
“ Keyra, kamu kenapa gak bilang kalau lagi sakit?, tadi itu bahaya lho... “ Ucap Veriska setelah keheningan mengisi ruangan.
“ Ma, maaf nyonya... saya kira ini cuma pilek biasa, dan gak nyangka endingnya bakalan kayak gini “ Ucap Keyra tersenyum canggung.
“ Lain kali tolong jangan kayak gini lagi ya, kalau ada apa-apa tinggal bilang... kamu itu sekarang udah jadi bagian dari keluarga Elrahma, gak baik nyimpen beban sendirian “.
Keyra terdiam, ia mengalihkan pandangan ke arah jendela, tak sanggup menatap wajah Veriska lama-lama, pemuda itu berpikir apakah dirinya pantas mendapatkan perlakuan layaknya seperti keluarga di rumah ini?, secara kan dirinya bukanlah siapa-siapa, ditambah hubungan darah saja tidak punya, sudah tentu ia sungkan dengan tawaran yang wanita itu ucapkan.
“ Saya merasa senang nyonya, makasih karena nyonya sama yang lain sudah mau repot-repot kasih saya tumpangan... saya cukup sadar diri dengan keadaan pribadi, meskipun begitu... saya udah nganggap semua orang di rumah ini sebagai keluarga kedua saya yang berharga, jadi... makasih atas segalanya “.
Veriska dan Keyra sama-sama tersenyum, namun pemuda itu tahu bahwa wanita yang berada disampingnya sedikit kecewa dengan respon yang ia buat, meski bibirnya melengkung ke atas, namun sorot mata Veriska tersirat ada rasa kesedihan didalam, Keyra sendiri cukup sadar diri dengan keberadaannya di dalam keluarga ini, orang yang bukan siapa-siapa mendadak masuk ke rumah sebagai seorang abang dan body guard adalah hal yang cukup langka ditemukan, bahkan pemuda itu berani menjamin jika kasus yang serupa dengannya dapat dihitung oleh jari kalaupun ada.
Balik lagi ke waktu sekarang, melihat Keyra yang tak kunjung tidur membuat Veriska berinisiatif keluar kamarnya untuk membiarkan anak itu istirahat, sepertinya pemuda tersebut tidak terbiasa dengan kehadiran seseorang ketika ia tidur, dan sekitar 5 menit kemudian Veriska pergi dengan senyuman lembut yang mengarah pada Keyra.
“ Kamu harus langsung tidur ya Key “ Ucap Veriska seraya pergi menutup pintu kamar.
“ Hah... akhirnya gak ada orang, gue mana bisa tidur sebelum lepas softlens “.
Keyra bangun, meskipun rasa pusing menyerang ketika ia duduk, pemuda itu mengambil sebuah benda dari laci nakas di pinggir ranjangnya, bentuk benda itu berupa kotak kecil yang ternyata adalah kotak softlens, pemuda itu menyentuh kornea mata dan mengeluarkan selembar benda kecil berwarna coklat yang melapisi matanya tadi, rupanya ini penyebab Keyra tidak bisa langsung tidur walau disuruh, meskipun bahan dari lensa kontak ini adalah tipe silicone hydrogel yang dapat dipakai 12 jam, namun Keyra cukup takut untuk memakainya saat tidur.
Ternyata sejak tadi, Keyra sudah sangat ingin melepas lensa kontak dari pupilnya, namun jika kegiatan tersebut dilakukan didepan Veriska, sudah pasti wanita itu akan melihat warna asli matanya yang unik, sebenarnya sih Keyra dari dulu tidak memiliki alasan khusus, pemuda itu tidak harus merahasiakan hal tersebut, namun mungkin karena kebiasaan, dan belum pernah ada yang melihat pula, Keyra selalu menyimpan fakta ini sendirian setelah keluarga tiada.
Dengan penglihatan yang kini tak terhalang apapun, pemuda itu bersandar di tengah rasa panas yang menemaninya, ia melirik jarum infusan yang berada di lengan kanan, tidak pernah disangka-sangka, ternyata ada juga masanya Keyra menggunakan alat ini disituasi darurat.
“ Uhuk... udah lama juga ya gua gak sakit payah kayak gini, waktu dulu... nenek yang selalu ngerawat kalau gue demam, tapi sekarang... “.
Keyra mendesah panjang lalu melihat kearah jendela yang terbuka, pandangannya lurus ke luar dengan tatapan kosong, sepertinya ia akan bernostalgia sejenak untuk beberapa saat, dan tak lama kemudian Keyra pun berbaring menenggelamkan wajah ke dalam bantal, pemuda itu tertidur dengan perasaan rindu yang mengantarkannya pada dunia mimpi, dengan hati yang seolah teriris, Keyra menahan semua kesedihan yang sudah biasa ia lakukan sejak dulu.
***
Pukul 2 siang, seorang anak membuka matanya dengan keadaan segar bugar sambil merentangkan badan, ia bangun dari sofa dan bergegas menghampiri seorang wanita yang kini sedang duduk selonjoran di sebuah brankar. Rupanya cantik, wanita berkerudung itu terlihat seperti baru berusia 27 tahunan, dengan keadaan perut yang besar sedang mengandung ditambah memasang senyum hangat disaat anak itu mendekatinya, dia mengelus lembut rambut sang anak dengan penuh kasih sayang.
“ Apa tidur kamu nyenyak nak? “.
“ Iya, Aldo udah gak ngantuk lagi, tapi... tidur aku lama gak bu? “. Tanya Aldo yang memanggil wanita itu dengan sebutan ‘bu’.
“ Enggak kok... malah Aldo kenapa tidurnya sebentar?, padahal kan bisa lebih lama “.
“ Gak papa bu, Aldo mau jagain ibu aja, biar dedenya juga ngerasa aman... “
Pemuda cilik itu berjinjit dan mengelus lembut perut ibunya yang kini membuncit, sambil terus berbincang ini dan itu, Aldo kecil tertawa dengan riang saat membahas tentang perihal kelahiran adiknya nanti. Disaat keduanya sedang asik mengobrol, terdengar suara ketukan pintu yang setelahnya muncul seorang wanita paruh baya dengan kantong plastik ditangan.
“ Nenek... “.
Aldo berlari ke pelukan seorang nenek yang mendekat, dilihat dari wajahnya mungkin saja nenek itu sudah berusia sekitar 50 tahunan, dan dengan senyum ramah, si nenek mencubit lembut pipi cucunya yang kini ikut tersenyum juga.
“ Gimana? Aldo jagain ibu kan pas nenek gak ada? “. Tanya wanita itu sebelum duduk di kursi dekat ranjang.
“ Iya dong... tapi, Aldo tadi ngantuk dan tidur bentar, gak lama kok nek... dan untung ibu juga gak kenapa-napa “. Ucap Aldo.
“ Bagus... Aldo emang anak yang hebat, udah pantes banget jadi seorang kakak “.
“ Hehe... “.
Ketiga orang yang berada di ruangan tertawa, mereka sudah jelas sedang merasa senang satu sama lain, di selang canda ria di dalam obrolan, Hera adalah nama dari wanita yang sedang duduk di brankar itu.
“ Eh iya... ibu bawa barang yang Hera minta gak? “ Ucapnya ditengah obrolan.
“ Bawa, emang kamu mau ngasihnya sekarang? “.
“ Kalau ada waktu sekarang kan ngapain harus nanti... “.
“ Ya udah, bentar “.
Anira, yaitu ibu dari Hera kini mengambil sesuatu didalam plastik yang dibawa tadi, tangannya mengambil sebuah kotak kecil berwarna coklat yang terbuat dari kayu, sambil diiringi seringai melihat ke arah Aldo, sang nenek memberikan benda tersebut pada Hera.
“ Itu apaan nek yang dikasih ke ibu? “ Tanya Aldo penasaran.
“ Mending Aldo tanya nya ke ibu aja “. Ucap Anira diselingi tawa kecil.
Aldo mengarahkan pandangan pada sang ibu, sambil tersenyum dan mengedipkan mata berulang kali, bocah kecil itu diam sambil memasang wajah bingung melihatnya. “ Ibu kenapa? “ Tanya nya.
“ Coba Aldo tebak?, ini isinya apaan hayo... “.
“ Em... kayaknya isinya cincin deh, tapi... engga, enggak... ini pasti gelang “.
“ Haha... kamu emang pinter ya Do, mending liat sendiri isinya deh “.
“ Eh?, emang gak papa?, ini siapa yang punya bu? “.
“ Udah... kamu buka aja dulu “.
Hera memberikan benda tersebut dengan reaksi yang membuat Aldo penasaran tentang apa yang ada di dalam kotak, sesaat setelah anak itu membuka benda tersebut, tebakannya ternyata benar ketika mengira bahwa isi dari kotak itu adalah gelang. Dengan ukiran yang unik dan khas, gelang dengan bahan dasar kayu kaokah ini seperti dibuat khusus untuk seseorang, dengan gantungan belati lengkap dengan sarungnya membuat orang yang melihat benda ini seperti sebuah mahakarya.
“ Wah... ini gelang punya siapa bu?, bagus banget... “.
“ Hihi... itu gelang punya kamu Do “. Ucap Hera membuat Aldo mematung.
“ Eh? Aldo? Ini punya Aldo? “.
“ Iya... ini ibu khusus buatin buat kamu, ya... walaupun bukan barang berharga, setidaknya ibu agak bangga dikit dengan keterampilan tangan ibu, maaf ya gak bisa ngasih kamu lebih... dan juga... Selamat ulang tahun Aldo sayang... “.
Aldo mematung, ketika mendengar ibunya mengucapkan selamat ulang tahun anak kecil itu baru sadar kalau hari ini adalah hari kelahirannya, tidak pernah menyangka bahwa sang ibu masih ingat, Aldo yang bahkan sendirinya lupa dengan ulang tahun menjadi terharu dan langsung memeluk ibunya sambil sedikit berjinjit.
__ADS_1
“ Eh?, Aldo kenapa? “ Tanya Hera tertawa kecil.
“ Aldo seneng banget dapet hadiah ini dari ibu, makasih banyak karena udah inget ulang tahun Aldo... Aldo janji bakalan jaga gelang ini baik-baik “.
Pemuda kecil itu tersenyum, Hera mengelus rambutnya sementara Anira tersenyum melihat keharmonisan anak dan ibu itu, di dalam hati Hera bersyukur karena telah melahirkan anak yang sebaik dan secerdas Aldo, tidak hanya penurut, dia juga selalu taat beribadah diusianya yang masih belia, sungguh kesempurnaan yang terbaik bagi seorang ibu seperti Hera.
“ Ibu ikut seneng kamu suka sama hadiahnya... pokoknya yang paling penting, ibu berdoa sama Allah biar Aldo selalu menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orang tua, dan juga... ibu ngasih gelang ini buat Aldo supaya bisa jadi kenang-kenangan pas ibu udah gak ada nanti “.
“ Tenang aja bu... Aldo bakalan berusaha biar selalu jadi anak yang baik, dan bakalan bahagiain Ibu, nenek sama adik kecil nanti... “.
“ Haha... Aamiin... semoga doa kamu terkabul Do “.
Rasa antusias Aldo memuncak, anak itu melompat kegirangan karena mendapat hadiah yang ia anggap istimewa dari ibunya, untuk kedua wanita yang duduk itu kini malah tertawa melihat tingkah Aldo kecil mereka yang sedang kegirangan, hingga beberapa menit kemudian, sang Nenek menyuruh anak itu untuk segera pergi ke mushola karena waktu adzan ashar hampir tiba.
“ Aldo solat duluan aja ya, nenek jagain ibu disini terus gantian kalau kamu udah selesai... kasian kalau ibu kamu ditinggal “. Ucap Anira.
“ Oh, ok nek... Aldo duluan ya “.
“ Eh? kamu gak mau dianter? “ Ucap Hera menghentikannya.
“ Aldo kan udah mau jadi kakak bu... jadi harus bisa sendiri “.
“ Ya udah... hati-hati ya sayang... “.
Mendapat ucapan lembut dari Hera, Aldo pergi sambil terus melihat gelang yang ia dapat dari ibunya, mungkin ini sedikit berlebihan, namun didalam hati dirinya merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupnya.
‘ Makasih ya Allah... Aldo jadi bisa dapet hadiah dari ibu, semoga... ibu dapet balasan yang lebih baik dari ini, Aamiin... ‘ Batin Aldo.
***
Pukul 4 sore hari, Aldo berjalan di lorong rumah sakit hendak pergi ke bangsal ibunya berada, selepas dari Mushola usai melaksanakan solat ashar, anak itu pergi ke warung terdekat untuk sekedar membelikan ibunya camilan, mungkin wanita itu sudah merasa bosan karena selalu berada didalam ruangan, sekitar 50 meter dari ia belok kanan, Aldo sampai di ruangan tersebut.
Anak itu membuka pintu, biasanya sang ibu selalu memberikan senyuman hangat ketika ia muncul dari balik pintu, namun saat ini dimana keberadaan dia?, Aldo terkejut karena tidak menemukan siapa-siapa di ruangan itu. Masih merasa bingung dan panik, Aldo kembali ke luar ruangan dan di sana terlihat ada sang nenek yang sedang berjalan cepat kearahnya.
“ Aldo... “ Ucap Naira mendekat.
“ Nenek... ibu gak ada dikamar nek, tadi Aldo masuk tapi gak ada siapa-siapa... “ Susul Aldo cemas.
“ Ibu kamu ada kok Do, dia dipindahin ke ruang bersalin, perutnya sakit dan dokter bilang ibu Aldo udah mau lahiran “
“ berarti... dedenya udah mau keluar ya nek? “
“ Iya... mangkanya kita berdoa supaya ibu sama si bayi nya selamat ya... “.
“ Iya nek... “
Anira mengajak Aldo ke depan ruangan bersalin untuk menunggu, mereka sampai setelah berjalan melewati 4 ruang rawat yang berada di lantai dua, sebelumnya Hera ditempatkan di lantai pertama, dengan segera dan ditangani oleh pihak rumah sakit, wanita itu segera di bawa ke ruangan lain ketika menerima kontraksi.
Anira dan Aldo duduk di kursi tunggu selama hampir setengah jam, keduanya khawatir karena proses persalinan berlangsung cukup lama, padahal bidan yang memberitahu Anira berkata Kalau Hera sudah memasuki pembukaan 6 waktu kontraksinya dimulai, dan dengan diiringi doa yang tidak pernah berhenti dari keduanya, mereka bernafas lega ketika mendengar suara tangis bayi yang terdengar dari ruangan.
“ Beneran nek?, berarti Aldo udah jadi kakak beneran dong, bukan boongan lagi? “.
“ Iya... selamat ya, semoga kamu sama si adik bakalan jadi anak yang berbakti nanti “.
Aldo tersenyum girang, sementara Anira mengucapkan banyak terima kasih dan bersyukur kepada Allah karena telah membantu proses persalinan anaknya, karena kalau bukan kehendak tuhan, semua hal yang Manusia kerjakan, harapkan dan impikan tidak akan pernah terjadi meski mereka berusaha sangat keras sekalipun.
Tidak lama suara tangis bayi menghilang dari ruangan, muncul seorang ibu bidan yang masih menggunakan masker membuka pintu. “ Permisi... suami dari ibu Hera ada dimana ya? “. Tanya wanita tersebut.
Anira mendekat. “ Maaf bu bidan, menantu saya... dia lagi berhalangan hadir karena ada kerjaan yang mendesak, memang ada perlu apa ya? “.
“ Ouh... awalnya saya manggil menantu ibu buat nge azanin bayi yang baru lahir ini, saya tahu dari data pasien kalau dia itu beragama islam, biasanya suami orang lain bakalan stay di tempat buat jaga-jaga... apa gak ada anggota keluarga lain yang bisa menggantikan menantu ibu? “.
Anira bingung, di dalam keluarga Hera, sang suami sudah melupakan kewajibannya sebagai seorang pria, tidak hanya enggan datang di hari istrinya bersalin, pemuda brengsek itu juga bahkan sangat jarang pulang meski hanya memberikan uang belanja tiap bulanya. Di Situasi saat melihat Nenek dan ibu bidan berdiskusi, Aldo membuka suara membuat fokus kedua orang dewasa itu mengarah kepadanya.
“ Permisi... Nenek, kalau misal gak ada orang yang nge azanin dede bayi, Aldo bisa kok jadi pengganti ayah... “.
Terharu, baik itu Anira maupun bu bidan merasa tersentuh dengan keberanian anak kecil yang ada didepan mereka, meskipun diumur yang masih belia, mereka berdua sudah bisa melihat bahwa Aldo merupakan anak yang baik dan dapat diandalkan, segera setelah Aldo membuat argumen, bu bidan menyetujui dan menyuruh keduanya masuk ruangan.
Hera dalam keadaan terlentang, ia masih bisa tersenyum pada Aldo dan Anira ditengah kondisinya yang sedang lemah, selain bu bidan dan Hera, terdapat seorang suster muda yang sedang mengendong bayi kecil di pangkuannya.
“ Suster, bawa bayi itu ke deket adek ini... katanya dia yang mau gantiin ayahnya yang sibuk buat adzanin si bayi.. “. Ucap Bu bidan yang mana perintahnya segera dilaksanakan oleh sang suster.
Aldo mendekat dan kak suster berlutut menyesuaikan tinggi badan agar Aldo dapat dengan mudah mendekatkan mulutnya pada telinga si bayi.
“ Allahuakbar, Allahuakbar... “.
Suara merdu Aldo kecil menggema di ruangan, dengan fasih ia mengumandangkan adzan yang membuat orang mendengarnya menjadi tenang dan tentram, Anira tersenyum, sementara Hera mengeluarkan air mata terharu sebab merasa bangga karena telah mempunyai anak yang seperti Aldo, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, wanita itu sangat-sangat bersyukur kepada Allah karena bisa melihat anaknya tumbuh meskipun mungkin hanya sebentar.
***
“ Ibu... ibu tau kan, adik Aldo cantik lho bu, kayak ibu... “.
“ Haha... bisa aja kamu Do “.
Saat ini, Aldo dengan Hera sedang mengobrol ringan di ruangan yang berbeda, sejam yang lalu wanita itu dipindahkan dari kamar bersalin bersamaan dengan anaknya yang dibawa ke ruang NICU, yaitu ruangan penempatan bayi baru lahir. Kali ini perasaan Aldo sangat senang, ia bersyukur karena melihat ibu dan adik nya selamat, ditambah mungkin tindakannya beberapa waktu lalu merupakan sebuah pencapaian karena dapat dengan langsung meng adzani adik cantiknya.
Waktu menunjukkan pukul 05:45, yang mana sinar mentari sudah perlahan mulai menghilang, Aldo duduk di kursi dekat rajang, sementara neneknya sedang mengurus administrasi di lantai pertama.
“ Aldo... ibu mau ngomong sesuatu nak “. Ucap Hera masih dengan wajah pucat nya.
“ Iya... kenapa bu? “.
“ Kamu... apa kamu bahagia karena udah jadi anak ibu? “.
__ADS_1
Aldo diam sejenak karena bingung, ia heran kenapa ibunya menanyakan hal yang sudah pasti akan dijawab ‘iya’ oleh dirinya. “ Aldo bahagia kok bu, bahkan Aldo bersyukur bangeeeet karena ibu udah jadi orang tua Aldo... ibu itu baik, cantik, lembut, pokoknya sempurna deh “. Ucap Aldo dengan senyum lucunya.
“ Haha... mulut kamu manis banget ya Do, ibu penasaran kalau kamu udah besar nanti bakalan kayak gimana “.
“ Kan kita tinggal bareng, ibu bisa liat pertumbuhan Aldo setiap hari sampai besar nanti “.
Hera tertawa kecil. “ Kenapa ya Aldo bisa seimut ini?, kamu itu anaknya siapa sih?, udah pinter... soleh... ganteng lagi “. Ucap Hera sambil mengelus rambut Aldo.
“ Hehe... kan Aldo anak ibu “.
Aldo menikmati sentuhan lembut tangan Hera, hal yang paling ia sukai dari wanita itu selain lembut adalah kontak fisiknya, selain elusan rambutnya, anak itu juga sangat suka dengan pelukan hangat sang ibu.
“ Aldo... sini nak “.
Tepat ketika pikiran Aldo sibuk dengan sendirinya, Hera menyuruh anak itu untuk naik ke brankar agar duduk disampingnya. Dengan sedikit usaha, Aldo pun berhasil naik dan duduk dengan posisi kaki yang tergantung, sang ibu memeluk Aldo dari samping, anak itu merasa heran dan nyaman di saat bersamaan, meski ibunya sering memeluk, namun sebelum melakukan hal itu, Hera pasti selalu meminta terlebih dahulu pada orang yang bersangkutan, seperti ‘sini nak... peluk dulu, ibu kangen...’ atau ‘ kamu imut banget sih nak, sini ibu peluk’.
“ Kamu dengerin ibu ya nak... nanti, kamu harus jagain nenek sama adik cantik, jagain adik, terus ajarin dia hal yang baik... bimbing dia supaya jangan sampai ngambil jalan yang salah ya. “. Ucap Hera bersandar masih dalam posisi memeluk.
“ Iya bu, Aldo pasti bakalan jadi kaka yang baik supaya adik kecil bangga karena punya kakak kayak Aldo “.
“ Em... oh iya, Aldo mau bantuin ibu ngasih nama gak buat si adik? “.
“ Wah... mau, mau “
Aldo memejamkan mata sambil menyentuh pipi kanannya, ia memikirkan berbagai macam nama yang cocok untuk adiknya. “ Aldo punya nama yang cocok bu, gimana kalau Bianca? “.
“ Hm... bagus, terus ibu juga punya tambahan nama belakangnya lho, kalau namanya jadi ‘Bianca Audy Arkan’ gimana? “.
Mereka tersenyum bersama, keduanya nampak puas dengan nama yang akan diberikan para adik kecil yang baru lahir itu, dengan senyuman hangat yang biasa ditujukan pada Aldo, kini Hera mencium pipi anaknya dengan tiba-tiba.
“ Aldo... ini pesan terakhir ibu ya nak, kamu jangan sedih, ibu sayang sama kamu... tolong bilangin juga sama adik kecil kita kalau ibu juga sayang banget sama dia, tolong bilangin sama Bianca yang udah besar nanti, jangan salahin diri sendiri ya... belajar untuk mengikhlaskan itu lebih baik daripada terus merasa bersalah... pokoknya, ibu nitip dia sama kamu ya Do... “. Ucap Hera nada rendah.
“ Ibu? “
“ Oh, dan juga jangan lupa buat selalu nurut sama nenek ya... ibu yakin kalau Aldo bakalan jadi anak yang baik dan bisa diandalkan, dan satu hal yang bakal ibu omongin, ini yang terakhir ya... Ibu sayang banget sama Aldo, sayang banget, dan bakal tetep sayang sampai kapan pun... “.
Ruangan menjadi hening, Hera tidak lagi banyak berbicara seperti sebelumnya, wanita itu diam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. “ Ibu... “
Aldo menoleh melihat kearah wajah ibunya yang tersenyum kecil, kelopak mata sang ibu tertutup namun terdapat butiran-butiran bening yang mengalir melewati pipi halusnya, Aldo bertanya kenapa dirinya menangis?, namun tak ada jawaban.
“ Ibu... ibu kalau mau tidur posisinya jangan kayak gini, entar leher ibu sakit “. Ucap Aldo yang masih belum mendapat respon dari Hera.
“ Ibu?, ibu denger Aldo? “.
Sedikit mengeraskan guncangan, Aldo memanggil-manggil ibunya beberapa kali untuk bangun dan berpindah posisi. “ Ibu?, maaf Aldo bangunin ibu dulu ya, ibu tolong bangun bentar dong... ibu? Ibu kok gak jawab Aldo bu?... ibu? “.
Aldo mulai panik, apakah Hera tidak mendengar suaranya?, padahal selama ini anak itu mengetahui keseharian sang ibu yang pasti akan terbangun meski mendengar suara kecil. Beberapa kali mengguncang dan sedikit berteriak, Aldo khawatir karena ibunya tidak kunjung membuka mata, jantungnya berdegup kencang, pikirannya melayang tidak karuan dan hanya memikirkan bagaimana cara membangunkan sang ibu yang tertidur lelap ini.
“ Bu bidan, Aldo harus panggil bu bidan! “.
Pemuda cilik itu berlari keluar kamar, nafasnya terengah didalam rasa panik saat mencari keberadaaan sang bidan, dan untungnya tidak lama kemudian, Aldo menemukan bidan yang dicari sedang mengobrol dengan neneknya Anira.
“ Bu bidan!!! “. Teriak Aldo membuat keduanya sedikit terkejut.
“ Aldo ... kamu kenapa lari-lari kayak gitu nak?, nanti bisa jatoh lho... ada apa? coba cerita pelan-pelan sayang “ Ucap Anira menasehati.
“ Nenek, bu bidan... ibu... ibu gak bangun-bangun, padahal tadi ngobrol asik bareng Aldo, tapi tiba-tiba ibu tidur dan gak bisa Aldo bangunin “. Ucap Aldo sambil menahan tangis mencoba untuk tetap tegar.
“ Apa? “
Segera setelah itu, ketiganya berlari menuju ruangan yang sebelumnya Aldo tinggal, dengan membawa seorang suster, sang bidan segera mengecek keadaan ibu Aldo yang terbaring, ia mengecek denyut nadi dan menempelkan jarinya di depan hidung wanita itu, namun dengan sekejap, dokter diam serta kemudian melipat tangan Hera dan diletakan diatas dadanya.
“ bu bidan? “ Ucap Anira dengan wajah seakan tak percaya.
“ Maaf bu... ibu Hera... beliau sudah pergi “. Ucapnya sambil sedikit menunduk.
Tangis Anira pecah, ia menutup wajah dengan air mata yang mengalir deras, sementara untuk anak kecil yang berada disampingnya masih bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini, kenapa neneknya menangis?, apa ibunya sakit lagi?, sungguh banyak pertanyaan yang kini muncul di benaknya.
“ Nenek... nenek kenapa nangis?, terus bu bidan bilang ibu pergi? Pergi kemana? “ Tanya Aldo dengan mata polosnya yang khawatir.
Sambil mencoba menenangkan diri, Anira menguatkan tekad untuk mengatakan langsung kenyataan sedih ini pada cucunya. “ Aldo... ternyata Allah sayang sama ibu kamu nak, dan juga... yang sabar ya, ibu kamu udah tenang kok “. Ucap Anira dengan senyuman ditengah tangis derasnya.
“ Sabar kenapa nek?, dan ibu udah tenang gimana maksudnya? “.
“ Aldo... maafin nenek yang gak bisa jaga kalian, ibu kamu... dia... dia udah dipanggil sama Allah sayang “.
Deg
Aldo mematung, perkataan dari neneknya merupakan tamparan keras bagi anak itu, apa maksud dari dipanggil oleh Allah?, jika diartikan lebih spesifik lagi, bukannya itu berarti bahwa sang ibu telah meninggal?, meninggal dari dunia ini? dan takkan pernah kembali?.
“ Nenek... hiks... nenek jangan becandain Aldo dong, masa nenek bilang kalau ibu udah dipanggil sama Allah?, hiks... itu artinya ibu meninggal? “ Ucap Aldo dengan air mata yang tumpah.
“ Kamu harus kuat nak... ini memang kehendaknya, kita gak tau umur manusia, hanya Allah aja yang bisa nentuin kapan kita hidup dan meninggal... “.
“ Hiks, hiks... berarti... ibu gak bakal buka mata lagi nek? Urkh... be, berarti ibu udah pergi... ”
Suara Aldo mengeras, ia menangis di pelukan Anira dengan kondisi yang sama, pemuda cilik itu sedih dengan keadaan yang menimpanya, meskipun tahu bahwa suatu hari manusia pasti akan mati, namun menemukan fakta bahwa sang ibu lebih cepat dipanggil dari apa yang ia perkirakan sangat membuat hati tersayat.
" Ya Allah, kenapa ibu Aldo di jemput sekarang ya Allah?... hiks, hiks, padahal adek bayi kan baru lahir.... hiks, kan kasian gak bisa liat ibu ".
Sang ibu sudah tiada, tidak akan pernah membuka mata lagi, tidak akan bernah memberikan senyum dan pelukan hangatnya lagi, dan tak akan pernah bisa bergerak lagi, karena jiwanya sudah dipanggil menuju sang kholik.
Aldo menangis dalam pelukan, dengan semua orang yang sama-sama menitihkan air mata, bahkan sang bidan dan suster tidak bisa menahan tangis melihat pemandangan menyayat hati ini. Diiringi rintihan tangis semuanya, suara adzan magrib berkumandang menggema sampai ke telinga Aldo, anak itu harus mengikhlaskan, meski kehilangan, dengan dada yang sesak dan tangis yang terisak, dia bersimpuh memeluk erat sang nenek di samping brankar tempat ibunya berbaring.
__ADS_1
Bersambung