia beli, mungkin rencana awal yang sudah ia persiapkan sejak kemarin akan dilakukan saat pulang nanti, tidak ada salahnya kan mengajak para tuan dan nona muda ini untuk berkeliling sejenak.


“ Aduh... ibu, tolong minggir dikit dong, ini jalan sempit jadi langkahnya cepetin dikit kek... saya lagi buru-buru nih... “. Ucap bapak-bapak yang terlihat menyenggol seorang ibu-ibu.


“ Maaf ya pak, saya susah gerak, permisi... “.


Keyra melihat kejadian tersebut, matanya menangkap ada seorang ibu hamil yang sedang berjalan melewati kerumunan ibu-ibu yang lalu-lalang, namun disaat yang bersamaan, lewat seorang bapak-bapak yang tengah terburu-buru sampai menyenggol ibu tersebut, kegiatan itu terjadi begitu cepat, namun saat Keyra memperhatikan ibu itu dengan kasihan karena kelelahan, jiwa sosialnya naik dan pria itu bangkit dari duduknya.


“ Lo semua tunggu bentar ya... gue mau kesana dulu “. Ucap Keyra pada tuan dan nona muda.


Pemuda itu berjalan ke arah si ibu hamil yang kini posisinya membelakangi, mungkin ketika sudah bertukar sapa ia akan menawarkan bantuan untuk memapahnya ke pinggir jalan, sejenak Keyra menepuk lembut ibu itu sambil menyerukannya, dia pun berbalik dan mencoba untuk memahami maksud Keyra, namun disaat itu juga Keyra terkejut saat melihat wajah si ibu itu, terlebih orang yang membuat Keyra terkejut sama terkejutnya juga ketika ia melihat wajah pemuda itu.


“ Ibu?... “ “ Aldo?... “


Ucap mereka bersamaan.


***

__ADS_1


Una memperhatikan Keyra dari jauh, sepertinya pemuda itu hendak melakukan kebaikan lain dikala orang sekitar tidak menyadarinya, namun saat melihat Keyra nampak terkejut dan berakhir mengobrol akrab dengan seorang ibu yang hendak ditolongnya, mungkin mereka sudah mengenal satu sama lain sebelumnya.


“ Hm... bang Kekey kenalannya banyak ya kak Eza? “ Ucap Una pada kakaknya yang sedang asik mengunyah makanan.


“ Iya kali, emang kenapa kamu nanya gitu? “. Tanya Reza.


“ Una liat... di pasar ini kayaknya orang-orang udah sering banget ketemu sama bang Kekey, Una bahkan sempet ngitung orang yang nyapa bang Kekey duluan, mungkin lebih dari 10 orang? “.


“ Dia kan dulu sering ke pasar buat beli kue, sebelum Keyra masuk ke rumah keluarga kita, menurut informasi yang papa dapet... dia kerja di berbagai tempat buat memenuhi kebutuhannya “ Ucap Reza menjelaskan.


“ Eh? emang orang tuanya gak ngebiayain dia gitu?, kok sampe dia yang turun tangan sendiri? “ kali ini Alfa ikut nimbrung obrolan Una dan Reza.


“ Hm?, kak Alfa belum tau?, orang tua bang Kekey kan udah meninggal, dia bahkan tinggal sendiri pas di kontrakannya dulu, Una sedih deh kalau inget pertama kali kita ketemu... “ Ucap gadis itu yang berlinang air mata mengingat pembicaraannya tadi pagi dengan Keyra.


“ Udah... gak udah sedih, sekarang kan dia gak sendiri lagi, karena udah masuk ke keluarga Elrahma, dia udah jadi bagian dari keluarga kita “. Ucap Reza mengelus lembut rambut adiknya.


Una tersenyum disertai Reza yang senyum balik terhadapnya, namun tidak dengan Alfa, pemuda itu kini melihat ke arah Keyra yang sedang antusias sekali mengobrol dengan sang ibu hamil, mungkin orang itu merupakan kenalannya, dan tanpa dia sadari, ternyata muncul perasaan yang tidak ia mengerti, apakah ini perasaan kasihan?, atau... perasaan ingin merangkul kesedihan pemuda itu?, entahlah, yang pasti Alfa memandang Keyra dengan tatapan kosong.


Perhatian ketiganya kini terfokus pada Keyra yang memegangi tangan ibu tersebut, mereka mendekat dan sudah ada di hadapan setelah beberapa detik berjalan, namun kala itu, baik Una, Reza maupun Alfa menemukan hal yang belum pernah meraka lihat sebelumnya, ada apa dengan Keyra?, apakah sebelumnya pemuda ini selalu memasang wajah senyum ceria seperti itu?, bukan lagi Keyra yang menyebalkan dimata Reza dan Alfa, maupun Keyra yang berkepribadian dewasa dimata Una, semuanya hilang saat ketiganya mendapati Keyra saat ini seperti bocah 15 tahun pada umumnya.


“ Keyra... itu siapa? “ Tanya Alfa yang pertama kali.


“ Oh, ini... kenalin, dia bu Ika... ibu sambung gue “. Ucap Keyra yang membuat ketiga orang didepan terkejut.


Flashback...


“ Aldo?... “. “ Ibu?... “


Keyra terkejut dengan apa yang ia lihat, seorang wanita hamil berusia kira-kira 30 tahunan kini sedang menatapnya terkejut, tidak lama waktu berselang, wanita itu membuka suara dengan antusias.


“ Aldo... ya ampun nak, ini kamu kan?... apa kabar sayang?, ibu udah nyariin kamu kemana-mana tau, ternyata kamu ada disini... “ Ucapnya terharu.


“ Hehe... iya bu, ini Aldo... aku baik-baik aja, dan makasih ya udah khawatirin Aldo “.


Keyra tersenyum bahagia, ia tidak pernah menyangka kalau akan bertemu secara kebetulan dengan ibu sambungnya di pasar, sudah sejak lama ia tidak bertemu dengan beliau, apakah satu tahun?, atau hampir dua tahun?, yang pasti keduanya sangat senang bisa bertemu satu sama lain.


Nikael Azahra, adalah nama lengkap dari istri kedua ayahnya, ia merupakan putri sulung dari keluarga kelas menengah, kariernya bagus, reputasinya baik, memiliki keluarga yang terpandang, serta mempunyai karakter yang lemah lembut dan pintar, dalam semua aspek wanita itu sangatlah sempurna. Beliau menikah dengan ayah Keyra di usianya yang menginjak 23 tahun, wanita itu bahkan tidak tahu perihal ibu Keyra yang baru meninggal seminggu sebelum pernikahan, sebelumnya Fedrik yaitu ayah Keyra hanya memberitahu dia kalau pria itu merupakan duda beranak dua, serta pada dasarnya wanita itu adalah orang yang baik, Ika rela merawat Keyra dan Bianca kecil sampai hak asuh mereka dioper kepada Anita, yaitu nenek Keyra tanpa sepengetahuannya.


“ Hp kamu kenapa gak bisa dihubungin Al, ibu susah payah tau nyari info ke temen-temen kamu... disamperin ke rumah tapi kamu udah pindah, kenapa enggak bilang dulu ke ibu? “. Ucap Ika, ibu sambung dari Keyra.


“ Maaf bu, hp aku waktu itu rusak... jadi... ahaha, maaf ya Aldo gak bilang “.


“ Seharusnya kamu bilang sama ibu, kan kita jadi bisa tinggal serumah, dari dulu ibu selalu khawatir sama kamu yang tinggal sendirian setelah Nenek dan Bianca meninggal... “.


“ Tapi Aldo gak papa kok bu, sekarang aku bahkan udah dapet kerjaan yang gajinya layak, meskipun... yah... namanya juga anak SMA, kerjaannya gak terlalu bagus “. Ucap Keyra berusaha untuk tidak mengungkapkan pekerjaannya sebagai body guard.


“ Alhamdulillah, kalau gitu... ibu seneng dengernya, oh... dan kamu sekarang tinggal dimana?, boleh gak ibu mampir ke rumah? “


“ Itu... aku sekarang tinggal di asrama pekerja bu, jadi udah gak ngontrak lagi... “.


“ Wah... syukurlah, jadi pola makan kamu teratur dong, semoga aja kamu betah kerja disana yan nak, ibu bakalan terus ngedukung kamu “.


“ Iya, makasih bu... “.


Keduanya mengobrol cukup lama, Keyra baru menyadari kalau Ika sekarang sudah mengandung, ibunya memberitahu kalau usia kandungannya baru memasuki 6 bulan, itu hal yang menyenangkan untuk Keyra dengar, sebelumnya Ika sudah bertahun-tahun tidak dikaruniai keturunan, namun mendengar bahwa program kehamilan saat ini sangatlah besar tingkat keberhasilannya, membuat pemuda itu antusias dan menghimbau ibu sambungnya untuk rehat sejenak di pinggiran.


“ Oh iya... kamu kesini sendirian Al?, atau lagi sama temen? “ Tanya Ika yang saat ini tanya sedang dipapah oleh Keyra.


“ Aku kesini bareng sama anak majikan bu... mereka lebih tua dari aku, dan orangnya baik “.


“ Iya kah?, wah... ibu jadi gak sabar pengen liat mereka “.


“ Tenang, bakalan aku kenalin kok... plus meraka gak jauh dari sini “.


Flashback end...


“ Hallo semua, saya Nikael... ibu sambungnya Aldo “ Ucap Ika menyapa Una, Reza dan Alfa.


Keyra memperkenalkan Ika pada ketiga cucu keluarga Elrahma sebagai ibu sambungnya, dan sebaliknya pemuda itu juga memperkenalkan ketiganya sebagai anak dari majikannya, situasi ini cukup mendadak, Una, Reza dan Alfa masih loading dan belum bisa mencerna situasi, sampai beberapa detik kemudian, orang yang pertama kali membuka suara dari meraka adalah Alfa.


" Hallo tante, saya Alfa... salam kenal “. Ucap Alfa sedikit membungkuk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2